Api dan Kebakaran

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT karena atas taufik dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam senantiasa kita sanjungkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta semua umatnya hingga kini. Dan semoga kita termasuk dari golongan yang kelak mendapatkan syafaatnya.

Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkenan membantu pada tahap penyusunan hingga selesainya makalah ini. Harapan kami semoga makalah yang telah tersusun ini dapat bermanfaat sebagai salah satu rujukan maupun pedoman bagi para pembaca, menambah wawasan serta pengalaman, sehingga nantinya saya dapat memperbaiki bentuk ataupun isi makalah ini menjadi lebih baik lagi.

Kami sadar bahwa kami ini tentunya tidak lepas dari banyaknya kekurangan, baik dari aspek kualitas maupun kuantitas dari bahan penelitian yang dipaparkan. Semua ini murni didasari oleh keterbatasan yang dimiliki kami. Oleh sebab itu, kami membutuhkan kritik dan saran kepada segenap pembaca yang bersifat membangun untuk lebih meningkatkan kualitas di kemudian hari.

Indonesia, Mei 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebakaran adalah suatu peristiwa yang terjadi akibat tidak terkendalinya sumber energi. Siklus ini berisi rangkaian demi rangkaian panjang peristiwa (event dinamic) yang dimulai dari pra kejadian, kejadian dan siklusnya serta konsekuensi yang mengiringinya. Kejadian tersebut akan tercipta apabila kondisi dan beberapa syarat pencetusnya terpenuhi, utamanya pada saat pra kejadian. Kebakaran selalu menelan banyak kerugian baik moril, materil bahkan sering kali juga keselamatan manusia. Bila kebakaran tersebut menimpa fasilitas publik misalnya pasar, pabrik industri, gedung swalayan, perumahan dan lain sebagainya maka yang menderita kerugian tentu masyarakat banyak. Di lihat dari segi rehabilitasi fasilitas maka kecelakaan akibat kebakaran memerlukan waktu yang relatif lama belum lagi kerugian yang mustahil direcoveri seperti arsip, barang antik, sertifikat dan lain sebagainya.

Oleh karena itu mencegah terjadinya kebakaran merupakan pilihan utama dalam teknologi penanggulangan kebakaran. Dari sisi legal formal disebutkan dalam UU No. 1 Tahun 1970 “dengan perundangan ditetapkan persyaratan keselamatan kerja untuk mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran”. Kemudian diikuti dengan peraturan lain misalnya: Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. 186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja dan Lain, sebagainya menyebutkan dalam pasal ayat 1 “pengurus atau perusahaan wajib mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran, menyelenggarakan latihan penanggulangan kebakaran di tempat kerja”.

Kebakaran merupakan kejadian yang tidak diinginkan bagi setiap orang dan kecelakaan yang berakibat fatal. Kebakaran ini dapat mengakibatkan suatu kerugian yang sangat besar baik kerugian materil maupun kerugian immateril. Sebagai contoh kerugian nyawa, harta, dan terhentinya proses atau jalannya suatu produksi/aktivitas, jika tidak ditangani dengan segera, maka akan berdampak bagi penghuninya. Jika terjadi kebakaran orang-orang akan sibuk sendiri, mereka lebih mengutamakan menyelamatkan barang-barang pribadi daripada menghentikan sumber bahaya terjadinya kebakaran, hal ini sangat disayangkan karena dengan keadaan yang seperti ini maka terjadinya kebakaran akan bertambah besar.

Dengan adanya perkembangan dan kemajuan pembangunan yang semakin pesat, risiko terjadinya kebakaran semakin meningkat. Penduduk semakin padat, pembangunan gedung-gedung perkantoran, kawasan perumahan, industri yang semakin berkembang sehingga menimbulkan kerawanan dan apabila terjadi kebakaran membutuhkan penanganan secara khusus.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian api dan kebakaran?
  2. Apa penyebab kebakaran?
  3. Apa yang dimaksud dengan segitiga api?
  4. Apa saja klasifikasi kebakaran?
  5. Apa saja media pemadam api?
  6. Apa saja alat pemadam api?
  7. Apa yang dimaksud pemercik air otomatis?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Api dan Kebakaran

Pengertian api adalah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3 unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menghasilkan panas dan cahaya. Sedangkan pengertian kebakaran adalah nyala api baik kecil maupun besar pada tempat, situasi dan waktu yang tidak dikehendaki yang bersifat merugikan dan pada umumnya sulit untuk dikendalikan. Kebakaran juga termasuk dalam salah satu kategori kondisi/situasi darurat di lingkungan perusahaan baik dari luar maupun dalam lokasi tempat kerja.

B. Penyebab Kebakaran

Secara umum, kebakaran disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor manusia dan faktor teknis.

1. Faktor manusia

Sebagian besar kebakaran yang disebabkan oleh faktor manusia timbul karena kurang pedulinya manusia tersebut terhadap bahaya kebakaran dan juga kelalaian. Sebagai contoh:

  • Merokok di sembarang tempat, seperti di tempat yang sudah ada tanda “dilarang merokok”.
  • Menggunakan instalasi listrik yang berbahaya, misalnya sambungan yang tidak benar, mengganti sekering dengan kawat.
  • Melakukan pekerjaan yang berisiko menimbulkan kebakaran tanpa menggunakan pengamanan yang memadai, misalnya mengelas bejana bekas berisi minyak atau bahan yang mudah terbakar.
  • Pekerjaan yang mengandung sumber gas dan api tanpa mengikuti persyaratan keselamatan, misalnya memasak menggunakan tabung gas LPG yang bocor dan lain-lain.

2. Faktor teknis

Faktor teknis lebih disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai hal-hal yang memicu terjadinya kebakaran, misalnya:

  • Tidak pernah mengecek kondisi instalasi listrik, sehingga banyak kabel yang terkelupas yang berpotensi terjadi korsleting yang bisa memicu terjadinya kebakaran.
  • Menggunakan peralatan masak yang tidak aman, misalnya menggunakan tabung yang bocor, pemasangan regulator yang tidak benar, dan lain-lain.
  • Menempatkan bahan yang mudah terbakar di dekat api, misalnya meletakkan minyak tanah atau gas elpiji di dekat kompor.
  • Menumpuk kain-kain bekas yang mengandung minyak tanpa adanya sirkulasi udara. Bila kondisi panas, kondisi seperti ini bisa memicu timbulnya api.

3. Faktor alam/bencana alam

  • Alat, disebabkan karena kualitas alat yang rendah, cara penggunaan yang salah, pemasangan instalasi yang kurang memenuhi syarat. Sebagai contoh: pemakaian daya listrik yang berlebihan atau kebocoran.
  • Alam, sebagai contoh adalah panasnya matahari yang amat kuat dan terus menerus memancarkan panasnya sehingga dapat menimbulkan kebakaran.
  • Penyalaan sendiri, sebagai contoh adalah kebakaran gudang kimia akibat reaksi kimia yang disebabkan oleh kebocoran atau hubungan pendek listrik.
  • Kebakaran disengaja, seperti huru-hara, sabotase, dan untuk mendapatkan asuransi ganti rugi.

C. Segitiga Api

Segitiga api adalah elemen-elemen pembentuk api yang dirangkai dalam suatu segitiga yang menggambarkan proses terjadinya api. Elemen-elemen tersebut jika bersatu dan dalam porsi tertentu maka akan menimbulkan reaksi kimia dan menghasilkan api. Elemen-elemen dalam segitiga api yang merupakan elemen pembentuk api yaitu:

1. Bahan bakar

Bahan bakar yang dimaksud adalah bahan-bahan yang mudah bereaksi dengan reaksi pembakaran atau bahan mudah terbakar. Bahan tersebut dapat berupa:

  • Zat padat mudah terbakar contohnya kertas, sampah kering, kayu, kain, dan lain-lain.
  • Zat cair mudah terbakar contohnya minyak tanah, bensin, spiritus, alkohol, dan lain-lain.
  • Zat gas mudah terbakar contohnya karbit, LPG, dan LNG.

Ketiga bahan-bahan tersebut tentunya sudah tidak asing karena sering kita jumpai di kegiatan sehari-hari. Untuk itu penggunaan bahan-bahan mudah terbakar sebaiknya dijauhkan dari sumber panas atau api.

2. Sumber panas

Sumber panas merupakan salah satu unsur terbentuknya api. Contoh sumber panas yaitu:

  • Faktor alam: seperti petir atau panas dari gunung berapi.
  • Energi panas listrik: panas listrik dapat timbul dari arus pendek, korsleting, percikan api karena listrik, pemanasan dielektrik seperti pada microwave (gelombang mikro), dan listrik statis.
  • Energi panas mekanis: panas mekanis dapat terjadi karena adanya gesekan.
  • Energi panas kimia: contoh dari energi panas kimia yaitu reaksi panas pembakaran, panas akibat dekomposisi, panas larutan, dan pemanasan spontan.
  • Energi panas nuklir.
  • Energi panas matahari.

3. Oksigen

Di dalam udara yang kita hirup terdapat bermacam-macam unsur seperti nitrogen, argon, dan salah satunya adalah oksigen. Oksigen dengan kadar minimum 16% dapat menjadi unsur penting pembentuk api. Sedangkan dalam udara normal yang kita hirup terdapat kandungan 20% oksigen. Sehingga pasokan oksigen idealnya sewaktu-waktu bisa mendukung terjadinya api.

D. Klasifikasi Kebakaran

Berdasarkan bahan yang terbakar, api terbagi menjadi beberapa jenis kelas, di antaranya:

1. Kelas A

Api yang melibatkan bahan-bahan seperti kayu, kertas, dan pakaian. Api kelas a biasanya lambat dalam proses penyalaan dan pertumbuhannya, dan karena material yang terbakar berbentuk solid maka penanganan api ini lebih mudah. Api kelas a akan meninggalkan abu setelah seluruh material terbakar.

2. Kelas B

Api yang melibatkan cairan dan gas yang mudah terbakar, seperti minyak, gasolin, dan propana. Api jenis ini akan mudah menyala dan menyebar. Pemadaman api kelas b lebih sulit dibandingkan api kelas A. Api kelas B tidak meninggalkan abu ketika seluruh material telah terbakar.

3. Kelas C

Api yang melibatkan peralatan listrik seperti mesin/motor. Di dalam kenyataan sirkuit kelistrikan merupakan penyebab utama dari api kelas C, setelah api menyala biasanya akan melibatkan bahan lain sebagai bahan bakar api. Katika arus listrik dimatikan, maka klasifikasi api tidak lagi menjadi kelas C namun menjadi kelas sesuai dengan bahan yang sedang terbakar.

E. Media Pemadam Api

Jenis media pemadam api yang sering digunakan di Indonesia ada empat yaitu foam, cair, CO2, dan dry chemical powder. Keempat media tersebut memiliki kemampuan dan keefektifan masing-masing yang dibuat khusus untuk menangani klasifikasi kelas kebakaran tertentu. Untuk itu pemilihan media yang tepat juga sangat mempengaruhi upaya pemadam api jika terjadi kebakaran.

1. Media pemadam api foam

Media ini terbuat dari air dan biang foam (biang busa) yang dapat memadamkan api dengan cara mendinginkan titik api, sehingga api akan padam dengan sempurna. Alat pemadam api dengan media foam dapat digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas a dan kebakaran kelas b. Sebaiknya tidak menggunakan alat pemadam api media foam pada kebakaran yang disebabkan oleh listrik (elektrikal) atau kebakaran kelas c. Karena dikhawatirkan adanya kandungan air yang bersifat konduktor (menghantarkan listrik).

2. Media pemadam api cair

Media ini cocok untuk mengatasi kebakaran kelas a karena sifatnya yang dapat menembus material yang terbakar sehingga pengapian akan terhenti. Selain itu alat pemadam api dengan media cair juga cocok digunakan untuk mengatasi kebakaran kelas b karena sifatnya yang mendinginkan titik api.

3. Media pemadam api CO2

Media pemadam api CO2 atau karbon dioksida cocok digunakan pada kebakaran kelas b dan c karena sifatnya yang dapat menghilangkan unsur oksigen sehingga menghentikan pengapian dan adanya efek dingin pada gas. Karena wujud media ini berupa gas menjadikan media ini tidak bersifat konduktor sehingga aman digunakan pada kebakaran yang disebabkan aktivitas elektrikal terutama kebakaran pada peralatan elektronik. Media ini juga tidak meninggalkan residu sehingga praktis dan aman bagi peralatan elektronik. Namun penggunaannya perlu memperhatikan pasokan oksigen bagi pengguna. Gunakan breathing apparatus atau alat bantu pernafasan agar paru-paru tetap mendapatkan pasokan oksigen yang cukup.

4. Media pemadam api dry chemical powder

Media pemadam api dry chemical powder berbentuk seperti bubuk yang mampu menutupi area kebakaran dan mencegah kontak dengan oksigen yang merupakan salah satu pembentuk api (segitiga api). Dalam penggunaan alat pemadam api dengan media dry chemical powder sebaiknya menggunakan alat bantu pernafasan seperti breathing apparatus atau masker agar bubuk tidak terhirup dan mengganggu sistem pernafasan.

F. Alat Pemadam Api

1. Apar atau alat pemadam api ringan

Apar merupakan alat pemadam kebakaran yang mudah untuk dibawa dan dapat dioperasikan satu orang. Yang dilengkapi alat pengukur tekanan (pressure gauge) yang berfungsi untuk menunjukkan tekanan pada tabung. Hal tersebut dapat membantu memudahkan kita untuk dapat mengontrol kinerja dari tabung pemadam. Untuk ukurannya alat pemadam api ringan memiliki berat dari 1-9 kg. Khusus untuk tabung pemadam api berisi karbon dioksida memiliki berat 2-7 kg (standar).

2. Alat pemadam api portabel

Alat pemadam api portabel merupakan alat pemadam api dapat dengan mudah dibawa dan dapat dioperasikan oleh satu orang saja. Salah satu contohnya adalah fire stop (alat pemadam api mini portabel). Alat pemadam api fire stop dapat digunakan untuk memadamkan api kecil. Umumnya alat pemadam api portabel memiliki berat 1-2 kg dan hanya dapat digunakan sekali pakai atau tidak dapat diisi ulang kembali.

3. Thermatic system (sistem sprinkler) atau alat pemadam api

Thermatic merupakan alat pemadam api otomatis. Untuk thermatic system terpasang secara modul air yang terdapat di plafon. Pemasangan dan banyaknya modul dapat disesuaikan dengan ukuran dan kebutuhan ruangan yang akan dilindungi. Alat pemadam api otomatis ini akan berfungsi jika ada asap atau adanya api yang menyala dan terdeteksi oleh sensor.

Alat pemadam api otomatis yang terpasang dalam satu ruangan akan berfungsi secara bersamaan dikarenakan pada ujung sprinkler untuk alat ini sudah dilengkapi dengan actuator yang merupakan sistem elektronik. Alat ini memiliki fungsi sebagai thermatic yang artinya bila adanya kegagalan fungsi elektronik, maka akan tetap bekerja dari panas temperatur ± 68° C.

4. Trolley

Trolley merupakan alat pemadam api berat (APAB) yang memiliki roda. Alat pemadam api ini dilengkapi regulator yang berfungsi untuk mengatur tekanan dari gas CO2/N2. Alat pemadam api ini umumnya ditempatkan di area pengisian bahan bakar. Untuk tabung pemadam api ini memiliki berat dari 20-80 kg dan harus dioperasikan oleh 2 orang atau lebih. Khusus bagi alat pemadam api yang memiliki isi karbon dioksida memiliki ukuran berat dari 9-45 kg (standar).

5. Hydrant

Hydrant merupakan alat pemadam api yang berfungsi sebagai sumber air untuk memadamkan api saat terjadinya kebakaran. Umumnya hydrant terletak di area tertentu di trotoar. Hydrant memiliki bentuk standar dan memiliki tanda khusus untuk setiap hydrant.

G. Pemercik Air Otomatis

1. Penggunaan pemercik otomatis

Pemercik air otomatis (automatic sprinklers) merupakan sarana pemadam kebakaran instalasi tetap yang paling sering digunakan/dipasang pada gedung-gedung. Sistem ini bekerja apabila gelas (quartzoid bulb) pada kepala sprinklers pecah karena panas. Dengan pecahnya quartzoid bulb ini maka air bertekanan memercik ke seluruh tempat yang kebakaran dan memadamkan api.

2. Jenis sistem pemercik otomatis

Secara garis besar sistem pemercik otomatis dikategorikan menjadi (1) sistem pipa basah, (2) sistem pipa kering, (3) sistem deluge dan (4) pre action system.

a. Sistem pipa basah

Pemercik otomatis disebut sebagai sistem pipa basah (wet pipe system) ialah apabila seluruh pipa distribusi sampai ke sprinkler terisi air bertekanan. Sistem ini memakai kepala sprinkler otomatis. Apabila gelas pada kepala sprinklers pecah karena panas maka air bertekanan segera memancar keluar memadamkan area yang terbakar. Air akan memancar hanya pada daerah yang sprinklernya pecah saja.

b. Sistem pipa kering

Pada sistem pipa kering pipa distribusi tidak terisi air. Sistem ini dipakai apabila tempat atau bangunan yang dilindungi mempunyai kemungkinan bertemperatur dingin sedemikian sehingga air di dalam pipa distribusi dan sprinklers membeku. Tempat seperti ini misalnya ruang refrigerator, bangunan di tempat dingin dan lain sebagainya. Di dalam pipa distribusi tidak berisi air melainkan gas nitrogen atau udara bertekanan. Apabila terjadi kebakaran maka sprinklers akan pecah, gas terdorong keluar sambil menghidupkan kontrol aliran air bertekanan yang kemudian memancarkan air untuk memadamkan kebakaran. Air hanya memancar pada daerah yang sprinklernya pecah saja.

c. Deluge system

Deluge system atau sistem banjir atau sistem pancaran serentak biasanya dipasang pada tempat atau bangunan yang berisi material mudah terbakar secara keseluruhan misalnya gudang busa poliester, bagian pengeringan hardboard, polyurethane, hanggar pesawat terbang dan lain sebagainya. Pada sistem ini semua sprinkler dalam keadaan terbuka, kemudian apabila ada sinyal kebakaran dari sistem deteksi maka seluruh sprinkler akan memancarkan air. Jadi sistem pancaran serentak ini dihubungkan dengan pengontrol lain yang berfungsi untuk memberitahu adanya kebakaran pada tempat itu.

d. Pre-action system

Sistem ini bertujuan untuk membantu mempercepat aliran air pada sistem kering. Pada dasarnya konstruksi terdiri dari gabungan standar sprinkler system dengan alat pengindra kebakaran (baik smoke ataupun heat detector). Pada saat awal pengindra mencium adanya bahaya kebakaran maka sistem langsung bekerja mengisi air pada pipa distribusi springkler, sehingga air sudah terisi sebelum sprinkler pecah karena panas. Jadi ketika sprinkler pipa sistem kering pecah maka di dalam pipa sudah berisi air yang langsung memancar pada tempat yang terbakar.

3. Kepala pemercik otomatis

Kepala pemercik otomatis bertugas untuk memancarkan air apabila telah mendapat sinyal deteksi kebakaran. Kepala pemercik otomatis akan aktif memancarkan air bila temperatur pada ruangan cukup untuk memecahkan quartozoid bulb (jenis A) atau memutus pengunci (jenis B). Temperatur ini disebut “temperature rating” dan biasanya besarnya sekitar 60o C sampai 70o C. Namun untuk beberapa tempat dengan pertimbangan tertentu di pasaran juga tersedia kepala pemercik dengan temperature rating yang lebih tinggi.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Api sangat berbahaya bagi manusia maupun alam karena bersifat merusak dan memusnahkan suatu benda. Dari materi yang telah kami sampaikan bahwa kebakaran merupakan kecelakaan yang disebabkan oleh beberapa faktor, karena manusia, alam, maupun kedua-duanya. Kebakaran bisa dicegah melalui beberapa cara, di antaranya yaitu mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan, misalnya menaruh barang mudah terbakar seperti alkohol atau bahan bakar bensin ke tempat yang teduh dan jauh dari sumber panas. Jika semua itu kita lakukan maka kelak kecelakaan seperti kebakaran pun tak akan pernah terjadi.

B. Saran

Biasakan bersikap hati-hati, waspada dan tidak ceroboh dalam menggunakan barang atau bahan yang mudah terbakar.

DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Pemadam_api

https://sistemmanajemenkeselamatankerja.blogspot.com/2014/10/faktor-penyebab-kebakaran-dan-upaya.html

Download Contoh Makalah Api dan Kebakaran.docx

Download juga:

Makalah Alat Pelindung Diri (APD)

Makalah Kesehatan Kerja

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH