Kerajaan Kutai

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah Kerajaan Kutai ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku umatnya.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah Kerajaan Kutai ini dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Kami mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga makalah Kerajaan Kutai ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Indonesia, Mei 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setelah kedatangan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha, terjadi perkembangan dan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama dalam bidang politik. Sistem pemerintahan masyarakat Indonesia mengalami perubahan dari sistem kesukuan menjadi kerajaan. Pada sistem kerajaan, kepala pemerintahan tidak dipegang oleh kepala suku bergelar datu/datuk atau ratu/raka, tetapi dipegang oleh seorang raja menggunakan gelar prabu, raja, atau maharaja.

Dalam sistem ini, raja dianggap keturunan dewa yang harus disembah oleh bawahan dan rakyatnya. Oleh karena itu raja memiliki hak untuk menyelenggarakan pemerintahan secara mutlak dan turun-temurun. System pemerintahan kerajaan digunakan di wilayah Kalimantan, Jawa dan Sumatra. Selanjutnya, di daerah tersebut bermunculan kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

  1. Bagaimana sejarah berdirinya kerajaan Kutai?
  2. Bagaimana kehidupanpolitik kerajaan Kutai?
  3. Bagaimana kehidupan sosial budaya kerajaan Kutai?
  4. Bagaimana kehidupan ekonomi kerajaan Kutai?
  5. Bagaimana kehidupan keagamaan kerajaan Kutai?
  6. Kapan masa kejayaan kerajaan Kutai?
  7. Bagaimana runtuhnya kerajaan Kutai?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Berdirinya Kerajaan Kutai

Letak Kerajaan Kutai berada di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur yang merupakan Kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Ditemukannya tujuh buah batu tulis yang disebut Yupa yang mana ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta tersebut diperkirakan berasal dari tahun 400 M (abad ke-5). Prasasti Yupa tersebut merupakan prasasti tertua yang menyatakan telah berdirinya suatu Kerajaan Hindu tertua yaitu Kutai. Tidak banyak informasi mengenai Kerajaan Kutai. Hanya 7 buah prasasti Yupa tersebutlah sumbernya. Penggunaan nama Kutai sendiri ditentukan oleh para ahli sejarah dengan mengambil nama dari tempat ditemukannya prasasti Yupa tersebut.

Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang dibuat oleh para Brahmana atas kedermawanan Raja Mulawarman. Dituliskan bahwa Raja Mulawarman, Raja yang baik dan kuat yang merupakan anak dari Aswawarman dan merupakan cucu dari Raja Kudungga, telah memberikan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana. Dari prasasti tersebut didapat bawah Kerajaan Kutai pertama kali didirikan oleh Kudungga kemudian dilanjutkan oleh anaknya Aswawarman dan mencapai puncak kejayaan pada masa Mulawarman (Anak Aswawarman). Menurut para ahli sejarah nama Kudungga merupakan nama asli pribumi yang belum terpengaruh oleh kebudayaan Hindu.

Namun anaknya, Aswawarman diduga telah memeluk agama Hindu atas dasar kata ‘warman’ pada namanya yang merupakan kata yang berasal dari bahasa Sanskerta. Berikut di bawah ini merupakan daftar raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Kutai, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Maharaja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman (pendiri)
  2. Maharaja Aswawarman (anak Kundungga)
  3. Maharaja Mulawarman (anak Aswawarman)
  4. Maharaja Marawijaya Warman
  5. Maharaja Gajayana Warman
  6. Maharaja Tungga Warman
  7. Maharaja Jayanaga Warman
  8. Maharaja Nalasinga Warman
  9. Maharaja Nala Parana Tungga
  10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
  11. Maharaja Indra Warman Dewa
  12. Maharaja Sangga Warman Dewa
  13. Maharaja Candrawarman
  14. Maharaja Sri Langka Dewa
  15. Maharaja Guna Parana Dewa
  16. Maharaja Wijaya Warman
  17. Maharaja Sri Aji Dewa
  18. Maharaja Mulia Putera
  19. Maharaja Nala Pandita
  20. Maharaja Indra Paruta Dewa
  21. Maharaja Dharma Setia.

B. Kehidupan Politik Kerajaan Kutai

Dalam kehidupan politik seperti yang dijelaskan dalam yupa bahwa raja terbesar Kutai adalah Mulawarman, putra Aswawarman dan Aswawarman adalah putra Kudungga. Dalam yupa juga dijelaskan bahwa Aswawarman disebut sebagai Dewa Ansuman/Dewa Matahari dan dipandang sebagai Wangsakerta atau pendiri keluarga raja. Hal ini berarti Asmawarman sudah menganut agama Hindu dan dipandang sebagai pendiri keluarga atau dinasti dalam agama Hindu.

Untuk itu para ahli berpendapat Kudungga masih nama Indonesia asli dan masih sebagai kepala suku, yang menurunkan raja-raja Kutai. Dalam kehidupan sosial terjalin hubungan yang harmonis/erat antara Raja Mulawarman dengan kaum Brahmana, seperti yang dijelaskan dalam yupa, bahwa Raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di dalam tanah yang suci bernama Waprakeswara. Istilah Waprakeswara tempat suci untuk memuja Dewa Siwa di pulau Jawa disebut Baprakewara. Sejak muncul dan berkembangnya Pengaruh Hindu di Kaltim, terjadi perubahan dalam tata pemerintahan, yaitu dari sistem pemerintahan kepala suku menjadi sistem pemerintahan raja atau feodal.

C. Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Kutai

Berdasarkan isi prasasti-prasasti Kutai, dapat diketahui bahwa pada abad ke-4 M di daerah Kutai terdapat suatu masyarakat Indonesia yang telah banyak menerima pengaruh Hindu. Masyarakat tersebut telah dapat mendirikan suatu kerajaan yang teratur rapi menurut pola pemerintahan di India. Masyarakat Indonesia menerima unsur-unsur dari luar dan mengembangkannya sesuai dengan tradisi bangsa Indonesia. Kehidupan budaya masyarakat Kutai sebagai berikut:

  1. Masyarakat Kutai adalah masyarakat yang menjaga akar tradisi budaya nenek moyangnya.
  2. Masyarakat yang sangat tanggap terhadap perubahan dan kemajuan kebudayaan. Menjunjung tingi semangat keagamaan dalam kehidupan kebudayaannya.
  3. Masyarakat Kutai juga adalah masyarakat yang respons terhadap perubahan dan kemajuan budaya. Hal ini dibuktikan dengan kesediaan masyarakat Kutai yang menerima dan mengadaptasi budaya luar (India) ke dalam kehidupan masyarakat.
  4. Selain dari itu masyarakat Kutai dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi spirit keagamaan dalam kehidupan kebudayaannya. Penyebutan Brahmana sebagai pemimpin spiritual dan ritual keagamaan dalam yupa-prasasti yang mereka tulis menguatkan kesimpulan itu.

D. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Kutai

Kehidupan ekonomi di Kerajaan Kutai dapat diketahui dari dua hal berikut ini:

  1. Letak geografis Kerajaan Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Kutai menjadi tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai, di samping pertanian.
  2. Keterangan tertulis pada prasasti yang mengatakan bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan hartanya berupa minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.

E. Kehidupan Keagamaan Kerajaan Kutai

Agama Hindu di Kerajaan Kutai mulai berkembang pada masa pemerintahan Raja Aswawarman. Agama Hindu yang berkembang adalah Hindu Syiwa sebagai dewa tertinggi tetapi di luar golongan brahmana dan ksatria, sebagian besar masyarakat Kutai masih menjalankan adat istiadat dan kepercayaan asli mereka. Jadi, walaupun Hindu telah menjadi agama resmi kerajaan, masih terdapat kebebasan bagi masyarakatnya untuk menjalankan kepercayaan aslinya. Dewa Syiwa diyakini sebagai simbol Brahma yang memiliki kekuatan untuk meleburkan alam semesta. Perkembangan agama Hindu Syiwa dibuktikan dengan adanya tempat suci yang bernama Waprakeswara yang digunakan untuk memuja Dewa Syiwa.

Di Kerajaan Kutai, agama Hindu Syiwa menjadi agama resmi, walaupun hanya berkembang di lingkungan istana. Sedangkan, rakyat Kutai masih pada kepercayaan kaharingan. Kaharingan adalah kepercayaan suku Dayak di Kalimantan, yang menyembah Ranying Hatalla Langit sebagai pencipta alam semesta. Kepercayaan ini memiliki beberapa persamaan dengan agama Hindu satunya penggunaan sesajen. Oleh karena itu, pada tanggal 20 April 1980, kaharingan dimasukkan dalam kategori agama Hindu.

F. Masa Kejayaan Kerajaan Kutai

Tidak banyak informasi mengenai Kerajaan Kutai yang temukan. Tetapi menurut prasasti Yupa, puncak kejayaan Kerajaan Kutai berada pada masa pemerintahan Raja Mulawarman. Pada masa pemerintahan Mulawarman, kekuasaan Kutai hampir meliputi seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai pun hidup sejahtera dan makmur.

Ditemukannya prasasti atau yupa di Muara Kaman merupakan salah satu bukti bahwa kehidupan Kutai sangatlah makmur dan sejahtera. Kejayaan Kerajaan Kutai meredup ketika berada di bawah pimpinan Dinasti Kudungga. Hal ini terjadi ketika Kerajaan besar seperti Majapahit dan Singosari sedang mengalami masa-masa kegemilangan. Sejak saat itu, tidak ada lagi cerita tentang kehidupan Kerajaan Kutai yang berada di bawah Dinasti Kudungga. Kudungga berasal dari Kerajaan Campa di Kamboja.

Aswawarman yang merupakan anak dari Kudungga dipercaya untuk menjadi raja pertama di Kerajaan Kurtai Martadipura dengan sebutan Wangsakerta. Tetapi, pada beberapa catatan sejarah juga ada yang menganggap Kudungga sebagai raja yang pertama dari Kutai. Setelah Raja Aswawarman, tonggak kepemimpinan Kerajaan Kutai diberikan kepada Raja Mulawarman. Raja Mulawarman merupakan anak dari Raja Aswawarman. Dimasa pemerintahan Raja Mulawarman ini kerajaan mencapai masa kejayaan.

Hal ini terjadi karena kebijaksanaan dan perhatiannya terhadap hal-hal yang bersifat religius. Raja Mulawarman memberikan hadiah berupa emas, tanah, dan ternak secara adil kepada para Brahmana. Selain itu, beliau juga mengadakan upacara sedekah di tempat yang dianggap suci atau Waprakeswara. Pada masa pemerintahan Raja Mulawarman, rakyat juga sangat menghormati rajanya dengan menyelenggarakan kenduri demi keselamatan sang raja. Bukti kebesaran Raja Mulawarman juga tertuang dalam tulisan-tulisan yang ada di tugu prasasti. Prasasti Mulawarman terdiri dari tujuh Yupa. Prasasti tersebut berisi puisi anustub. Namun dari ketujuh prasasti tersebut, hanya empat Yupa yang sudah berhasil dibaca dan diterjemahkan.

G. Keruntuhan Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan melawan Aji Pangeran Sinum Panji yang merupakan Raja dari Kerajaan Kutai Kartanegara. Kutai dan Kutai Kartanegara merupakan dua buah kerajaan yang berbeda. Kutai Kartanegara berdiri pada abad ke-13 di Kutai Lama. Terdapatnya dua kerajaan yang berada di sungai Mahakam tersebut menimbulkan friksi di antara keduanya. Pada abad ke-16 terjadi peperangan di antara kedua Kerajaan tersebut.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kutai adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Berdiri sekitar abad ke-4. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh. Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M.

Dalam kehidupan politik seperti yang dijelaskan dalam yupa bahwa raja terbesar Kutai adalah Mulawarman, putra Aswawarman dan Aswawarman adalah putra Kudungga. Dalam yupa juga dijelaskan bahwa Aswawarman disebut sebagai Dewa Ansuman/Dewa Matahari dan dipandang sebagai Wangsakerta atau pendiri keluarga raja. Hal ini berarti Asmawarman sudah menganut agama Hindu dan dipandang sebagai pendiri keluarga atau dinasti dalam agama Hindu.

B. Saran

Melalui makalah Kerajaan Kutai ini, penulis menyarankan agar jangan melupakan sejarah bangsa kita, dan berusaha menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah yang ada di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

https://liya2000.blogspot.co.id/2017/02/makalah-kerajaan-Kutai-dan-tarumanegara_82.html

http://fickyfebryadi97.blogspot.co.id/2013/08/sejarah-kerajaan-Kutai-dan-tarumanegara.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kutai

https://id.wikipedia.org/wiki/Tarumanagara

Download Contoh Makalah Kerajaan Kutai.docx

Download juga:

Makalah Kerajaan Kalingga

Makalah Kerajaan Kediri

Makalah Kerajaan Majapahit

Makalah Kerajaan Mataram Kuno (Kerajaan Medang)

Makalah Kerajaan Singasari

Makalah Kerajaan Sriwijaya

Makalah Kerajaan Tarumanegara

Makalah Kerajaan Tulang Bawang

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH