Makalah Falsafah Keperawatan

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Makalah Falsafah Keperawatan ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku umatnya.

Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan yang berjudul Makalah Falsafah Keperawatan ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Makalah Falsafah Keperawatan ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Kami mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga Makalah Falsafah Keperawatan ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Indonesia, Juni 2024
Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu mendengar ilmu namun banyak orang yang belum memahami dengan sesungguhnya bagaimana filsafat ilmu tersebut. Banyak orang yang beranggapan bahwa filsafat adalah merenung, namun jika ditelaah apakah semua orang yang merenung berarti berfilsafat. Padahal berfilsafat merupakan kegiatan berpikir secara lebih luas, mendalam dan objektif. Arti kata falsafah adalah anggapan, gagasan, pendidikan, dan sikap batin yang paling dasar yang dimiliki oleh orang atau masyarakat (KBBI). Jadi, falsafah keperawatan adalah dasar pemikiran yang harus dimiliki perawat sebagai kerangka dalam berpikir. Praktek keperawatan ditentukan dalam standar organisasi profesi dan sistem pengaturan serta pengendaliannya melalui perundang-undangan keperawatan (Nursing Act), di manapun perawat bekerja.

Filsafat merupakan sebuah proses, bukan sebuah produk yakni berpikir kritis, aktif, sistematis, dan mengikuti prinsip-prinsip logika untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau ditolak. Filsafat ilmu adalah telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, baik ditinjau dari sudut ontologi, epistemologi, maupun aksiologi yang dilakukan melalui proses dialektika secara mendalam yang sistematis dan bersifat spekulatif. Filsafat ilmu (philosophy of science) adalah ikhtiar manusia untuk memahami pengetahuan agar menjadi bijaksana, filsafat ilmu juga filsafat yang menelusuri dan menyelidiki sedalam dan seluas mungkin segala sesuatu mengenai semua ilmu.

Falsafah keperawatan merupakan sebuah pandangan dasar tentang hakikat seorang manusia dan esensi keperawatan yang menjadikan kerangka dasar dalam pelaksanaan praktek keperawatan. Hakikat manusia yang dimaksud di sini ialah manusia sebagai makhluk hidup biologis, psikologis, sosial dan spiritual, sedangkan esensinya ialah falsafah keperawatan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas di dalam makalah tentang Falsafah Keperawatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian Falsafah?
  2. Bagaimana Falsafah dalam praktik keperawatan?
  3. Bagaimana perilaku Falsafah?
  4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku Falsafah?
  5. Apa saja faktor pembentuk perilaku Falsafah?
  6. Bagaimana perilaku Falsafah dalam praktik keperawatan?
  7. Bagaimana proses keperawatan dalam teori Falsafah?
  8. Bagaimana persepsi perawat tentang perilaku Falsafah?
  9. Bagaimana persepsi klien pada Falsafah?
  10. Apa manfaat Falsafah?

C. Tujuan

Adapun tujuan dalam penulisan makalah tentang Falsafah Keperawatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui pengertian Falsafah.
  2. Untuk mengetahui Falsafah dalam praktik keperawatan.
  3. Untuk mengetahui perilaku Falsafah.
  4. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku Falsafah.
  5. Untuk mengetahui faktor pembentuk perilaku Falsafah.
  6. Untuk mengetahui perilaku Falsafah dalam praktik keperawatan.
  7. Untuk mengetahui proses keperawatan dalam teori Falsafah.
  8. Untuk mengetahui persepsi perawat tentang perilaku Falsafah.
  9. Untuk mengetahui persepsi klien pada Falsafah.
  10. Untuk mengetahui manfaat Falsafah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Falsafah

Setiap manusia memerlukan falsafah dalam dirinya. Karena dengan falsafah seseorang dapat mengartikan nilai, kepercayaan dan pendapat mereka tentang dunia, dan menginformasikan ide-ide yang dimilikinya. Falsafah hadir dalam diri seseorang berdasarkan pada pengalaman hidup yang dialaminya, dari  cara mereka mengevaluasi suatu pengamatan dan percobaan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Falsafah dalam keperawatan sendiri merupakan keyakinan perawat terhadap nilai-nilai yang dimilikinya, yang dapat meningkatkan kemampuan perawat dalam mengaplikasikan teori keperawatan dan memberikan ruang bagi perawat untuk lebih memahami tentang keperawatan terutama yang berkaitan dengan praktik keperawatan (McIntyre and McDonald, 2013). Falsafah keperawatan juga berhubungan erat dengan hubungan yang holistik menyeluruh yang berpusat pada klien sebagai sasaran dan layanan yang diberikan juga tidak hanya berpusat pada individu yang sakit melainkan individu yang sehat juga (Asmadi, 2008).

(Bruce, Rietze and Lim, 2014) mendefinisikan falsafah keperawatan menggunakan kerangka konseptual yang berfokus pada isi, metode dan pandangan hidup. Berikut kerangka konsep falsafah keperawatan menurut Bruce:

  1. Falsafah sebagai bagian dari keperawatan

Falsafah merupakan bagian dari keperawatan yang berhubungan dengan adanya fenomena utama dalam suatu profesi dan keilmuan yang terkait dengan manusia, sehat sakit dan lingkungan. Praktik keperawatan merupakan sentral dari pemikiran filosofis yaitu mengenai apa itu perawat, apa itu keperawatan, dan apa yang dimaksud dengan keperawatan yang benar. Falsafah digunakan untuk membuat keputusan yang tepat dalam praktik keperawatan. Falsafah sebagai bagian dari keperawatan berguna untuk perawat praktik, perawat pendidik, dan mahasiswa keperawatan.

  1. Falsafah sebagai metode keperawatan

Falsafah sebagai metode keperawatan membantu perawat dalam melakukan analisis, kritik, menghadapi tantangan, dan mengatasi kejadian situasional terkait dengan patient safety, dan etika keperawatan. Falsafah keperawatan dapat membantu perawat dalam mengembangkan kapasitas dirinya sebagai perawat yang menjunjung tinggi moral. Falsafah juga dapat membantu perawat untuk mengeksplorasi pertanyaan yang berkaitan dengan bidang non keilmuan yang mungkin penting bagi kemajuan keilmuan keperawatan itu sendiri. Contohnya dengan menggunakan penyelidikan filosofis perawat dapat mengajukan pertanyaan seperti apa saja prinsip-prinsip praktik keperawatan? Apa saja batasan keperawatan? Bagaimana cara mengembangkan hubungan perawat- klien? Dengan memikirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut perawat dapat terlatih untuk berpikir kritis dan logika dalam mendefinisikan ilmu keperawatan.

  1. Falsafah sebagai pandangan hidup

Perawat mewujudkan falsafah keperawatan sebagai pandangan hidup dalam  setiap  tindakan praktik keperawatan yang dilakukannya meliputi pengetahuan, etika dan lainnya. Dengan menjadikan falsafah keperawatan sebagai pandangan hidup perawat dapat mengembangkan teori, praktik keperawatan dan meningkatkan profesionalitas.

B. Kode Etik Keperawatan

Etika merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani (Ethos). Etika dapat diartikan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan berdasarkan aturan yang berlaku. Etika lahir dikarenakan adanya dilema yang terjadi dalam sebuah hubungan keprofesian, seperti hubungan dengan pasien, tenaga kesehatan dan kebijakan pemerintah dalam pengambilan keputusan. Etika berperan untuk mengatur jalannya kinerja dalam sebuah keprofesian berdasarkan martabat dan hak manusia yang disusun berdasarkan kepercayaan dan aturan yang ada. Kode etik dibuat dan disusun oleh suatu lembaga keorganisasian profesi. Hal yang mendasari isi dari etik keperawatan adalah empat dasar tanggung jawab perawat terhadap pasien yaitu promosi kesehatan, pencegahan penyakit, meningkatkan status kesehatan, dan mempertahankan kehidupan (Benjamin and Curtis, 2010).

 Secara umum etik tidak selalu menjelaskan sesuatu secara jelas, etik berkaitan dengan suatu hal yang benar dan salah. Etik umumnya didasari oleh keyakinan atau pendapat pribadi. Namun, untuk keperawatan etik merupakan hal yang tidak hanya berupa pendapat pribadi, intuisi atau keyakinan pada seseorang. Etik bagi keperawatan juga merupakan sebuah keterampilan untuk memahami konsep, prinsip, pendekatan dan teori yang berguna bagi perawat saat mereka melakukan identifikasi dan proses analisis. Etik berbeda dengan moral. Moral merupakan suatu keyakinan yang lebih spesifik terhadap sesuatu, berkaitan dengan tingkah laku. Moral dikenal dengan bagian atau turunan dari etik. Baik atau buruknya suatu penilaian tentang moral diproses melalui analisis etik yang dilakukan secara sistematik atau terstruktur. Seorang individu dikatakan bermoral jika memunculkan perilaku diterima dan menerima lingkungan sosial, menghargai keyakinan, menghargai budaya atau memenuhi kaidah standar etik profesional yang ditekuninya. Seseorang dikatakan tidak bermoral jika menunjukkan tanda-tanda seperti tidak jujur, kasar, membunuh orang lain, dan melakukan kekerasan atau pelecehan seksual terhadap orang lain (Butts and Rich, 2016).

Billington tahun 2003 dalam (Butts and Rich, 2016) mengungkapkan beberapa hal yang sangat penting yang berkaitan dengan moral dan etik sebagai berikut:

  1. Manusia tidak dapat menghindari adanya hubungan atau keterkaitan antara moral dan etik. Hal ini disebabkan adanya hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara moral dan etik dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Seringnya dalam  mengambil       keputusan        yang berkaitan dengan moral dan etik, individu akan melibatkan orang lain.
  3. Keputusan yang dibuat untuk menyelesaikan permasalahan moral, harus menimbang efek yang terjadi pada kehidupan seseorang, harga diri, atau tingkat perasaan sedih dan bahagianya.
  4. Keputusan tentang adanya suatu perubahan atau hasil dari sebuah keputusan tidak akan dapat tercapai hanya dengan diskusi etik.
  5. Ketika membuat suatu keputusan yang berkaitan dengan moral dan etik tidak dapat dilakukan hanya dengan menimbang atau menilai dari sisi moralitas saja, namun juga harus memperhatikan alasan yang jelas.
  6. Umumnya manusia menggunakan penalaran moral untuk membuat keputusan moral atau untuk menilai langkah apa yang dapat dilakukan dalam mengambil keputusan yang tepat.

C. Teori Keperawatan

Teori  keperawatan  merupakan  suatu  gagasan   atau   ide yang menjelaskan tentang pengalaman, hasil observasi, menggambarkan hubungan dan hasil. Teori keperawatan sangat penting bagi ilmu keperawatan karena menjadi cerminan keprofesionalan suatu disiplin ilmu. Teori keperawatan merupakan sebuah rancangan yang diciptakan untuk memantau perkembangan ilmu pengetahuan, dan menjelaskan fenomena yang terjadi di keperawatan ke dalam level yang lebih spesifik. Teori keperawatan digunakan untuk mendukung praktek keperawatan, membantu dalam membuat keputusan tentang apa yang diketahui dan apa yang dibutuhkan. Orang yang menciptakan gagasan atau ide disebut dengan penteori. Definisi dari teori menekankan adanya variasi di beberapa aspek yang konsisten terhadap general ide teori dalam praktik keperawatan, pendidikan, administrasi atau penelitian. Berikut beberapa definisi teori keperawatan menurut pakar :

  1. Menurut Chinn dan Jacobs dalam (Smith and Parker, 2015), teori merupakan suatu konsep yang tersusun secara sistematik berdasarkan fenomena yang bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, memprediksi dan atau mengontrol fenomena.
  2. Menurut Meleis dalam (Smith and Parker, 2015), teori keperawatan merupakan kumpulan beberapa konsep yang didasarkan oleh beberapa aspek kenyataan yang berkaitan dengan keperawatan. Konsep ini bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, memprediksi dan menentukan tindakan asuhan keperawatan.
  3. Menurut Silvia dalam (Smith and Parker, 2015), teori keperawatan suatu gagasan koheren yang bersifat induktif atau deduktif, kreatif yang berfokus pada fenomena keperawatan, memberi arti, dan membantu untuk menjelaskan aspek keperawatan dan praktiknya secara spesifik dan selektif.
  4. Menurut Watson, teori merupakan suatu kelompok gambaran pengetahuan, idea, dan pengalaman yang dilakukan secara simbolik atau jelas untuk menjelaskan suatu fenomena yang terjadi (Watson, 1985).
  5. Teori merupakan suatu kreasi hubungan antara konsep yang membentuk fenomena yang spesifik. Teori digunakan untuk menjelaskan sesuatu atau memprediksi, dan konsep yang ditawarkan mampu untuk dijelaskan sehingga dapat diuji melalui sebuah penelitian. Kategori teori keperawatan dibagi menjadi tiga yaitu grand theory, middle range theory, dan practice theory. Grand theory digunakan untuk memberikan acuan kerangka kerja struktural dan  ide yang abstrak. Middle range theory digunakan untuk praktik keperawatan dan menjelaskan tentang fenomena yang terjadi dalam praktik keperawatan dan populasi yang lebih spesifik. Practice theory digunakan untuk mengorientasikan suatu tindakan yang nyata dengan berfokus pada praktik klinis yang terbatas pada populasi tertentu dan situasi (Jackson, 2015).

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Falsafah

Falsafah merupakan aplikasi dari proses keperawatan sebagai bentuk kinerja yang ditampilkan oleh seorang perawat. Ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap kinerja individu meliputi faktor individu, psikologis dan organisasi (Donnelly, Gibson and Ivancevich, 2000).

  1. Faktor Individu

Variabel individu dikelompokkan pada subvariabel kemampuan dan keterampilan, latar belakang dan demografis. Menurut Gibson, el.al (2006), variabel kemampuan dan keterampilan adalah faktor penting yang bisa berpengaruh terhadap perilaku dan kinerja individu. Kemampuan intelektual merupakan kapasitas individu mengerjakan berbagai tugas dalam suatu kegiatan mental.

  1. Faktor Psikologis

Variabel ini terdiri atas sub variabel sikap, komitmen dan motivasi. Faktor ini banyak dipengaruhi oleh keluarga, tingkat sosial, pengalaman dan karakteristik demografis. Setiap orang cenderung mengembangkan pola motivasi tertentu. Motivasi adalah kekuatan yang dimiliki seseorang yang melahirkan intensitas dan ketekunan yang dilakukan secara sukarela. Variabel psikologis bersifat kompleks dan sulit diukur.

  1. Faktor Organisasi

Faktor organisasi yang bisa berpengaruh dalam perilaku Falsafah adalah, sumber daya manusia, kepemimpinan, imbalan, struktur dan pekerjaan (Donnelly, Gibson and Ivancevich, 2000). Variabel imbalan akan mempengaruhi variabel motivasi, yang pada akhirnya secara langsung mempengaruhi kinerja individu (Kopelman, 1986).

E. Faktor Pembentuk Perilaku Falsafah

Menurut Watson (2005) faktor pembentuk perilaku Falsafah yaitu:

  1. Membentuk sistem nilai humanistik-altruistik.

Watson menyatakan bahwa asuhan keperawatan berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan (humanistik) dan perilaku yang mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi (altruistik). Hal ini bisa dikembangkan melalui pemahaman nilai yang ada pada diri seseorang, keyakinan, interaksi, dan kultur serta pengalaman pribadi.

  1. Menanamkan keyakinan dan harapan (faith-hope).

Pemahaman ini perlu untuk menekankan pentingnya obat-obatan untuk curative, perawat juga perlu menyampaikan informasi kepada individu alternatif pengobatan lain yang ada. Mengembangkan hubungan perawat dan klien yang efektif, perawat mempunyai perasaan optimis, harapan, dan rasa percaya diri.

  1. Mengembangkan sensitivitas untuk diri sendiri dan orang lain.

Perawat dituntut agar bisa meningkatkan sensitivitas terhadap diri pribadi dan orang lain serta bersikap lebih baik. Perawat juga perlu mengerti pikiran dan emosi orang lain.

  1. Membina hubungan saling percaya dan saling bantu (helping-trust).

Ciri hubungan helping-trust adalah empati, dan hangat. Hubungan yang harmonis haruslah hubungan yang dilakukan secara jujur dan terbuka.

  1. Meningkatkan dan menerima ungkapan perasaan positif dan negatif.

Perawat memberikan waktunya dengan mendengarkan semua keluhan dan perasaan pasien.

  1. Menggunakan proses pemecahan masalah kreatif.

Penyelesaian masalah dalam pengambilan keputusan perawat memakai metode proses keperawatan sebagai pola pikir dan pendekatan asuhan kepada pasien.

  1. Meningkatkan belajar mengajar transpersonal.

Memberikan asuhan mandiri, menetapkan kebutuhan personal, dan memberikan kesempatan untuk pertumbuhan personal pasien.

  1. Memfasilitasi lingkungan yang suportif, protektif, atau memperbaiki mental, fisik, sosiokultural, dan spiritual.

Perawat perlu tahu pengaruh lingkungan internal dan eksternal pasien terhadap kesehatan kondisi penyakit pasien.

  1. Membantu memuaskan kebutuhan manusia.

Perawat perlu tahu kebutuhan komprehensif diri sendiri dan pasien. Pemenuhan kebutuhan paling dasar yang harus dicapai sebelum beralih ke tingkat selanjutnya.

F. Perilaku Falsafah dalam Praktik Keperawatan

Falsafah secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk berdedikasi bagi orang lain, pengawasan dengan waspada, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi. Falsafah adalah sentral untuk praktik keperawatan karena Falsafah merupakan suatu cara pendekatan yang dinamis, di mana perawat bekerja untuk bisa lebih peduli terhadap klien. Dalam keperawatan, Falsafah adalah bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan. Tindakan Falsafah mempunyai tujuan untuk bisa memberikan asuhan fisik dengan memperhatikan emosi sambil meningkatkan rasa nyaman dan aman terhadap klien. Falsafah juga menekankan harga diri individu, artinya dalam melaksanakan praktik keperawatan, perawat harus selalu menghargai klien dengan menerima kelebihan maupun kekurangan klien sehingga bisa memberikan pelayanan kesehatan yang tepat.

Tiga aspek penting yang menjadi landasan keharusan perawat untuk care terhadap orang lain. Aspek ini adalah aspek kontrak, aspek etika, dan aspek spiritual dalam Falsafah terhadap orang lain yang sakit.

  1. Aspek Kontrak

Sudah diketahui bahwa, sebagai perawat profesional, kita berada di bawah kewajiban kontrak untuk care. Menurut (Radsma, 1994) mengatakan, “perawat memiliki tugas profesional untuk memberikan care”. Untuk itu, sebagai seorang perawat yang profesional haruslah mempunyai sikap care sebagai kontrak kerja kita.

  1. Aspek Etika

Pertanyaan etika adalah pertanyaan tentang apa yang benar atau salah, bagaimana mengambil keputusan yang tepat, bagaimana melakukan tindakan dalam situasi tertentu. Jenis pertanyaan ini akan memengaruhi cara perawat memberikan asuhan. Seorang perawat haruslah care pada klien. Dengan care perawat dapat memberikan kebahagiaan bagi orang lain.

  1. Aspek Spiritual

Di semua agama besar di dunia, ide untuk saling Falsafah satu sama lain adalah ide utama. Oleh sebab itu perawat yang religius adalah orang yang care, bukan karena dia seorang perawat tapi lebih karena dia merupakan anggota suatu agama atau kepercayaan, perawat harus care terhadap klien.

Falsafah dalam praktik keperawatan bisa dilakukan dengan membina hubungan saling percaya antara perawat dan klien. Pengembangan hubungan saling percaya menerapkan bentuk komunikasi untuk menjalin hubungan dalam keperawatan. Perawat bertindak dengan cara yang terbuka dan jujur. Empati berarti perawat memahami apa yang dirasakan klien. Ramah berarti penerimaan positif terhadap orang lain yang sering diekspresikan melalui bahasa tubuh, ucapan penekanan suara, sikap terbuka, ekspresi wajah, dan lain-lain (Nurachmah, 2014).

Perawat perlu mengetahui kebutuhan komprehensif yaitu kebutuhan biofisik, psikososial, psikofisikal dan interpersonal klien. Pemenuhan kebutuhan yang paling mendasar perlu dicapai sebelum beralih ke tingkat yang selanjutnya. Perawat juga perlu menyampaikan informasi kepada klien. Perawat mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan dan kesehatan klien. Falsafah memiliki manfaat yang begitu besar dalam keperawatan dan sebaiknya tergambar dalam setiap interaksi perawat dengan klien, bukan dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa diwujudkan dengan alasan beban kerja yang tinggi, atau pengaturan manajemen asuhan keperawatan ruangan yang kurang baik. Pelaksanaan Falsafah bisa meningkatkan mutu asuhan keperawatan, memperbaiki image perawat di masyarakat dan menjadikan profesi keperawatan memiliki tempat khusus di mata para pengguna jasa pelayanan kesehatan.

G. Proses Keperawatan dalam Teori Falsafah

Menurut (Watson, 1985) menekankan bahwa proses keperawatan mempunyai langkah-langkah yang sama dengan proses riset ilmiah, karena kedua proses tersebut mencoba untuk menyelesaikan masalah dan mendapatkan solusi yang terbaik. Selanjutnya Watson menggambarkan kedua proses tersebut sebagai berikut:

  1. Pengkajian

Meliputi observasi, identifikasi, dan review masalah; menggunakan pengetahuan dari literatur yang bisa diaplikasikan, melibatkan pengetahuan konseptual untuk pembentukan dan konseptualisasi kerangka kerja yang dipakai untuk memandang dan mengkaji masalah dan pengkajian juga meliputi pendefinisian variabel yang akan diteliti dalam pemecahan permasalahan Watson menjelaskan kebutuhan yang harus dikaji oleh perawat yaitu:

  1. Lower order needs (biophysical needs) yaitu kebutuhan untuk tetap hidup meliputi kebutuhan nutrisi, cairan, eliminasi, dan oksigenisasi.
  2. Lower order needs (psychophysical needs) yaitu kebutuhan untuk berfungsi, meliputi kebutuhan aktivitas, aman, nyaman, seksualitas.
  3. Higher order needs (psychosocial needs), yaitu kebutuhan integritas yang meliputi kebutuhan akan penghargaan dan berafiliasi.
  4. Higher order needs (intrapersonalinterpersonal needs), yaitu kebutuhan untuk aktualisasi diri.
  1. Perencanaan

Perencanaan membantu dalam menentukan bagaimana variabel-variabel akan diteliti atau diukur, meliputi suatu pendekatan konseptual atau desain untuk pemecahan masalah yang mengacu pada asuhan keperawatan serta menentukan data apa yang akan dikumpulkan dan pada siapa dan bagaimana data akan dikumpulkan.

  1. Implementasi:

Merupakan tindakan langsung dan implementasi dari rencana serta meliputi pengumpulan data.

  1. Evaluasi

Merupakan proses untuk menganalisa data, juga untuk menilai efek dari intervensi berdasarkan data serta meliputi interpretasi hasil, tingkat di mana suatu tujuan yang positif tercapai, dan apakah hasilnya bisa digeneralisasikan.

H. Persepsi Perawat Tentang Perilaku Falsafah

Berlawanan dengan perspektif pasien, (Morrison and Burnard, 2008) memakai sampel yang terdiri dari hampir 200 orang perawat untuk mengartikan pengertian dari Falsafah dengan kata-kata mereka sendiri dan untuk menggambarkan perilaku Falsafah yang mereka lakukan. Sebuah kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data. Analisis data mengungkapkan dua kategori mayor yang merefleksikan perhatian tulus terhadap kesejahteraan orang lain dan mempersembahkan diri sendiri.

Beberapa contoh perilaku Falsafah yang dikemukakan oleh perawat dalam penelitian adalah mendengarkan, membantu, menunjukkan rasa hormat, dan mendukung tindakan orang lain. Sudut pandang perawat gagal menitikberatkan dimensi “tugas” yang ditekankan dalam penelitian lain yang melibatkan persepsi pasien.

Forrest dalam (Morrison and Burnard, 2008) memberikan analisis fenomenologis tentang pengalaman perawat dalam Falsafah kepada pasien. Pendekatan fenomenologis dikarakteristikkan dengan penekanannya pada pengalaman hidup. Pendekatan tersebut berusaha memahami fenomena (dalam hal ini Falsafah terhadap orang lain) dari perspektif individu yang sedang diteliti. Aksennya adalah pada kedalaman bukan kuantitas dari data yang dikumpulkan, dan prosedur analisis yang sangat ketat juga harus dipatuhi. Dalam studi ini hanya 17 informan yang terlibat. Dua kategori mayor teridentifikasi, yaitu definisi Falsafah dan faktor yang mempengaruhi Falsafah.

Kategori pertama “definisi Falsafah” dibagi lagi menjadi dua sub-kategori: keterlibatan dan interaksi. Kategori kedua “faktor yang mempengaruhi Falsafah”, dibagi lagi menjadi lima tema: diri sendiri, pasien, frustrasi, coping, dan kenyamanan, serta dukungan. Perhatikan bagaimana perbedaan pendekatan terhadap masalah mempengaruhi tipe data yang muncul dari riset. Dengan strategi yang sangat kualitatif dan mendalam, muncul gambaran detail yang memberikan beberapa faktor kompleks yang mempengaruhi Falsafah dalam keperawatan.

I. Persepsi Klien pada Falsafah

Menurut Williams dalam (Potter and Perry, 2009) mengetahui kebiasaan perawat yang di rasakan klien sebagai Falsafah menegaskan apa yang klien harapkan dari pemberi layanan. Menjadikan kehadiran yang menentramkan, mengenali individu sebagai sesuatu yang unik, dan menjaga kebersamaan dan perhatian penuh kepada klien merupakan sikap pelayanan yang dinilai klien. Semua klien memiliki ciri khas, meskipun pemahaman akan sikap yang dihubungkan klien dengan pelayanan membantu melakukan pelayanan dalam praktik.

Menurut Attree dalam (Potter and Perry, 2009), jika klien merasakan penyelenggara pelayanan kesehatan bersikap sensitif, simpatik, merasa kasihan, dan tertarik terhadap mereka sebagai individu, mereka biasanya menjadi rekan dalam melakukan perencanaan keperawatan. Watson mengidentifikasi banyak asumsi dan beberapa prinsip dasar dari transpersonal Falsafah. Watson mempercayai bahwa jiwa seseorang tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu

Teori Falsafah Swanson menjelaskan mengenai proses Falsafah yang terdiri dari bagaimana perawat memahami kejadian yang berarti di dalam hidup seseorang, hadir secara emosional, melakukan sesuatu hal terhadap orang lain sama seperti melakukan kepada diri sendiri, menyampaikan informasi dan mempermudah jalan seseorang dalam melewati transisi kehidupan serta menaruh kepercayaan seseorang dalam menjalani hidup.

Pada saat kita memulai praktik klinik, kita perlu mengetahui mengenai penerimaan Falsafah yang diterima oleh klien. Sebagai contoh, jika kita datang ke pasien, kita memberi salam kepada klien, memperkenalkan diri, memberi senyuman, mempertahankan kontak mata saat interaksi, menanyakan keluhan apa yang ada pada pasien, memeriksa cairan intravena, memeriksa keadaan klinis pasien, memberi sentuhan, mengevaluasi intervensi yang sudah dilakukan, dan memberikan salam sebelum meninggalkan ruangan.

Hal ini akan memersepsikan klien mengenai kepuasan terhadap pelayanan perawat. Perilaku Falsafah merupakan suatu sikap, rasa peduli, hormat dan menghargai orang lain, artinya menaruh perhatian yang lebih terhadap klien dan bagaimana seseorang itu melakukan tindakan.

J. Manfaat Falsafah

Pemberian pelayanan keperawatan yang didasari atas perilaku Falsafah perawat, akan bisa meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Penerapan Falsafah yang diintegrasikan dengan pengetahuan biofisikal dan pengetahuan tentang perilaku manusia mampu meningkatkan kesehatan individu dan memfasilitasi pemberian pelayanan kepada klien. Falsafah merupakan sentral dalam praktik keperawatan, Falsafah merupakan cara untuk memelihara hubungan dengan menghargai nilai-nilai yang lain, seseorang akan bisa merasakan komitmen dan tanggung jawab pribadinya. Dalam teori ini, Falsafah perawat bertujuan memungkinkannya klien untuk mencapai suatu kebahagiaan (Swanson, 1993).

Kinerja perawat yang berdasarkan dengan perilaku Falsafah akan menjadi sangat penting dalam mempengaruhi kualitas pelayanan dan kepuasan klien terutama di rumah sakit, di mana citra institusi ditentukan oleh kualitas pelayanan yang nantinya akan mampu meningkatkan kepuasan klien dan mutu pelayanan menambahkan bahwa Falsafah yang dilakukan secara efektif bisa mendorong kesehatan dan pertumbuhan individu. Dari hasil penelitian menemukan adanya hubungan yang signifikan antara persepsi tentang perilaku Falsafah perawat dengan kepuasan klien terhadap pelayanan keperawatan. Demikian perilaku Falsafah yang ditampilkan oleh seorang perawat akan mempengaruhi kepuasan klien. Perilaku Falsafah yang dilakukan oleh perawat bukan saja bisa meningkatkan kepuasan klien tapi juga bisa menghasilkan keuntungan bagi rumah sakit. Perilaku Falsafah mampu memberikan manfaat secara finansial bagi industri pelayanan kesehatan. Perilaku Falsafah staf kesehatan mempunyai nilai ekonomi bagi rumah sakit karena perilaku ini berdampak bagi kepuasan klien. Dengan begitu tampak dengan jelas bahwa perilaku Falsafah bisa mendatangkan manfaat bagi pelayanan kesehatan karena mampu meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan individu serta menaikkan angka kunjungan klien ke tempat fasilitas kesehatan dan nantinya akan memberikan keuntungan secara finansial pada fasilitas kesehatan tersebut.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Falsafah merupakan suatu keyakinan seseorang terhadap nilai-nilai tertentu. Falsafah yang dimiliki seseorang merupakan suatu keyakinan yang didapat berdasarkan pengalaman hidup, pengamatan dan percobaan. Perawat harus memiliki falsafah keperawatan dalam dirinya sebagai bentuk keyakinan terhadap kemampuan dirinya dalam melakukan perawatan pada pasien dan mengaplikasikan teori keperawatan serta memberikan ruang untuk memahami keilmuannya.

B. Saran

Penekanan pada kepedulian dan kepercayaan, komitmen membantu orang lain dan berbagai unsur Falsafah yang lain harus sudah dibangun sejak perawat dalam masa pendidikan. Selain itu perlu dilakukan sosialisasi aplikasi Falsafah pada perawat guna memberikan pemahaman yang mendalam tentang apa yang harus dilakukan perawat agar bersikap Falsafah dalam setiap kontak dengan pasien. Indikator-indikator Falsafah harus dikenal dan diaplikasikan dalam perawatan serta dievaluasi secara terus menerus.

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi (2008) Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC.

Benjamin, M. and Curtis, J. (2010) Ethics in Nursing: Cases, Principles, and Reasoning. New York: Oxford University Press.

Bruce, A., Rietze, L. and Lim, A. (2014) ‘Understanding Philosophy in a Nurse’s World: What, Where and Why?’, Nursing and Health, 2(3), pp. 65–71. Available at: https://doi.org/10.13189/nh.2014.020302.

Butts, J.B. and Rich, K.L. (2016) Nursing Ethics: Across the Curriculum and Into Practice. Burlington, MA: Jones & Bartlett Learning.

Donnelly, J.H., Gibson, J.L. and Ivancevich, J.M. (2000) Fundamentals of Management. New York City: McGraw-Hill College.

Jackson, J.I. (2015) ‘Nursing Paradigms and Theories: A Primer’, Virginia Henderson Global Nursing e-Repository [Preprint]. Available at: http://hdl.handle.net/10755/338888 (Accessed: 20 January 2023).

Kopelman, R.E. (1986) Managing Productivity in Organizations: A Practical, People-Oriented Perspective. New York City: McGraw-Hill College.

McIntyre, M. and McDonald, C. (2013) ‘Contemplating the fit and utility of nursing theory and nursing scholarship informed by the social sciences and humanities.’, ANS. Advances in nursing science, 36(1), pp. 10–7. Available at: https://doi.org/10.1097/ANS.0b013e31828077bc.

Morrison, P. and Burnard, P. (2008) Caring & Communicating Hubungan Interpersonal dalam Keperawatan. Jakarta: EGC.

Nurachmah, E. (2014) ‘How nurse express their caring behavior to patients with special needs (Research Report)’, Jurnal Keperawatan Indonesia, 5(1). Available at: https://doi.org/10.7454/jki.v5i1.101.

Potter, P.A. and Perry, A.G. (2009) Fundamentals of Nursing. Amsterdam: Elsevier.

Radsma, J. (1994) ‘Caring and nursing: a dilemma.’, Journal of advanced nursing, 20(3), pp. 444–9. Available at: https://doi.org/10.1111/j.1365-2648.1994.tb02379.x.

Smith, M.C. and Parker, M.E. (2015) Nursing Theories and Nursing Practice. Philadelphia: F.A. Davis.

Swanson, K.M. (1993) ‘Nursing as Informed Caring for the Well-Being of Others’, Image: the Journal of Nursing Scholarship, 25(4), pp. 352–357. Available at: https://doi.org/10.1111/j.1547-5069.1993.tb00271.x.

Watson, J. (1985) Nursing: Human Science and Human Care: A Theory of Nursing. Washington, D.C.: Natl League for Nursing.

Download Contoh Makalah Falsafah Keperawatan.docx