Konsep Evidence Based Practice (EBP) Keperawatan

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul “Konsep Evidence Based Practice (EBP) Keperawatan” ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku umatnya.

Makalah ini dibuat untuk melengkapi tugas mata kuliah Sistem Informasi Keperawatan. Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Dan penulis juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah Konsep Evidence Based Practice (EBP) Keperawatan ini sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Penulis mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Indonesia, Juni 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah evidence dimulai pada tahun 1970 ketika Archie Cochrane menegaskan perlunya mengevaluasi pelayanan kesehatan berdasarkan bukti-bukti ilmiah (scientific evidence). Sejak itu berbagai istilah digunakan terkait dengan evidence base, di antaranya evidence base medicine (EBM), evidence base nursing (EBN), dan evidence base practice (EBP). Evidence Based Practice (EBP) merupakan upaya untuk mengambil keputusan klinis berdasarkan sumber yang paling relevan dan valid. Oleh karena itu EBP merupakan jalan untuk mentransformasikan hasil penelitian ke dalam praktek sehingga perawat dapat meningkatkan “quality of care” terhadap pasien. Selain itu implementasi EBP juga akan menurunkan biaya perawatan yang memberi dampak positif tidak hanya bagi pasien, perawat, tapi juga bagi institusi pelayanan kesehatan. Sayangnya penggunaan bukti-bukti riset sebagai dasar dalam pengambilan keputusan klinis seperti seorang bayi yang masih berada dalam tahap pertumbuhan.

Evidence Based Practice (EBP), merupakan pendekatan yang dapat digunakan dalam praktik perawatan kesehatan, yang berdasarkan evidence atau fakta. Selama ini, khususnya dalam keperawatan, sering kali ditemui praktik-praktik atau intervensi yang berdasarkan “biasanya juga begitu”. Sebagai contoh, penerapan kompres dingin dan alkohol bath masih sering digunakan tidak hanya oleh masyarakat awam tetapi juga oleh petugas kesehatan, dengan asumsi dapat menurunkan suhu tubuh lebih cepat, sedangkan penelitian terbaru mengungkapkan bahwa penggunaan kompres hangat dan teknik tepid sponge meningkatkan efektivitas penggunaan kompres dalam menurunkan suhu tubuh.

Merubah sikap adalah sesuatu yang sangat sulit, bahkan mungkin hal yang sia-sia. Orang tidak akan bisa merubah adat orang lain, kecuali orang-orang di dalamnya yang merubah diri mereka sendiri. Tetapi meningkatkan kesadaran, dan masalah kesehatan di masyarakat, akan meningkatkan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan. Tentu pelayanan yang paling efektif & efisien menjadi tuntutan sekaligus tantangan besar yang harus di cari problem solving-nya.

Penggunaan evidence base dalam praktek akan menjadi dasar scientific dalam pengambilan keputusan klinis sehingga intervensi yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan. Sayangnya pendekatan evidence base di Indonesia belum berkembang termasuk penggunaan hasil riset ke dalam praktek. Tidak dapat dipungkiri bahwa riset di Indonesia hanya untuk kebutuhan penyelesaian studi sehingga hanya menjadi tumpukan kertas semata.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas di dalam makalah Konsep Evidence Based Practice (EBP) Keperawatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa definisi evidence based practice (EBP)?
  2. Bagaimana tingkatan dan hierarki dalam penerapan EBP?
  3. Apa hubungan antara evidence based practice (EBP) dengan decision making?
  4. Bagaimana model implementasi evidence based practice (EBP)?
  5. Bagaimana cara pengkajian dan alat dalam evidence based practice (EBP)?
  6. Bagaimana langkah-langkah dalam evidence based practice (EBP)?
  7. Bagaimana pelaksanaan evidence based practice (EBP) pada keperawatan?
  8. Apa saja hambatan pelaksanaan evidence based practice (EBP)pada keperawatan?

C. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini untuk menjelaskan dan menelaah situasi tentang evidence based practice (EBP) di tatanan klinis keperawatan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Evidence Based Practice (EBP)

Menurut (Goode & Piedalue, 1999) praktik klinis berdasarkan bukti melibatkan temuan pengetahuan dari penelitian, review atau tinjauan kritis. EBP didefinisikan sebagai intervensi dalam perawatan kesehatan yang berdasarkan pada fakta terbaik yang didapatkan. EBP merupakan proses yang panjang, adanya fakta dan produk hasil yang membutuhkan evaluasi berdasarkan hasil penerapan pada praktek lapangan.

EBP merupakan suatu pendekatan pemecahan masalah untuk pengambilan keputusan dalam organisasi pelayanan kesehatan yang terintegrasi di dalamnya adalah ilmu pengetahuan atau teori yang ada dengan pengalaman dan bukti-bukti nyata yang baik (pasien dan praktisi). EBP dapat dipengaruh oleh faktor internal dan eksternal serta memaksa untuk berpikir kritis dalam penerapan pelayanan secara bijaksana terhadap pelayanan pasien individu, kelompok atau sistem (Newhouse, Dearholt, Poe, Pough, & White, 2005).

Clinical Based Evidence atau Evidence Based Practice (EBP) adalah tindakan yang teliti dan bertanggung jawab dengan menggunakan bukti (berbasis bukti) yang berhubungan dengan keahlian klinis dan nilai-nilai pasien untuk menuntun pengambilan keputusan dalam proses perawatan (Titler, 2008). EBP merupakan salah satu perkembangan yang penting pada dekade ini untuk membantu sebuah profesi, termasuk kedokteran, keperawatan, sosial, psikologi, public health, konseling dan profesi kesehatan dan sosial.

EBP menyebabkan terjadinya perubahan besar pada literatur, merupakan proses yang panjang dan merupakan aplikasi berdasarkan fakta terbaik untuk pengembangan dan peningkatan pada praktek lapangan. Pencetus dalam penggunaan fakta menjadi pedoman pelaksanaan praktek dalam memutuskan untuk mengintegrasikan keahlian klinikal individu dengan fakta yang terbaik berdasarkan penelitian sistematik. Beberapa ahli telah mendefinisikan EBP dalam keperawatan sebagai.

  1. Penggabungan bukti yang diperoleh dari hasil penelitian dan praktek klinis ditambah dengan pilihan dari pasien ke dalam keputusan klinis (Mulhall, 1998).
  2. Penggunaan teori dan informasi yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian secara teliti, jelas dan bijaksana dalam pembuatan keputusan tentang pemberian asuhan keperawatan pada individu atau sekelompok pasien dan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan pilihan dari pasien tersebut (Ingersoll G., 2000).

B. Tingkatan dan Hierarki dalam Penerapan EBP

Tingkatan evidence disebut juga dengan hierarchy evidence yang digunakan untuk mengukur kekuatan suatu evidence dari rentang bukti terbaik sampai dengan bukti yang paling rendah. Tingkatan evidence ini digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam EBP. Hierarki untuk tingkatan evidence yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Penelitian dan Kualitas (AHRQ), sering digunakan dalam keperawatan (Titler, 2010). Adapun level of evidence tersebut adalah sebagai berikut.

Hierarki dalam penelitian ilmiah terdapat hierarki dari tingkat kepercayaannya yang paling rendah hingga yang paling tingi. Di bawah ini mulai dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi.

  1. Laporan fenomena atau kejadian-kejadian yang kita temui sehari-hari.
  2. Studi kasus.
  3. Studi lapangan atau laporan deskriptif.
  4. Studi percobaan tanpa penggunaan teknik pengambilan sampel secara acak (random).
  5. Studi percobaan yang menggunakan setidaknya ada satu kelompok pembanding, dan menggunakan sampel secara acak.
  6. Systemic reviews untuk kelompok bijak bestari atau meta-analisa yaitu pengkajian berbagai penelitian yang ada dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.

C. Evidence Based Practice dengan Decision Making

Pengambilan keputusan untuk melakukan perubahan berdasarkan bukti-bukti nyata atau EBP di pengaruhi oleh tiga faktor yaitu, hasil penelitian atau riset termasuk teori-teori pendukung, pengalaman yang bersifat klinis, serta feedback atau sumber-sumber dari pengalaman yang dialami oleh pasien.

D. Model Implementasi Evidence Based Practice

1. Model Settler

Merupakan seperangkat perlengkapan/media penelitian untuk meningkatkan penerapan evidence based 5 langkah dalam Model Settler:

Fase 1. Persiapan

Fase 2. Validasi

Fase 3. Perbandingan evaluasi dan pengambilan keputusan

Fase 4. Translasi dan aplikasi

Fase 5. Evaluasi

2. Model IOWA Model of Evidence Based Practice to Promote Quality Care

Model EBP IOWA dikembangkan oleh Marita G. Titler, PhD, RN, FAAN, Model IOWA diawali dari pemicu/masalah. Pemicu/masalah ini sebagai fokus ataupun fokus masalah. Jika masalah mengenai prioritas dari suatu organisasi, tim segera dibentuk. Tim terdiri dari stakeholders, klinisian, staf perawat, dan tenaga kesehatan lain yang dirasakan penting untuk dilibatkan dalam EBP. Langkah selanjutnya adalah menyintesis EBP. Perubahan terjadi dan dilakukan jika terdapat cukup bukti yang mendukung untuk terjadinya perubahan . kemudian dilakukan evaluasi dan diikuti dengan diseminasi (Jones & Bartlett, 2004).

3. Model Konseptual Rosswurm & Larrabee

Model ini disebut juga dengan model evidence based practice change yang terdiri dari 6 langkah yaitu.

Tahap 1. Mengkaji kebutuhan untuk perubahan praktis.

Tahap 2. Tentukan evidence terbaik.

Tahap 3. Kritikal analisis evidence.

Tahap 4. Desain perubahan dalam praktek.

Tahap 5. Implementasi dan evaluasi perubahan.

Tahap 6. Integrasikan dan maintenance perubahan dalam praktek.

Model ini menjelaskan bahwa penerapan evidence based nursing ke lahan paktek harus memperhatikan latar belakang teori yang ada, kevalidan dan kereliabilitasan metode yang digunakan, serta penggunaan nomenklatur yang standar.

E. Pengkajian dan Alat dalam EBP

Terdapat beberapa kemampuan dasar yang harus dimiliki tenaga kesehatan profesional untuk dapat menerapkan praktek klinis berbasis bukti, yaitu.

  1. Mengidentifikasi gap/kesenjangan antara teori dan praktek
  2. Memformulasikan pertanyaan klinis yang relevan,
  3. Melakukan pencarian literator yang efisien,
  4. Mengaplikasikan peran dari bukti, termasuk tingkatan/hierarki dari bukti tersebut untuk menentukan tingkat validitasnya
  5. Mengaplikasikan temuan literator pada masalah pasien, dan
  6. Mengerti dan memahami keterkaitan antara nilai dan budaya pasien dapat mempengaruhi keseimbangan antara potensial keuntungan dan kerugian dari pilihan manajemen/terapi (Jette et al., 2003).

F. Langkah-langkah dalam EBP

1. Langkah 1 (Kembangkan Semangat Penelitian)

Sebelum memulai dalam tahapan yang sebenarnya di dalam EBP, harus ditumbuhkan semangat dalam penelitian sehingga klinikan akan lebih nyaman dan tertarik mengenai pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan perawatan pasien

2. Langkah 2 (Ajukan Pertanyaan Klinis dalam Format PICOT)

Pertanyaan klinis dalam format PICOT untuk menghasilkan evidence yang lebih baik dan relevan.

  1. Populasi pasien (P),
  2. Intervensi (I),
  3. Perbandingan intervensi atau kelompok (C),
  4. Hasil / Outcome (O), dan
  5. Waktu / Time (T).

Format PICOT menyediakan kerangka kerja yang efisien untuk mencari database elektronik, yang dirancang untuk mengambil hanya artikel-artikel yang relevan dengan pertanyaan klinis. Menggunakan skenario kasus pada waktu respons cepat sebagai contoh, cara untuk membingkai pertanyaan tentang apakah penggunaan waktu tersebut akan menghasilkan hasil yang positif akan menjadi: “Di rumah sakit perawatan akut (populasi pasien), bagaimana memiliki time respon cepat (intervensi) dibandingkan dengan tidak memiliki time respon cepat (perbandingan) mempengaruhi jumlah serangan jantung (hasil) selama periode tiga bulan (waktu)?

3. Langkah 3 (Cari Bukti Terbaik)

Mencari bukti untuk menginformasikan praktek klinis adalah sangat efisien ketika pertanyaan diminta dalam format PICOT. Jika perawat dalam skenario respons cepat itu hanya mengetik “Apa dampak dari memiliki time respon cepat?” ke dalam kolom pencarian dari database, hasilnya akan menjadi ratusan abstrak, sebagian besar dari mereka tidak relevan. Menggunakan format PICOT membantu untuk mengidentifikasi kata kunci atau frase yang ketika masuk berturut-turut dan kemudian digabungkan, memperlancar lokasi artikel yang relevan dalam database penelitian besar seperti MEDLINE atau CINAHL. Untuk pertanyaan PICOT pada time respons cepat, frase kunci pertama untuk dimasukkan ke dalam database akan perawatan akut, subjek umum yang kemungkinan besar akan mengakibatkan ribuan kutipan dan abstrak.

Istilah kedua akan dicari akan rapid respon time, diikuti oleh serangan jantung dan istilah yang tersisa dalam pertanyaan PICOT. Langkah terakhir dari pencarian adalah untuk menggabungkan hasil pencarian untuk setiap istilah. Metode ini mempersempit hasil untuk artikel yang berkaitan dengan pertanyaan klinis, sering mengakibatkan kurang dari 20. Hal ini juga membantu untuk menetapkan batas akhir pencarian, seperti “subyek manusia” atau “English,” untuk menghilangkan studi hewan atau artikel di luar negeri bahasa.

4. Langkah 4 (Kritis Menilai Bukti)

Setelah artikel yang dipilih untuk review, mereka harus cepat dinilai untuk menentukan yang paling relevan, valid, terpercaya, dan berlaku untuk pertanyaan klinis. Studi-studi ini adalah “studi kiper.” Salah satu alasan perawat khawatir bahwa mereka tidak punya waktu untuk menerapkan EBP adalah bahwa banyak telah diajarkan proses mengkritisi melelahkan, termasuk penggunaan berbagai pertanyaan yang dirancang untuk mengungkapkan setiap elemen dari sebuah penelitian. Penilaian kritis yang cepat menggunakan tiga pertanyaan penting untuk mengevaluasi sebuah studi.

a. Apakah hasil penelitian valid?

Ini pertanyaan validitas studi berpusat pada apakah metode penelitian yang cukup ketat untuk membuat temuan sedekat mungkin dengan kebenaran. Sebagai contoh, apakah para peneliti secara acak menetapkan mata pelajaran untuk pengobatan atau kelompok kontrol dan memastikan bahwa mereka merupakan kunci karakteristik sebelum perawatan? Apakah instrumen yang valid dan reliabel digunakan untuk mengukur hasil kunci?

b. Apakah hasilnya bisa dikonfirmasi?

Untuk studi intervensi, pertanyaan ini keandalan studi membahas apakah intervensi bekerja, dampaknya pada hasil, dan kemungkinan memperoleh hasil yang sama dalam pengaturan praktek dokter sendiri. Untuk studi kualitatif, ini meliputi penilaian apakah pendekatan penelitian sesuai dengan tujuan penelitian, bersama dengan mengevaluasi aspek-aspek lain dari penelitian ini seperti apakah hasilnya bisa dikonfirmasi.

c. Akankah hasil membantu saya merawat pasien saya?

Ini pertanyaan penelitian penerapan mencakup pertimbangan klinis seperti apakah subyek dalam penelitian ini mirip dengan pasien sendiri, apakah manfaat lebih besar daripada risiko, kelayakan dan efektivitas biaya, dan nilai-nilai dan preferensi pasien. Setelah menilai studi masing-masing, langkah berikutnya adalah untuk menyintesis studi untuk menentukan apakah mereka datang ke kesimpulan yang sama, sehingga mendukung keputusan EBP atau perubahan.

5. Langkah 5 (Mengintegrasikan Bukti Dengan Keahlian Klinis dan Preferensi Pasien dan Nilai-nilai)

Bukti penelitian saja tidak cukup untuk membenarkan perubahan dalam praktek. Keahlian klinis, berdasarkan penilaian pasien, data laboratorium, dan data dari program manajemen hasil, serta preferensi dan nilai-nilai pasien adalah komponen penting dari EBP. Tidak ada formula ajaib untuk bagaimana untuk menimbang masing-masing elemen; pelaksanaan EBP sangat dipengaruhi oleh variabel kelembagaan dan klinis. Misalnya, ada tubuh yang kuat dari bukti yang menunjukkan penurunan kejadian depresi pada pasien luka bakar jika mereka menerima delapan sesi terapi kognitif-perilaku sebelum dikeluarkan dari rumah sakit. Anda ingin pasien Anda memiliki terapi ini dan begitu mereka. Tapi keterbatasan anggaran di rumah sakit Anda mencegah mempekerjakan terapis untuk menawarkan pengobatan. Defisit sumber daya ini menghambat pelaksanaan EBP.

6. Langkah 6 (Evaluasi hasil Keputusan Praktek atau Perubahan Berdasarkan Bukti)

Setelah menerapkan EBP, penting untuk memantau dan mengevaluasi setiap perubahan hasil sehingga efek positif dapat didukung dan yang negatif diperbaiki. Hanya karena intervensi efektif dalam uji ketat dikendalikan tidak berarti ia akan bekerja dengan cara yang sama dalam pengaturan klinis. Pemantauan efek perubahan EBP pada kualitas perawatan kesehatan dan hasil dapat membantu dokter melihat kekurangan dalam pelaksanaan dan mengidentifikasi lebih tepat pasien mana yang paling mungkin untuk mendapatkan keuntungan. Ketika hasil berbeda dari yang dilaporkan dalam literatur penelitian, pemantauan dapat membantu menentukan.

7. Langkah 7 (Menyebarluaskan Hasil EBP)

Perawat dapat mencapai hasil yang indah bagi pasien mereka melalui EBP, tetapi mereka sering gagal untuk berbagi pengalaman dengan rekan-rekan dan organisasi perawatan kesehatan mereka sendiri atau lainnya. Hal ini menyebabkan perlu duplikasi usaha, dan melanggengkan pendekatan klinis yang tidak berdasarkan bukti-bukti. Di antara cara untuk menyebarkan inisiatif sukses adalah putaran EBP di institusi Anda, presentasi di konferensi lokal, regional, dan nasional, dan laporan dalam jurnal peer-review, news letter profesional, dan publikasi untuk khalayak umum.

G. Pelaksanaan EBP pada Keperawatan

  1. Mengakui status atau arah praktek dan yakin bahwa pemberian perawatan berdasarkan fakta terbaik akan meningkatkan hasil perawatan klien.
  2. Implementasi hanya akan sukses bila perawat menggunakan dan mendukung “pemberian perawatan berdasarkan fakta”.
  3. Evaluasi penampilan klinik senantiasa dilakukan perawat dalam penggunaan EBP.
  4. Praktek berdasarkan fakta berperan penting dalam perawatan kesehatan.
  5. Praktek berdasarkan hasil temuan riset akan meningkatkan kualitas praktek, penggunaan biaya yang efektif pada pelayanan kesehatan.
  6. Penggunaan EBP meningkatkan profesionalisme dan diikuti dengan evaluasi yang berkelanjutan.
  7. Perawat membutuhkan peran dari fakta untuk meningkatkan intuisi, observasi pada klien dan bagaimana respons terhadap intervensi yang diberikan. Dalam tindakan diharapkan perawat memperhatikan etnik, sex, usia, kultur dan status kesehatan.

H. Hambatan Pelaksanaan EBP pada Keperawatan

  1. Berkaitan dengan penggunaan waktu.
  2. Akses terhadap jurnal dan artikel.
  3. Keterampilan untuk mencari.
  4. Keterampilan dalam melakukan kritik riset.
  5. Kurang paham atau kurang mengerti.
  6. Kurangnya kemampuan penguasaan bahasa untuk penggunaan hasil-hasil riset.
  7. Salah pengertian tentang proses.
  8. Kualitas dari fakta yang ditemukan.
  9. Pentingnya pemahaman lebih lanjut tentang bagaimana untuk menggunakan literatur hasil penemuan untuk intervensi praktek yang terbaik untuk diterapkan pada klien.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan konsep evidence based practice di atas, dapat disimpulkan bahwa ada 3 faktor yang seacara garis besar menentukan tercapainya pelaksanaan praktek keperawatan yang lebih baik yaitu, penelitian yang dilakukan berdasarkan fenomena yang terjadi di kaitkan dengan teori yang telah ada, pengalaman klinis terhadap suatu kasus, dan pengalaman pribadi yang bersumber dari pasien.

Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, maka di harapkan pelaksanaan pemberian pelayanan kesehatan khususnya pemberian asuhan keperawatan dapat di tingkatkan terutama dalam hal peningkatan pelayanan kesehatan atau keperawatan, pengurangan biaya (cost effective) dan peningkatan kepuasan pasien atas pelayanan yang diberikan.

Namun dalam pelaksanaan penerapan evidence based practice ini sendiri tidaklah mudah, hambatan utama dalam pelaksanaannya yaitu kurangnya pemahaman dan kurangnya referensi yang dapat digunakan sebagai pedoman pelaksanaan penerapan EBP itu sendiri.

B. Saran

Dalam pemberian pelayanan kesehatan khususnya asuhan keperawatan yang baik, serta mengambil keputusan yang bersifat klinis hendaknya mengacu pada SPO yang dibuat berdasarkan teori-teori dan penelitian terkini. Evidence  based practice dapat menjadi panduan dalam menentukan atau membuat SPO yang memiliki landasan berdasarkan teori, penelitian, serta pengalaman klinis baik oleh petugas kesehatan maupun pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Cullum, N.  Users’ Guides to the Nursing Literature: An Introduction.  Evid Based Nurs 2000 3: 71-72.

DiCenso A, Cullum N, Ciliska D.  Implementing Evidence-Based Nursing: Some Misconceptions.  Evid Based Nurs 1998 1: 38-39.

Ellen Fineout-Overholt RN, PhD and Linda Johnston RN, PhD. 2011. Teaching EBP: Implementation of Evidence: Moving from Evidence to Action.

Holleman G, Eliens A, van Vliet M, Achterberg T.  Promotion of evidence-based Practice by Professional Nursing Association: Literature Review.  Journal of Advance Nursing 53(6), 702-709.

Lavin MA, Krieger MM, Meyer GA, et al.  Development and Evaluation of Evidence-Based Nursing (EBN) Filters and Related Databases.  J Med Libr Assoc 93(1) January 2005.

MacGuire J.M.  Putting Nursing Research Findings Into Practice: Research Utilization as an Aspect of the Management of Change.  Journal of Advanced Nursing 1990: 15, 614-620.

Download Contoh Makalah Konsep Evidence Based Practice (EBP) Keperawatan.docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH