Psikologi Agama

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas ke hadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Psikologi Agama ini.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah Psikologi Agama ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah Psikologi Agama ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Indonesia, Juni 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi, kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya yang maha kuasa tempat mereka berlindung dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbangan manusia dilandasi kepercayaan beragama. Sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika, kebutuhan akan beragama tertanam dalam dirinya. Kestabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kestabilan yang statis. Adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya.

Ketika mengkaji psikologi agama, seseorang dihadapkan pada dua hal yakni “psikologi” dan “agama”. Kedua kata tersebut memiliki pengertian dan penggunaan yang berbeda, meskipun keduanya mempunyai kajian aspek yang sama yaitu aspek batin manusia. Memang, manusia mungkin saja memanipulasi apa yang dialaminya secara kejiwaan, hingga terlihat berbeda dalam sikap dan tingkah lakunya, bahkan mungkin bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya. Untuk membahas lebih lanjut mengenai psikologi agama, maka dalam makalah berikut akan diuraikan tentang pengertian, sejarah, metode, dan psikologi agama dalam Islam.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang ada, maka dapat diambil sebuah rumusan masalah sederhana sebagai berikut:

  1. Apa pengertian psikologi agama?
  2. Bagaimana sejarah pengembangkan psikologi agama?
  3. Bagaimana kerangka pengembangan kurikulum?
  4. Apa saja metode-metode yang digunakan dalam psikologi agama?
  5. Bagaimana perspektif psikologi agama dalam Islam?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Psikologi Agama

Psikologi agama merupakan cabang ilmu psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan pengaruh usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi. Tegasnya psikologi agama mempelajari dan meneliti fungsi-fungsi jiwa yang memantul dan memperlihatkan diri dalam perilaku dan kaitannya dengan kesadaran dan pengalaman agama manusia. Psikologi agama berbeda dari cabang-cabang psikologi yang lainya, karena dihubungkan dengan dua bidang pengetahuan yang berlainan. Sebagian harus tunduk kepada agama dan sebagian lainnya tunduk kepada ilmu jiwa (psikologi). Sebagaimana telah diketahui bahwa psikologi agama sebagai salah-satu cabang dari psikologi, merupakan ilmu terapan.

Psikologi Agama menggunakan dua kata yaitu “psikologi” dan “agama”. Kedua kata tersebut memiliki pengertian dan penggunaan yang berbeda, meskipun keduanya memiliki aspek kajian yang sama yaitu aspek batin manusia. Kata psikologi (ilmu jiwa) dipergunakan secara umum untuk ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia.

1. Pengertian Psikologi

Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa, dan beradab. Menurut Robert H. Thouless, mendefinisikan psikologi sebagai ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia. Menurut Plato dan Aristoteles psikologi adalah ilmu yang mempelajari hakikat manusia. Secara umum psikologi adalah sebuah ilmu yang meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaan yang berada di belakangnya.

2. Pengertian Agama

Berikutnya kata agama juga menyangkut masalah yang berhubungan dengan kehidupan batiniah manusia. Agama sebagai bentuk keyakinan, memang sulit diukur secara tepat dan terperinci. Hal ini pula yang menyulitkan para ahli untuk mendefinisikan yang tepat tentang agama. J.H. Leube dalam bukunya A Psychological Study of Religion telah memasukkan lampiran yang berisi 48 definisi agama, tampaknya juga belum memuaskan. Max Muller berpendapat bahwa definisi agama secara lengkap belum tercapai kerena penelitian terhadap agama terus dilakukan dan para ahli masih menyelidiki asal-usul agama. Edward Burnett Tylor berpendapat bahwa definisi minimal agama adalah “kepercayaan kepada wujud spiritual” (the belief in spiritual beings).

Agama berasal dari bahasa Sanskirit. Harun Nasution merunut pengertian agama berdasarkan asal kata, yaitu al-Din, religi (relegere, religare) dan agama. Al-Din (Semit) berarti undang-undang atau hukum. Kemudian dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Sedangkan dari kata religi atau relegere berarti mengumpulkan dan membaca. Emile Durkheim berpendapat agama adalah alam gaib yang tidak dapat diketahui dan tidak dapat dipikirkan oleh akal manusia sendiri.

Menurut Sutan Takdir Alisjahbana agama adalah suatu sistem kelakuan dan perhubungan manusia yang berpokok pada perhubungan manusia dengan rahasia kekuatan dan kegaiban yang tidak berhingga luas, mendalam dan mesranya, sehingga memberi arti kepada hidupnya dan kepada alam semesta yang mengelilinginya. Agama adalah wahyu yang diturunkan Tuhan untuk manusia. Fungsi dasar agama adalah memberikan orientasi, motivasi, dan membantu manusia untuk mengenal dan menghayati sesuatu yang sakral.

3. Pengertian Psikologi Agama

Psikologi Agama menurut Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat ialah meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang. Karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi, dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan masuk ke dalam kontribusi kepribadiannya. Dr. Nico Syukur Dister berpendapat psikologi agama adalah ilmu yang menyelidiki pendorong tindakan-tindakan manusia, baik yang sadar maupun yang tidak sadar, yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap ajaran/wahyu “Nan Illahi” (segala sesuatu yang bersifat dewa-dewa) yang juga tidak terlepas dari pembahasan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Dari pendapat para ahli tersebut tentang psikologi agama dapat diambil pengertian secara umum, psikologi agama yaitu ilmu pengetahuan yang membahas pengaruh agama dalam diri (kognitif = pengetahuan, afektif = perasaan/sikap, behavior = perilaku atau tindakan) seseorang dalam kehidupannya yaitu dalam berinteraksi dengan Tuhan/Pencipta, sesama manusia dan lingkungannya.

B. Sejarah Perkembangan Psikologi Agama

Tahun 1500-500 SM, di Yunani Mesir, Mesopotamia Purba, lahirlah berbagai agama. Agama Brahma menyuruh pengikutnya menyembah Dewa Tunggal, Agama Budha (400-750 M) menyembah Naga dan Raksasa, Agama Hindu di India (1500) SM menyembah banyak Dewa. Di Tiongkok (551-479 SM) lahir pula agama Khonghucu dikembangkan oleh Confusius. Pada tahun 560 SM, berkembang pula agama Budha di Kapilawastu, oleh Budha Guatama. Sekitar tahun 660-583 SM, lahir agama Majusi dibawa oleh Zarathustra keturunan Iran suku Spitama.

Selanjutnya di Jepang pada abat ke-6, muncul agama Shinto. Pada tahun 1570-1450 SM muncul agama Yahudi di tanah Arab wilayah Palestina, Mesir. Kurang lebih 21 abat yang lalu lahirlah agama Nasrani. Nama ini berasal dari kota Nazareth, yaitu kota kecil yang terletak kaki sebuah bukit. Agama ini dinamakan juga dinamakan agama Kristen (Chistten) yaitu diambil dari nama Nabinya Jesus Kristus, gelar kehormatan keagamaan buat Juses dari Nazareth pembawa agama ini. Kristus adalah bahasa Yunani. Rasul yang membawa agama Kristen ini adalah Isa Almasih atau Jesus Kristus. Pada abad ke 6 M, lahirlah agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Agama ini mengajarkan agar penganutnya menyembah Allah SWT. Agama Islam beraliran monoteisme, kitab pegangannya adalah Al-Quran dan Hadist Rasulullah.

Penelitian agama secara ilmu jiwa (psikologi modern) relatif masih muda. Para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikologi agama mulai popular sekitar abat ke-19. Ketika itu psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berpikir, dan mengemukakan perasaan keagamaan.

1. Perkembangan di Barat

Perkembangan psikologi agama di barat mengalami pasang surut. Bersamaan dengan perkembangan psikologi modern, pada tahun 1890-an, psikologi berkembang pesat. Tetapi pada tahun 1930-1950 psikologi agama mengalami penurunan. Setelah itu meningkat lagi, bahkan berkembang pesat pada tahun 1970 sampai sekarang. Menurut Thouless, sejak terbitnya buku The Varietes of Religion Experience tahun 1903, sebagai kumpulan kuliah William James di empat Universitas di Skotlandia, maka langkah awal kajian psikologi agama mulai diakui oleh para ahli psikologi dan dalam jangka waktu tiga puluh tahun kemudian, banyak buku-buku lain diterbitkan dengan konsep-konsep yang serupa.

Di antara buku-buku tersebut adalah The Psychology of Religion karangan Edwind Diller Starbuck, yang mendahului karangan Wlilliam James. Buku E.D. Starbuck yang terbit tahun 1899 ini kemudian disusul sejumlah buku lainnya seperti The Spiritual Life oleh George Albert Coe, tahun 1900, kemudian The Belief in God and Immortality (1921) oleh H.J. Leuba dan oleh Robert H. Thouless dengan judul An Introduction on the Psycology of Religion tahun 1923, serta R.A. Nicholson yang khususnya mempelajari mengenai aliran Sufisme dalam Islam dengan bukunya Studies in Islamic Mysticism, tahun 1921. Sejak itu , kajian-kajian tentang psikologi agama tampaknya tidak hanya terbatas pada masalah-masalah yang menyangkut kehidupan keagamaan secara umum, melainkan juga masalah khusus. J.B. Pratt misalnya, mengkaji mengenai kesadaran beragama melalui bukunya The Religius Conciusness (1920), Dame Julian yang mengkaji tentang wahyu dengan bukunya Revelation of Devine Love tahun 1901.

Selanjutnya, kajian-kajian psikologi agama juga tidak terbatas pada agama-agama yang ada di Barat (Kristen) saja melainkan juga agama-agama yang ada di Timur. A.J. Appasmyy dan B.H. Steeter menulis tentang masalah yang menyangkut kehidupan penganut agama Hindu dengan bukunya The Sadhu (1921). Sejalan dengan perkembangan itu, para penulis non-Barat pun mulai menerbitkan buku-buku mereka. Tahun 1947 terbit buku The Song of God Baghavad Gita, terjemahan Isherwood dan Prabhavanada, kemudian tahun 1952 Swami Madhavananda menulis buku Viveka-Chumadami of Sankaracharya yang disusul penulis India lainnya, Thera Nyonoponika dengan judul The Life of Sariptta (1966). Demikian pula, Swami Ghananda menulis tentang Sri Rama dengan judul Ramakrisna, His Unique Massage (1946).

2. Perkembangan di Timur

Di dunia Timur, khususnya di wilayah-wilayah kekuasaan Islam, tulisan-tulisan yang memuat kajian tentang hal serupa belum sempat dimasukkan. Padahal, tulisan Muhammad Ishaq ibn Yasar di abad ke-7 Masehi berjudul Al-Siyar wa al-Maghazi memuat berbagai fragmen dari biografi Nabi Muhammad SAW, atau pun Risalah Hayy Ibn Yaqzan fi Asrar al-Hikmat al-Masyriqiyyat yang juga ditulis oleh Abu Bark Muhammad ibn Abd-Al-Malin ibn Tufai (1106-1185 M) juga memuat masalah yang erat kaitannya dengan materi psikologi agama.

Demikian pula karya besar Abu Hamid Muhammad al-ghazali (1059-1111 M) berjudul Ihya’ ‘Ulum al-Din, dan juga bukunya Al-Munqidz min al-Dhalal (Penyelamat dari Kesesatan) yang sebenarnya, kaya akan muatan permasalahan yang berkaitan dengan materi kajian psikologi agama. Diperkirakan masih banyak tulisan-tulisan ilmuwan Muslim yang berisi kajian mengenai permasalahan serupa, namun sayangnya karya-karya tersebut tidak dapat dikembangkan menjadi disiplin ilmu tersendiri, yaitu psikologi agama seperti halnya yang dilakukan oleh kalangan ilmuwan Barat. Karya penulis Muslim pada zaman modern, seperti bukunya Al-Maghary yang berjudul Tatawwur al-Syu’ur al-Diny ‘Inda Tifl wa al-Murahid (Perkembangan Rasa Keagamaan pada Anak dan Remaja), bagaimanapun dapat disejajarkan dengan karya-karya yang dihasilkan oleh ahli-ahli psikologi agama lainnya. Karya lain yang lebih khusus mengenai psikologi agama adalah Ruh al-Din al-Islamy (Jiwa Agama Islam) karangan Alif Abd Al-Fatah, tahun 1956.

3. Perkembangan di Indonesia

Adapun di tanah air perkembangan psikologi agama dipelopori oleh tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang profesi ilmuwan, agamawan, dan bidang kedokteran. Di antara karya-karya awal yang berkaitan dengan psikologi agama adalah buku Agama dan Kesehatan Badan/Jiwa (1965), tulisan Prof. dr. H. Aulia. Kemudian Tahun 1975, K.H. S.S. Djam’an menulis buku Islam dan Psikosomatik. Dr. Nici Syukur Lister, menulis buku Pengalaman dan Motivasi Beragama: Pengantar Psikologi Agama.

Adapun pengenalan psikologi agama di lingkungan perguruan tinggi dilakukan oleh Prof. Dr. H.A. Mukti Ali dan Prof. Dr. Hj. Zakiah Darajat. Buku-buku yang khusus mengenai psikologi agama banyak dihasilkan oleh Prof. Dr. Zakiah Darajat, antara lain: Ilmu Jiwa Agama (1970), Peranan Agama dalam Kesehatan Mental (1970), dan Kesehatan Mental. Prof. Dr. Hasan Langgulung juga menulis buku Teori-teori Kesehatan Mental yang juga ikut memperkaya khazanah bagi perkembangan psikologi agama di Indonesia.

Sejak menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri, perkembangan psikologi agama dinilai cukup pesat, dibandingkan usianya yang masih tergolong muda. Perkembangan psikologi agama yang cukup pesat ini antara lain ditandai dengan diterbitnya berbagai karya tulis, baik buku maupun artikel dan jurnal yang memuat kajian tentang bagaimana agama dalam kehidupan manusia.

C. Metode-metode Penelitian dalam Psikologi Agama

Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama memiliki metode penelitian ilmiah. Kajian dilakukan dengan mempelajari fakta-fakta berdasarkan data yang terkumpul dan dianalisis secara objektif. Agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan batin yang sangat mendalam, maka masalah agama sulit untuk diteliti secara saksama, terlepas dari pengaruh-pengaruh subjektivitas. Namun demikian, agar penelitian mengenai agama dapat dilakukan lebih netral, dalam arti tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya, maka diperlukan adanya sikap yang objektif. Maka dalam penelitian psikologi agama perlu diperhatikan antara lain:

  1. Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia;
  2. Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris;
  3. Dalam penelitian harus bersikap filosofis spiritualitas;
  4. Tidak mencampuradukkan antara fakta dengan angan-angan atau perkiraan khayali;
  5. Mengenal dengan baik masalah-masalah psikologi dan metodenya;
  6. Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui metodologinya;
  7. Menyadari tentang adanya perbedaan antara ilmu dan agama;
  8. Mampu menggunakan alat-alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ilmiah.

Dengan berpedoman kepada petunjuk-petunjuk seperti dikemukakan di atas, diharapkan para peneliti dalam mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data akan bersikap lebih objektif. Dengan demikian, hasil yang diperoleh tidak akan menyimpang dari tujuan semula. Dalam meneliti ilmu jiwa agama menggunakan sejumlah metode, yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Dokumen Pribadi (Personal Document)

Metode ini digunakan untuk mempelajari tentang bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk memperoleh informasi mengenai hal tersebut maka cara yang ditempuh adalah mengumpulkan dokumen pribadi orang seorang. Dalam penerapannya, metode dokumen pribadi ini dilakukan dengan berbagai cara atau teknik-teknik tertentu. Di antara yang banyak digunakan adalah:

a. Teknik Nomotetik

Nomotetik merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami tabiat atau sifat-sifat dasar manusia dengan cara mencoba menetapkan ketentuan umum dari hubungan antara sikap dan kondisi-kondisi yang dianggap sebagai penyebab terjadinya sikap tersebut. Sedangkan, sikap yang terlihat sebagai kecenderungan sikap umum itu dinilai sebagai gabungan sikap yang terbentuk dari sikap-sikap individu yang ada di dalamnya.

Pendekatan ini digunakan untuk mempelajari perbedaan-perbedaan individu. Dalam penerapannya, nomotetik ini mengasumsikan bahwa pada diri manusia terdapat suatu lapisan dasar dalam struktur kepribadian manusia sebagai sifat yang merupakan ciri umum kepribadian manusia. Ternyata dalam kajian ini ditemukan bahwa individu memiliki sifat dasar yang secara umum sama, perbedaan masing-masing hanya derajat atau tingkatan saja.

b. Teknik Analisis Nilai (Value Analysis)

Teknik ini digunakan dengan dukungan analisis statistik. Data yang terkumpul diklasifikasikan menurut teknik statistik dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu yang diteliti.

c. Teknik Ideograf

Teknik ini juga merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami sifat-sifat dasar (tabiat) manusia. Berbeda dengan nomotetik, maka ideografi lebih dipusatkan pada hubungan antara sifat-sifat yang dimaksud dengan keadaan tertentu dan aspek-aspek kepribadian yang menjadi ciri khas masing-masing individu dalam upaya untuk memahami seseorang.

d. Teknik Penilaian Terhadap Sikap (Evaluation Attitudes Technique)

Teknik ini digunakan dalam penelitian terhadap biografi, tulisan atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti. Berdasarkan dokumen tersebut, kemudian ditarik kesimpulan, bagaimana pendirian seseorang terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam kaitan hubungannya dengan pengalaman dan kesadaran agama.

2. Kuesioner dan Wawancara

Metode kuesioner maupun wawancara digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang lebih banyak dan mendalam secara langsung kepada responden. Metode ini dinilai memiliki beberapa kelebihan antara lain:

  • Dapat memberi kemungkinan untuk memperoleh jawaban yang cepat dan segera;
  • Hasilnya dapat dijadikan dokumen pribadi tentang seseorang serta dapat pula diartikan data nomotetik;
  • Jawaban yang diberikan terikat oleh pertanyaan hingga responden tak dapat memberikan jawaban secara lebih bebas;
  • Sulit untuk menyusun pertanyaan yang mengandung tingkat relevansi yang tinggi, karena itu diperlukan keterampilan yang khusus untuk itu;
  • Kadang-kadang, sering terjadi salah penafsiran terhadap pertanyaan yang kurang tepat, dan tidak semua pertanyaan sesuai untuk setiap orang;
  • Untuk memperoleh jawaban yang tepat, dibutuhkan adanya jalinan kerja sama yang baik antara penanya dan responden. Dan kerja sama seperti itu memerlukan pendekatan yang baik dari si penanya.

Dalam penerapannya, metode kuesioner dan wawancara dilakukan dalam berbagai bentuk. Di antara cara yang digunakan adalah teknik pengumpulan data melalui:

a. Pengumpulan Pendapat Masyarakat (Public Opinion Polls)

Teknik ini merupakan gabungan antara kuesioner dan wawancara. Cara mendapatkan data adalah melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai. Data tersebut selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi yang sudah dibuat berdasarkan kepentingan penelitian. Teknik ini banyak digunakan oleh E.B. Taylor dalam penelitiannya.

b. Skala Penilaian (Rating Scale)

Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok.

c. Tes (Test)

Tes digunakan dalam upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu. Untuk memperoleh gambaran yang diinginkan, biasanya diperlukan bentuk tes yang sudah disusun secara sistematis.

d. Eksperimen Teknik

Eksperimen digunakan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keagamaan seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat. Teknik ini sering digunakan oleh J.B. Cock dalam melakukan penelitiannya.

e. Observasi melalui Pendekatan Sosiologi dan Antropologi (Sociological and Anthropological Observation)

Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sosiologi dengan mempelajari sifat-sifat manusiawi orang per orang atau kelompok. Selain itu juga menjadikan unsur-unsur budaya yang bersifat materi (benda budaya) dan yang bersifat spiritual (mantra, ritus) yang dinilai ada hubungannya dengan agama.

f. Studi Agama Berdasarkan Pendekatan Antropologi Budaya

Cara ini digunakan dengan membandingkan antara tindak keagamaan (upacara, ritus) dengan menggunakan pendekatan psikologi. Melalui pengukuran statistik kemudian dibuat tolok ukur berdasarkan pendekatan psikologi yang dihubungkan dengan kebudayaan.

g. Pendekatan terhadap Perkembangan (Development Approach)

Teknik ini digunakan untuk meneliti mengenai asal-usul dan perkembangan aspek psikologi manusia dalam hubungannya dengan agama yang dianutnya. Cara yang digunakan antara lain, melalui pengumpulan dokumen, catatan-catatan, riwayat hidup, dan data antropologi. Cara ini digunakan oleh Sigmund Freud E.B. Taylor dan juga Frans Boas.

h. Metode Klinis dan Proyektivitas (Clinical Method and Projectivity Technique)

Dalam pelaksanaannya, metode ini memanfaatkan cara kerja klinis. Penyembuhan dilakukan dengan cara menyelaraskan hubungan antara jiwa dengan agama. Usaha penyembuhan dititikberatkan pada kepentingan manusia (penderita), kemudian untuk kepentingan penelitian digunakan teknik proyektivitas melalui riset dan pengumpulan data tertulis mengenai penderita sebagai bahan diagnosa. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pengamatan terhadap penderita.

i. Metode Umum Proyektivitas

Berupa penelitian dengan cara menyadarkan sejumlah masalah yang mengandung makna tertentu. Selanjutnya, peneliti memperhatikan reaksi yang muncul dari responden. Dengan membiarkan reaksi secara tak sengaja itu, maka pernyataan yang muncul dari reaksi tadi dijadikan dasar penafsiran terhadap gejala yang diteliti. Reaksi merupakan kunci pembuka rahasia.

j. Apersepsi Nomotetik (Nomothatic Apperception)

Caranya dengan menggunakan gambar-gambar yang samar.

k. Studi Kasus (Case Study)

Studi kasus dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen, catatan, hasil wawancara atau lainnya untuk kasus-kasus tertentu.

l. Survei

Biasanya digunakan dalam penelitian sosial. Metode ini dapat digunakan untuk tujuan penggolongan manusia dalam hubungannya dengan pembentukan organisasi dalam masyarakat.

D. Psikologi Agama dalam Islam

Secara terminologi, memang psikologi agama tidak dijumpai dalam kepustakaan Islam klasik, karena latar belakang sejarah perkembangannya bersumber dari literatur barat dan di kalangan ilmuan barat yang mula-mula menggunakan sebutan psikologi agama adalah Edwin Diller Starbuck, melalui karangannya Psycholigy of Religion yang terbit tahun 1899. Namun hal ini tidak berarti bahwa di luar itu studi yang berkaitan dengan psikologi agama belum pernah dilakukan oleh para ilmuan non-barat.

Meskipun di kalangan ilmuan muslim kajian-kajian dalam psikologi agama mulai dilakukan secara khusus sekitar pertengahan abad ke-20, namun permasalahan yang ada sangkut pautnya dengan kajian ini sudah berlangsung sejak awal perkembangan Islam. Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai konsep ajaran Islam yang dapat dijadikan acuan dalam studi psikologi agama.

Sudah sejak lama Alquran menginformasikan bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki sosok diri yang terbentuk dari unsur fisik dan non-fisik. Secar anatomis, pemahaman unsur fisik tak jauh berbeda dari konsep manusia menurut pandangan ilmuan barat, meskipun dalam pengertian khusus konsep Islam tentang manusia lebih rinci.

Dalam pengertian umum, Alquran menyebut manusia sebagai Bani Adam. Konsep ini untuk menggambarkan nilai-nilai universal yang ada pada diri setiap manusia tanpa melihat latar belakang perbedaan jenis kelamin, ras, dan suku bangsa ataupun aliran kepercayaan masing-masing. Bani Adam menggambarkan tentang kesamaan dan persamaan manusia yang tampak lebih ditekankan pada aspek fisik.

Selanjutnya manusia menurut pandangan Islam juga dipandang sebagai makhluk psikis. Dari sudut pandang ini, pemahaman manusia berdasarkan aspek psikis ini sama sekali berbeda dengan pandangan ilmuan barat. Umumnya, pemahaman barat tentang aspek psikis manusia terbatas pada unsur-unsur kognisi ruh dan akal merupakan potensi manusia yang dapat dikembangkan. Tetapi yang jelas unsur-unsur psikis manusia itu menurut konsep Islam senantiasa dihubungkan dengan nilai-nilai agama.

Meskipun unsur ruh yang menjadi bagian dari psikis hanya dijelaskan melalui informasi yang sangat terbatas, namun ruh dapat diartikan sebagai unsur psikis yang mengisyaratkan manusia mempunyai kecenderungan yang berbeda-beda. Kemudian unsur akal merupakan unsur psikis manusia yang mencakup dorongan moral untuk melakukan kebaikan dan menghindarkan kesalahan karena adanya kemampuan manusia untuk berpikir dan memahami persoalan.

Beranjak dari pendekatan konsep Islam tentang manusia, terungkap bahwa manusia adalah makhluk ciptaan yang memiliki hubungan makhluk-Khalik secara fitrah. Untuk menjadikan hubungan tersebut berjalan normal maka manusia dianugerahkan berbagai potensi yang dipersiapkan untuk kepentingan pengaturan hubungan tersebut.

Jika dikaji secara cermat sebenarnya permasalahan yang berkaitan dengan psikologi agama memang sudah ada sejak permulaan pengembangan Islam. Tetapi karena ajaran agama Islam merupakan ajaran yang berpusat pada upaya pembentukan akhlak yang mulia dalam upaya memenuhi tuntutan agar dapat menjadi pengabdi Allah yang patuh, maka Islam cenderung dilihat dari aspek ajaran yang tunggal, yaitu agama.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian agama secara ilmu jiwa (psikologi modern) relatif masih muda. Para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian mengenai psikologi agama mulai popular sekitar abat ke-19. Ketika itu psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat untuk kajian agama. Kajian semacam itu dapat membantu pemahaman terhadap cara bertingkah laku, berpikir, dan mengemukakan perasaan keagamaan.

Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama memiliki metode penelitian ilmiah. Kajian dilakukan dengan mempelajari fakta-fakta berdasarkan data yang terkumpul dan dianalisis secara objektif. Agama menyangkut masalah yang berkaitan dengan kehidupan batin yang sangat mendalam, maka masalah agama sulit untuk diteliti secara saksama, terlepas dari pengaruh-pengaruh subjektivitas. Namun demikian, agar penelitian mengenai agama dapat dilakukan lebih netral, dalam arti tidak memihak kepada suatu keyakinan atau menentangnya, maka diperlukan adanya sikap yang objektif.

Beranjak dari pendekatan konsep Islam tentang manusia, terungkap bahwa manusia adalah makhluk ciptaan yang memiliki hubungan makhluk-Khalik secara fitrah. Untuk menjadikan hubungan tersebut berjalan normal maka manusia dianugerahkan berbagai potensi yang dipersiapkan untuk kepentingan pengaturan hubungan tersebut.

B. Saran

Sebelum membaca makalah ini, penulis menyarankan supaya pembaca memahami lebih dahulu apa itu pengertian Psikologi Agama dan Sejarah Perkembangan Psikologi Agama. Penulis berharap, setelah membaca makalah ini, pembaca dapat memahami dan mengerti apa itu pengertian Psikologi Agama dan Sejarah Perkembangan Psikologi Agama.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Bambang Syamsul. 2008. Psikologi Agama. Bandung: Pustaka Setia.

Baharuddin dan Mulyono. 2008. Psikologi Agama dalam Perspektif Islam. Malang: UIN Malang Press.

Fauzi, Ahmad. 1997. Psikologi Umum. Bandung: CV Pustaka Setia.

Jalaluddin. 2012. Psikologi Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Download Contoh Makalah Psikologi Agama.docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH