Serbuk (Pulvis/Pulveres)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah Serbuk (Pulvis/Pulveres) ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku umatnya.

Makalah ini kami buat untuk melengkapi tugas mata pelajaran Dasar-dasar Kefarmasian. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah Serbuk (Pulvis/Pulveres) ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah Serbuk (Pulvis/Pulveres) ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Kami mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga makalah Serbuk (Pulvis/Pulveres) ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Indonesia, Mei 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Obat merupakan salah satu komponen penting dalam upaya pelayanan kesehatan pada masyarakat. Sediaan obat terdapat dalam berbagai macam bentuk di antaranya tablet, kapsul, sirup, pulveres, dan salep. Pulveres memiliki kelebihan yaitu dosisnya mudah diatur dan kombinasi obatnya sesuai dengan kebutuhan pasien. Tetapi sediaan pulveres memiliki kelemahan yaitu ketidakseragaman bobot dan tidak homogen. Hal ini terkait dengan ketelitian, keterampilan, serta waktu dalam menyiapkan suatu sediaan pulveres.

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2007 ketidaktepatan dosis terkait dengan pemberian dosis, cara penyiapan, dan penyimpanan dapat menjadi salah satu penyebab dari kegagalan terapi. Adanya variasi dalam bobot dan kandungan dapat mempengaruhi efektivitas obat yang diberikan pada pasien.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 30 Tahun 2014 “Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas” tentang Tugas Pokok Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK), yaitu apoteker sebagai penanggung jawab dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Tugas pokok TTK meliputi pengelolaan obat, pengelolaan bahan medis habis pakai, pelayanan resep berupa peracikan obat, penyerahan obat, dan pemberian informasi obat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas di dalam makalah tentang Serbuk (Pulvis/Pulveres) ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian serbuk (pulvis)?
  2. Apa saja kelebihan dan kelemahan sediaan serbuk kelebihan?
  3. Apa saja syarat-syarat serbuk?
  4. Bagaimana derajat halus serbuk dan pengayak?
  5. Apa saja jenis-jenis serbuk?
  6. Bagaimana cara mencampur serbuk?
  7. Bagaimana cara pengemasan serbuk?

C. Tujuan

Adapun tujuan dalam penulisan makalah tentang Serbuk (Pulvis/Pulveres) ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui pengertian serbuk (pulvis).
  2. Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan sediaan serbuk kelebihan.
  3. Untuk mengetahui syarat-syarat serbuk.
  4. Untuk mengetahui derajat halus serbuk dan pengayak.
  5. Untuk mengetahui jenis-jenis serbuk.
  6. Untuk mengetahui cara mencampur serbuk.
  7. Untuk mengetahui cara pengemasan serbuk.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Serbuk (Pulvis)

Serbuk (Pulvis) adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. Karena mempunyai luas permukaan yang luas, serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut dari pada bentuk sediaan yang dipadatkan. Anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk. Biasanya serbuk oral dapat dicampur dengan air minum. Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi (pulveres) atau tidak terbagi (pulvis). Serbuk oral tidak terbagi terbatas pada obat yang relatif tidak poten seperti laksansia, antasida, makanan diet dan beberapa jenis analgetik tertentu, pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar yang lain. Serbuk tidak terbagi lainnya adalah serbuk gigi dan serbuk tabur, keduanya untuk pemakaian luar.

B. Kelebihan dan Kelemahan Sediaan Serbuk Kelebihan

1. Kelebihan Sediaan Serbuk

  • Dokter lebih leluasa dalam memilih dosis yang sesuai dengan keadaan si penderita.
  • Lebih stabil terutama untuk obat yang rusak oleh air.
  • Penyerapan lebih cepat dan sempurna dibanding sediaan padat lainnya.
  • Cocok digunakan untuk anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet.
  • Obat yang terlalu besar volumenya untuk dibuat tablet atau kapsul dapat dibuat dalam bentuk serbuk.
  • Pemberian dosis yang sangat tepat sesuai dengan permintaan dokter.

2. Kelemahan Sediaan Serbuk

  • Tidak tertutupnya rasa tidak enak seperti pahit, sepat, lengket di lidah (bisa diatasi dengan corrigens saporis).
  • Pada penyimpanan menjadi lembab.

C. Syarat-syarat Serbuk

Syarat-syarat serbuk bila tidak dinyatakan lain serbuk harus kering, halus, dan homogen.

1. Syarat Serbuk Bagi (Pulveres)

Keseragaman bobot: Timbang isi dari 20 bungkus satu-persatu, campur isi ke 20 bungkus tadi dan timbang sekaligus, hitung bobot isi rata-rata. Penyimpangan antara penimbangan satu persatu terhadap bobot isi rata-rata tidak lebih dari 15% tiap 2 bungkus dan tidak lebih dari 10% tiap 18 bungkus.

2. Syarat Serbuk Oral Tidak Terbagi (Pulvis)

Pada serbuk oral tidak terbagi hanya terbatas pada obat yang relatif tidak poten, seperti laksan, antasida, makanan diet dan beberapa analgesik tertentu sehingga pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar lain.

3. Syarat Serbuk Tabur

Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh, agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka.

D. Derajat Halus Serbuk dan Pengayak

Derajat halus serbuk dan pengayak dalam farmakope dinyatakan dalam uraian yang dikaitkan dengan nomor pengayak yang ditetapkan untuk pengayak baku, seperti yang tertera pada tabel di bawah ini.

Tabel klasifikasi serbuk berdasarkan derajat halus (menurut FI. IV)

Klasifikasi Serbuk

Simplisia Nabati dan Hewani

Bahan Kimia

Nomor Serbuk1)

Batas Derajat Halus2)

Nomor Serbuk1)

Batas Derajat Halus2)

%

No. Pengayak

%

No. Pengayak

Sangat Kasar

8

20

60

   

Kasar

20

40

60

20

60

40

Setengah Kasar

40

40

80

40

60

60

Halus

60

40

100

80

60

120

Sangat Halus

80

100

80

120

100

120

Sebagai pertimbangan praktis, pengayak terutama dimaksudkan untuk pengukuran derajat halus serbuk untuk sebagian besar keperluan farmasi (walaupun penggunaannya tidak meluas untuk pengukuran rentang ukuran partikel) yang bertujuan meningkatkan penyerapan obat dalam saluran cerna. Untuk pengukuran partikel dengan ukuran nominal kurang dari 100 ℓm, alat lain selain pengayak mungkin lebih berguna. Efisiensi dan kecepatan pemisahan partikel oleh pengayak beragam, berbanding terbalik dengan jumlah partikel termuat.

Pengayak untuk pengujian secara farmakope adalah anyaman kawat, bukan tenunan. Kecuali untuk ukuran nomor 230, 270, 325, dan 400 anyaman terbuat dari kuningan, perunggu, baja tahan karat atau kawat lain yang sesuai dan tidak dilapisi atau disepuh. Dalam penetapan derajat halus serbuk simplisia nabati dan simplisia hewani, tidak ada bagian dari obat yang dibuang selama penggilingan atau pengayakan, kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi. Tabel di bawah ini memberikan ukuran rata-rata lubang pengayak baku anyaman kawat (FI. IV).

Penandaan Pengayak

 

Penandaan Pengayak

Nomor Nominal

Ukuran Lubang Pengayak

 

Nomor Nominal

Ukuran Lubang Pengayak

2

9,5 mm

 

45

355 μm

3,5

5,6 mm

 

50

300 μm

4

4,75 mm

 

60

250 μm

8

2,36 mm

 

70

212 μm

10

2,00 mm

 

80

180 μm

14

1,40 mm

 

100

150 μm

16

1,18 mm

 

120

125 μm

18

1,00 mm

 

200

75 μm

20

850 μm

 

230

63 μm

25

710 μm

 

270

53 μm

30

600 μm

 

325

45 μm

35

500 μm

 

400

38 μm

40

425 μm

   

E. Jenis-jenis Serbuk

1. Pulvis Adspersorius (Serbuk Ringan)

Pulvis adspersorius adalah serbuk ringan, bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar. Umumnya dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit.

2. Pulvis Dentifricius (Serbuk Gigi)

Serbuk gigi, biasanya menggunakan carmin sebagai pewarna yang dilarutkan terlebih dulu dalam chloroform/etanol 90%.

3. Pulvis Sternutatorius (Serbuk Bersin)

Pulvis sternutatorius adalah serbuk bersin yang penggunaannya dihisap melalui hidung, sehingga serbuk tersebut harus halus sekali.

4. Pulvis Effervescent (Serbuk Biasa)

Serbuk effervescent merupakan serbuk biasa yang sebelum ditelan dilarutkan terlebih dahulu dalam air dingin atau air hangat dan dari proses pelarutan ini akan mengeluarkan gas CO2, kemudian membentuk larutan yang pada umumnya jernih. Serbuk ini merupakan campuran antara senyawa asam (asam sitrat atau asam tartrat) dengan senyawa basa (natrium karbonat atau natrium bikarbonat).

Interaksi asam dan basa ini dalam air akan menimbulkan suatu reaksi yang menghasilkan gas karbon dioksida. Bila ke dalam campuran ini ditambahkan zat berkhasiat maka akan segera dibebaskan sehingga memberikan efek farmakologi dengan cepat. Pada pembuatan bagian asam dan basa harus dikeringkan secara terpisah.

F. Cara Mencampur Serbuk

Dalam mencampur serbuk hendaklah dilakukan secara cermat dan jaga agar jangan ada bagian yang menempel pada dinding mortir. Terutama untuk serbuk yang berkhasiat keras dan dalam jumlah kecil. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat serbuk:

  1. Obat yang berbentuk kristal atau bongkahan besar hendaknya digerus halus dulu.
  2. Obat yang berkhasiat keras dan jumlahnya sedikit dicampur dengan zat penambah (konstituen) dalam mortir.
  3. Obat yang berlainan warna diaduk bersamaan agar tampak bahwa serbuk sudah merata.
  4. Obat yang jumlahnya sedikit dimasukkan terlebih dahulu.
  5. Obat yang volumenya kecil dimasukkan terlebih dahulu.

1. Serbuk dengan Bahan-bahan Padat

Dengan memperhatikan hal-hal di atas masih ada beberapa pengecualian maupun yang dikerjakan secara khusus. Seperti hal sebagai berikut:

a. Serbuk Halus Sekali
1) Serbuk Halus Tidak Berkhasiat Keras
a) Belerang

Belerang tidak dapat diayak dengan ayakan dari sutera maupun logam karena menimbulkan butiran bermuatan listrik akibat gesekan, karena itu dalam pembuatan bedak tabur tidak ikut diayak.

b) Iodoform

Karena baunya yang sukar dihilangkan maka dalam bedak tabur diayak terpisah (gunakan ayakan khusus).

c) Serbuk Sangat Halus dan Berwarna

Misalnya rifampisin, Stibii Penta Sulfidum, serbuk dapat masuk ke dalam pori-pori mortir dan warnanya sulit hilang, maka pada waktu menggerus mortir dilapisi zat tambahan (konstituen).

2) Serbuk Halus Berkhasiat Keras

Dalam jumlah banyak, digerus dalam mortir dengan dilapisi zat tambahan. Dalam jumlah sedikit (kurang dari 50 mg), dibuat pengenceran.

b. Serbuk Berbentuk Hablur Dan Kristal

Sebelum dicampur dengan bahan obat yang lain, zat digerus terlebih dahulu. Contoh:

1) Serbuk dengan Camphora

Camphora sangat mudah mengumpul lagi, untuk mencegahnya dikerjakan dengan mencampur dulu dengan eter atau etanol 95% (untuk obat dikeringkan dengan zat tambahan). Cara inipun harus hati-hati karena terlalu lama menggerus atau dengan sedikit ditekan waktu menggerus akan mengumpulkan kembali campuran tersebut.

2) Serbuk dengan Asam Salisilat

Serbuk sangat ringan dan mudah terbang yang akan menyebabkan rangsangan terhadap selaput lendir hidung dan mata hingga akan bersin. Dalam hal ini asam salisilat kita basahi dengan eter dan segera dikeringkan dengan zat tambahan.

3) Serbuk dengan Asam Benzoat, Naftol, Mentol, Thymol

Dikerjakan seperti di atas. Untuk obat dalam dipakai etanol 95% sedangkan untuk obat luar digunakan eter.

4) Serbuk Dengan Garam-garam yang Mengandung Kristal

Dapat dikerjakan dalam lumpang panas, misalnya KI dan garam-garam bromida. Garam-garam yang mempunyai garam exiccatusnya, lebih baik kita ganti dengan exiccatusnya. Penggantiannya adalah sebagai berikut:

Natrii Carbonas 50% atau ½ bagian

Ferrosi Sulfas 67% atau 2/3 bagian

Aluminii et Kalii Sulfas 67% atau 2/3 bagian

Magnesii Sulfas 67% atau 2/3 bagian

Natrii Sulfas 50% atau ½ bagian

2. Serbuk dengan Bahan Setengah Padat

Biasanya terdapat dalam bedak tabur. Yang termasuk bahan setengah padat adalah adeps lanae, cera flava, cera alba, parafin padat, vaselin kuning dan vaselin putih. Dalam jumlah besar sebaiknya dilebur dulu di atas tangas air, baru dicampur dengan zat tambahan. Dalam jumlah sedikit digerus dengan penambahan aseton atau eter, baru ditambah zat tambahan atau dicairkan dalam lumpang panas.

3. Serbuk dengan Bahan Cair

a. Serbuk dengan Minyak Atsiri

Minyak atsiri dapat diteteskan terakhir atau dapat juga dibuat oleo sacchara, yakni campuran 2 gram gula dengan 1 tetes minyak. Bila hendak dibuat 4 g oleosacchara anisi, kita campur 4 g saccharum dengan 2 tetes minyak anisi.

b. Serbuk dengan Tinctura

Contohnya serbuk dengan opii tinctura, digitalis tinctura, aconiti tinctura, belladonnae tinctura, digitalis tinctura, ratanhiae tinctura. Tinctur dalam jumlah kecil dikerjakan dengan lumpang panas kemudian dikeringkan dengan zat tambahan sampai kering. Sedangkan dalam jumlah besar dikerjakan dengan menguapkan di atas tangas air sampai kering dengan pertolongan zat penambah agar tidak lengket kemudian diangkat. Tinctura yang diuapkan ini beratnya 0, untuk serbuk terbagi kehilangan berat tidak perlu diganti, sedangkan untuk serbuk tak terbagi harus diganti seberat tinctura yang menguap dengan zat tambahan. Zat berkhasiat dari tinctur menguap, pada umumnya terbagi menjadi dua:
1) Tinctur yang dapat diambil bagian-bagiannya. Spiritus sebagai pelarutnya diganti dengan zat tambahan. Contohnya iodii tinc, Camphor spiritus, tinc, opii benzoica
2) Tinctur yang tidak dapat diambil bagian-bagiannya. Kalau jumlahnya banyak dilakukan pengeringan pada suhu serendah mungkin, tapi kalau jumlahnya sedikit dapat ditambah langsung ke dalam campuran serbuk. Kita batasi maksimal 2 tetes dalam 1 gram serbuk. Contohnya valerianae tinc. Aromatic tinc. Atau dibuat persediaan keringnya 1 = 3.

4. Serbuk dengan Extractum

a. Extractum Siccum (Ekstrak Kering)

Pengerjaannya seperti membuat serbuk dengan zat padat halus. Contohnya opii extractum, strychni extractum.

b. Extractum Spissum (Ekstrak Kental)

Dikerjakan dalam lumpang panas dengan sedikit penambahan cairan penariknya untuk mengencerkan ekstrak, kemudian tambahkan zat tambahan sebagai pengering. Contohnya belladonnae extractum dan hyoscyami extractum menggunakan etanol 70%. Extrak cannabis indicae dan extrak valerianae menggunakan etanol 90%. Extrak filicis dengan eter.

c. Extractum Liquidum (Ekstrak Cair)

Dikerjakan seperti mengerjakan serbuk dengan tinctur. Contohnya rhamni purshianae ext, ext. hydrastis liq. Catatan: ekstrak chinae liq. bisa diganti dengan ekstrak chinae siccum sebanyak sepertiganya.

5. Serbuk dengan Tablet atau Kapsul

Dalam membuat serbuk dengan tablet dan kapsul diperlukan zat tambahan sehingga perlu diperhitungkan beratnya. Dapat kita ambil bentuk tablet atau kapsul itu langsung. Tablet digerus halus kemudian ditimbang (untuk pulveres tidak perlu). Kapsul dikeluarkan isinya kemudian ditimbang beratnya. Kalau tablet atau kapsul terdiri dari satu macam zat berkhasiat serta diketahui kadar zat berkhasiatnya dapat kita timbang dalam bentuk zat aslinya. Contohnya chlortrimeton tablet kadarnya 4 mg, dapat juga diambil chlorpheniramin maleas dalam bentuk serbuk yang sudah diencerkan dalam laktosa.

G. Cara Pengemasan Serbuk

Secara umum serbuk dibungkus dan diedarkan dalam 2 macam kemasan yaitu kemasan untuk serbuk terbagi dan kemasan untuk serbuk tak terbagi. Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi (pulveres) atau tidak terbagi (pulvis).

1. Kemasan untuk Serbuk Terbagi

Pada umumnya serbuk terbagi terbungkus dengan kertas perkamen atau dapat juga dengan kertas selofan atau sampul polietilena untuk melindungi serbuk dari pengaruh lingkungan. Serbuk terbagi biasanya dapat dibagi langsung (tanpa penimbangan) sebelum dibungkus dalam kertas perkamen terpisah dengan cara seteliti mungkin, sehingga tiap-tiap bungkus berisi serbuk yang kurang lebih sama jumlahnya. Hal tersebut bisa dilakukan bila persentase perbandingan pemakaian terhadap dosis maksimal kurang dari 80%. Bila persentase perbandingan pemakaian terhadap DM sama dengan atau lebih besar dari 80% maka serbuk harus dibagi berdasarkan penimbangan satu per satu. Pada dasarnya langkah-langkah melipat atau membungkus kertas pembungkus serbuk adalah sebagai berikut:

  • Letakkan kertas rata di atas permukaan meja dan lipatkan ½ inci ke arah kita pada garis memanjang pada kertas untuk menjaga keseragaman, langkah ini harus dilakukan bersamaan dengan lipatan pertama sebagai petunjuk.
  • Letakkan serbuk baik yang ditimbang atau dibagi-bagi ke tengah kertas yang telah dilipat satu kali lipatannya mengarah ke atas di sebelah seberang di hadapanmu.
  • Tariklah sisi panjang yang belum dilipat ke atas dan letakkanlah pada kira-kira garis lipatan pertama, lakukan hati-hati supaya serbuk tidak berceceran.
  • Peganglah lipatan dan tekanlah sampai menyentuh dasar kertas dan lipatlah ke hadapanmu setebal lipatan pertama.
  • Angkat kertas, sesuaikan dengan ukuran dos tempat yang akan digunakan untuk mengemas, lipat bagian kanan dan kiri pembungkus sesuai dengan ukuran dos tadi. Atau bila pengemasnya plastik yang dilengkapi klip pada ujungnya usahakan ukuran pembungkus satu dengan yang lainnya seragam supaya tampak rapi.
  • Kertas pembungkus yang telah terlipat rapi masukkan satu persatu dalam dos atau plastik klip. Pada lipatan kertas pembungkus tidak boleh ada serbuk dan tidak boleh ada ceceran serbuk.

2. Kemasan untuk Serbuk Tak Terbagi

Untuk pemakaian luar, serbuk tak terbagi umumnya dikemas dalam wadah kaleng yang berlubang-lubang atau sejenis ayakan untuk memudahkan penggunaan pada kulit, misalnya bedak tabur. Sedangkan untuk obat dalam, serbuk tak terbagi biasa disimpan dalam botol bermulut lebar supaya sendok dapat dengan mudah keluar masuk melalui mulut botol. Contohnya serbuk antacid, serbuk laksativa. Wadah dari gelas digunakan pada serbuk yang mengandung bahan obat higroskopis atau mudah mencair, serbuk yang mengandung bahan obat yang mudah menguap. Untuk serbuk yang komponennya sensitif terhadap cahaya menggunakan wadah gelas berwarna hijau atau amber.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Serbuk adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan untuk pemakaian oral/dalam atau untuk pemakaian luar. Bentuk serbuk mempunyai luas permukaan yang lebih luas sehingga lebih mudah larut dan lebih mudah terdispersi daripada bentuk sediaan padatan lainnya (seperti kapsul, tablet, pil). Anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk.

Biasanya serbuk oral dapat dicampur dengan air minum. Serbuk oral dapat diberikan dalam bentuk terbagi (pulveres, divided powder, chartulae) atau tak terbagi (pulvis, bulk powder).Serbuk oral tak terbagi terbatas pada obat yang relatif tidak poten seperti laksansia, antasida, makanan diet dan beberapa jenis analgetik tertentu, dan pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar lainnya. Serbuk tak terbagi lainnya adalah serbuk gigi dan serbuk tabur yang keduanya digunakan untuk pemakaian luar. Umumnya serbuk terbagi dibungkus dengan kertas perkamen dan untuk lebih melindungi dari pengaruh lingkungan, serbuk ini dapat dilapisi dengan kertas selofan atau sampul polietilena.

B. Saran

Dalam penggunaan bentuk sediaan serbuk kita harus lebih cermat dalam mengetahui serbuk apa saja yang dapat dicampur dan yang tidak dapat dicampur (tak terbagi). Serta mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat membuat serbuk menjadi basah dan bagaimana cara mengatasinya.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 2005. Farmasetika. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.

Ansel, C, H. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi Keempat. Jakarta: UI Press.

Kurniawan, D.W. Sulaiman, T.N.S. 2009. Teknologi Sediaan Farmasi. Jakarta: Graha Ilmu.

Syamsuni. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta: EGC.

Download Contoh Makalah Serbuk (Pulvis/Pulveres).docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH