Makalah Pengaruh Peradaban Awal Masyarakat Dunia Terhadap Peradaban Indonesia

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Makalah Pengaruh Peradaban Awal Masyarakat Dunia Terhadap Peradaban Indonesia ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku umatnya.

Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan yang berjudul Makalah Pengaruh Peradaban Awal Masyarakat Dunia Terhadap Peradaban Indonesia ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Makalah Pengaruh Peradaban Awal Masyarakat Dunia Terhadap Peradaban Indonesia ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Kami mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga Makalah Pengaruh Peradaban Awal Masyarakat Dunia Terhadap Peradaban Indonesia ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Indonesia, Mei 2023
Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peradaban Indonesia terbentuk dari berbagai pengaruh kebudayaan dari luar, terutama dari peradaban awal masyarakat dunia. Pengaruh ini terutama terjadi pada masa sebelum abad ke-16, ketika Indonesia menjadi pusat perdagangan internasional dan menjadi tempat berkumpulnya berbagai bangsa dan kebudayaan.

Pengaruh pertama datang dari peradaban Mesopotamia, yang merupakan peradaban tertua di dunia. Melalui perdagangan internasional, barang-barang seperti kain, rempah-rempah, dan emas dibawa ke Indonesia dan memberikan pengaruh dalam bidang seni, arsitektur, dan perdagangan. Terdapat bukti-bukti arkeologi yang menunjukkan adanya pengaruh Mesopotamia pada seni dan arsitektur bangunan kuno di Indonesia.

Selain itu, pengaruh dari peradaban India juga sangat signifikan dalam membentuk peradaban Indonesia. Agama Hindu dan Buddha yang dibawa oleh para pedagang dan pendeta dari India, memberikan pengaruh dalam bidang seni, arsitektur, dan kepercayaan masyarakat Indonesia. Bahasa Sanskerta juga digunakan sebagai bahasa resmi dalam pemerintahan pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia.

Pengaruh dari peradaban Tiongkok juga sangat kuat, terutama pada bidang perdagangan dan teknologi. Keramik Tiongkok banyak ditemukan di situs arkeologi di Indonesia, menunjukkan adanya perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok. Selain itu, teknologi perkapalan dan pertanian juga banyak dipengaruhi oleh peradaban Tiongkok.

Pengaruh dari peradaban Arab dan Persia juga memberikan kontribusi dalam membentuk peradaban Indonesia, terutama dalam bidang agama dan perdagangan. Agama Islam yang dibawa oleh para pedagang dan ulama dari Arab, memberikan pengaruh dalam bidang seni, arsitektur, dan kepercayaan masyarakat Indonesia. Perdagangan rempah-rempah juga menjadi salah satu faktor penting dalam perdagangan internasional pada masa itu.

Secara keseluruhan, pengaruh peradaban awal masyarakat dunia sangat penting dalam membentuk peradaban Indonesia. Dengan adanya pengaruh-pengaruh tersebut, peradaban Indonesia menjadi kaya dan beragam dalam bidang seni, arsitektur, kepercayaan, dan perdagangan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas di dalam makalah tentang Pengaruh Peradaban Awal Masyarakat Dunia terhadap Peradaban Indonesia ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana proses migrasi Ras Proto Melayu dan Deutro Melayu ke Indonesia?
  2. Apa pengaruh kebudayaan Bacson-Hoabinh terhadap peradaban Indonesia?
  3. Apa pengaruh kebudayaan Dongson terhadap peradaban Indonesia?
  4. Apa pengaruh kebudayaan India terhadap peradaban Indonesia?

C. Tujuan

Adapun tujuan dalam penulisan makalah tentang Pengaruh Peradaban Awal Masyarakat Dunia terhadap Peradaban Indonesia ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui proses migrasi Ras Proto Melayu dan Deutro Melayu ke Indonesia.
  2. Untuk mengetahui pengaruh kebudayaan Bacson-Hoabinh terhadap peradaban Indonesia.
  3. Untuk mengetahui pengaruh kebudayaan Dongson terhadap peradaban Indonesia.
  4. Untuk mengetahui pengaruh kebudayaan India terhadap peradaban Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Proses Migrasi Ras Proto Melayu dan Deutro Melayu ke Indonesia

Sejarawan Belanda Van Heine mengatakan bahwa sejak 2000 SM yang bersamaan dengan zaman Neolitikum sampai dengan tahun 500 SM yang bersamaan dengan zaman perunggu mengalirlah gelombang perpindahan penduduk dari Asia ke pulau-pulau sebelah selatan daratan Asia ke Indonesia. Sekitar tahun 1500 SM, mereka terdesak dari Campa kemudian pindah ke Kampuchea dan melanjutkan perjalanan ke Semenanjung Malaka. Sementara itu, bangsa yang lainnya masuk ke pulau-pulau di sebelah selatan Asia tersebut, yakni Austronesia (austro artinya selatan, nesos artinya pulau). Bangsa yang mendiami daerah Austronesia disebut bangsa Austronesia. Bangsa Austronesia mendiami daerah sangat luas, meliputi pulau-pulau yang membentang dari Madagaskar (sebelah barat) sampai Pulau Paskah (sebelah timur) dan Taiwan (sebelah utara) sampai Selandia Baru (sebelah selatan).

Pendapat Van Heine Geldern ini diperkuat dengan penemuan peralatan manusia purba berupa beliung batu yang berbentuk persegi di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi di bagian barat. Beliung seperti itu juga banyak ditemukan di Asia, yakni di Malaysia, Birma (Myanmar), Vietnam, Kampuchea, dan terutama di daerah Yunan (daerah Cina Selatan).

Perpindahan penduduk pada gelombang kedua terjadi sekitar 500 SM bersamaan dengan zaman perunggu. Perpindahan ini membawa kebudayaan perunggu, seperti kapak sepatu dan nekara atau genderang yang berasal dari daerah Dongson sehingga disebut kebudayaan Dongson. Pendukung kebudayaan Dongson adalah orang-orang Austronesia yang tinggal di pulau-pulau di Benua Asia dan Australia. Nenek moyang bangsa Indonesia meninggalkan daerah Yunan di sekitar hulu Sungai Salween dan Sungai Mekong yang tanahnya subur sehingga mereka pandai bercocok tanam, berlayar, dan berdagang.

Dalam perkembangan selanjutnya, berbagai suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia kemudian membentuk komunitas sendiri-sendiri sehingga mereka mendapat sebutan tersendiri. Mereka datang di Nusantara menggunakan alat transportasi, yaitu perahu bercadik. Mereka berlayar secara berkelompok tanpa mengenal rasa takut dan selanjutnya menempati berbagai kepulauan di Nusantara. Hal ini memperjelas bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut-pelaut ulung yang memiliki jiwa kelautan yang kuat. Mereka memiliki kepandaian dalam berlayar, navigasi, serta ilmu perbintangan yang penuh. Selain itu, mereka menemukan model perahu bercadik yang merupakan perahu kuat dan mampu menghadapi gelombang serta sebagai ciri khas kapal bangsa Indonesia.

Orang-orang Austronesia yang memasuki wilayah Nusantara dan kemudian menetap di Nusantara tersebut mendapat sebutan bangsa Melayu Austronesia atau bangsa Melayu Indonesia. Mereka yang masuk ke daerah Aceh menjadi suku Aceh, yang masuk ke daerah Kalimantan disebut suku Dayak, yang ke Jawa Barat disebut suku Sunda, yang masuk ke Sulawesi disebut suku Bugis dan Tanah Toraja, dan mereka yang masuk ke daerah Jambi disebut suku Kubu (Lubu).

B. Pengaruh Kebudayaan Bacson-Hoabinh

Di Pegunungan Bacson dan di Provinsi Hoabinh dekat Hanoi, Vietnam, oleh peneliti Madeleine Colani ditemukan sejumlah besar alat yang kemudian dikenal dengan kebudayaan Bacson-Hoabinh. Jenis alat serupa juga ditemukan di Thailand, Semenanjung Melayu, dan Sumatra. Peninggalan-peninggalan di Sumatra berupa bukit-bukit kerang yang dinamakan kjokkenmoddinger (sampah dapur) yang memanjang dari Sumatra Utara sampai Aceh.

Ciri dari kebudayaan Bacson-Hoabinh adalah penyerpihan pada satu atau dua sisi permukaan batu kali yang berukuran satu kepalan dan bagian tepinya sangat tajam. Hasil penyerpihannya menunjukkan berbagai bentuk, seperti lonjong, segi empat, dan ada yang bentuknya berpinggang. Di wilayah Indonesia, alat-alat batu kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di Papua, Sumatra, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Penyebaran kebudayaan Bacson-Hoabinh bersamaan dengan perpindahan ras Papua Melanesoid ke Indonesia melalui jalan barat dan jalan timur (utara). Mereka datang di Nusantara dengan perahu bercadik dan tinggal di pantai timur Sumatra dan Jawa, namun mereka terdesak oleh ras Melayu yang datang kemudian. Akhirnya, mereka menyingkir ke wilayah Indonesia Timur dan dikenal sebagai ras Papua yang pada masa itu sedang berlangsung budaya Mesolitikum sehingga pendukung budaya Mesolitikum adalah Papua Melanesoid. Ras Papua ini hidup dan tinggal di gua-gua (abris sous roche) dan meninggalkan bukit-bukit kerang atau sampah dapur (kjokkenmoddinger). Ras Papua Melanesoid sampai di Nusantara pada zaman Holosen. Saat itu keadaan bumi kita sudah layak dihuni sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi kehidupan manusia.

Penyelidikan kjokkenmoddinger dilakukan oleh Dr. P.V. Van Stein Callenfels tahun 1925. Juga banyak ditemukan kapak genggam yang kemudian dinamakan kapak Sumatra, terbuat dari batu kali yang dibelah, sisi luarnya tidak dihaluskan, dan sisi dalamnya dikerjakan sesuai dengan keperluan. Jenis lain adalah kapak pendek (hache courte), bentuknya setengah lingkaran, bagian tajamnya pada sisi lengkung. Ditemukan pula batu penggiling (pipisan) sebagai penggiling makanan atau cat merah, ujung mata panah, flakes, dan kapak Proto Neolitikum. Ras Papua Melanesoid hidup masih setengah menetap, berburu, dan bercocok tanam sederhana. Mereka hidup di gua dan ada yang di bukit sampah. Manusia yang hidup di zaman budaya Mesolitikum sudah mengenal kesenian, seperti lukisan mirip babi hutan yang ditemukan di Gua Leang-Leang (Sulawesi). Lukisan tersebut memuat gambar binatang dan cap telapak tangan.

Mayat dikubur dalam gua atau bukit kerang dengan sikap jongkok, beberapa bagian mayat diolesi dengan cat merah. Merah adalah warna darah, tanda hidup. Mayat diolesi warna merah dengan maksud agar dapat mengembalikan kehidupannya sehingga dapat berdialog. Kecuali alat batu, juga ditemukan sisa-sisa tulang dan gigi-gigi binatang seperti gajah, badak, beruang, dan rusa. Jadi, selain mengumpulkan binatang kerang, mereka pun memburu binatang-binatang besar.

Di daerah Sumatra alat-alat batu jenis kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di Lhokseumawe dan Medan. Di Pulau Jawa, alat kebudayaan yang sejenis kebudayaan Bacson-Hoabinh ditemukan di daerah sekitar Bengawan Solo, yakni bersamaan waktu penggalian fosil manusia purba. Peralatan yang ditemukan dibuat dengan cara yang sederhana, belum diserpih dan belum diasah. Alat tersebut diperkirakan dipergunakan oleh jenis Pithecanthropus erectus di Trinil, Jawa Timur.

C. Pengaruh Kebudayaan Dongson

Kebudayaan Dongson diambil dari salah satu nama daerah di Tonkin. Kebudayaan perunggu di Asia Tenggara biasa dinamakan kebudayaan Dongson. Di daerah ini ditemukan bermacam-macam alat yang dibuat dari perunggu. Di samping itu juga ditemukan nekara dan kuburan. Bejana yang serupa dengan yang ditemukan di Kerinci dan Madura juga ditemukan di sana, di daerah Tonkin itulah kebudayaan perunggu berasal. Pengolahan logam menunjukkan taraf kehidupan yang semakin maju, sudah ada pembagian kerja yang baik, masyarakatnya sudah teratur. Teknik peleburan logam merupakan teknik yang tinggi.

Kenyataan tersebut menunjukkan kepada kita mengenai adanya hubungan erat antara Indonesia dengan Tonkin, yaitu kebudayaan logam di Indonesia termasuk kelompok kebudayaan logam di Asia yang berpusat di Dongson. Dari daerah inilah datang kebudayaan logam secara bergelombang lewat jalur barat, yaitu Malaysia. Pendukung kebudayaan ini adalah bangsa Austronesia, juga pendukung kapak persegi. Di Indonesia, penggunaan logam telah dilakukan sejak beberapa abad sebelum Masehi, yaitu pada tahun 500 SM berupa hasil perunggu dan perhiasan perunggu, sedangkan alat dari besi berupa mata kapak, mata pisau, mata pedang, dan cangkul. Zaman perunggu di Indonesia masuk kebudayaan perundagian. Peranan perunggu dan besi sangat besar terutama dalam penggunaan alat kehidupan.

Budaya Dongson sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan budaya perunggu di Nusantara. Nekara perunggu yang telah dibuat di Kepulauan Indonesia seperti Sumatra, Jawa, dan Maluku Selatan sebagai salah satu bukti pengaruh yang kuat dari budaya Dongson. Beberapa nekara yang ditemukan di Indonesia mempunyai nilai yang penting, misalnya, di Makalaman dekat Sumba (berisi hiasan gambar menyerupai pakaian Cina dari dinasti Han) dan nekara dari Kepulauan Kei, Maluku (berisi hiasan lajur mendatar bergambar kijang). Berdasarkan kesimpulan para ahli, ada kemungkinan daerah-daerah itu tidak membuatnya sendiri, melainkan berasal dari Cina karena ada gaya hiasan model negeri Cina. Adapun nekara yang ditemukan di daerah Sangeng dekat Sumbawa oleh Heine Geldern mungkin berasal dari Funan.

D. Pengaruh Kebudayaan India

Sejak zaman praaksara, penduduk Indonesia dikenal sebagai pelaut dan sanggup mengarungi lautan luas. Ahli ilmu bumi bangsa Yunani bernama Claudius Ptolomeus menyebutkan bahwa ada sebuah pulau bernama Zabadiu, yang dimaksud adalah Yavadwipa atau Pulau Jawa atau terkenal dengan sebutan Pulau Padi.

Menurut Hornell, perahu-perahu bercadik adalah milik khusus bangsa Indonesia. Perahu bercadik juga ada di India Selatan akibat pengaruh dari Indonesia sebab di sana terdapat suku Thanar yang bermatapencaharian budi daya kelapa dan berdagang dengan pedagang Indonesia.

Hubungan dagang antara Indonesia – India ternyata menambah kemampuan untuk saling bertukar kebudayaan, pengaruh agama dan budaya India masuk ke Nusantara. Hubungan dagang tersebut merupakan faktor utama terjadinya kontak Indonesia – India yang menyebabkan penyebaran budaya India ke Indonesia. Namun demikian, unsur Indonesia kuno tetap kuat tampak dominan, misalnya, kasta tidak berjalan dengan baik di Indonesia, bahkan cenderung tidak ada. Hasil seni candi di Indonesia yang menonjol pada masa Indonesia kuno adalah pembangunan candi-candi besar. Bukti pengaruh budaya India di Indonesia sebagai berikut.

  1. Adanya arca Buddha dari perunggu di Sempaga (Sulawesi Selatan) sebagai bukti tertua bergaya amarawati (gaya India Selatan), arca sejenis juga ditemukan di Jember dan Bukit Siguntang, Sumatra Selatan. Arca Buddha lainnya yang ditemukan di Kota Bangun, Kutai, bergaya gandhara (gaya India Utara).
  2. Ditemukan prasasti di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara yang terpengaruh India, yaitu berbahasa Sanskerta dan berhuruf Pallawa.
  3. Adanya bangunan candi dan arca yang terpengaruh Hindu dan Buddha.
  4. Adanya prasasti Sriwijaya yang ditulis dalam bahasa Melayu Kuno berhuruf Pallawa yang sudah menonjol unsur Indonesianya.
  5. Adanya bukti arkeologi di Indonesia bahwa pengaruh India ada dalam budaya Nusantara.
  6. Dalam berbagai hal pengaruh India itu terlihat. Di bidang pemerintahan muncul kerajaan, dalam bidang kebudayaan pengaruh India melahirkan candi megah di Nusantara, misalnya, candi Borobudur, Prambanan, di bidang sosial melahirkan ikatan-ikatan desa dan ikatan feodal.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Zaman praaksara meninggalkan hasil budaya yang masih sederhana, tetapi berharga nilainya dalam mempelajari kembali sejarah manusia Indonesia di masa lampau. Alat-alat budaya mereka ciptakan sesuai kebutuhan sehingga dapat membantu untuk memenuhi kebutuhannya. Alat-alat budaya tersebut pada awalnya terbuat dari batu dan berkembang menggunakan logam maka dalam penyebutannya sering disebut zaman batu atau zaman logam. Dengan peninggalan-peninggalan mereka itulah, para ahli dapat mengungkap kembali bagaimana kehidupan di masa itu.

Kehidupan masyarakat asli Indonesia yang mendapat pengaruh dari peradaban masyarakat dunia yaitu masyarakat Asia (Lembah sungai Indus, Tiongkok dan Mesopotamia), Afrika (Mesir), Eropa (Yunani dan Romawi) dan Amerika (Maya, Aztek, dan Inka). Peradaban awal di Indonesia memiliki keterkaitan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, kepercayaan, pemerintahan, ekonomi sosial dan pertanian. Pada peradaban Asia meliputi peradaban lembah sungai Indus, peradaban lembah sungai Kuning Huang Ho (Tiongkok) dan peradaban lembah sungai eufrat dan tigris (Mesopotamia).

B. Saran

Menganalisis kehidupan masyarakat pada peradaban awal Indonesia dan menyajikan hasil analisis kehidupan masyarakat pada peradaban awal Indonesia dengan mengembangkan berpikir kritis, kreatif komunikasi, dan kolaborasi yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Berry, C.E. 1990. Kehidupan Purba. Terjemahan Suyatini N. Ganie. Jakarta: Tira Pustaka.

Boechari. 1985. Prasejarah Indonesia. Jakarta: Gunung Tiga.

Kartodirdjo, S. 1975. Sejarah Nasional I. Jakarta: Depdikbud.

Kuntowijono. 1994. Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.

Download Contoh Makalah Pengaruh Peradaban Awal Masyarakat Dunia Terhadap Peradaban Indonesia.docx