Pendidikan Moral dan Karakter

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT karena atas taufik dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan Makalah Pendidikan Moral dan Karakter. Shalawat serta salam senantiasa kita sanjungkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta semua umatnya hingga kini. Dan Semoga kita termasuk dari golongan yang kelak mendapatkan syafaatnya.

Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkenan membantu pada tahap penyusunan hingga selesainya karya tulis ilmiah ini. Harapan kami semoga karya tulis ilmiah yang telah tersusun ini dapat bermanfaat sebagai salah satu rujukan maupun pedoman bagi para pembaca, menambah wawasan serta pengalaman, sehingga nantinya saya dapat memperbaiki bentuk ataupun isi karya tulis ilmiah ini menjadi lebih baik lagi.

Kami sadar bahwa kami ini tentunya tidak lepas dari banyaknya kekurangan, baik dari aspek kualitas maupun kuantitas dari bahan penelitian yang dipaparkan. Semua ini murni didasari oleh keterbatasan yang dimiliki kami. Oleh sebab itu, kami membutuhkan kritik dan saran kepada segenap pembaca yang bersifat membangun untuk lebih meningkatkan kualitas di kemudian hari.

Indonesia, Maret 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan semakin maju tapi moral dan perilaku anak bangsa terutama kalangan remaja pelajar semakin mengkhawatirkan. Perilaku remaja pelajar saat ini sungguh sangat memprihatinkan terjadi penurunan yang sangat drastis terhadap moral dan perilaku remaja SMA. Saat ini sistem pendidikan nasional khususnya pendidikan dasar dan menengah dapat dikatakan mengalami kemajuan. Indikatornya adalah penerapan kelas percepatan (akselerasi), sekolah bertaraf internasional (SBI), sekolah rintisan bertaraf internasional (RSBI), dan sekolah standar nasional (SSN). Semuanya hampir tidak ada sebelum tahun 2000.

Kemajuan tidak hanya pada sistem tapi juga fasilitas khususnya pada sekolah yang sudah berstandar nasional dan internasional, seperti ruangan full AC, ruangan ber-LCD dan televisi untuk mendukung proses belajar-mengajar yang nyaris tidak ada pada sekolah-sekolah biasa. Pelajar kita juga semakin pintar karena nilai 10 (sempurna) UAN/UAS SD hingga SMA bukan sesuatu yang langka. Bahkan di satu sekolah bisa lebih dari 10 orang yang mendapat nilai sempurna. Padahal sebelum Era Revormasi, angka 10 benar-benar angka istimewa.

Namun kemajuan tersebut tidak diikuti dengan majunya perilaku siswa. Penyebabnya sistem pendidikan kita yang mayoritas menilai kelulusan hanya kecerdasan intelektual saja alias angka-angka yang ada di rapor dan ijazah. Padahal secara sederhana tujuan pendidikan nasional adalah menciptakan kecerdasan intelektual dan emosional atau spiritual. Saat ini perilaku pelajar sangat mengkhawatirkan seperti menjauh dari ajaran agama, kurangnya rasa hormat terhadap orang yang lebih tua, siswa yang merokok, model pakaian, hingga perbuatan yang menjurus asusila.

Saat ini jika diperhatikan hanya sedikit pelajar yang melaksanakan ibadah berjamaah. Mereka cenderung lebih suka berkumpul dengan teman-teman sebaya sekalipun waktu salat telah tiba. Apalagi yang mengaji dan ibadah lainnya. Selain itu perilaku pelajar saat ini terlihat kurang menghormati orang tua seperti berani membentak, melawan, bahkan melakukan kekerasan fisik. Sesuatu yang benar-benar tidak sesuai dengan budaya kita sebagai orang timur. Perilaku lainnya yang mengkhawatirkan adalah meningkatnya jumlah pelajar yang merokok dari tahun ke tahun. Saat ini sudah dapat kita temui pelajar kelas 4 SD yang sudah bisa bahkan terbiasa merokok.

Dua puluh tahun yang lalu pelajar yang merokok mayoritas mereka yang berstatus pelajar SMA. Untuk masalah satu ini,, mereka tidak dapat disalahkan seutuhnya karena mereka melihat perilaku orang tua mereka yang merokok bahkan terbiasa disuruh membeli rokok sehingga mereka ingin mencobanya. Model pakaian pelajar wanita sekarang sungguh memprihatinkan karena tidak sedikit yang berpakaian ketat dan rok di atas lutut yang terlalu tinggi naiknya. Pakaian seperti itu juga tidak nyaman dilihat. Menurut saya ini salah satu efek negatif globalisasi karena model pakaian seperti itu berasal dari luar. Hal ini juga tidak sesuai budaya pakaian kita yang cenderung lebih tertutup dan sopan.

Pelajar yang berpakaian seperti itu hanya berpikir pendek. Sebagian hanya ingin memamerkan tubuh mereka dan supaya dikenal oleh sekeliling mereka. Mereka tidak berpikir akibat buruk yang ditimbulkan. Pelajar sekarang sudah biasa melakukan hal-hal asusila mulai berciuman, ML, bahkan harus aborsi. Bahkan tidak sedikit pelajar yang putus sekolah karena MBA. Sangat disayangkan jika masa depan yang cerah menjadi rusak karena kenikmatan sesaat. Maraknya penerapan pendidikan karakter di sekolah – sekolah sebagai upaya untuk menanggulangi kemerosotan moral dan tingkah laku anak bangsa dan remaja SMA pun dilakukan. Perbaikan demi perbaikan moral dan perilaku anak bangsa dan remaja SMA pun semakin gencar dilakukan.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian pendidikan berkarakter?
  2. Apa saja contoh-contoh perilaku penurunan moral?
  3. Apa fungsi dan tujuan pendidikan karakter?
  4. Bagaimana proses perencanaan pendidikan karakter di sekolah?
  5. Bagaimana aktivitas pendidikan berkarakter di sekolah?
  6. Apa saja sebab-sebab penurunan moral?
  7. Bagaimana dampak penurunan moral?
  8. Apa pengaruh penurunan moral terhadap prestasi belajar?
  9. Bagaimana upaya meminimalisir penurunan moral?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Berkarakter

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada siswa sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan. Untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, dan sesama. Untuk itu proses pendidikan karakter di sekolah melibatkan semua komponen seperti isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ekstrakurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Adapun pengertian pendidikan berkarakter menurut para ahli:

  1. Pendidikan Karakter Menurut Lickona, yaitu suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
  2. Pendidikan Karakter Menurut Suyanto, yaitu cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara.
  3. Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi, yaitu kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.

B. Contoh-contoh Perilaku Penurunan Moral

Ada beberapa peristiwa yang tergolong penyimpangan karakter di negeri ini. Contoh kecil saja, di zaman yang sudah modern ini banyak orang yang lupa beretika, lupa menjaga sopan santun, tak mau saling tolong menolong, tak bertanggung jawab, tidak tahu batas-batas pergaulan dan masih banyak lagi. Hal sekecil itu saja sudah tak terkendali, apalagi hal yang besar. Realitasnya, banyak makelar kasus, penggelapan pajak, korupsi, kejahatan yang dilakukan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab dan yang amat sangat memprihatinkan adalah perilaku remaja Indonesia yang masih berada di usia sekolah.

Menurut survei, pada tahun 2008 yang dilakukan di 33 provinsi di Indonesia sekitar 18.000 penduduk Indonesia terjangkit penyakit HIV dan AIDS, 63% remaja melakukan hubungan seksual di luar nikah, 21% di antaranya melakukan aborsi dan sekitar 3,2 juta penduduk Indonesia adalah pemakai narkoba dan 1,1 juta di antaranya adalah pelajar tingkat SMP hingga mahasiswa. Keadaan inilah yang membuat keadaan negeri ini semakin buruk.

C. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Karakter

1. Fungsi Pendidikan Berkarakter

  • Mengembangkan potensi dasar siswa agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik.
  • Memperkuat dan membangun perilaku siswa yang multikultur.
  • Meningkatkan peradaban siswa yang kompetitif dalam pergaulan.

2. Tujuan Pendidikan Berkarakter

Tujuan pendidikan karakter yaitu meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter, berakhlak mulia dan berbudi luhur. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMA mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

D. Proses Perencanaan Pendidikan Karakter di Sekolah

Dalam membangun karakter seorang siswa, pihak sekolah perlu memperhatikan aturan dan tata tertib yang berlaku. Di era globalisasi ini, banyak sekolah yang sudah jarang sekali menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila sehingga hubungan antara guru dan siswa tidak begitu akrab. Begitu juga dengan banyaknya siswa yang acuh tak acuh dengan keberadaan guru, tidak menghormati guru, dan lain-lain. Pihak sekolah perlu memperhatikan pembinaan sikap dan karakter masing-masing siswa dengan cara membina dan meningkatkan intelektualisme dan profesionalisme. Selain itu, pihak sekolah juga dapat menerapkan nilai-nilai karakter pada siswa dengan membuat aturan dan tata tertib yang dapat menumbuhkan karakter-karakter baik, misalnya dengan membuat kantin kejujuran.

1. Peran Guru dalam Membentuk Karakter Siswa

Selain guru mengajar dan mendidik siswanya, perilaku dan tingkah laku guru biasanya ditiru oleh siswa. Perilaku ini akan membentuk karakter siswa. Contohnya:

  • Guru datang tepat waktu (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin)
  • Guru mengucapkan salam dengan ramah kepada siswa ketika memasuki ruang kelas (contoh nilai yang ditanamkan: santun, peduli)
  • Berdoa sebelum membuka pelajaran (contoh nilai yang ditanamkan: religius)
  • Mengecek kehadiran siswa (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, rajin)
  • Mendoakan siswa yang tidak hadir karena sakit atau karena halangan lainnya (contoh nilai yang ditanamkan: religius, peduli)
  • Memastikan bahwa setiap siswa datang tepat waktu (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin)
  • Menegur siswa yang terlambat dengan sopan (contoh nilai yang ditanamkan: disiplin, santun, peduli)

2. Penyimpangan Karakter pada Siswa

Meskipun guru telah mengajarkan nilai-nilai karakter yang baik kepada siswa, kadang kala siswa tidak menuruti atau tidak mematuhi nilai karakter tersebut. Contohnya:

  • Siswa tidak jujur ketika mengerjakan soal ujian.
  • Tidak disiplin ketika mengikuti upacara bendera (tidak memakai atribut yang lengkap).
  • Tidak bertanggung jawab terhadap kesalahan.
  • Bertengkar karena suatu permasalahan (merupakan contoh siswa yang tidak cinta damai).

3. Upaya Mengurangi Penyimpangan Karakter pada Siswa

  • Bagi orang tua, sebaiknya lebih memperhatikan anaknya.
  • Orang tua mengutamakan waktu bersama dengan keluarga walaupun jam kerja padat.
  • Bagi para guru, sebaiknya mulai menerapkan proses pembelajaran yang aktif dan menyenangkan serta membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam suatu mata pelajaran.
  • Guru yang menjadi contoh dan panutan di sekolah juga harus dapat memberi contoh yang baik kepada murid-muridnya, seperti berpakaian rapi, berkata sopan, disiplin, perhatian kepada murid dan menjaga kebersihan.
  • Melakukan kegiatan-kegiatan rutin di sekolah, seperti setiap hari Senin melakukan upacara bendera, berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru atau teman.
  • Mengoreksi perbuatan yang kurang baik secara spontan, misalnya menegur ketika siswa berteriak-teriak ketika proses pembelajaran berlangsung.
  • Memuji perbuatan yang baik, misalnya memperoleh nilai tinggi, membantu teman atau bahkan memperoleh prestasi dibidang seni atau olahraga.
  • Sekolah sebaiknya mendukung program pendidikan budaya dan karakter bangsa dalam perwujudan misalnya toilet sekolah yang bersih, bak sampah terletak di berbagai tempat dan kondisi sekolah yang bersih.
  • Kita sendiri sebagai pelajar, hendaknya dapat menyaring hal-hal yang baik menurut kita dan hal-hal yang buruk bagi kita.

4. Cara Menumbuhkan Pendidikan Berkarakter pada Jati Diri Siswa

  • Dibekali dengan ilmu pengetahuan.
  • Meningkatkan motivasi siswa dalam meraih prestasi.
  • Memberi ruang kepercayaan pada diri bahwa karakter yang tidak baik bisa diubah menjadi karakter yang baik.
  • Antara siswa dengan guru sering berinteraksi, di dalam kelas maupun di luar kelas.
  • Berani mengakui kesalahan dan mau berubah.
  • Harus menyelesaikan setiap persoalan yang masih belum terselesaikan.

E. Aktivitas Pendidikan Berkarakter di Sekolah

1. Pembelajaran Umum

Dilakukan secara bersama (semua jenjang atau perjenjang kelas), dengan aktivitas: seminar, talkshow, kesaksian, demonstrasi (seni, OR, ketrampilan, kreativitas, dan lain-lain yang sudah dimiliki siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun mandiri). Tujuan: Menambah wawasan, mengembangkan adversity question, spiritual question. Pengenalan diri dan kemampuan mengeksplorasi diri serta penghargaan terhadap kemampuan orang lain.

2. Pembelajaran Klasikal

Dilakukan di dalam kelas dengan berbagai metode dan topik yang mengacu pada kompetensi dasar:

  • Sikap dan perilaku yang hubungannya dengan Tuhan.
  • Sikap dan perilaku yang hubungannya dengan diri sendiri.
  • Sikap dan perilaku yang hubungannya dengan keluarga.
  • Sikap dan perilaku yang hubungannya dengan masyarakat dan bangsa.
  • Sikap dan perilaku yang hubungannya dengan alam sekitar.

3. Pembelajaran Pendidikan Berbasis Sekolah Alam

Agar siswa mengenal dan mampu beradaptasi serta berinteraksi secara sehat dengan masyarakat yang heterogen tanpa kehilangan identitas diri. Meningkatkan dan mewujudkan kepedulian dan kepekaan sosial. Mengenal dan mampu beradaptasi serta memanfaatkan lingkungan bagi kesejahteraan hidup. Mengembangkan minat dan menumbuhkan motivasi intrinsik serta dapat mengembangkan dan memperoleh pengalaman.

4. Pendampingan Mentor

Penunjukan siswa senior untuk dapat memberikan pendampingan terhadap yuniornya dalam menghadapi berbagi problematik pengembangan diri dan pergaulan. Tujuan: melatih kemandirian dan memupuk rasa tanggung jawab. Mampu memahami perasaan dan masalah orang lain serta mendengarkan ide-ide dan mengatasi masalah secara bertanggung jawab. Meningkatkan rasa percaya diri dan hubungan yang mendalam serta penerimaan apa adanya terhadap orang lain. Memperdalam pemahaman nilai-nilai moral dan kebenaran.

5. Belajar Membelajarkan

Aktivitas dilakukan dalam kelompok kecil di kelas dengan membahas topik-topik permasalahan/isu-isu up to date dalam diri siswa dan di masyarakat. Guru bertindak sebagai pengamat. Tujuan: memupuk dan mengembangkan cara berpikir kritis, kreatif, etis dan menghargai orang lain. Mengembangkan rasa percaya diri, berani namun sopan. Menguatkan nilai-nilai moral dan kebenaran yang telah dimiliki.

F. Sebab-sebab Penurunan Moral

Orang tua merupakan orang yang paling dekat dengan anak sekaligus orang pertama yang memberikan kasih sayang, bahkan ketika anak itu masih ada dalam kandungan. Contohnya saja seorang ayah mengumandangkan azan dengan lirih di telinga sang anak ketika ia baru saja dilahirkan, itulah bekal awal untuk mengawali hidup dengan kebaikan. Sedangkan, ketika sang anak hendak tidur, ibulah yang menenangkan atau membacakan dongeng untuknya. Tidak hanya itu, ayah dan ibu juga mengajari putra putrinya berjalan, berbicara dan mulai berkomunikasi dengan orang lain. Dengan begitulah, orang tua memberi bekal utama dalam mengendalikan anaknya untuk menjadi anak yang baik.

Namun, kenyataannya ada orang tua yang belum mengerti bagaimana cara mengasuh anak dengan penuh cinta dan kasih sayang. Buktinya, ada saja orang tua yang menitipkan anaknya kepada babby sitter atau pembantu rumah tangga. Sehingga, anak tersebut mendapatkan pendampingan tumbuh dan berkembang bukan dari orang tua yang sudah berkeahlian mengurus anak dan tidak pula orang tua itu menjadi pendamping terindah ketika anaknya tumbuh. Ada saja alasan yang dijadikan para orang tua untuk memutuskan menitipkan anak kepada babby sitter. Salah satu alasan andalannya adalah karena harus mencari nafkah untuk membiayai anak itu, padatnya jam kerja dan lain sebagainya.

Ada pepatah bilang, bahwa “segala sesuatu yang ditangani oleh orang yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya.” Berarti harusnya para orang tua harus memiliki kemampuan dalam hal mengurus anak. Tidak hanya itu, bentuk perlakuan yang diterima anak dari orang tua dan lingkungan, menentukan kualitas kepribadian seorang individu. Seseorang yang memiliki kepribadian lemah karena ia kurang mendapat perhatian penuh dari orang tua, kurang rasa aman, sering dimanjakan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki kepribadian yang kuat karena ia telah mendapat perhatian penuh dari orang tua, kehangatan jiwa dan pemberian pengalaman hidup dari orang tuanya.

Peran kedua sebagai seseorang yang mengembangkan karakter anak adalah guru. Sebagai seorang guru, hendaknya memiliki kemampuan dalam mendidik siswanya terutama sering-sering mengecek siswanya. Tidak hanya sekedar menghabiskan bab-bab pada buku pelajaran, sekedar menyampaikan informasi atau mengejar target kurikulum. Menurut pengakuan salah satu siswa, ada saja penyakit guru yang dapat mempengaruhi proses belajar mengajar di kelas, di antaranya tidak punya selera mengajar, kurang memperkaya materi (lemah sumber), kurang disiplin, asal masuk kelas, tidak bisa komputer, kurang terampil, asal sampaikan materi, urutan tidak akurat, dan di kelas diremehkan anak.

Hal yang seperti inilah yang bisa menjadi salah satu penghambatnya. Peran ketiga adalah masyarakat atau tempat anak itu tinggal atau bermain atau bergaul. Anak bisa terkontaminasi kebiasaan yang buruk akibat pengaruh luar. Sehingga, sedini mungkin orang tua harus bisa menjaga anak-anaknya dari pengaruh luar yang negatif.

G. Dampak Penurunan Moral

  1. Banyak anak berperilaku anarkis.
  2. Banyak anak tidak memiliki sikap yang santun terhadap orang lain.
  3. Tidak mau tolong menolong dengan sesama.
  4. Tidak menghargai sesuatu.
  5. Banyak terjadi pemberontakan yang dilakukan anak terhadap orang tuanya.
  6. Perubahan gaya hidup, mulai dari nilai-nilai agama, sosial dan budaya.
  7. Jati diri bangsa Indonesia luntur.

H. Pengaruh Penurunan Moral Terhadap Prestasi Belajar

Sebuah penelitian yang sangat mengejutkan yang menyangkut kecerdasan seseorang dalam meraih kesuksesan pernah dikemukakan oleh pakar kelas dunia, Daniel Goleman yang menyatakan bahwa “80% kesuksesan seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosinya (emotional quotient = eq), sedangkan 20% ditentukan oleh IQ-nya.” Di sinilah pembentukan karakter itu sangat berperan untuk meraih kesuksesan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter dapat dijadikan obat agar terjadi peningkatan prestasi akademik pada siswa.

I. Upaya Meminimalisir Penurunan Moral

  1. Bagi para orang tua, sebaiknya mulai sekarang belajar bagaimana mengasuh anak yang baik dan benar dengan cara mengikuti parenting education.
  2. Lebih memperhatikan anak dan mendampingi anak dalam situasi apapun.
  3. Mengutamakan waktu bersama dengan keluarga walaupun jam kerja padat.
  4. Bagi para guru, sebaiknya mulai menerapkan proses pembelajaran yang aktif dan menyenangkan serta membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam suatu mata pelajaran.
  5. Guru yang menjadi contoh dan panutan di sekolah juga harus dapat memberi contoh yang baik kepada murid-muridnya, seperti berpakaian rapi, berkata sopan, disiplin, perhatian kepada murid dan menjaga kebersihan.
  6. Melakukan kegiatan-kegiatan rutin di sekolah, seperti setiap hari Senin melakukan upacara bendera, berdoa sebelum dan sesudah pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru atau teman.
  7. Mengoreksi perbuatan yang kurang baik secara spontan, misalnya menegur ketika siswa berteriak-teriak ketika proses pembelajaran berlangsung.
  8. Memuji perbuatan terpuji, misalnya memperoleh nilai tinggi, membantu teman atau bahkan memperoleh prestasi dibidang seni atau olahraga.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada siswa sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan. Untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, dan sesama.

Menurut survei, pada tahun 2008 yang dilakukan di 33 provinsi di Indonesia sekitar 18.000 penduduk Indonesia terjangkit penyakit HIV dan AIDS, 63% remaja melakukan hubungan seksual di luar nikah, 21% di antaranya melakukan aborsi dan sekitar 3,2 juta penduduk Indonesia adalah pemakai narkoba dan 1,1 juta di antaranya adalah pelajar tingkat SMP hingga mahasiswa. Keadaan inilah yang membuat keadaan negeri ini semakin buruk.

B. Saran

Hendaknya penanaman nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah harus dilaksanakan secara optimal oleh semua warga sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

http://ahmadsudrajat.wordpress.com/2010/08/20/pendidikan-karakter-di-smp/

http://belajarpsikologi.com/pengertianpendidikankarakter/

http://pipitmasihtk.blogspot.com/2012/mendidik-dan-menumbuhkan-manusia.html

Download Contoh Makalah Pendidikan Moral dan Karakter.docx

Download juga:

Makalah Bela Negara

Makalah Penyimpangan Sosial

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH