Makalah Rahmat Islam Bagi Nusantara

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Makalah Rahmat Islam Bagi Nusantara ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku umatnya.

Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan yang berjudul Makalah Rahmat Islam Bagi Nusantara ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Makalah Rahmat Islam Bagi Nusantara ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Kami mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga Makalah Rahmat Islam Bagi Nusantara ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Indonesia, November 2023
Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah masuknya Islam ke wilayah Nusantara sudah berlangsung demikian lama, sebagian berpendapat bahwa Islam masuk pada abad ke-7 M yang datang lansung dari Arab. Pendapat lain mengatakan bahwa Islam masuk pada abad ke-13, dan ada juga yang berpendapat bahwa Islam masuk pada sekitar abad ke 9 M atau 11 M . Perbedaan pendapat tersebut dari pendekatan historis semuanya benar, hal tersebut didasar bukti-bukti sejarah serta penelitian para sejarawan yang menggunakan pendekatan dan metodenya masing-masing.

Berdasarkan beberapa buku dan keterangan sumber referensi sejarah, bahwa Islam mulai berkembang di Nusantara sekitar abad 13 M . hal tersebut tak lepas dari peran tokoh serta ulama yang hidup pada saat itu, dan diantara tokoh yang sangat berjasa dalam proses Islamisasi di Nusantara terutama di tanah Jawa adalah “Walisongo”. Peran Walisongo dalam proses Islamisasi di tanah Jawa sangat besar. Tokoh Walisongo yang begitu dekat di kalangan masyarakat muslim kultural Jawa sangat mereka hormati. Hal ini karena ajaran-ajaran dan dakwahnya yang unik serta sosoknya yang menjadi teladan serta ramah terhadap masyarakat Jawa sehingga dengan mudah Islam menyebar ke seluruh wilayah Nusantara.

B. Rumusan Masalah

  1. Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara?
  2. Apa saja Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara?
  3. Bagaimana Proses Penyebaran Islam di Nusantara?
  4. Proses Penyebaran Islam di Wilayah?

C. Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui Sejarah Perkembangan Islam di Nusantara.
  2. Mengetahui dan mengenal Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.
  3. Untuk mengetahui Proses Penyebaran Islam di Nusantara.
  4. Mengetahui Proses Penyebaran Islam di Nusantara.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Masuknya Islam Ke Nusantara (Indonesia)

Menurut para sejarawan, pada abad ke-13 Masehi Islam sudah masuk ke nusantara yang dibawa oleh para pedagang muslim. Namun untuk lebih pastinya para ahli masih terdapat perbedaan pendapat dari para sejarawan. Namun setidaknya 3 tiga teori tentang masuknya Islam ke Indonesia.

1. Teori Gujarat

Teori ini dipelopori oleh ahli sejarah Snouck Hurgronje, menurutnya agama Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang Gujarat pada abad ke-13 Masehi.

2. Teori Persia

P.A Husein Hidayat mempelopori teori ini, menyatakan bahwa agama Islam dibawa oleh pedagang Persia (Iran), hal ini berdasarkan kesamaan antara kebudayaan Islam di Indonesia dengan Persia.

3. Teori Mekkah

Teori ini menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dibawa para pedagang Mekkah, teori ini berlandaskan sebuah berita dari China yang menyatakan jika pada abad ke-7 sudah terdapat perkampungan muslim di pantai barat Sumatera

B. Strategi Dakwah Islam di Nusantara

Dari pembahasan tentang masuknya Islam ke Nusantara, dapat dipahami bahwa masuknya agama Islam ke Indonesia terjadi secara periodik, tidak sekaligus. Pada bagian ini akan diuraikan mengenai strategi penyebaran Islam dan media yang dipergunakan oleh para pedagang dan mubalig dalam penyebaran Islam di Indonesia.

Salah satu arti “strategi” yang dimuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus”. Dalam konteks dakwah Islam, strategi dakwah yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para mubalig, yang membawa misi Islam di dalamnya.

Dari kajian di atas dan berbagai literatur, setidaknya terdapat beberapa kegiatan yang dipergunakan sebagai kendaraan (sarana) dalam penyebaran Islam di Indonesia, di antaranya adalah: perdagangan, perkawinan, pendidikan, kesenian, dan tasawuf. Berikut uraian singkat mengenai hal tersebut:

  1. Perdagangan

Pada tahap awal, saluran yang dipergunakan dalam proses Islamisasi di Indonesia adalah perdagangan. Hal itu dapat diketahui melalui adanya kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 M hingga abad ke-16 M. Aktivitas perdagangan ini banyak melibatkan bangsa-bangsa di dunia, termasuk bangsa Arab, Persia, India, Cina dan sebagainya. Mereka turut ambil bagian dalam perdagangan di negeri-negeri bagian Barat, Tenggara, dan Timur Benua Asia.

  1. Perkawinan

Dari aspek ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial ekonomi yang lebih baik daripada kebanyakan penduduk pribumi. Hal ini menyebabkan banyak penduduk pribumi, terutama para wanita, yang tertarik untuk menjadi istri-istri para saudagar muslim. Hanya saja ada ketentuan hukum Islam, bahwa para wanita yang akan dinikahi harus diislamkan terlebih dahulu. Para wanita dan keluarga mereka tidak merasa keberatan, karena proses pengislaman hanya dengan mengucapkan dua kalimah syahadat, tanpa upacara atau ritual rumit lainnya.

  1. Pendidikan

Proses Islamisasi di Indonesia juga dilakukan melalui media pendidikan. Para ulama banyak yang mendirikan lembaga pendidikan Islam, berupa pesantren. Pada lembaga inilah, para ulama memberikan pengajaran ilmu keislaman melalui berbagai pendekatan sampai kemudian para santri mampu menyerap pengetahuan keagamaan dengan baik. Setelah mereka dianggap mampu, mereka kembali ke kampung halaman untuk mengembangkan agama Islam dan membuka lembaga yang sama. Dengan demikian, semakin hari lembaga pendidikan pesantren mengalami perkembangan, baik dari segi jumlah maupun mutunya.

  1. Tasawuf

Jalur lain yang juga tidak kalah pentingnya dalam proses Islamisasi di Indonesia adalah tasawuf. Salah satu sifat khas dari ajaran ini adalah akomodasi terhadap budaya lokal, sehingga menyebabkan banyak masyarakat Indonesia yang tertarik menerima ajaran tersebut.

  1. Kesenian

Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah melalui pertunjukkan wayang. Seperti diketahui bahwa Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang.

  1. Politik

Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya masuk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di wilayah ini. Jalur politik juga ditempuh ketika kerajaan Islam menaklukkan kerajaan non Islam, baik di Sumatera, Jawa, maupun Indonesia bagian Timur.

  1. Melalui Dakwah di Kalangan Masyarakat

Di kalangan masyarakat Indonesia sendiri terdapat juru-juru dakwah yang menyebarkan Islam di lingkungannya, antara lain: Dato’ri Bandang menyebarkan agama Islam di daerah Gowa (Sulawesi Selatan), Tua Tanggang Parang menyebarkan Islam di daerah Kutai (Kalimantan Timur), Seorang penghulu dari Demak menyebarkan agama Islam di kalangan para bangsawan Banjar (Kalimantan Selatan), Para Wali menyebarkan agama Islam di Jawa. Wali yang terkenal ada 9 wali, yaitu:

  1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
  2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)
  3. Sunan Bonang (Makdum Ibrahim)
  4. Sunan Giri (Raden Paku)
  5. Sunan Derajat (Syarifuddin)
  6. Sunan Kalijaga (Jaka Sahid)
  7. Sunan Kudus (Jafar Sodiq)
  8. Sunan Muria (Raden Umar Said)
  9. Sunan Gunung Jati (Faletehan)

Para wali tersebut adalah orang Indonesia asli, kecuali Sunan Gresik. Mereka memegang beberapa peran di kalangan masyarakat sebagai:

  1. penyebar agama Islam
  2. pendukung kerajaan-kerajaan Islam
  3. penasihat raja-raja Islam
  4. pengembang kebudayaan daerah yang telah disesuaikan dengan budaya Islam.

Karena peran mereka itulah, maka para wali sangat terkenal di kalangan masyarakat.

C. Perkembangan Islam di Nusantara

  1. Perkembangan Islam di Sumatera

Perkembangan Islam di wilayah Indonesia di awali dengan dimasukinya pemahaman ajaran Islam daerah Pasai di Aceh Utara dan pantai barat Sumatera, di kedua wilayah tersebut masing-masing berdiri Kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu Kerajaan Islam Perak dan Samudera Pasai.

  1. Perkembangan Islam di Jawa

Menurut Prof. Dr. Buya Hamka dalam bukunya yaitu Sejarah Umat Islam, cikal kedatangan Islam ke pulau Jawa sebenarnya sudah dimulai pada tahun ke tujuh Masehi atau abad pertama Hijriyah yaitu pada tahun 674 M – 675 M. Salah satu sahabat nabi, Muawiyah bin Abi Sufyan yang pernah singgah di Kerajaan Kalingga di Jawa. Waktu itu dia menyamar sebagai pedagang. Mungkin pada waktu itu Muawiyah baru penjajakan saja, namun proses dakwahnya tetap berlangsung dan diteruskan oleh para da’i yang berasal dari Kerajaan Pasai dan Malaka. Karena pada waktu itu jalur perhubungan antara Pasai dengan Jawa begitu pesat.

  1. Perkembangan Islam di Kalimantan

Borneo adalah sebutan nama lain Kalimantan. Pada waktu itu Islam masuk ke sana melalui tiga jalur. Jalur yang pertama adalah melalui Kerajaan Islam Pasai dan Perlak. Jalur kedua Islam disebarkan oleh para da’i dari tanah Jawa. Mereka melakukan ekspedisi ke pulau Kalimantan sejak Kerajaan Demak berdiri. Pada waktu itu, Kerajaan Demak mengirimkan banyak sekali da’i ke luar pulau Jawa, salah satunya ke pulau Kalimantan. Jalur ketiga melalu kedatangan para da’i yang berasal dari tanah Sulawesi. Salah satu da’i yang terkenal pada waktu itu adalah Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan.

  1. Perkembangan Islam di Maluku

Kepulauan Maluku terkenal sebagai penghasil rempah-rempah. Tak ayal hal ini menjadi daya tarik sendiri para pedagang asing, salah satunya pedagang muslim dari Jawa, Malaka, Sumatera dan Manca Negara. Dengan kedatangan para pedagang muslim ini, menyebabkan perkembangan Islam di Kepulauan Maluku ini menyebar dengan cepat. tepatnya sekitar pertengahan abad ke 15 atau tahun 1440 Islam mulai masuk ke Maluku. Pada tahun 1460 M, raja Ternate yaitu Vongi Tidore masuk Islam. Namun menurut sejarawan Belanda yaitu h.J De Graaft, raja Ternate yang benar-benar muslim adalah Zaenal Abidin. Setelah raja Ternate masuk Islam, hal ini semakin mempercepat perkembangan Islam di Maluku dan mempengaruhi kerajaan-kerajaan lain di Maluku yang mulai menerima paham ajaran Islam. Namun dari sekian kerajaan Islam yang ada di Maluku, yang paling terkenal adalah Kerajaan Ternate dan Tidore.

Setelah Islam masuk dan berkembang cepat di Maluku, Islam juga mulai masuk ke Irian. Para raja-raja Islam dari Maluku, da’i dan pedagang yang menyiarkan ajaran Islam ke Irian. Wilayah-wilayah di Irian Jaya yang dimasuki Islam yaitu: Jalawati, Musi, Pulau Gebi dan Pulau Waigio.

D. Kerajaan Islam DI nUSANTARA

Setelah pengaruh Kerajaan Hindu-Budha mulai surut, muncul kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Misalkan saja, semenjak pengaruh Kerajaan Sriwijaya mulai menurun, mubalig-mubalig yang telah memeluk agama Islam terlebih mulai semakin gencar menyebarkan agama Islam ini di sekitar Malaka, dan puncaknya terdapat beberapa kerajaan Islam di sekitar selat malaka, seperti Kerajaan Perlak, Kerajaan Malaka, dan Kerajaan Samudra Pasai. Begitu juga di pulau Jawa, semenjak Kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran, terdapat kerajaan Islam yang muncul, seperti Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, Kerajaan Islam Mataram, Kerajaan Islam Cirebon, Kerajaan Islam Banten, dan lainnya.

  1. Kerajaan Perlak

Kerajaan ini merupakan kerajaan Islam pertama yang berdiri di Indonesia, yang pada saat itu dikenal dengan nusantara. Pada saat itu Perlak merupakan salah satu kota dagang yang sangat terkenal. Raja pertama dari kerajaan ini, yaitu Sultan Alauddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Kerajaan Perlak atau Kerajaan Peureula ini didirikan sekitar pertengahan abad ke-9 M.

Sedangkan menurut Ishak Makarani Al Fays, Kerajaan ini didirikan pada 1 Muharram 225 H (840 M). Terdapat beberapa bukti tertulis yang menyebutkan bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Tazkirah Thabakat Jumu Sultan as Salathin, naskah yang dikarang oleh Syeh Syamsul Bahri Abdullah. Silsilah Raja-raja Perlak dan Pasai, naskah yang dikarangan oleh Sayid Abdullah Ibn Sayid Habib Saifuddin. Idharatul Haq fi Mamlakatil Farlah wa Fasi, naskah yang dikarang oleh Abu Ishak Makarani Al Fasy.

Ketiga naskah tersebut menyebutkan bahwa Kerajaan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Terdapat beberapa peninggalan dari kerajaan ini, yaitu,

  1. Makam Raja Benoa
  2. Pada batu nisan Raja Benoa (Benoa merupakan salah satu bagian dari Kerajaan Perlak) ditulis menggunakan huruf arab. Makan Raja Benoa ini terletak di tepi Sungai Trenggulona. Diperkirakan nisan ini dibuat sekitar abad ke-4 H tau ke-5 H.
  3. Mata uang perlak
  4. Merupakan mata uang tertua di nusantara, mata uang ini terbagi menjadi 3 jenis, yaitu terbuat dari tembaga atau kuningan, perak (kupang), dan emas (dirham).
  5. Stempel kerajaan
  6. Terdapat stempel kerajaan Negeri Bandahara (kerajaan yang merupakan bagian dari Kerajaan Perlak) yang menggunakan huruf arab. Pada stempel tersebut tertulis kalimat “Al Wasiq Billah Kerajaan Negeri Bendahara Syah 512”. Itulah, beberapa peninggalan dari kerajaan yang diperkirakan merupakan kerajaan Islam tertua di Indonesia. sekitar abad ke-12 M Kerajaan Perlak mulai mengalami kemunduran.
  1. Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan ini berdiri sekitar abad ke-13 M. Kerajaan ini terletak di Kabupaten Lhokseumawe, Aceh Utara. Kerajaan ini merupakan gabungan dari 2 kerajaan yang sedang mengalami kemunduran, yaitu Kerajaan Pase dan Kerajaan Perlak. Kedua kerajaan tersebut dipersatukan oleh penguasa daerah pada saat itu, Marah Silu (Meurah Silu) yang dibantu Syeh dari Makkah, Syeh Ismail.

Marah Silu merupakan raja pertama sekaligus pendiri kerajaan ini, raja yang mendapat gelar Sultan Malik al Saleh. Tahun 1297 Sultan Malik al Saleh meninggal, ia digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Mahmud. Pada saat kepemimpinan Sultan Muhammad Malik al Tahir (1297-1326) kerajaan Samudra Pasai menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam.

Pada tahun 1326 Sultan Muhammad Malik al Tahir meninggal digantikan oleh putranya Sultan Ahmad, sultan yang juga bergelar Malik al Tahir (1326-1348).

Pada masa kepemerintahan Sultan Ahmad Malik al Tahir Kerajaan Samudra Pasai berkembang pesat, kerajaan ini banyak menjalin kerja sama dengan beberapa kerajaan Islam di dunia lainnya, seperti kerajaan-kerajaan di India dan Arab. Pada tahun 1348 Sultan Ahmad meninggal dan digantikan oleh Sultan Zainal Abidin. Namun, pada tahun 1521 M kerajaan ini runtuh karena berhasil ditaklukkan oleh Portugis. Keberadaan Kerajaan Samudra Pasai dibuktikan dengan beberapa peninggalan, seperti makam Sultan Malik al Saleh, makam Sultan Zainal Abidin, naskah surat Sultan Zainal Abidin, makam Ratu al Aqla, cakra donya, dan stempel kerajaan.

  1. Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh diperkirakan berdiri pada tahun 1514. Kerajaan ini terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan sebutan Kabupaten Aceh Besar. Raja pertama Kerajaan Aceh, yaitu Raja Ibrahim (1514-1528), yang bergelar Sultan Ali Mughayat Syah. Di bawah kepemimpinan Sultan Ali Kerajaan Aceh menjadi kerajaan yang besar dan kokoh. Namun, ia memimpin dalam waktu yang tidak lama.

Pada tahun 1528 Sultan Ali Mughayat meninggal dan digantikan oleh putranya Sultan Salahuddin (1528-1537), kemudian ia digantikan oleh adiknya yang bernama Sultan Alaudin Ri’ayat Syah (1537-1568), yang mendapat gelar Al Qohhar berkat kegagahan dan keberhasilannya mengusai beberapa wilayah.

Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kepemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), di bawah kepemimpinannya Kerajaan Aceh memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luat. Selain itu, kerajaan ini juga berhasil menjalin kerja sama dengan para pemimpin Islam di Arab. Hubungan yang terjalin tersebut pada masa kekhalifahan Ustmaniyah.

Kerajaan ini mulai mengalami kemunduran sejak tahun 1941. Salah satunya adalah karena semakin menguatnya pengaruh Belanda di Malaka. Kemunduran tersebut ditandai dengan jatuhnya beberapa wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh ke tangan Belanda. Selain karena faktor tersebut, juga karena faktor perebutan kekuasaan di antara pewaris kerajaan.

Beberapa peninggalan Kerajaan Aceh, yaitu Masjid Raya Baiturrahman, makam Sultan Iskandar Muda, meriam Kerajaan Aceh, Benteng indrapatra, emas Kerajaan Aceh, dan Gunongan.

  1. Kerajaan Demak

Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Pada awalnya wilayah ini bernama Bintoro, salah wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Karena semakin lemahnya pengaruh Kerajaan Majapahit, hal tersebut mengakibatkan beberapa penguasa daerah mulai membangun wilayah kekuasaannya sendiri, termasuk penguasa Islam di pesisir pantai Jawa.

Mereka membangun wilayah kekuasaan Islam dengan menunjuk Raden Patah sebagai raja dari Kerajaan Islam pertama di pulau Jawa ini. Setelah diangkat menjadi raja, Raden Patah mendapat gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayyidina Panatagama.

Kerajaan Demak berdiri pada tahun 1478. Palembang, Maluku, Banjar, dan wilayah bagian utara pulau Jawa merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Demak. Pada saat ulama menempati peranan penting di dalam kerajaan, Sunan Kalijaga dan Ki Wanalapa adalah penasihat kerajaan. Tahun 1207 Raden Patah digantikan oleh Putranya yang bernama Pati Unus. Pada masa kepemimpinannya Adipati Unus atau yang sering dijuluki Pangeran Sabrang Lor ini bersama dengan Kerajaan Aceh menyerang Portugis yang menduduki Malaka pada saat itu.

Pati Unus meninggal pada tahun 1521 dan digantikan oleh adiknya, yaitu Sultan Trenggono. Kerajaan ini mengalami kemunduran karena perebutan kekuasaan antar pewarisnya. Beberapa peninggalan Kerajaan Demak, yaitu Masjid Agung Demak, Soko Tatal dan Soko Guru, Pintu Bleedek, Kentongan, Beduk, Dampar Kencana, Pirim Campa, Kolam Wudu, dan Makrusah.

  1. Kerajaan Pajang

Kerajaan ini didirikan pada tahun 1568 oleh Sultan Adi Wijaya atau yang lebih dikenal dengan Jaka Tingkir. Jaka Tingkir merupakan menantu dari Sultan Trenggono, setelah menikah dengan putri Sultan Trenggono, Jaka Tingkir menjadi penguasa di Pajang. Setelah Sultan Trenggono meninggal Jaka Tingkir berhasil mengalahkan Arya Penangsang, dan memindahkan kerajaan Demak ke Pajang.

Pada tahun 1582 Jaka Tingkir atau Sultan Adi Wijaya meninggal dan digantikan oleh putranya, Pangeran Benowo. Pada masa kepemerintahan Pangeran Benowo, Pangeran Arya Pangiri dari Demak mencoba untuk merebut Kerajaan Pajang, namun mengalami kegagalan. Pangeran Benowo menyerahkan takhtanya kepada saudara angkatnya, Sutowijoyo.

  1. Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan ini berdiri pada tahun 1586 di Kotagede, bagian tenggara dari Yogyakarta. Kerajaan ini didirikan oleh Sutowijoyo, saudara dari Pangeran Benowo. Sutowijoyo memiliki gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama setelah naik takhta pada tahun 1586. Pada tahun 1601 Sutowijoyo meninggal dan digantikan oleh Mas Jolang, yang memiliki gelar Panembahan Seda ing Krapyak.

Setelah Raden Mas Jolang meninggal, ia digantikan oleh Adipati Martapura, karena sering mengalami sakit Adipati Martapura pun akhirnya meninggal. Selanjutnya ia digantikan oleh Raden Mas Rangsang yang bergelar Panembahan Hanyakrakusuma, pada tahun 1640 ia mengganti gelarnya menjadi Sultan Agung Hanyakrakusuma, sekitar tahun 1640-an ia mengganti gelarnya lagi menjadi Sultan Agung Senapati ing Alaga Ngaburrahman Khalifatullah.

Pada masa pemerintahannya kekuasaan Kerajaan Mataram Islam sangat luas. Kerajaan ini terletak di bekas wilayah Kerajaan Mataram Hindu, namun Kerajaan Mataram ini merupakan kerajaan bercorak Islam. Beberapa peninggalan dari Kerajaan Mataram Islam, yaitu tahun saka, kue kipo, kerajinan perak, pakaian Kyai gundhil, kalang obong, gapura makah kotagede, batu datar, dan sastra gendhing karya Sultan Agung.

  1. Kerajaan Islam Cirebon

Kerajaan ini berdiri pada tahun 1522, didirikan oleh Raden Fatahillah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Kerajaan ini merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Raden Fatahillah berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Karena kedudukannya sebagai Wali Songo, sehingga ia banyak dihormati oleh raja-raja lain di pulau Jawa, seperti raja dari Demak dan Pajang. Di bawah kepemimpinannya juga Kerajaan Cirebon ini memiliki banyak wilayah kekuasaan.

Sunan Gunung Jati meninggal pada tahun 1570 dan digantikan oleh cicitnya yang bergelar Panembahan Ratu. Pada tahun 1650 Panembahan meninggal dan digantikan oleh putranya yang bergelar Penaembahan Girilaya. Setelah Panembahan Girilaya meninggal Kerajaan Islam Cirebon dibagi menjadi dua (tahun 1697) oleh kedua puranya, Martawijaya (Panembahan Sepuh) dan Kartawijaya (Panembahan Anom).

Beberapa peninggalan dari Kerajaan Islam Cirebon ini, yaitu Masjid Jami’ Pakuncen, Masjid Sang Cipta Rasa, Keraton Kacirebonan, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Makan, dan beberapa benda pusaka.

  1. Kerajaan Islam Banten

Kerajaan ini didirikan pada tahun 1552 oleh Sultan Hasanudin, yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati. Setelah berhasil menaklukkan Banten pada tahun 1525 Sunan Gunung Jati menyerahkan kekuasaan Banten kepada putranya tersebut.

Di bawah kepemimpinannya Kerajaan Islam Banten semakin kuat dan memiliki banyak wilayah kekuasaan, bahkan sampai ke Sumatera selatan dan Kelampung. Sultan Hasanudin menikah dengan putri Kerajaan Demak, yaitu putri dari Sultan Indrapura.

Kerajaan ini mencapai puncak kekuasaannya pada saat kepemimpinan Ki Ageng Tirtayasa. Beberapa peninggalan Kerajaan Islam Banten ini, yaitu Istana Keraton Surosowan Banten, Istana Keraton Kaibon Banten, Masjid Agung Banten, Vihara Avalokitesvara, Benteng Speelwijk, Meriam Ki Amuk, Danau Tasikardi, Keris Naga Sasra, dan Keris Panunggul Naga.

  1. Kerajaan Islam Banjar

Kerajaan ini berdiri pada tahun 1520, terletak di Kalimantan Selatan. Dengan bantuan dari Kerajaan Demak, Kerajaan Banjar berhasil meruntuhkan kekuasaan Kerajaan Nagaradaha, kerajaan yang menguasai Banjarmasin pada saat itu. Bantuan tersebut tidak diberikan secara gratis, ada syarat yang harus dipenuhi oleh Kerajaan Banjar, yaitu memeluk agama Islam.

Raja pertama dari Kerajaan Islam Banjar adalah Raden Samudra. Setelah masuk Islam mendapat gelar Sultan Suryanullah. Setelah wafat, ia digantikan oleh Sultan Rahmatullah (1545-1570). Dalam waktu yang cukup singkat agama Islam juga mulai dianut oleh masyarakat di Kalimantan, seperti Bugis, dan masyarakat bagian timur Kalimantan. Peninggalan dari Kerajaan Islam Banjar, yaitu Masjid Sultan Suriansyah dan Candi Agung Amuntai.

  1. Kerajaan Kutai Kalimantan Timur

Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri sekitar abad ke-13 M. Raja pertama kerajaan tersebut adalah Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325). Sekitar abad ke-16 M, kerajaan ini pernah menaklukkan Kerajaan Kutai Martadipura (Kerajaan Kutai bercorak Hindu-Budha), sehingga kedua kerajaan tersebut dapat disatukan dan namanya berubah menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Islam mulai masuk di Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ini sekitar abad ke-17 M, yang dibawa oleh Tuan Tunggang Parangan. Karena raja pada saat itu telah memeluk agama Islam sehingga ia segera membangun sebuah masjid di daerah tersebut. Selain membangun sebuah masjid, ia juga membuka pengajaran agama Islam.

E. Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia

Pada abad ke XIII M agama Islam mulai masuk ke Indonesia, dan ada yang berpendapat bahwa penyebaran Islam pertama kali dilakukan oleh para pedagang dan mubalig dari Gujarat-India. Sekarang jumlah umat Islam di Indonesia merupakan yang paling besar dibandingkan umat Islam di negara-negara lain di dunia ini oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa umat Islam di Indonesia mempunyai peranan yang penting bagi bangsa-bangsa dan negara-negara Islam lainnya. Lebih-lebih di Indonesia sendiri, umat Islam merupakan mayoritas penduduk dan mereka bertebaran di segenap pelosok tanah air serta banyak yang berkumpul dalam berbagai organisasi sosial, pendidikan, keagamaan, ekonomi, dan politik.

Semenjak datangnya Islam di Indonesia yang disiarkan oleh para mubalig khususnya di Jawa oleh Wali Sanga atau Sembilan Wali Allah hingga berabad-abad kemudian, masyarakat sangat dijiwai oleh keyakinan agama, khususnya Islam. Sejarah telah mencatat pula, bahwa Islam yang datang di Indonesia ini sebagiannya dibawa dari India, di mana Islam tidak lepas dari pengaruh Hindu. Campurnya Islam dengan elemen-elemen Hindu menambah mudah tersiarnya agama itu di kalangan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, karena sudah lama kenal akan ajaran-ajaran Hindu itu.

Sebagian besar tersiarnya Islam di Indonesia adalah hasil pekerjaan dari Kaum Sufi dan Mistik. Sesungguhnya adalah Sufisme dan Mistisisme Islam, bukannya ortodoksi Islam yang meluaskan pengaruhnya di Jawa dan sebagian Sumatera. Golongan Sufi dan Mistik ini dalam berbagai segi toleran terhadap adat kebiasaan yang hidup dan berjalan di tempat itu, yang sebenarnya belum tentu sesuai dengan ajaran-ajaran tauhid.

Sebelumnya, masyarakat sangat kuat berpegang teguh pada Agama Hindu dan Budha. Setelah kedatangan Islam, mereka banyak berpindah agama secara sukarela. Tetapi sementara itu mereka masih membiasakan diri dengan adat kebiasaan lam, sehingga bercampur-baur antara adat kebiasaan Hindu-Budha dengan ajaran Islam. Hal tersebut berlangsung dari abad ke abad, sehingga sulit dipisahkan antara ajaran Islam yang murni dengan tradisi peninggalan Hindu atau peninggalan agama Budha. Dan tidak sedikit tradisi lama berubah menjadi seakan-akan “Tradisi Islam”. Seperti kebiasaan menyelamati orang yang telah mati pada hari ke:7, 40, 1 tahun dan ke 1000-nya serta selamatan pada bulan ke-7 bagi orang yang sedang hamil pertama kali, mengeramatkan kubur seseorang, meyakini benda-benda bertuah dan sebagainya.

F. Menerapkan Perilaku Mulia

Sikap dan perilaku mulia yang harus kita kembangkan sebagai implementasi dari pelajaran tentang dakwah Islam di nusantara antara lain, sebagai berikut:

  1. Menghargai jasa para pahlawan muslim yang telah mengorbankan segalanya demi tersebarnya syiar Islam
  2. Berusaha memahami dan menganalisis sumber-sumber sejarah untuk mendapatkan informasi terkini dari valid mengenai sejarah Islam, mengingat terbatasnya sumber data dan perdebatan para pakar tentang validitas data-data sejarah
  3. Meneladani sikap dan perilaku para dai pada masa permulaan masuknya Islam yang mengedepankan cara damai
  4. Menjadikan semua aktivitas dalam hidup (pernikahan, perdagangan, kesenian, dan lain-lain) sebagai sarana dakwah
  5. Berusaha menjadi dai yang mukhlis (ikhlas) tanpa mengukur jerih payah dalam berdakwah dengan penghasilan
  6. Berusaha menjadi dai yang pantas diteladani oleh umat, khususnya generasi muda
  7. Tetap membangun optimisme dengan kerja keras untuk meraih kembali kejayaan Islam

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Penyebaran Islam di Nusantara dimulai sejak abad ke-13 melalui hubungan perdagangan dengan pedagang Arab, Persia, dan Gujarat yang membawa ajaran Islam. Faktor-faktor seperti keberhasilan perdagangan dan interaksi budaya mempengaruhi masuknya Islam ke wilayah Nusantara. Proses masuknya Islam ke Nusantara tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah, tetapi melalui proses bertahap. Daerah pesisir seperti Aceh, Sumatra, dan Jawa merupakan tempat awal penyebaran Islam. Kemudian, ajaran Islam menyebar ke daerah-daerah lain di kepulauan Nusantara.

Faktor kunci dalam penyebaran Islam di Nusantara adalah peran para pedagang, ulama, dan tokoh masyarakat yang memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam. Mereka mendirikan pusat-pusat pendidikan agama, seperti pesantren, yang menjadi tempat penyebaran dan pemeliharaan ajaran Islam. Interaksi antara ajaran Islam dengan budaya lokal juga mempengaruhi bentuk Islam yang berkembang di Nusantara. Islam di Nusantara tergolong sebagai Islam yang moderat dan mengakomodasi kearifan lokal serta adat istiadat masyarakat setempat.

Proses masuknya Islam di Nusantara juga melibatkan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang ada pada masa itu. Beberapa kerajaan mengadopsi ajaran Islam dan menerapkannya sebagai agama resmi, seperti kerajaan Demak, Banten, dan Aceh. Masuknya Islam ke Nusantara membawa dampak yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti politik, budaya, dan kehidupan sehari-hari. Islam menjadi agama mayoritas di Nusantara dan berperan dalam membentuk identitas dan nilai-nilai masyarakat.

Kesimpulan utama adalah bahwa masuknya Islam ke Nusantara merupakan proses yang kompleks dan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Faktor-faktor ekonomi, sosial, politik, dan budaya memainkan peran penting dalam penyebaran dan penerimaan Islam di wilayah tersebut.

B. Saran

Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca, khususnya yang beragama Islam di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Haris, Abd., dkk, 2012. Pendalaman Materi Ajar PAI. Jakarta: FITK UIN Jakarta.

Iim Halimah, Abd. Rahman, Sholeh Dimyathi, 2013. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMK Kelas X, XI dan XII. Jakarta: PT. Erlangga.

Yatim, Badri, 2005. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Tim IMTAQ MGMP PAI. 2010. Modul Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam SMA/SMK. Jakarta: PT. Kirana Cakra Buana.

Download Contoh Makalah Rahmat Islam Bagi Nusantara.docx