Proses Pembentukan Barang Tambang

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Proses Pembentukan Barang Tambang tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kita selaku umatnya.

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun, kami menyadari bahwa dalam kelancaran penyusunan makalah tentang Proses Pembentukan Barang Tambang ini tidak lain berkat bantuan dari berbagai pihak, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi dapat teratasi.

Semoga makalah Proses Pembentukan Barang Tambang ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami, sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Amiin.

Indonesia, Mei 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wilayah Indonesia secara geologis merupakan pertemuan antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia. Pertemuan kedua lempeng tektonik tersebut membentuk dua jalur pegunungan lipatan yang melalui wilayah Indonesia, yaitu Sirkum Mediterania dan Sirkum Pasifik. Oleh karena itu, Indonesia memiliki gunung api aktif serta sering terjadi gempa bumi.

Permukaan bumi dapat berubah bentuk akibat pengaruh gaya endogen yang membentuk antiklinal, sinklinal, patahan-patahan bergerak dan lainnya. Pada saat terjadi perubahan bentuk dan tekanan dari dalam bumi, terjadi proses pembentukan cebakan atau barang tambang. Akibatnya, terdapat lokasi-lokasi kaya minyak bumi, batu bara, nikel, besi, dan lain-lain.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimana proses pembentukan minyak bumi dan gas alam?
  2. Bagaimana proses pembentukan emas?
  3. Bagaimana proses pembentukan batu bara?
  4. Bagaimana proses pembentukan mineral?

C. Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui proses pembentukan minyak bumi dan gas alam?
  2. Untuk mengetahui proses pembentukan emas?
  3. Untuk mengetahui proses pembentukan batu bara?
  4. Untuk mengetahui proses pembentukan mineral?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Proses Pembentukan Minyak Bumi dan Gas Alam

Minyak bumi dan gas alam merupakan barang yang sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup umat manusia. Minyak bumi dan gas yang kita gunakan sebagai bahan bakar kendaraan, bahan bakar perapian ternyata telah melalui berbagai tahapan. Minyak bumi yang terdapat dialam bukanlah berbentuk sesuai dengan uang bisa kita nikmati sekarang ini, akan tetapi telah melalui proses yang panjang sampai bisa kita nikmati sekarang ini. Terdapat tiga teori yang mengemukakan proses pembentukan minyak bumi dan gas alam lengkap dengan penjelasannya. Tiga teori proses pembentukan minyak bumi dan gas yaitu:

1. Teori Organik

Teori organik juga disebut dengan teori biogenetik. Menurut teori organik, minyak bumi dan gas berasal dari tubuh hewan dan tumbuhan yang mati jutaan tahun yang lalu dan terpendam di dalam endapan lumpur. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu endapan lumpur tersebut mengalir ke arah lautan dan mengendap selama beribu-ribu tahun. Endapan lumpur dari hewan dan tumbuhan yang mati di daratan terus mengalir ke arah lautan dan terakumulasi di dasar lautan. Karena pengaruh waktu dan suhu membuat jasad tumbuhan dan binatang tersebut berubah menjadi bintik-bintik dan gelembung minyak atau gas.

2. Teori Anorganik

Menurut teori ini proses pembentukan minyak bumi dan gas alam lengkap terjadi karena adanya aktivitas bakteri. Unsur oksigen, belerang, nitrogen dari jasad yang terkubur berasal dari aktivitas bakteri yang kemudian berubah menjadi minyak bumi dan gas.

3. Teori Duplex

Teori yang merupakan perpaduan antara teori organik dan teori anorganik menjelaskan bahwa minyak bumi dan gas berasal dari organisme laut baik tumbuhan maupun hewan. Berdasarkan teori duplex, minyak bumi berasal dari materi hewani dan gas alam berasal dari materi nabati. Akibat pengaruh waktu dan suhu, endapan lumpur berubah menjadi batuan sedimen. Batuan tersebut mengandung bintik-bintik minyak dan gas yang kemudian bermigrasi menuju tempat yang mempunyai tekanan rendah dan akhirnya terakumulasi di suatu tempat tertentu. Tempat tersebut adalah tempat yang disebut dengan trap atau tempat yang akan di lakukan pengeboran minyak dan gas bumi.

Beberapa ada yang lebih mendukung teori anorganik, namun ada pula yang mendukung teori organik dan duplex. Teori yang paling banyak digunakan adalah perpaduan dari kedua teori organik dan anorganik yaitu teori duplex. Minyak bumi dan gas alam disebut dengan barang yang tidak dapat di perbaharui sama seperti mineral dan batu bara. Hal ini dikarenakan proses pembentukan minyak bumi dan gas memerlukan waktu yang sangat lama. Oleh karena itu beberapa pemerintah di negara-negara tertentu membatasi eksploitasi minyak bumi dan gas alam di wilayah negaranya guna menjaga jumlah minyak bumi dan gas alam untuk generasi yang akan datang.

B. Proses Pembentukan Emas

Emas termasuk unsur berat karena memiliki massa atom yang besar. Karena itu, emas di bumi terletak di dekat inti bumi. Sejumlah proses geologi membuat emas yang ada di magma bumi naik ke kerak hingga permukaan bumi. Emas tidak ditemukan sebagai logam tunggal di alam. Ia biasanya berasosiasi dengan logam lain, seperti tembaga, seng, timbal, aluminium, atau molibdenum.

Menurut Syafrizal, emas terbentuk melalui proses mineralisasi atau terbentuknya mineral yang mengandung unsur-unsur logam tertentu. Mineralisasi berasal dari proses lebur kembalinya sebagian kerak bumi menjadi magma (partial melting) akibat tumbukan kerak (lempeng) benua dan kerak samudra yang menghasilkan panas tinggi.

Magma yang cair itu akan bergerak ke permukaan bumi melalui zona-zona lemah. Zona ini salah satunya terbentuk dari pecahnya batuan akibat tumbukan antar lempeng. Sebaliknya, zona permeabel memungkinkan air di permukaan bumi merembes ke dalam bumi. Air itu akan bereaksi dengan magma bumi hingga magma mengalami pendinginan dan membeku membentuk padatan yang mengandung mineral tertentu, termasuk emas.

Mantan peneliti di institut astronomi max-planck (mpia) heidelberg, jerman, dading nugroho, mengatakan, beberapa detik hingga tiga menit setelah dentuman besar (big bang), alam semesta membentuk hidrogen, helium, dan litium sebagai unsur-unsur ringan. Hidrogen menjadi bahan bakar pembentukan bintang di awal semesta. Selanjutnya, reaksi fusi dalam bintang akan mengubah hidrogen menjadi berbagai unsur lain, seperti helium, karbon, neon, dan oksigen. Unsur paling berat yang dibentuk dalam bintang adalah besi.

Unsur yang lebih berat dari besi, termasuk emas, dapat dibentuk melalui proses penangkapan neutron. Penangkapan neutron itu membuat inti atom suatu unsur menjadi tidak stabil hingga terjadi peluruhan dan menghasilkan unsur yang lebih berat dari besi. Selama ini, astronom meyakini supernova yang membentuk emas di semesta. Namun, pengamatan Edo Berger, peneliti dari pusat astrofisika (CFA) Harvard-Smithsonian, Cambridge, Amerika Serikat, terhadap semburan sinar gamma grb 130603b yang berjarak 3,9 miliar tahun cahaya dari bumi dan diumumkan pada rabu (17/7/2013) membuktikan, emas juga dibentuk dari tabrakan dua bintang neutron.

Tabrakan dua bintang neutron itu menghasilkan semburan sinar gamma yang menandakan obyek penghasilnya memiliki energi tinggi. Bintang neutron adalah bintang ultra padat, sisa dari bintang raksasa yang mengakhiri hidupnya dengan ledakan. Jika satu sendok teh materi dari bumi bermasa 5 gram, maka satu sendok teh materi bintang neutron memiliki massa 5 miliar ton. Materi hasil tabrakan bintang neutron maupun supernova kemudian bertebaran di semesta. Jika ada satu pemicu, materi-materi itu bisa membentuk bintang baru beserta planet-planetnya. Proses ini yang membuat emas bisa sampai di bumi.

Namun, jika hanya mengandalkan emas dari supernova atau tabrakan bintang neutron, jumlah emas di kerak bumi tidak akan sebanyak sekarang. Penelitian batuan dari Greenland berumur 3,8 miliar tahun oleh Matthias Willbold dan Tim Elliott dari Universitas Bristol, Inggris, pada 2011 menyimpulkan, jumlah emas di bumi diperkaya oleh bombardir meteor pada lebih dari 200 juta tahun sejak bumi terbentuk. Bombardir meteor itu membawa 20 miliar ton bahan asteroid yang kaya aneka logam, termasuk emas . Namun, karena saat itu inti bumi sudah terbentuk, emas tambahan tidak sampai jatuh ke inti bumi.

C. Proses Pembentukan Batu Bara

Batu bara merupakan sumber energi yang selama ini banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang kehidupan. Pada dasarnya batu bara merupakan bahan bakar fosil dan termasuk dalam kategori batuan sedimen.

Proses pembentukan batu bara sendiri sangatlah kompleks dan membutuhkan waktu hingga berjuta-juta tahun lamanya. Batu bara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan purba yang kemudian mengendap selama berjuta-juta tahun dan mengalami proses pembatu baraan (coalification) di bawah pengaruh fisika, kimia, maupun geologi. Oleh karena itu, batu bara termasuk dalam kategori bahan bakar fosil. Secara ringkas ada 2 tahap proses pembatu baraan yang terjadi, yakni:

  1. Tahap Diagenetik atau Biokimia (Penggambutan), dimulai pada saat di mana tumbuhan yang telah mati mengalami pembusukan (terdeposisi) dan menjadi humus. Humus ini kemudian diubah menjadi gambut oleh bakteri anaerobik dan fungi hingga lignit (gambut) terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.
  2. Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan akhirnya antrasit.

Secara lebih rinci, proses pembentukan batu bara dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Pembusukan, bagian-bagian tumbuhan yang lunak akan diuraikan oleh bakteri anaerob.
  2. Pengendapan, tumbuhan yang telah mengalami proses pembusukan selanjutnya akan mengalami pengendapan, biasanya di lingkungan yang berair. Akumulasi dari endapan ini dengan endapan-endapan sebelumnya akhirnya akan membentuk lapisan gambut.
  3. Dekomposisi, lapisan gambut akan mengalami perubahan melalui proses biokimia dan mengakibatkan keluarnya air dan sebagian hilangnya sebagian unsur karbon dalam bentuk karbon dioksida, karbon monoksida, dan metana. Secara relatif, unsur karbon akan bertambah dengan adanya pelepasan unsur atau senyawa tersebut.
  4. Geotektonik, lapisan gambut akan mengalami kompaksi akibat adanya gaya tektonik dan kemudian akan mengalami perlipatan dan patahan. Batu bara low grade dapat berubah menjadi batu bara high grade apabila gaya tektonik yang terjadi adalah gaya tektonik aktif, karena gaya tektonik aktif dapat menyebabkan terjadinya intrusi atau keluarnya magma. Selain itu, lingkungan pembentukan batu bara yang berair juga dapat berubah menjadi area darat dengan adanya gaya tektonik setting tertentu.
  5. Erosi, merupakan proses pengikisan pada permukaan batu bara yang telah mengalami proses geotektonik. Permukaan yang telah terkelupas akibat erosi inilah yang hingga saat ini dieksploitasi manusia.

Faktor-faktor dalam pembentukan batu bara sangat berpengaruh terhadap bentuk maupun kualitas dari lapisan batu bara. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan batu bara adalah:

  1. Material dasar, yakni flora atau tumbuhan yang tumbuh beberapa juta tahun yang lalu, yang kemudian terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim clan topografi tertentu. Jenis dari flora sendiri amat sangat berpengaruh terhadap tipe dari batu bara yang terbentuk.
  2. Proses dekomposisi, yakni proses transformasi biokimia dari material dasar pembentuk batu bara menjadi batu bara. Dalam proses ini, sisa tumbuhan yang terendapkan akan mengalami perubahan baik secara fisika maupun kimia.
  3. Umur geologi, yakni skala waktu (dalam jutaan tahun) yang menyatakan berapa lama material dasar yang diendapkan mengalami transformasi. Untuk material yang diendapkan dalam skala waktu geologi yang panjang, maka proses dekomposisi yang terjadi adalah fase lanjut clan menghasilkan batu bara dengan kandungan karbon yang tinggi.
  4. Posisi geotektonik, yang dapat mempengaruhi proses pembentukan suatu lapisan batu bara dari:
    1. Tekanan yang dihasilkan oleh proses geotektonik dan menekan lapisan batu bara yang terbentuk.
    2. Struktur dari lapisan batu bara tersebut, yakni bentuk cekungan stabil, lipatan, atau patahan.
    3. Intrusi magma, yang akan mempengaruhi dan/atau merubah grade dari lapisan batu bara yang dihasilkan.
  5. Lingkungan pengendapan, yakni lingkungan pada saat proses sedimentasi dari material dasar menjadi material sedimen.

D. Proses Pembentukan Mineral

Mineral didefinisikan sebagai bahan padat anorganik yang terdapat secara alamiah, terdiri dari unsur-unsur kimiawi dalam perbandingan tertentu, di mana atom-atom di dalamnya tersusun mengikuti suatu pola yang sistematis. Beberapa jenis mineral memiliki sifat dan bentuk tertentu dalam keadaan padatnya, sebagai perwujudan dari susunan yang teratur di dalamnya. Adapun proses pembentukan mineral antara lain sebagai berikut:

1. Proses Magmatik

Proses ini merupakan proses pembentukan mineral dengan cara pemisahan magma, yang diakibatkan oleh pendinginan dan penurunan temperatur dan membentuk satu atau lebih jenis batuan beku. Contoh: Platina, Timah, Intan, Tembaga.

2. Proses Pengendapan dan Pelapukan

Proses ini terjadi akibat perubahan sifat fisik dan kimia pada batuan penyusun kerak bumi yang di akibatkan oleh proses atmosfer dan hidrosfer. Contoh: Kaolin.

3. Proses Hidrotermal

Merupakan proses pengendapan larutan sisa magma yang keluar melalui rekahan pada temperatur yang cukup rendah. Contoh: Kuarsa, Klorit, Kalkosit.

4. Proses Pegmatit

Proses ini merupakan kelanjutan dari proses magmatik di mana larutan sisa magma akan mengalami pendinginan atau penurunan temperatur. Contoh: Grapit, Kuarsa, Pirit.

5. Proses Karbonatit

Merupakan proses pembentukan batuan sedimen terutama yang disusun oleh mineral-mineral karbonat. Contoh: Dolomit.

6. Skarn

Merupakan proses pembentukan mineral pada batuan samping dengan terjadinya kontak antara batuan sumber dan batuan karbonat.

7. Sublimasi

Merupakan proses pembentukan mineral dan batuan yang terjadi akibat proses pemadatan dari uap/gas yang berasal dari magma. Contoh: Sulfur.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Minyak bumi terbentuk dari penguraian senyawa-senyawa organik dari jasad mikroorganisme jutaan tahun yang lalu di dasar laut atau di darat. Sisa-sisa tumbuhan dan hewan tersebut tertimbun oleh endapan pasir, lumpur, dan zat-zat lain selama jutaan tahun dan mendapat tekanan serta panas bumi secara alami. Bersamaan dengan proses tersebut, bakteri pengurai merombak senyawa-senyawa kompleks dalam jasad organik menjadi senyawa-senyawa hidrokarbon. Proses penguraian ini berlangsung sangat lamban sehingga untuk membentuk minyak bumi dibutuhkan waktu yang sangat lama. Itulah sebabnya minyak bumi termasuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, sehingga dibutuhkan kebijaksanaan dalam eksplorasi dan pemakaiannya.

B. Saran

Menjaga pelestarian sumber daya mineral/bahan tambang agar dapat digunakan untuk kehidupan dan kebutuhan manusia. Penggalian sumber daya mineral/bahan tambang harus memperhatikan lingkungan agar tidak rusak Menggunakan bahan tambang dengan seefisien mungkin.

DAFTAR PUSTAKA

http://dokumen.tips/documents/makalah-barang-tambang.html

http://hedisasrawan.blogspot.co.id/2013/05/proses-pembentukan-minyak-bumi-materi.html

http://logku.blogspot.co.id/2011/02/proses-pembentukan-batubara.html

http://mining13.blogspot.co.id/2014/09/proses-pembentukan-mineral.html

http://pengayaan.com/proses-pembentukan-minyak-bumi-dan-gas-alam-lengkap/

http://smpn1tasikmalaya.blogspot.com/2013/10/asal-usul-emas-indonesia-dan-sejarahnya.html

Download Contoh Makalah Proses Pembentukan Barang Tambang.docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH