Makalah Dasar-dasar Etika

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Makalah Dasar-dasar Etika ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku umatnya.

Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan yang berjudul Makalah Dasar-dasar Etika ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Makalah Dasar-dasar Etika ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Kami mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga Makalah Dasar-dasar Etika ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Indonesia, Juni 2024
Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan, manusia sering kali dihadapkan pada situasi yang berbeda. Sering kali manusia belum dapat menempatkan diri pada situasi yang sesuai. Banyak pendapat mengatakan bahwa ini adalah akibat dari kurangnya pendidikan karakter di sekolah sehingga berujung pada krisis etika dan moral, tetapi krisis moral tidak hanya bergantung pada pendidikan karakter di sekolah, melainkan di lingkungan rumah dan pergaulan.

Diperlukannya penanaman etika dan moral yang baik sejak dini kepada setiap manusia. Hal tersebut berdampak sangat besar untuk kehidupan bersosialisasi. Manusia yang memiliki etika dan moral yang lebih baik akan cenderung lebih sukses daripada orang yang memiliki etika dan moral yang kurang baik. Krisis moral dan etika dapat berujung kepada hal yang sangat fatal, salah satu contohnya adalah menyakiti hati orang lain dan berdosa.

B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini akan menjawab pertanyaan:

  1. Apakah perbedaan etika dan moralitas?
  2. Apa sajakah klasifikasi etika?
  3. Apakah perbedaan realisme etis dan non-realisme etis?
  4. Apa sajakah empat jenis pernyataan etika?
  5. Apakah kegunaan etika?
  6. Apa yang dimaksud dengan etika kewajiban?
  7. Apa yang dimaksud dengan Konsep Etika Utilitarian?

C. Tujuan Makalah

Makalah ini bertujuan agar mahasiswa dapat membedakan etika dan moralitas, mengerti keseluruhan dasar-dasar etika, dan mengamalkan etika yang baik dan benar.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Perbedaan Etika dan Moralitas

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata ‘etika’ yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu: tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan. Etika merupakan suatu ilmu yang membahas perbuatan baik dan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Dan etika profesi terdapat suatu kesadaran yang kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukan.

Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang menunjukkan bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk. Moralitas mencakup tentang baik-buruknya perbuatan manusia. (W. Poespoprojo, 1998: 18)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun.

B. Klasifikasi Etika

Menurut pembagiannya etika terbagi menjadi empat jenis yaitu etika normatif, etika terapan, etika deskriptif, dan metaetika.

  1. Etika Normatif

Etika normatif yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan. Dalam perbincangan dan diskusi-diskusi yang acap kali ditampilkan dan diungkapkan di media masa baik cetak, elektronik maupun virtual, kaitan Etika normatif yang berkaitan dengan masalah moral merupakan topik bahasan yang paling menarik.

  1. Etika Terapan

Etika terapan (applied ethics) sama sekali bukan hal yang baru dalam sejarah filsafat moral. Sejak Plato dan Aristoteles, etika merupakan filsafat praktis, artinya, filsafat yang ingin memberikan penyuluhan kepada tingkah laku manusia dengan memperlihatkan apa yang harus dilakukan. Sifat praktis ini bertahan selama seluruh sejarah filsafat. Dalam abad pertengahan, Thomas Aquinas melanjutkan tradisi filsafat praktis ini dan menerapkannya di bidang teologi moral. Pada awal zaman modern muncul etika khusus (ethica specialis) yang membahas masalah etis suatu bidang tertentu seperti keluarga dan negara. Namun pada dasarnya etika khusus dalam arti sebenarnya sama dengan etika terapan.

  1. Etika Deskriptif

Etika deskriptif yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan perilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang perilaku atau sikap yang mau diambil. Etika deskriptif merupakan penggambaran dan penelaahan secara utuh dan kritis tentang tingkah laku moral manusia secara universal yang dapat kita temui sehari – hari dalam kehidupan masyarakat.

  1. Metaetika

Metaetika sebagai suatu jalan menuju konsepsi atas benar atau tidaknya suatu tindakan atau peristiwa. Dalam meta-etika, tindakan atau peristiwa yang dibahas dipelajari berdasarkan hal itu sendiri dan dampak yang dibuatnya.

Bagaimanapun juga hal-hal seperti ini tidak akan pernah menemui kejelasannya hingga salah satu pihak terpaksa kalah atau mungkin masalah menjadi berlarut-larut. Mungkin juga kedua pihak dapat saling memberi maklum. Menyikapi persoalan-persoalan yang semacam inilah, maka meta-etika.

C. Realisme Etis dan Non-Realisme Etis

Kedua aliran ini merupakan aliran yang terkait dengan cara melihat pernyataan etika atau kualitas etis tersebut.

  1. Realisme Etis

Realisme etis dikenal juga sebagai absolutisme etis. Gagasan ini mengikuti aturan-aturan universal yang tidak pernah berubah dan berlaku untuk setiap orang, misalnya Deklarasi Hak Asasi Manusia.

Padahal manusia memiliki keyakinan etis yang berbeda-beda dalam suku dan budaya yang berbeda. Sehingga banyak ketidakserasian antara etis dan keragaman budaya dan tradisi. Gagasan ini tidak berhubungan dengan kondisi dan perasaan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, gagasan ini bersifat objektif.

  1. Non-Realisme Etis

Gagasan ini sangat terkait dengan sikap etis yang relatif yang cenderung menghormati keragaman budaya dan tindakan manusia yang berbeda dalam merespons situasi yang berbeda. Gagasan ini lebih subjektif daripada gagasan realisme etis.

Namun, tetap ada masalah yang timbul dari gagasan ini. Gagasan ini membuahkan pikiran manusia yang menjadi “baik tanpa harus sesuai dengan semua aturan masyarakat”. Hal tersebut terjadi karena sikap etis yang relatif ini tidak menyediakan cara untuk mengatasi perbedaan moral antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain.

D. Empat Jenis Pernyataan Etika

Pernyataan yang berkaitan dengan etika mengandung empat jenis makna yang berbeda. Empat jenis makna tersebut adalah tentang realisme moral, subjektivisme, emotivisme, dan preskriptivisme.

  1. Realisme Moral

Realisme moral berdasarkan pada gagasan bahwa masalah yang terkait ada terdapat fakta-fakta nyata dan objektif dalam kehidupan. Pernyataan ini mengungkapkan informasi faktual tentang kebenaran.

  1. Subjektivisme

Subjektivisme berdasarkan pada pernyataan perasaan atau sikap seseorang. Pernyataan ini tidak mengandung kebenaran faktual tentang kebenaran atau keburukan.

  1. Emotivisme

Emotivisme hampir mirip dengan emotivisme. Perbedaannya terletak pada perbedaan dasar, emotivisme tidak berdasarkan pada perasaan, tetapi ungkapan dari perasaan itu sendiri.

  1. Preksriptivisme

Preskriptivisme berfokus pada petunjuk atau rekomendasi. Jika seseorang setuju pada suatu pernyataan etika maka dia akan merekomendasikannya dan berlaku sebaliknya.

E. Kegunaan Etika

  1. Untuk mendapatkan konsep mengenai penilaian baik dan buruk bagi semua manusia dalam ruang dan waktu tertentu.
  2. Menawarkan suatu prinsip yang memungkinkan kita untuk mengambil pandangan yang lebih jernih dalam melihat isu-isu moral.
  3. Memberikan sebuah peta moral atau kerangka berpikir yang bisa digunakan untuk menemukan jalan keluar suatu masalah moral yang sulit
  4. Etika akan memberikan batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya.
  5. Etika dapat difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik.
  6. Etika adalah refleksi dari “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.

F. Immanuel Kant dan Etika Kewajiban

Immanuel Kant (1724-1804) sebagai pelopor etika deontologis berpendapat bahwa norma moral itu mengikat secara mutlak dan tidak tergantung dari apakah ketaatan atas norma itu membawa hasil yang menguntungkan atau tidak.

Immanuel Kant berpendapat bahwa kewajiban moral harus dilaksanakan demi kewajiban itu sendiri, bukan karena keinginan untuk memperoleh tujuan kebahagiaan, bukan juga karena kewajiban moral tersebut diperintahkan oleh Tuhan. Moralitas hendaknya bersifat otonom dan harus berpusat pada pengertian manusia berdasarkan akal sehat yang dimiliki manusia itu sendiri, yang berarti kewajiban moral mutlak itu bersifat rasional.

Prinsip moral oleh Kant, tidak lagi menjadi argumen etis, tetapi menjadi keharusan, karena itulah dinyatakan sebagai Imperatif Kategoris. Ada unsur yang mengikatnya, dan mengharuskan kita untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral tersebut.

Etika kewajiban dari Kant mengingatkan kita betapa pentingnya perbuatan moral yang patuh pada suatu prinsip moral bahwa kebaikan tersebut intrinsic adanya. Bahwa suatu tindakan dinyatakan benar atau baik dapat diperiksa oleh rasio praktis kita. Rasio praktis itu sendiri adalah kecerdasan yang datang dari individu sebagai agen moral, yakni ketika pemahaman tentang kebaikan dan mampu menyesuaikan pilihannya dengan apa yang dipertimbangkan baik secara universal.

G. John Stuart Mill dan Konsep Etika Utilitarian

Teori moral dalam berfilsafat dapat dipahami menjadi dua aliran besar, yang pertama adalah deontologis dan yang kedua adalah kaum konsekuensialis. Pandangan konsekuensialis menyatakan bahwa segala tindakan dianggap bernilai secara moral bila mempertimbangkan hasil akhir dari tindakan tersebut. Konsekuensialis menegaskan bahwa suatu tindakan itu dapat dinilai baik bila menyebabkan kebahagiaan bagi individu serta orang-orang di sekitarnya. Motif terhadap apa yang dianggap menyebabkan kebahagiaan dianggap oleh kaum konsekuensialis menjadi dasar dari suatu perbuatan moral.

Tokoh yang mengembangkan paham etis utilitarian adalah John Stuart Mill. Utilitarianisme, dari akar kata utility, yang berarti kegunaan, menganggap bahwa dorongan utama bagi seseorang untuk bersikap etis adalah untuk mencapai kebahagiaan.

Mill berupaya menyampaikan bahwa ada tingkatan dalam kebahagiaan, di mana pengejaran etis berurusan dengan kebahagiaan yang bertingkat tinggi, karena itulah kebahagiaan itu memiliki nilai moral. Klarifikasi ini menunjukkan bahwa kebahagiaan yang memiliki nilai moral atau yang bertujuan etis bagi Mill adalah jenis kebahagiaan yang utama atau tertinggi. Mill menyatakan bahwa kita harus menyadari bahwa tidak ada kepuasan yang sempurna itu, meskipun demikian kita harus berupaya untuk memaksimalisasikan kebahagiaan.

Prinsip etis utilitarian ini untuk mengenyahkan anggapan bahwa prinsip terutama manusia adalah kebahagiaan maka ia hanya akan melakukan sesuatu hal yang menguntungkan bagi dirinya sendiri, sebaliknya karena ia menyadari bahwa kebahagiaan itu untuk kebahagiaan semuanya, maka ia terdorong untuk bersikap etis. Motif menjadi sedemikian penting untuk kaum utilitarian karena jika seseorang berkeinginan untuk bertindak etis maka ia dapat mempertanggung jawabkan pilihan yang telah ia lakukan.

John Stuart Mill menyatakan bahwa kebahagiaan adalah tujuan dari kita bertindak yang bernilai moral. Sebagai konsekuensinya, dalam melakukan apapun kita terpaut dengan hasil akhir dari suatu pilihan, dan bagi kaum utilitarian, konsekuensi yang dipikirkan adalah bagaimana multiplikasi suatu kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan.. Kebijaksanaan yang utama serta memiliki moral adalah mengejar kebahagiaan, “Dengan demikian, meningkatkan kebahagiaan, menurut etika utilitarian, merupakan objek dari kebijaksanaan”

H. D. Ross; Intuisi dan Kewajiban

Ross berargumen bahwa seseorang mengetahui secara intuitif perbuatan apa yang bernilai baik maupun buruk. Menurut Ross, kebahagiaan tidak dapat secara mudah disamakan dengan kebaikan, justru kebaikan adalah bentuk nilai moral yang lebih tinggi. Jadi, tujuan moral adalah mencapai kebaikan bukan kebahagiaan.

Tindakan etis haruslah terlepas dari kepentingan individual. Ross menyatakan bahwa motif menunjukkan bahwa seseorang bertindak etis bukan karena tindakan itu benar secara prinsipil, tapi tindakan itu menguntungkan baginya. Ross berargumen bahwa di luar dari kebahagiaan terdapat berbagai hal yang menurutnya lebih tepat untuk dijadikan prinsip tindakan moral yakni kebaikan melalui karakter yang mulia atau berdasarkan intelegensia. Sehingga untuk Ross kebenaran moral adalah memperbanyak kebaikan bagi semakin banyak orang.

Ross mengembangkan ide moral yang disebut dengan Prima Facie. Ide moral ini menunjukkan bahwa sesungguhnya pada pandangan awal yang muncul adalah situasi moral yang hanya kemunculan semata, tetapi apa yang dimaksud Prima Facie adalah situasi moral yang dapat ditelaah secara objektif.

Ross menyebutkan tentang berbagai macam kewajiban yang membutuhkan pertimbangan individu dalam kejadian-kejadian aktual, ia menyusunnya sebagai berikut: (1) fidelitas (kesetiaan) atau yang menyangkut perihal bagaimana seseorang memegang janji atau komitmennya; (2) kewajiban atas rasa terima kasih ketika kita berkewajiban atas jasa yang sudah ditunjukkan oleh orang lain; (3) kewajiban berdasarkan keadilan; hal ini menyangkut perihal pembagian yang merata yang berhubungan dengan kebaikan orang banyak; (4) kewajiban beneficence, atau bersikap dermawan, dan menolong orang lain sebagai tanggung jawab sosial; (5) kewajiban untuk merawat dan menjaga diri sendiri; (6) kewajiban untuk tidk menyakiti orang lain.

Prinsip-prinsip Prima Facie menunjukkan bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu kita kerap terbentur untuk memutuskan di antara pilihan-pilihan moral. Dalam suatu situasi yang amat mendesak, Ross menekankan pada kemampuan intuitif manusia untuk mengambil keputusan. Pertimbangan intuitif ini adalah pertimbangan yang menggunakan segala aspek kecerdasan dan sensibilitas individu. Dengan demikian maka ia dapat menghindarkan dirinya dari pilihan yang menyebabkan keburukan untuk dirinya maupun terhadap orang di sekitarnya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Etika menurut filsafat dapat disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut.

Akhlak adalah hal yang terpenting dalam kehidupan manusia karena akhlak mencakup segala pengertian tingkah laku, tabiat, perangai, karakter manusia yang baik maupun yang buruk dalam hubungannya dengan Khaliq atau dengan sesama makhluk.

B. Saran

Dan diharapkan, dengan diselesaikannya makalah ini, baik pembaca maupun penyusun dapat menerapkan etika, moral dan akhlak yang baik dan sesuai dengan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun tidak sesempurna Nabi Muhammad S.A.W, setidaknya kita termasuk ke dalam golongan kaumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Callcut, Daniel. 2009. Reading Bernard Williams. London and New York: Routledge.

Fakhry, Majid. 1996. Etika dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Oemar, Akbar. 2012. Teori-teori Etika. Semarang; Universitas Pandanaran

Sinaga, Hasanudin dan Zaharuddin. 2004. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: PT Raja Grafmdo Persada.

Takwin, Bagus dkk. 2013. Buku Ajar I Kekuatan dan Keutamaan Karakter, Filsafat, Logika, dan Etika. Jakarta: Universitas Indonesia

Williams, Bernard. 2006. Ethics and the Limits of Philosophy. London and New York: Routledge.

Download Contoh Makalah Dasar-dasar Etika.docx