Pementasan Teater Tradisional

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah Pementasan Teater Tradisional ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku umatnya.

Makalah ini kami buat untuk melengkapi tugas mata pelajaran Seni Budaya. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah Pementasan Teater Tradisional ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah Pementasan Teater Tradisional ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Kami mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga makalah Pementasan Teater Tradisional ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Indonesia, Maret 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pementasan merupakan puncak dari sebuah proses berkesenian, begitu pula dengan pementasan teater sebagai proses puncak kreativitas seni yang dikomunikasikan kreator seni kepada masyarakat, penontonnya melalui pementasan seni. Komunikasi di dalam teater dapat terjadi bersifat langsung di pentas dan tidak langsung melalui media elektronik. Pementasan teater secara langsung sifatnya sesaat, terbatas dengan waktu dan tidak bisa diulang. Adapun pementasan teater melalui media atau perantara alat elektronik, seperti radio, televisi, media jejaring sosial dan film layar lebar bersifat dapat diulang dan dilakukan dengan proses perekaman. Baik, kita lanjutkan dan tekankan bahwa dalam pembelajaran pementasan teater bersifat langsung menjadi pokok materi yang akan kita bersama-sama pelajari.

Seni teater bukan hasil kerja individu, tetapi merupakan hasil kreativitas bersama (kolektif) dengan beberapa awak pendukung pentas. Karena itu di dalam teater perlu dibangun etos kerja yang optimal dan saling percaya, mulai dari panitia artistik dan non artistik yang terlibat dalam sebuah pementasan teater. Panitia artistik wilayah kerjanya adalah menata atau mengelola terkait urusan kualitas seni yang akan dipentaskan dan ditanggungjawabi oleh seorang sutradara atau pengarah seni teater. Wilayah kegiatan non-artistik yang ditanggungjawabi oleh seorang pimpinan produksi (pimprod) memiliki tugas mengelola urusan produksi di luar materi seni teater yang akan di pentaskan.

Kedua, wilayah kerja yang berbeda satu sama lain, tetap memiliki hubungan melekat tidak dapat dipisahkan. Meskipun, dalam praktiknya, terutama dalam komunitas teater tradisional bahwa kedua wilayah kegiatan artistik dan non artistik tersebut dilakukan oleh seorang pimpinan grup kesenian. Oleh karena itu, pembelajaran pementasan teater kali ini, terfokus pada lingkup materi pementasan teater tradisional, mulai dari kegiatan; persiapan sebelum pementasan (pra pementasan), pelaksanaan pementasan, dan akhir pementasan (pasca pementasan).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas di dalam makalah tentang Pementasan Teater Tradisional ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian pementasan teater tradisional?
  2. Apa saja fungsi dan ciri teater tradisional?
  3. Apa saja ragam jenis teater tradisional?
  4. Apa nilai seni dalam pementasan teater tradisional?
  5. Apa saja unsur pementasan teater tradisional?
  6. Bagaimana teknik pementasan teater tradisional?
  7. Apa saja kreativitas dalam pementasan teater tradisional?

C. Tujuan

Adapun tujuan dalam penulisan makalah tentang Pementasan Teater Tradisional ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengidentifikasi pengertian pementasan teater tradisional.
  2. Untuk mengidentifikasi pementasan teater tradisional.
  3. Untuk mengidentifikasi unsur-unsur pementasan teater tradisional.
  4. Untuk mengapresiasi pementasan teater tradisional.
  5. Untuk membedakan teknik pementasan teater tradisional.
  6. Untuk menganalisis kegiatan pementasan teater tradisional.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pementasan Teater Tradisional

Kata teater secara etimologis berasal dari bahasa Inggris “theatre” dan bahasa Yunani “theaomai” yang berarti dengan takjub melihat dan mendengar. Kemudian kata teater ini berubah menjadi “theatron” yang mengandung pengertian.

  1. Gedung Pertunjukan atau Pentas pada zaman Thucydides, 471-395 SM. dan zaman Plato, 428-424 SM.
  2. Publik/ Auditorium atau tempat penonton pada zaman Herodotus, 490/480-424 SM.

Pengertian teater dapat dibagi dalam pengertian umum dan sempit. Teater dalam pengertian umum adalah suatu kegiatan manusia dalam menggunakan tubuh atau benda-benda yang dapat digerakkan, di mana suara, musik dan tarian sebagai media utamanya untuk mengekspresikan cita, rasa dan karsa seni. Teater dalam arti luas adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak, misalnya: wayang wong, pementasan topeng, wayang golek, wayang kulit, wayang, ketoprak, ludruk, srandul, randai, longser, akrobatik, sepak bola, dan berbagai pertunjukan musik atau karawitan, karnaval seni, dll.. Sedangkan dalam arti sempit teater adalah drama.

Istilah drama dalam bahasa Yunani “dran” atau “draomai” yang berarti beraksi, berbuat, bertindak, berlaku. Dalam istilah yang umum, drama adalah salah satu bentuk teater yang memakai lakon dengan cara bercakap-cakap atau gerak-gerik di atas pentas yang ditunjang oleh beberapa unsur artistik pementasan. Inti atau dasar dari drama itu sendiri adalah konflik atau pertentangan, antara peran tokoh dengan dirinya sendiri, dan peran tokoh dengan masyarakat atau lingkungan.

Drama adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang di ceritakan di atas pentas, disaksikan oleh orang banyak atau penonton dengan media: percakapan, gerak dan laku dengan tata pentas atau dekor (layar dll.) didasarkan pada naskah tertulis atau tidak tertulis dengan atau tanpa musik, nyanyian, dan atau tarian. Pementasan teater secara umum, merupakan proses komunikasi atau peristiwa interaksi antara pementasan teater dengan penontonnya yang dibangun oleh suatu sistem pengelolaan, yakni manajemen seni pementasan

B. Fungsi dan Ciri Teater Tradisional

Indonesia sebagai negara yang kita cintai, dalam kekayaan seninya memiliki keragaman jenis dan bentuk dengan kekhasan dan keunikan tersendiri. Keragaman jenis dan bentuk, baik tari, musik dan teater tradisional tumbuh dan berkembang yang tidak lepas fungsi seninya. Salah satunya pementasan teater tradisional, baik teater rakyat maupun teater istana memiliki fungsi sebagai media upacara dan hiburan bagi masyarakat pendukungnya. Teater tradisional mempunyai fungsi seni bagi masyarakatnya. Fungsi yang dirasakan oleh masyarakat pendukungnya yang menyebabkan salah satu faktor mengapa teater tradisional ini tetap bertahan di tengah-tengah masyarakatnya.

Teater tradisional sering juga disebut dengan “teater daerah” merupakan suatu bentuk teater yang bersumber, berakar dan telah dirasakan fungsi seninya sebagai milik masyarakat pendukungnya. Pengolahannya didasarkan atas cita rasa masyarakat pendukungnya. Teater tradisional mempunyai ciri-ciri yang spesifik bersifat kedaerahan dan menggambarkan kebudayaan lingkungannya. Ciri-ciri utama teater tradisional, antara lain sebagai berikut.

  1. Menggunakan bahasa daerah.
  2. Dilakukan secara improvisasi.
  3. Ada unsur nyanyian dan tarian.
  4. Diiringi tetabuhan (musik daerah).
  5. Dagelan/ banyolan selalu mewarnai.
  6. Adanya keakraban antara pemain dan penonton.
  7. Suasana santai.

Ciri-ciri dalam seni pementasan tradisional dalam kaitan fungsi Sedyawati (1983) mengatakan “ lima ciri dalam seni pementasan yang bersifat sakral maupun magis, memiliki fungsi sebagai pemanggil kekuatan gaib, penjemput roh-roh baik untuk mengusir roh jahat, peringatan pada nenek moyang dengan menirukan kegagahan maupun kesigapannya, pelengkap upacara sehubungan dengan saat tertentu perputaran waktu, dan pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat hidup manusia.

Pementasan teater fungsi keseniannya, dapat dicontohkan melalui salah satu pementasan teater “Topeng Banjet” di Kabupaten Karawang. Teater tradisional rakyat ini, hingga kini oleh masyarakat pendukungnya masih difungsikan dalam kegiatan upacara terkait pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat hidup manusia; nazar, khitanan, perkawinan, haulan, dll.

Berdasarkan perbedaan ciri-ciri pokok seni dan hubungan seni yang mendasari pementasannya dapat disimpulkan bahwa teater tradisional keberadaan seninya tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pendukungnya, baik masyarakat suku pedalaman, masyarakat pedesaan, perkampungan (pertanian huma dan pesawahan) dan masyarakat istana atau pendopo atau istana.

C. Ragam Jenis Teater Tradisional

Ragam jenis teater tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia, menurut Durachman (2009) dapat dibedakan menjadi bagian, yakni; teater tradisional rakyat dan teater tradisional istana.

1. Teater Tradisional Rakyat

Teater tradisional rakyat hadir dari spontanitas kehidupan dalam masyarakat, dihayati oleh masyarakat dan berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakatnya. Kehadiran teater tradisional rakyat umumnya karena dorongan kebutuhan masyarakat terhadap suatu hiburan, kemudian meningkat untuk kepentingan lain seperti; kebutuhan akan mengisi upacara dan seremonial keadatan.

a. Ciri-ciri Teater Tradisional Rakyat

Terkait ciri-ciri teater tradisional rakyat yang memiliki perbedaan dengan teater tradisional istana, Sumardjo, (2004) mengungkapkan bahwa ciri-ciri umum teater rakyat adalah sebagai berikut.

  • Cerita tanpa naskah dan digarap berdasarkan peristiwa sejarah, dongeng, mitologi atau kehidupan sehari-hari.
  • Penyajian dengan dialog, tarian dan nyanyian.
  • Unsur lawakan selalu muncul.
  • Nilai dari pelaku dramatik dilakukan secara spontan dan dalam satu adegan terdapat dua unsur emosi sekaligus, yakni tertawa dan menangis.
  • Pementasan mempergunakan tetabuhan atau musik tradisional.
  • Penonton mengikuti pementasan secara santai dan akrab, dan bahkan tidak terelakkan adanya dialog langsung antara pelaku dan publiknya.
  • Mempergunakan bahasa daerah.
  • Tempat pementasan terbuka dalam bentuk arena (dikelilingi penonton).
b. Ragam Jenis Teater Tradisional Rakyat

Adapun ragam jenis teater tradisional rakyat yang ada di wilayah Indonesia, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Pementasan teater tradisional Riau: Makyong dan Mendu, dll.
  • Pementasan teater tradisional Sumatra Barat: Randai dan Bakaba, dll.
  • Pementasan teater tradisional Kalimantan: Mamanda dan Tatayungan, Hudo, dll.
  • Pementasan teater tradisional Bali: Topeng Arja, Topeng Cupak, Topeng Prembon, dll.
  • Pementasan teater tradisional Sulawesi: Sinrilli, dll.
  • Pementasan teater tradisional Jawa Barat: Longser, Pantun Sunda, Topeng Cirebon, Topeng Banjet, Banjet, Topeng Cisalak, Uyeg, Manorek, dll.
  • Pementasan teater tradisional DKI Jakarta: Lenong, Topeng Betawi,dll.
  • Pementasan teater tradisional Banten: Ubrug, dll.
  • Pementasan teater tradisional Jawa Tengah: Srandul, Ketoprak, dll.
  • Pementasan teater tradisional Jawa Timur: Ludruk, Ketoprak, Topeng Malangan, Kentrungan, Topeng,Wayang Gambuh, Gambuh, dll.

2. Teater Tradisional Istana

Teater tradisional istana adalah suatu jenis teater tradisional dalam perkembangan seni yang telah mencapai tingkat tinggi baik teknis maupun coraknya. Kemapanan dari jenis teater istana ini sebagai akibat dari adanya pembinaan yang terus menerus dari kalangan atas, seperti; raja, bangsawan atau tingkat sosial lainnya. Oleh karena itu jenis teater istana kebanyakan lahir dilingkungan istana (pusat kerajaan).

Cara pementasan teater istana memiliki aturan yang ketat dan tidak sebebas teater rakyat. Teater istana harus menuruti aturan-aturan etis (tata kesopanan) dan estetis (nilai keindahan) yang telah digariskan berdasarkan aturan yang baku.

a. Ciri-ciri Pementasan Tradisional Istana

Terkait dengan pementasan teater tradisional istana Sumardjo, (2004) mengungkapkan bahwa ciri-ciri umum teater istana adalah sebagai berikut.

  • Adanya sumber cerita atau naskah baku dan digarap bersumber cerita Ramayana, Mahabarata, cerita panji.
  • Penyajian dengan dialog, tarian dan nyanyian.
  • Nilai dari pelaku dramatik dilakukan secara baku.
  • Pementasan mempergunakan tetabuhan atau musik yang lebih lengkap dan rumit.
  • Penonton mengikuti pementasan secara khidmat dan berjarak.
  • Mempergunakan bahasa baku sanskerta, kawi.
  • Tempat pementasan bersifat khusus (dalam istana, pendopo) dengan penonton keluarga istana dan tamu kehormatan).
b. Ragam Jenis Pementasan Tradisional Istana

Untuk jenis teater tradisional istana adalah sebagai berikut, misalnya wayang golek, wayang kulit, wayang cepak (Jawa Barat); wayang kulit dan wayang orang (Jawa Tengah dan Jawa Timur).

D. Nilai Seni dalam Pementasan Teater Tradisional

Dalam pementasan teater selalu menghadirkan nilai seni. Nilai seni dalam pementasan teater adalah makna, yang disampaikan melalui media atau sarana dalam bentuk simbol seni. Nilai di dalam simbol seni dapat dibagi menjadi nilai bentuk, nilai isi, dan nilai moral. Nilai estetis adalah nilai bentuk, bersifat subjektif. Adapun nilai isi, nilai pesan bersifat objektif. Nilai estetis bersifat subjektif. Artinya, sangat tergantung kepada orang yang menilainya. Oleh karena itu nilai estetis yang ditampilkan sang kreator atau pelaku seni sangatlah berbeda tergantung ukuran nilai estetis dari sundut pandang mana mereka ketika menikmati atau mengapresiasi pementasan teater.

Berbicara nilai estetis atau nilai keindahan yang dipancarkan pementasan seni oleh para pelakunya, termasuk pementasan teater dapat dianalisis melalui unsur dan struktur pembentuk seninya. Hal ini terjadi, disebabkan oleh sifat seni pementasan teater hadir karena ciri-ciri pembentuk seninya. Semua pementasan teater, baik tradisional maupun non tradisional yang ada karena dilakukan secara langsung dengan kasat mata, terbatas oleh ruang dan waktu di atas pentas, dilakukan atas kerja sama dan kerja bersama antar beberapa awak pentas dalam mewujudkan pementasan teater.

Untuk menilai pementasan teater tradisional, apakah indah atau tidak terhadap pementasan teater sangat tergantung pada jenis, bentuk dan fungsi seninya. Contohnya, seni tradisional istana memiliki idiom atau pakem atau pola yang tetap dan baku yang mengikat secara khas. Justru kekhasan atau keunikan bentuk seninya melalui; pola, struktur dan unsur-unsur pementasan teater yang terkandung di dalamnya menjadi daya tarik tersendiri dalam memaknai nilai estetik seninya.

Dengan nilai keindahan yang terpancar dari teater tradisional istana melalui olahan unsur-unsur pementasannya ke arah nilai estetika tinggi yang dipandang untuk prestisius kebesaran raja. Oleh karena itu, tidak heran apabila teater tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat istana cenderung rumit dan terkesan glamor menakjubkan karena dikerjakan oleh para ahli dibidang seni. Dengan ciri atau tanda yang ada sebagai identitas teater istana adalah unsur-unsur pembentuk seninya berkembang ke arah estetika tinggi dan bersifat adiluhung.

 Pementasan teater dengan sifat yang sederhana, apa adanya, bersahaja, cenderung spontan dan bersifat bebas dalam pementasannya adalah menjadi ciri khas penanda nilai estetik dari teater tradisional rakyat. Keberadaan teater tradisional rakyat dalam sistem pementasannya, dikala sepi panggungan atas tanggapan penanggap seni, yakni di masa-masa musim paceklik, biasanya melakukan pementasan dengan cara pentas keliling atau mengamen ke daerah lain yang tengah musim panen.

E. Unsur Pementasan Teater Tradisional

Suatu pementasan seni, termasuk pementasan teater memiliki persyaratan. Persyaratan dimaksud sebagai unsur penting dalam terselenggaranya pementasan teater. Tanpa adanya persyaratan tersebut, pementasan seni atau peristiwa seni tidak akan terwujud. Unsur penting tersebut meliputi unsur panitia pementasan, materi pementasan, penonton dan tempat pementasan.

1. Unsur Panitia Pementasan

Panitia adalah sekelompok orang-orang yang membentuk suatu organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, organisasi yang dibentuk dengan sistem organisasi panitia. Sistem organisasi panitia dalam pementasan seni, termasuk pementasan teater sangat cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran organisasi pementasan. Karena pembentukan organisasi dengan sistem panitia memiliki kemudahan, yakni mudah dibentuk dan mudah pula untuk dibubarkan tanpa adanya ikatan kerja yang rumit.

Organisasi dalam sistem panitia ini, menempatkan pimpinannya bersifat kolegial atau dewan, artinya terdiri dari beberapa orang. Segala keputusan diambil dan dipertanggungjawabkan secara bersama-sama dengan waktu pementasan bersifat praktis. Artinya panitia dapat dengan cepat dibentuk dan dibubarkan setelah kegiatan berakhir.

Panitia pementasan memiliki dua wilayah kerja penting, yakni adanya: panitia artistik atau pelaku atau kreator seni di bawah pimpinan seorang sutradara (art director) dan panitia non artistik atau penggiat seni dipimpin oleh seorang pimpinan produksi yang dipilih dan diangkat atas musyawarah dalam kelompok yang dibentuk.

Kehadiran panitia dalam pementasan teater tradisional, karena sifat seninya sebagai hasil kolektif masyarakat pendukungnya yang merakyat, sederhana, apa adanya, bersahaja, akrab tanpa jarak penonton dll. (teater rakyat) dan sifat seni yang mengejar estetika yang tinggi dan adiluhung yang nampak pada teater istana. Dengan cara pandang pengelolaan dan hadirnya beberapa orang sebagai panitia artistik dan non artistik menempatkan menjadi ciri pembeda antara teater rakyat dan teater istana.

2. Unsur Materi Pementasan Teater

Syarat kedua sebagai unsur penting di dalam pementasan adalah wujud, benda, materi atau bentuk ungkap pementasan seni yang mengandung nilai-nilai kehidupan, diciptakan oleh seniman, kreator atau diri sendiri secara sadar melalui medium seni tertentu di atas pentas. Materi pementasan yang dimaksud adalah wujud karya teater yang dibangun melalui proses kreatif seniman atau komunal masyarakat melalui tahapan dengan menggunakan medium tertentu bersifat kolektif (bekerja bersama) dengan tanggung jawab secara bersama (kolaborasi) dan memiliki fungsi tertentu pula bagi penontonnya atau masyarakat. Fungsi seni yang dimaksud, apakah untuk hiburan semata atau memiliki fungsi lain terkait kegiatan adat dan upacara. Unsur penting berikutnya di dalam pementasan teater adalah hadirnya penonton.

3. Unsur Penonton

Penonton merupakan syarat ketiga dalam sebuah pementasan teater. Penonton adalah orang-orang atau sekelompok manusia yang sengaja datang untuk menyaksikan tontonan. Penonton dapat juga dikatakan sebagai apresiator, penikmat, penilai, terhadap materi seni (seni teater) yang dipentaskan. Oleh karena itu, kehadiran penonton dalam suatu pementasan adalah bersifat mutlak. Tanpa penonton, pementasan teater adalah kesia-siaan atau kegiatan mubazir. Karena pementasan teater membutuhkan suatu penilaian, masukan, penghargaan atau kritikan dari orang lain dalam rangka menciptakan peristiwa seni yang lebih baik dan bermutu.

Menonton adalah sikap menerima, menghargai dan sekaligus mengkritisi pesan estetis dan pesan moral (nilai-nilai kehidupan) yang disampaikan melalui pementasan. Penilaian terhadap pementasan seni untuk setiap penonton sangatlah berbeda dan bersifat relatif. Oleh karena itu, berpijak pada keragaman latar belakang penonton dan pengalaman seni, penonton dalam hubungan pementasan teater dapat dibedakan dalam tiga golongan, yaitu:

a. Penonton Awam

Penonton awam adalah penonton sebagai penikmat seni dengan kecenderungan kurang atau tidak dibekali dengan pengetahuan dan pengalaman seni. Dalam hal ini, penonton yang demikian adalah penonton yang membutuhkan hiburan. Artinya, tontonan berfungsi sebagai hiburan semata.

b. Penonton Tanggap

Penonton tanggap adalah penonton yang memiliki sikap responsif dengan kecenderungan memiliki wawasan dan pengalaman seni, tetapi tidak ditindaklanjuti untuk mengulas terhadap apa yang ditontonnya cukup untuk dipahami dan dinikmati sendiri. Penggolongan penonton tanggap, biasanya penonton yang hidup di tengah-tengah masyarakat pendukung seni tradisional dan terlibat di dalamnya atau penonton lain, seperti pelajar atau mahasiswa seni pertunjukan tetapi belum berani melakukan ulasan kritis terhadap pementasan yang ditontonnya.

c. Penonton Kritis

Penonton kritis adalah penonton dengan bekal keilmuan dan pengalaman seni kemudian melakukan ulasan atau menulis kritik pementasan dan dipublikasikan dalam forum ilmiah, diskusi sampai media cetak dan elektronik. Dalam hal ini, biasanya penonton dibekali dengan kemampuan jurnalistik seperti mahasiswa dan penonton umum yang sudah terbiasa dengan tulis menulis.

4. Unsur Tempat

Tempat sebagai unsur dalam pementasan teater menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan. Tempat pementasan sebagai tempat berlangsungnya pementasan dapat dilakukan di dalam (indoor) dan di luar gedung pementasan (outdoor). Jenis pentas sebagai tempat pementasan pada dasarnya dapat dibedakan antara lain sebagai berikut.

a. Pentas Arena

Pentas yang dapat dilihat dari semua arah penonton, biasanya digunakan dalam pementasan teater tradisional rakyat. Pentas arena dapat dicontohkan dengan beberapa bentuk pentas, antara lain; di ruang pendopo, di lapangan terbuka, di alun-alun, di tegalan sawah, di pinggir jalan, di pasar, di halaman rumah, dll.

b. Pentas Prosenium

Pentas prosenium atau disebut panggung di dalam gedung, yakni penonton hanya dapat menikmati dari arah depan (adanya jarak penonton dan tontonan) biasanya pementasan teater modern.

c. Pentas Campuran

Pentas campuran merupakan bentuk-bentuk panggung perpaduan antara panggung arena dan panggung prosenium, misalnya; panggung bentuk L-U-I, segi enam, segi lima atau setengah lingkaran. Biasanya panggung semacam ini dipergunakan dalam kepentingan showbiz, catwork (modeling).

F. Teknik Pementasan Teater Tradisional

Teknik adalah cara, metode, dan strategi untuk memudahkan kerja dalam kesanggupan menyelesaikan suatu tugas. Terkait teknik dalam pementasan teater dapat dipahami sebagai suatu cara dan upaya bersama teman-teman atau kelompok yang dibentuk untuk terlibat dalam mempersiapkan pementasan teater yang akan dipentaskan. Teater tradisional sebagai salah satu bentuk pementasan ditinjau dari media yang digunakannya, Sumardjo (2004) membaginya ke dalam teater boneka dan teater manusia.

Teater tradisional boneka, sebagai teater yang menggunakan alat atau media ungkapnya adalah boneka (muffet), seperti; wayang golek, wayang cepak, wayang kulit, topeng, tuping, ondel-ondel, dll. Teater manusia adalah teater dalam pementasannya dominan menggunakan alat penyampai pesan ceritanya menggunakan manusia (pemeran) dengan totalitas tubuhnya (seni peran, menari, menyanyi, bercerita, mendongeng, dll.). Contohnya; wayang wong, seni bertutur, dll. Pementasan teater tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia berdasarkan media yang digunakannya, yakni teater boneka dan teater manusia akan mengantarkan dalam memahami teknik pementasan teater.

Teknik pementasan teater tradisional dapat dibedakan menjadi tiga jenis yakni teater tutur, teater boneka, dan teater manusia. Ketiga jenis dalam teater tradisional ini memiliki kekhasan tersendiri, terutama dalam hal media ekspresi yang dominan digunakan.

1. Teater Tutur

Teater tutur merupakan teater tradisional dengan kekhasan penyampaian cerita atau lakon yang dibawakan dengan cara mendongeng atau bercerita sambil diiringi musik atau tidak diiringi musik, misalnya; Seni Pantun dari Jawa Barat, Madihin dari Riau, Cepung dari NTB, Kentrung dari Jawa Timur, PmToh dari Aceh, dll.

2. Teater Boneka

Teater tradisional yang tergolong dalam teater boneka, biasanya media utamanya menggunakan boneka atau tiruan dari benda atau makhluk hidup yang dijadikan alat untuk menyampaikan cerita atau lakon. Biasanya tokoh yang menghidupkan lakon dengan media boneka disebut dengan dalang. Contohnya, wayang golek, wayang kulit, wayang cepak, ondel-ondel, hudok, dll.

3. Teater Manusia

Teater manusia yakni pementasan teater tradisional atau pun non tradisional di mana manusia sebagai media utama dalam melakukan aksi seni peran di atas pentas yang dijalin oleh sebuah lakon dengan beberapa unsur artistik pentas sebagai pendukungnya. Contohnya; Mamanda (Kalimantan Selatan), Randai (Sumatra Barat), Lenong (Betawi), Topeng Banjet, Longser, Topeng Cirebon, Uyeg dari Jawa Barat; Ludruk, Ketoprak, dari (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan seterusnya.

Dengan demikian, secara teknis pementasan teater tradisional yang tumbuh dan berkembang bersifat kedaerahan memiliki keragaman dan keunikan dalam pementasannya. Dengan keragaman jenis, bentuk dan teknik pementasan teater tradisional yang diketahui. Kita patut bersyukur dikaruniai kekayaan seni teater yang tidak dimiliki bangsa lain.

G. Kreativitas dalam Pementasan Teater Tradisional

Pementasan teater merupakan puncak dari sebuah proses latihan para pelaku seni dan proses kreativitas seni dari seorang sutradara. Melalui proses seni inilah teater dapat terwujud sebagai pementasan seni yang perlu dikomunikasikan kepada penontonnya. Oleh karena itu, komunikasi seni menjadi penting dan tidak terpisahkan dengan proses yang dilakukan sebagai bagian dari evaluasi dan penghargaan yang pantas diberikan kepada seniman atau kreator sebagai pelakunya. Pementasan teater merupakan hasil kreativitas para pendukung pentas, yakni pelaku seni (sutradara, pemeran, pemusik, penari dan para penata artistik) dan penggiat seni (pimpinan produksi dan panitia pementasan non-artistik).

Kreativitas merupakan kegiatan mencipta atau menghadirkan sesuatu yang baru. Kreativitas teater adalah suatu metode atau cara untuk mengoptimalkan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam pembelajaran seni teater terhadap penguasaan dan pengolahan; tubuh, suara, sukma dan pikir yang dimiliki para siswa dengan totalitas, penuh kesadaran, dan tanggung jawab sesuai tugas yang diembannya. Sehingga melalui pembelajaran pementasan seni teater diperoleh manfaat ganda, berupa: kebugaran, kecerdasan, kebersamaan, kedisiplinan dan terjadi peningkatan kualitas dalam melatih tanggung jawab melalui media pementasan teater.

Teater sebagai pementasan yang akan dijadikan materi pembelajaran merupakan kegiatan akhir atau puncak dari sebuah proses memahami teater tradisional menjadi objek utama dalam penciptaan peristiwa kesenian. Tetapi peristiwa kesenian yang akan terjadi pada pementasannya, tidak luput dari upaya yang dilakukan para panitia non artistik di dalamnya. Dengan demikian, baik pelaku seni (artistik) maupun penggiat seni (non-artistik) sama-sama berperan penting di dalam sebuah pementasan. Bahkan dengan berakhirnya pementasan teater, tidak otomatis berakhir pula kegiatan non materi seni (non artistik). Karena panitia kesenian bersifat non materi seni yang ditanggungjawabi pimpinan produksi, tugas dan tanggung jawabnya berakhir dengan sebuah laporan kegiatan pementasan teater secara tertulis dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pementasan teater sebagai bentuk kegiatan pembelajaran, baik di sekolah atau di luar sekolah dapat dilakukan dengan beberapa tahapan penting. Tahapan-tahapan tersebut, meliputi: pra-pementasan, pementasan dan pasca pementasan.

1. Tahap Pra-Pementasan

Pra-pementasan adalah kegiatan akhir persiapan atau kegiatan awal sebelum berlangsungnya pementasan dalam hitungan hari atau waktu menjelang pementasan. Kegiatan pra-pementasan, meliputi persiapan pementasan teater menjelang pementasan yang sesungguhnya berupa serangkaian tindakan dari panitia non artistik dan artistik pentas guna menyukseskan pementasan sesuai waktu yang telah direncanakan.

2. Persiapan Materi Artistik Pementasan Teater

Persiapan materi artistik pementasan teater merupakan persiapan akhir pementasan sebagai tindak lanjut dari kegiatan geladi kotor yang dilakukan pelaku seni pada tempat atau gedung pementasan yang akan dipakai tempat pementasan teater. Persiapan pementasan ini, berupa kegiatan orientasi pentas bagi para pelaku seni (pemeran, pemain musik, penari, para penata pentas, dan kru pentas), di antaranya melakukan: adaptasi pentas, pola adegan, blocking, keluar masuk pemain sesuai dengan fokus lampu dan pengecekan, cek ulang atau chek and recheck tentang segala hal yang berkaitan dengan artistik pementasan atau skenik pementasan, berupa; pengecekan para pemain, teknik keluar masuk setting pentas, pengecekan properti, handprop, busana, setting gamelan atau alat musik, setting microphone, balancing sound system, pengecekan multimedia, dan seterusnya.

3. Persiapan Materi Non-Artistik Pementasan

Persiapan materi non artistik pementasan adalah persiapan akhir panitia non-materi seni berupa serangkaian kegiatan persiapan pementasan berupa pengecekan dan pengadaan sarana pendukung pementasan teater. Kegiatan pengecekan dan sarana penunjang kegiatan pementasan, antara lain meliputi; penyusunan acara, penugasan pembawa acara atau master of ceremony (MC), pengecekan pengisi acara sambutan, pengecekan pengisi acara pemberian penghargaan dan door prise, koordinasi petugas gedung, koordinasi petugas keamanan, pengecekan penonton dan undangan yang akan hadir, pengadaan buku acara atau leaflet, pengadaan buku tamu, penugasan penjaga tamu, penugasan pendamping tamu, pengecekan konsumsi panitia dan petugas, pengecekan transportasi pemain, pengecekan dokumentasi, publikasi, kemitraan, dll.

4. Pementasan

Kegiatan pementasan teater, berupa pengkondisian dan pelaksanaan di lapangan dari masing-masing bidang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kerja panitia dengan asas saling percaya berdasarkan rencana pementasan yang telah ditetapkan. Kegiatan pementasan teater adalah praktik langsung dalam melaksanakan pementasan, meliputi: pengendalian hal-hal yang tidak diharapkan dan optimalisasi kinerja panitia dari kegiatan persiapan pementasan sampai terlaksananya pementasan teater dengan baik dan lancar. Pada pelaksanaan pementasan teater, perlu diketahui bahwa bidang acara memiliki peran penting sebagai pengatur dan pengendali jalannya acara pementasan di luar kegiatan artistik atau materi seni teater.

5. Pasca-Pementasan

Pasca-pementasan merupakan kegiatan akhir dari pelaksanaan pementasan teater yang dilakukan. Di mana semua peralatan dan kebutuhan pentas yang telah dipakai dalam pementasan harus kembali pada tempat atau pada pemiliknya secara tertib dan aman. Dengan tidak lupa melakukan chek and rechek sesuai dengan daftar peralatan atau sarana prasarana yang dibawa dan dipinjam dari orang lain. Hal lain yang harus dibina adalah kerja sama dalam bentuk dokumentasi fisik kemitraan sebagai bukti kerja sama yang baik dan saling menguntungkan yakni adanya data dokumentasi promosi dan publikasi kemitraan berupa; poster, spanduk, pamflet, t-shirt, booklet atau leaflet yang dipilih sesuai perjanjian agar kerja sama yang dibangun dapat terjalin dan terbina dengan baik dan saling menguntungkan kedua belah pihak.

Tahapan pasca-pementasan pun dapat dijadikan sebagai wahana evaluasi kegiatan terhadap kualitas pementasan teater maupun laporan panitia non artistik sebagai pengelola produksi pementasan teater sebagai acuan untuk melangkah dan bertindak lebih baik dari segala kelemahan dan keberhasilan yang telah didapat oleh kita.

Kegiatan laporan yang dilakukan pimpinan produksi harus bersifat tercatat, tertulis dan terbuka kepada penanggung jawab kegiatan dan semua pendukung acara, terutama menyangkut: laporan keuangan yang diperoleh dari sumber-sumber yang telah direncanakan dengan jumlah pengeluaran yang dipakai kegiatan pementasan. Sekaligus sebagai ajang penghargaan kepada seluruh pendukung acara berupa kesejahteraan atau honorarium dan produk sponsor, itu pun kalau ada dan memungkinkan. Jika tidak ada, tetap laporan harus dibuat tertulis dan disampaikan kepada semua pendukung pementasan dan pembimbing.

Pada prinsipnya bahwa kreativitas dalam pementasan teater adalah berupa prosedur atau tahapan dalam proses implementasi seni peran dengan beberapa unsur penting pementasan teater yang diketahui dan dipahami.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Teater merupakan pementasan seni sebagai hasil daya cipta, rasa dan karsa manusia yang diekspresikan melalui bahasa simbol dengan media utama adalah manusia. Teater sebagai pementasan diciptakan dengan cita, rasa dan karsa manusia bersifat kolektif, keberadaannya tidak dapat lepas dari kehidupan manusia dengan lingkup sosial yang menyertainya. Gambaran ungkapan tentang kehidupan yang dialaminya (masyarakat) diwujudkan dalam bentuk seni dengan penyimbolannya. Teater sebagai pementasan seni memiliki prinsip, diciptakan oleh manusia, berada dalam dunia fiksi bukan dunia nyata, mampu menghadirkan nilai-nilai estetis dan nilai-nilai spiritual.

Kreativitas sebagai kegiatan mencipta pementasan merupakan hal penting untuk dilakukan dalam memberikan pengalaman seni. Kegiatan mencipta seni akan berjalan dengan baik, manakala dilakukan melalui serangkaian tindakan dalam mempersiapkan materi seni teater, tempat pementasan teater dan penonton teater secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan pementasan teater yang komunikatif dan bermakna.

Pementasan merupakan proses komunikasi atau aktualisasi diri pembelajar atau pelaku dan penggiat seni dengan masyarakat atau penonton sebagai penikmatnya melalui peristiwa pementasan seni. Komunikasi di dalam pementasan teater (tradisional) adalah komunikasi melalui pementasan bersifat langsung dan sesaat. Persyaratan penting di dalam pementasan teater terdiri dari: pelaku teater, penggiat teater, materi seni teater, tempat pementasan dan penonton.

Pementasan teater akan terselenggara dengan baik manakala dilakukan dengan tahapan dan memberdayakan sumber–sumber yang ada melalui fungsi-fungsi manajemen dalam seni pementasan. Tahapan tersebut meliputi pra-pementasan, pementasan, dan pasca pementasan teater. Pra-pementasan teater merupakan serangkaian tindakan dari suatu perencanaan, pengorganisasian, dan penggerakan yang telah dilakukan pimpinan produksi, sutradara dan para pendukung pementasan dalam menyiapkan unsur-unsur artistik dan non artistik pementasan guna mencapai tujuan pementasan seni yang bermutu dan optimal.

B. Saran

Dengan segala keragaman pementasan teater tradisional kita miliki dapat dimaknai dan disyukuri bahwa kita harus merasa bangga dan hendaknya menjunjung nilai-nilai kecintaan dan kebersamaan untuk menjaga kelestarian dan mengembangkannya sesuai nilai-nilai kehidupan bangsa kita.

DAFTAR PUSTAKA

Durachman, Y.C. (2009). Teater Tradisional dan Teater Baru. Bandung: Sunan Ambu Press.

Hardjana Suka. (1995). Manajemen Kesenian dan Para Pelakunya. Yogyakarta: MSPI.

Murgiyanto, S. (1985). Manajemen Pertunjukan. Jakarta: Depdikbud. Dirjen Dikdasmenjur. Lokakarya Manajemen Proyek Pertunjukan Seni.

Permas, A. dkk. (2003). Manajemen Organisasi Seni Pertunjukan. Jakarta: PPM.

Sedyawati, Edi dkk. (1983). Seni dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Stanislavsky. (1980). Persiapan Seorang Aktor. (Terjemahan Asrul Sani). Jakarta: Pustaka Jaya.

Sumardjo, J. (2004). Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia. Bandung: STSI Press.

Download Contoh Makalah Pementasan Teater Tradisional.docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH