Struktur Modal

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, penulis panjatkan puja dan puji syukur atas ke hadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Struktur Modal Keuangan ini tepat pada waktunya.

Makalah tentang Struktur Modal Keuangan ini telah penulis susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Indonesia, Maret 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Suatu perusahaan dalam menjalankan usahanya sejalan dengan pengembangan yang dialami, selalu membutuhkan tambahan modal. Pada saat perusahaan didirikan, pemilik bisa menentukan sumber modal apa yang dipakai. Apakah semuanya bersumber dari modal saham biasa atau perlu ada hutang jangka panjang. Setiap keputusan yang diambil tentang sumber modal selalu ada dampaknya. Misalnya bila sumber modal saham biasa ada kewajiban membayar dividen dan keputusan-keputusan kebijakan atau pengelolaan dari pemegang saham perlu diperhatikan.

Bila sumber modal dari saham preferen ada kewajiban membayar dividen yang harus diprioritaskan demikian pula dalam keadaan perusahaan dilikuidasi maka pemegang saham preferen akan didahulukan pengembalian nilai sahamnya. Jika sumber modal berasal dari hutang jangka panjang ada kewajiban membayar bunga dan pengembalian nilai sahamnya. Jika sumber modal berasal dari hutang jangka panjang ada kewajiban membayar bunga dan pengembalian hutang pada saat jatuh tempo.

Dengan demikian, ada pertimbangan-pertimbangan tertentu dari perusahaan dalam mengatur perpaduan sumber modal mana akan dipakai. Misalnya suatu perusahaan tidak menyukai manajemen perusahaannya dikelola oleh banyak pemilik, karena itu keputusan sumber modal yang dipakai untuk pengembangan berikut adalah dari hutang jangka panjang.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian struktur modal?
  2. Bagaimana teori tentang struktur modal?
  3. Bagaimana menentukan struktur modal yang optimal?
  4. Apa keputusan dari struktur modal?
  5. Apa saja faktor-faktor yang menentukan pemilihan struktur modal?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Struktur Modal

Struktur modal adalah bauran atau perpaduan daur hutang jangka panjang saham preferen dan saham biasa. Struktur modal yang ditargetkan adalah perpaduan antara hutang, saham preferen, saham biasa yang dikehendaki perusahaan dalam struktur modalnya. Sedangkan struktur modal yang optimal adalah struktur modal yang mengoptimalkan keseimbangan antara risiko dan pengembalian sehingga memaksimumkan harga saham.

Tujuan manajemen struktur modal adalah memadukan sumber dana permanen yang digunakan perusahaan dengan cara yang akan memaksimumkan harga saham perusahaan. Sebaliknya, tujuan ini bisa dipandang sebagai pencarian terhadap paduan dana yang akan meminimalkan campuran biaya modal perusahaan. Kita dapat menyebut paduan sumber dana yang tepat ini struktur modal optimal.

B. Teori Struktur Modal

1. Pendekatan Laba Operasi Bersih

Satu pendekatan terhadap penilaian laba perusahaan dikenal sebagai pendekatan laba operasi bersih (net operating income, NOI). Melalui pendekatan ini, laba operasi bersih didiskon pada tingkat kapitalisasi total perusahaan untuk memperoleh nilai total pasar perusahaan. Nilai pasar pinjaman kemudian dikurangi dari nilai total pasar untuk memperoleh nilai pasar saham biasa. Penggunaan pendekatan ini mengakibatkan tingkat kapitalisasi total serta biaya dana pinjaman tetap sama walaupun digunakan pengungkit keuangan yang diukur sebagai B/S.

Asumsi kritis pada pendekatan ini adalah ko bersifat konstan, berapa pun jumlah pengungkit keuangan. Pasar mengkapitalisasi laba operasi bersih perusahaan dan menentukan nilai keseluruhan perusahaan. Akibatnya, bauran pendanaan hutang dan ekuitas menjadi tidak penting. Peningkatan pendanaan hutang yang seharusnya lebih murah diimbangi oleh peningkatan tingkat pengembalian ekuitas yang diminta, ke. Maka rata-rata tertimbang ke dan ki tetap sama, walaupun pengungkit keuangan berubah. Pada saat perusahaan meningkatkan penggunaan pengungkit keuangannya, risiko perusahaan semakin meningkat dan investor meningkatkan tingkat pengembalian ekuitas secara langsung untuk menyesuaikan peningkatan rasio hutang terhadap ekuitas. Sepanjang ki tidak berubah. Ke merupakan fungsi linier konstan rasio hutang terhadap ekuitas. Karena biaya modal perusahaan, ko, tidak dapat diubah melalui pengungkit keuangan, maka pendekatan laba operasi bersih secara implisit membuktikan tidak ada struktur modal yang optimal.

Sejauh ini, pembahasan laba operasi bersih hanya dilakukan dalam batasan definisi. Namun pembahasan masih memiliki kekurangan dalam menjelaskan perilaku penting yang dimiliki laba operasi bersih. Modigliani dan Miller, dua ahli teori keuangan pemenang penghargaan Nobel, memberikan dukungan atas perilaku pemisahan penilaian total dan biaya modal perusahaan dari struktur modalnya. Pembahasan tersebut diawali dengan pengkajian pendekatan tradisional terhadap struktur modal dan penilaiannya.

2. Pendekatan Tradisional

Pendekatan tradisional terhadap struktur dan penilaian modal mengasumsikan adanya struktur modal optimal dan manajemen dapat meningkatkan nilai total perusahaan melalui penggunaan pengungkit keuangan. Pendekatan ini menyatakan perusahaan pada awalnya dapat mengurangi biaya modalnya dan meningkatkan nilai totalnya melalui pengembalian ekuitas yang diminta. Peningkatan ke tidak sepenuhnya mengimbangi manfaat yang diperoleh dari pendanaan hutang yang lebih murah. Dengan semakin seringnya dilakukan pengungkitan keuangan, investor secara meningkat menghukum tingkat pengembalian perusahaan hingga akhirnya pengaruh ini dapat mengimbangi manfaat pendanaan yang lebih murah.

Satu variasi pendekatan tradisional, di mana ke diasumsikan akan meningkat pada tingkat yang lebih cepat dengan pengungkit keuangan. Sedangkan ki diasumsikan akan meningkat hanya setelah peningkatan pengungkit keuangan dalam jumlah besar. Awalnya, rata-rata tertimbang biaya modal menurun dengan penggunaan pengungkit keuangan yang tidak terlalu besar. Sampai pada titik tertentu, peningkatan dapat lebih mengimbangi penggunaan dana hutang yang lebih murah dalam struktur modal, sehingga ko mulai mengalami peningkatan. Peningkatan ko ini selanjutnya memperoleh dukungan pada saat ki mulai meningkat. Struktur modal optimal adalah titik di mana ko berada pada titik terendah.

Pada posisi struktur modal optimal tersebut, tidak hanya rata-rata tertimbang biaya modal perusahaan mencapai titik terendah, namun total nilai perusahaan juga mencapai titik tertinggi. Hal ini disebabkan semakin rendah tingkat kapitalisasi, ko, yang digunakan pada arus laba operasi bersih perusahaan, semakin tinggi nilai serang bersih arus tersebut. Oleh karena itu, pendekatan tradisional struktur modal menunjukkan bahwa: (1) biaya modal bergantung pada struktur modal perusahaan dan (2) terdapat struktur modal optimal.

3. Nilai Perusahaan, Biaya Agensi, Teori Tradeoff Statis, dan Teori Pecking Order

Masalah agensi merupakan konflik antarkelompok, pemilik (pemegang saham), manajer perusahaan, dan karyawan. Ada perbedaan kepentingan antara ketiga kelompok tersebut. Di sini akan timbul pertentangan antara kepentingan individu dengan kepentingan perusahaan. Ada kecenderungan manajer lebih mementingkan tujuan individu daripada tujuan perusahaan. Timbulnya pertentangan ini antara lain:

  • Apabila perusahaan memiliki free cashflows yang sangat besar.
  • Apabila ada transaksi akuisisi atau pembelian sebuah perusahaan oleh perusahaan besar dengan menggunakan utang yang bisa disebut sebagai leveraged buy out (LBO).

Masalah agensi akan menimbulkan biaya agensi, yang cenderung terjadi dalam organisasi bisnis karena kepemilikan dan kontrol manajemen sering terpisah. Maka manajer perusahaan dapat dianggap agen bagi pemegang saham perusahaan. Untuk memastikan bahwa manajer agen bertindak untuk kepentingan pemegang saham, perlu dipastikan mereka memiliki: (1) insentif yang tepat untuk melakukan itu, dan (2) keputusan mereka dimonitor. Insentif biasanya berbentuk rencana kompensasi eksekutif dan penghasilan tambahan.

Penghasilan tambahan bisa jadi menambah staf pendukung, keanggotaan country club, pesawat perusahaan yang mewah, atau hal lain yang senada. Untuk memonitor diperlukan biaya tertentu yang ditanggung pemegang saham, seperti (1) mengikat manajer, (2) mengaudit laporan keuangan, (3) menyusun organisasi dengan unik agar membatasi keputusan manajerial yang berguna, dan (4) meninjau kembali biaya dan keuntungan penghasilan tambahan manajer. Daftar ini indikatif dan tidak terbatas. Intinya adalah biaya monitor pasti ditutup oleh pemilik perusahaan-pemegang sahamnya.

Manajemen struktur modal juga menimbulkan biaya agensi. Masalah agensi berakar pada konflik kepentingan, dan manajemen struktur modal meliputi konflik antara pemegang saham dan pemegang obligasi. Bertindak atas kepentingan pemegang saham bisa menyebabkan manajemen menginvestasi dalam proyek yang sangat berisiko. Investor yang ada dalam obligasi perusahaan dapat dengan logis tak menyukai kebijaksanaan investasi seperti itu. Perubahan dalam struktur risiko aset perusahaan akan mengubah risiko yang dihadapi perusahaan. Ini dapat mengarah pada revisi yang buruk atas peringkat obligasi perusahaan selama ini. Peringkat obligasi yang menurun akibatnya menurunkan nilai pasar obligasi perusahaan. Jelas, pemegang obligasi akan tak senang dengan hasilnya.

Untuk mengurangi konflik kepentingan ini, kreditur (investor obligasi) dan pemegang saham mungkin setuju memasukkan aturan pembatas dalam kontrak obligasi. Aturan biasanya membatasi pembayaran dividen tunai atas saham biasa. Untuk memastikan bahwa aturan protektif diikuti manajemen berarti biaya monitor muncul. Seperti biaya monitor lainnya, ditanggung oleh pemegang saham biasa. Selanjutnya, seperti biaya lain, melibatkan analisis tradeoff yang penting.

  • Tanpa aturan obligasi yang protektif banyak aturan obligasi yang protektif.
  • Tingkat bunga tinggi tingkat bunga rendah.
  • Biaya monitor rendah biaya monitor tinggi.
  • Tak ada efisiensi operasi yang hilang banyak efisiensi operasi yang hilang.

Gambaran tersebut menunjukkan beberapa tradeoff dalam penggunaan aturan obligasi protektif. Tetapi perusahaan mungkin bisa menjual obligasi yang tak memiliki aturan protektif hanya dengan menerapkan tingkat bunga yang sangat tinggi. Tanpa aturan protektif, tak ada biaya monitor. Juga, tak ada efisiensi operasi yang hilang, seperti bisa bergerak cepat untuk mendapatkan perusahaan tertentu di pasar akuisisi. Sebaliknya, kemauan memasukkan beberapa aturan dapat mengurangi biaya eksplisit kontrak utang, tapi akan melibatkan biaya monitor yang nyata dan kehilangan sedikit efisiensi operasi (yang juga berarti biaya yang lebih tinggi). Maka saat penerbitan utang pertama dijual, tradeoff akan terjadi di antara biaya monitor, kehilangan efisiensi operasi, dan menikmati biaya bunga eksplisit yang lebih rendah.

Myers dengan ringkas mengikhtisarkan teori pecking order struktur modal dengan 4 poin:

  • Perusahaan menerapkan kebijaksanaan dividen untuk kesempatan investasi.
  • Perusahaan lebih suka mendanai kesempatan investasi dengan dana yang sepenuhnya dari dalam dulu, lalu modal keuangan eksternal akan dicari.
  • Saat pendanaan eksternal dibutuhkan, perusahaan akan pertama memilih menerbitkan sekuritas utang, menerbitkan sekuritas jenis modal akan dilakukan terakhir.
  • Dengan semakin banyaknya dana eksternal dibutuhkan untuk mendanai proyek dengan nilai sekarang positif, pendapatan pecking order akan diikuti. Ini berarti lebih menyukai utang yang lebih berisiko, artinya pada konvertibel, modal preferen, dan modal biasa sebagai pilihan terakhir.

C. Menentukan Struktur Modal yang Optimal

Struktur modal keuangan adalah suatu ukuran yang menunjukkan sampai sejauh mana hutang dan saham preferen digunakan dalam struktur modal perusahaan. Struktur modal perusahaan akan mempengaruhi laba per lembar saham, tingkat risiko, dan harga saham. Nilai perusahaan yang tidak mempunyai hutang untuk pertama kali akan naik pada saat kebutuhan akan tambahan modal dipenuhi oleh hutang dan nilai tersebut kemudian akan mencapai puncaknya dan akhirnya nilai itu akan menurun setelah hutang berlebihan.

Jika demikian, untuk selanjutnya hutang akan digunakan untuk menggantikan ekuitas sampai berapa jumlahnya. Dalam keputusan semacam itu struktur modal yang dipilih haruslah yang memaksimumkan harga saham perusahaan. Apabila suatu perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dananya mengutamakan pemenuhan dengan sumber dana dari dalam perusahaan, maka hal ini dapat menyebabkan berkurangnya ketergantungan kepada pihak luar. Apabila kebutuhan dana sudah tidak dapat dipenuhi oleh sumber dana dari perusahaan, maka perusahaan harus menggunakan dana yang berasal dari luar perusahaan. Baik dari hutang maupun dengan mengeluarkan saham baru dalam memenuhi kebutuhan dananya.

Apabila dalam pemenuhan dana dari sumber ekstern tersebut lebih mengutamakan hutang, maka ketergantungan kepada pihak luar akan semakin besar dan risiko finansial juga semakin besar. Sebaliknya, apabila lebih mengutamakan pada saham, maka biayanya akan sangat mahal karena biaya penggunaan dana yang berasal dari saham baru akan lebih mahal dari sumber dana lainnya karena adanya flotation cost. Oleh karena itu, maka pola diusahakan adanya keseimbangan yang optimal antara kedua sumber tersebut. Dalam keadaan bagaimanapun perusahaan sebaiknya jangan memunyai hutang yang lebih besar daripada jumlah modal sendiri. Sehingga modal yang dijamin tidak lebih besar dari modal yang menjadi jaminannya.

Menurut konsep cost of capital, perusahaan harus mengusahakan agar dapat mencapai struktur modal yang optimal, yakni struktur modal yang dapat meminimalkan biaya penggunaan modal rata-rata di mana besarnya average cost of capital tergantung pada proporsi masing-masing sumber dana tersebut.

Van Horne menyatakan: kalau ingin meningkatkan harga per saham, maka terlebih dahulu harus mengusahakan biaya modal perusahaan menjadi seminimal mungkin untuk meningkatkan kemakmuran para pemegang saham perusahaan. Suatu struktur modal yang optimal sangat penting bagi suatu perusahaan dan ini menurut pendapat Weston dan Copeland (1992: 565) mengenai struktur moda, yaitu: “if there is an optimal capital structure for a company it will minimize the opportunity cost of capital”.

Dari semua uraian di atas, dapat diketahui bahwa bila ingin memaksimumkan harga per saham maka harus mengoptimalkan struktur modal perusahaan tersebut dengan berusaha keras supaya biaya modal menjadi seminimum mungkin jumlahnya.

D. Keputusan Struktur Modal

Dalam teori, struktur modal yang optimal adalah struktur di mana biaya marginal riil baik berupa eksplisit dari masing-masing sumber pembelanjaan adalah sama (Erich; 1981). Hal ini menuntut kehati-hatian para manajer keuangan untuk menentukan struktur modal yang tepat agar dalam praktiknya tidak berdampak negatif.

Masalah utama dalam menentukan struktur modal yaitu menaksir biaya implisit sumber pembelanjaan bukan modal sendiri. Perlu diingat bahwa dari berbagai metode untuk menentukan struktur modal suatu perusahaan tidak satu pun yang bisa dianggap sempurna. Oleh karena itu, diperlukannya informasi yang cukup untuk mengambil keputusan yang rasional dengan pandangan positif bahwa kita mampu menentukan struktur modal yang tepat.

E. Faktor-faktor yang Menentukan Pemilihan Struktur Modal

1. Lokasi Distribusi Keuntungan

Lokasi distribusi keuntungan adalah seberapa besar nilai yang diharapkan dari keuntungan perusahaan. Semakin besar nilai yang diharapkan dari keuntungan, dengan penyimpangan yang sama, maka semakin kecil kemungkinan mendapatkan kerugian.

2. Stabilitas Penjualan dan Keuntungan

Bahwa semakin stabil keuntungan, berarti semakin kecil pinjaman karena bertambah besarnya kemungkinan perusahaan mampu untuk memenuhi kewajiban tetapnya.

3. Kebijakan Dividen

Implikasi bahwa banyak perusahaan yang mencoba menggunakan kebijakan dividen dalam jumlah yang konstan akan langsung dirasakan bagi manajer keuangan, yaitu dengan menyediakan dana untuk membayar jumlah dividen yang tetap. Semakin tinggi tingkat leveragenya, semakin besar kemungkinan perusahaan tidak bisa membayar dividen dalam jumlah yang tetap.

4. Pengendalian

Penggunaan hutang yang agak tinggi daripada mengeluarkan saham baru dianggap lebih menguntungkan dengan alasan kepemilikan. Hal ini bisa jadi menyebabkan pihak yang semula memiliki sebagian besar saham dengan pengeluaran saham baru akan menjadi berkurang bagiannya dan akan mengurangi penguasaan atas perusahaan.

5. Risiko Kebangkrutan

Menurut Halim dan Sarwoko (1995), pada pasar modal sempurna, risiko kebangkrutan, aktiva dapat dijual sesuai dengan nilai ekonomisnya dan dibagikan sesuai dengan klaim. Pada pasar yang kurang sempurna dan tidak diperhitungkan biaya kebangkrutan, pada saat perusahaan mengalami kebangkrutan akan menyebabkan aktiva dijual di bawah nilai ekonomisnya. Biaya administrasi menyebabkan penerimaan pemegang saham menjadi berkurang.

6. Stabilitas Penjualan

Bagi perusahaan yang memiliki tingkat penjualan yang stabil tiap tahunnya boleh memiliki hutang yang besar dengan risiko menanggung biaya tetap yang tinggi.

7. Struktur Aktiva

Aktiva dapat digunakan sebagai jaminan peminjaman hutang dalam jumlah besar.

8. Elastisitas Operasi

Elastisitas operasi rendah yang dimiliki perusahaan lebih memungkinkan untuk memanfaatkan hutang keuangan.

9. Tingkat Pertumbuhan

Perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat, wajib mengandalkan modal eksternal dalam bentuk obligasi daripada saham yang memiliki biaya pengembangan yang tinggi.

10. Profitabilitas

Perusahaan yang memiliki tingkat pengembalian investasi tinggi cenderung memiliki hutang dalam jumlah kecil. Tingkat pengembalian yang tinggi dapat digunakan sebagai permodalan dalam bentuk laba ditahan.

11. Pajak

Tambahan tarif pajak suatu perusahaan akan lebih bak dalam menggunakan permodalan hutang.

12. Kendali

Pengendalian terhadap penggunaan hutang dalam perusahaan perlu dipertimbangkan, apabila menggunakan jumlah hutang yang sedikit, manajemen menghadapi risiko pengambilalihan oleh perusahaan lain dan jika terlalu banyak, dihadapkan pada masalah kegagalan memenuhi kewajiban.

13. Sikap Manajemen

Sikap manajemen yang cenderung konservatif atau sebaliknya dalam menggunakan hutang akan sedikit banyak mempengaruhi harga saham.

14. Sikap Kreditur

Penentuan struktur modal yang tepat di tentukan oleh sikap manajemen dalam menyikapi kreditur. Peminjaman dana lebih dapat membuat keengganan debitur atau pemberian dengan tingkat suku bunga yang tinggi.

15. Kondisi Pasar

Perubahan jangka pendek dan jangka panjang kondisi di pasar saham dan obligasi akan mempengaruhi struktur modal optimal suatu perusahaan.

16. Kondisi Internal Perusahaan

Kondisi internal perusahaan akan ikut mempengaruhi target struktur modal. Bagi perusahaan baru, estimasi laba besar dimasa yang akan datang belum mencerminkan harga saham. Penggunaan hutang sampai laba terlearisir dan tercermin dalam harga saham, mengemisi, melunasi hutang dan kembali pada target struktur modal.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Struktur modal adalah bauran atau perpaduan daur hutang jangka panjang saham preferen dan saham biasa. Struktur modal yang ditargetkan adalah perpaduan antara hutang, saham preferen, saham biasa yang dikehendaki perusahaan dalam struktur modalnya, sedangkan struktur modal yang optimal adalah struktur modal yang mengoptimalkan keseimbangan antara risiko dan pengembalian sehingga memaksimumkan harga saham.

Apabila suatu perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dananya mengutamakan pemenuhan dengan sumber dana dari dalam perusahaan, maka hal ini dapat menyebabkan berkurangnya ketergantungan kepada pihak luar. Apabila kebutuhan dana sudah tidak dapat dipenuhi oleh sumber dana dari perusahaan, maka perusahaan harus menggunakan dana yang berasal dari luar perusahaan. Baik dari hutang maupun dengan mengeluarkan saham baru dalam memenuhi kebutuhan dananya.

B. Saran

Masalah utama dalam menentukan struktur modal yaitu menaksir biaya implisit sumber pembelanjaan bukan modal sendiri. Perlu diingat bahwa dari berbagai metode untuk menentukan struktur modal suatu perusahaan tidak satu pun yang bisa dianggap sempurna. Oleh karena itu, diperlukannya informasi yang cukup untuk mengambil keputusan yang rasional dengan pandangan positif bahwa kita mampu menentukan struktur modal yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Aliansyah, Noor. Pengaruh Struktur Modal Terhadap Nilai. Jurnal Usahawan No. 01 TH XXX Januari 2001.

Astuti, Dewi. 2004. Manaan. Bandung: Ghalia Indonesia.

Hadisoebroto, Andreas E. Penentuan Struktur Modal Untuk Mencapai Biaya Modal Minimum dan Pengaruhnya Terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Widya Manajemen dan Akuntansi, Vol. 4 No. 1 April 2004.

Hartono. Kebijakan Struktur Modal: Pengujian Tradeoff Theory dan Pecking Order Theory. Jurnal Perspektif, Vol. 8, No. 2, Desember 2003.

Haymans Manurung, Adler. Teori Struktur Modal: Sebuah Survei. Jurnal Usahawan N 4 TH XXXIII April 2004.

Keown, Arthur J. 2000. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.

Roni Setyawan, Ignatius. Simultanitas Keputusan Dividen dan Struktur Modal: Suatu Tinjauan Teoritik. Jurnal Usahawan No 01 Th XXX Januari 2001.

Sjahrial, Dermawan. 2006. Pengantar Manajemen Keuangan. Bogor: Mitra Wacana Media.

Van Horne, James. 1998. Prinsip-prinsip Manajemen Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.

Download Contoh Makalah Struktur Modal.docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH