Bencana Alam Tanah Longsor

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas ke hadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah “Bencana Alam Tanah Longsor” ini tepat pada waktunya.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi bagi kami dan pembaca pada umumnya.

Indonesia, Maret 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Australia yang bergerak saling menumbuk. Akibat tumbukan antara lempeng itu maka terbentuk daerah penunjaman memanjang di sebelah Barat Pulau Sumatera, sebelah Selatan Pulau Jawa hingga ke Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara, sebelah Utara Kepulauan Maluku, dan sebelah Utara Papua. Konsekuensi lain dari tumbukan itu maka terbentuk palung samudera, lipatan, punggungan dan patahan di busur kepulauan, sebaran gunung api, dan sebaran sumber gempa bumi. Gunung api yang ada di Indonesia berjumlah 129. Angka itu merupakan 13% dari jumlah gunung api aktif dunia.

Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di Indonesia adalah hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/punggungan dengan kemiringan sedang hingga terjal berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa penyebab tanah longsor?
  2. Bagaimana proses terjadinya tanah longsor?
  3. Bagaimana upaya pencegahan tanah longsor?
  4. Bagaimana upaya penyelamatan tanah longsor?
  5. Bagaimana mitigasi tanah longsor?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Penyebab Tanah Longsor

Pada prinsipnya bencana tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban serta berat jenis tanah batuan.

1. Hujan

Ancaman bencana tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah permukaan.

2. Lereng terjal

Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar.

3. Tanah yang kurang padat dan tebal

Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari 2,5 m dan sudut lereng lebih dari 220. Tanah jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan. Selain itu tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketika hawa terlalu panas.

4. Batuan yang kurang kuat

Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah bila mengalami proses pelapukan dan umumnya rentan terhadap bencana tanah longsor bila terdapat pada lereng yang terjal.

5. Jenis tata lahan

Bencana tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnya adalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama.

6. Getaran

Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.

7. Susut muka air danau atau bendungan

Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.

8. Adanya beban tambahan

Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke arah lembah.

9. Pengikisan/erosi

Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.

10. Adanya material timbunan pada tebing

Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah yang kemudian diikuti dengan retakan tanah.

11 Bekas longsoran lama

Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah terjadi patahan kulit bumi. Adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuk tapal kuda.

12. Penggundulan hutan

Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul di mana pengikatan air tanah sangat kurang.

13. Daerah pembuangan sampah

Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah dengan guyuran hujan.

B. Proses Terjadinya Tanah Longsor

Proses umum yang biasanya timbul sebelum terjadinya bencana tanah longsor adalah:

  1. Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing.
  2. Biasanya terjadi setelah hujan.
  3. Munculnya mata air baru secara tiba-tiba.
  4. Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan.

C. Upaya Pencegahan Tanah Longsor

Kejadian tanah longsor seringkali terjadi di beberapa daerah di Indonesia dan tak sedikit korban yang tewas karenanya. Badan Penanggulangan Bencana sudah sering melakukan upaya penanggulangan tanah longsor, namun kita tidak tahu kapan bencana itu akan terjadi. Indonesia mempunyai rekor masalah bencana longsor salah satu yang terbesar adalah longsor di Banjarnegara pada 2015 kemarin. Inilah sebabnya perlu dilakukan upaya dan strategi penanggulangan tanah longsor antara lain adalah dengan:

  1. Menghindari pembangunan pemukiman di daerah di bawah lereng yang rawan terjadi tanah longsor.
  2. Mengurangi tingkat keterjangan lereng dengan pengolahan lahan terasering di kawasan lereng.
  3. Menjaga drainase lereng yang baik untuk menghindarkan air mengalir dari dalam lereng keluar lereng.
  4. Pembuatan bangunan penahan supaya tidak terjadi pergerakan tanah penyebab longsor.
  5. Penanaman pohon yang mempunyai perakaran yang dalam dan jarak tanam yang tidak terlalu rapat di antaranya di seling-selingi tanaman pendek yang bisa menjaga drainase air.
  6. Relokasi daerah rawan longsor, meskipun butuh dana besar ini adalah upaya penting yang harus dilakukan pemerintah ketika ancaman bencana bisa merenggut nyawa dan kerugian yang besar.
  7. Warning system atau teknologi peringatan bencana longsor dengan menciptakan alat-alat pendeteksi pergerakan tanah yang berisiko akan longsor di daerah-daerah longsor. Peringatan sebelum longsor bisa dilakukan kepada warga untuk melakukan tindakan mitigasi bencana.
  8. Upaya penanggulangan tanah longsor seperti halnya banjir, harus terintegrasi antara tindakan masyarakat yang bermukim di area rawan longsor dengan pemerintah setempat.

D. Upaya Penyelamatan Tanah Longsor

Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan dan pegunungan perlu mengantisipasi bencana tanah longsor terutama saat musim hujan. curah hujan yang tinggi akan memicu terjadinya longsor sewaktu waktu. Ketika hujan lebat mengguyur dan terdengar suara gemuruh yang tidak biasa, maka harus segera mencari tempat aman. sebab kondisi tersebut akan terjadinya tanah longsor karena sudah ada pergerakan tanah. Dan itu merupakan tanda tebing akan longsor. Minta bantuan kepada instansi terkait untuk melakukan evakuasi dan juga pemindahan penduduk ke tempat yang lebih aman. Jangan panik dan tetap siaga. Apapun bencana yang dihadapi kewaspadaan dan kesiapsiagaan akan banyak menolong.

E. Mitigasi Tanah Longsor

1. Tindakan sebelum terjadi tanah longsor

    • Waspada terhadap curah hujan yang tinggi.

Persiapkan dukungan logistik.

  • Simak informasi dari radio mengenai informasi hujan dan kemungkinan tanah longsor.
  • Apabila pihak berwenang menginstruksikan untuk evakuasi, segera lakukan hal tersebut.

2. Tindakan saat terjadi tanah longsor

  • Apabila di dalam rumah dan terdengar suara gemuruh, segera keluar cari tempat lapang dan tanpa penghalang.
  • Apabila di luar, cari tempat yang lapang dan perhatikan sisi lebih atau tanah yang mengalami longsor.

3. Tindakan sesudah terjadi tanah longsor

  • Jangan segera kembali ke rumah, perhatikan apakah longsor susulan masih akan terjadi.
  • Apabila diminta untuk membantu proses evakuasi, gunakan sepatu khusus dan peralatan yang menjamin keselamatan.
  • Perhatikan kondisi tanah sebagai pijakan yang kokoh bagi langkah.
  • Apabila harus menghadapi reruntuhan bangunan untuk menyelamatkan korban, pastikan tidak menimbulkan dampak yang lebih buruk.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Longsor atau sering disebut gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi yang terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Secara umum kejadian longsor disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu. Faktor pendorong adalah faktor-faktor yang memengaruhi kondisi material sendiri, sedangkan faktor pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material tersebut.

Ada 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan.

B. Saran

Kepada semua pihak untuk mengantisipasi dan penanggulangan bencana agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan hidup, korban meninggal dan kerugian harta benda yang besar.

DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_longsor
http://fadiluchiha.blogspot.co.id/2016/09/bencana-longsor.html
https://ilmugeografi.com/tanah-longsor
https://ilmugeografi.com/akibat-terjadinya-tanah-longsor
https://blog.act.id/daerah-rawan-longsor-indonesia
https://blog.act.id/penanggulangan-tanah-longsor 

Download Contoh Makalah Bencana Alam Tanah Longsor.docx

Download juga:

Makalah Bencana Alam

Makalah Bencana Alam Angin Puting Beliung

Makalah Bencana Alam Banjir

Makalah Bencana Alam Gempa Bumi

Makalah Bencana Alam Gunung Meletus

Makalah Bencana Alam Kebakaran Hutan

Makalah Bencana Alam Tsunami

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH