Fabel

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya, penyusunan makalah Fabel ini dapat terselesaikan dengan cukup baik.

Dalam penyelesaian makalah ini, penulis banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari pihak lain, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Karena itu, sudah sepantasnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis setiap saat.

Penulis sadar, sebagai seorang pelajar yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi. Harapan penulis, semoga makalah yang sederhana ini dapat berguna bagi kita semua.

Indonesia, Juni 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kita dapat pada apa yang ada di bumi, misalnya belajar pada alam, tumbuhan, atau binatang. Keseluruhan kehidupan jenis tumbuhan-tumbuhan suatu habitat disebut flora, sedangkan keseluruhan kehidupan jenis binatang disebut fauna. Tokoh pada cerita fabel biasanya binatang. Teks cerita fabel tidak hanya mengisahkan kehidupan binatang, tetapi juga mengisahkan kehidupan manusia dengan segala karakternya.

Binatang-binatang yang ada pada cerita fabel memiliki karakter seperti manusia. Karakter mereka ada yang baik dan ada juga yang tidak baik. Mereka mempunyai sifat jujur, sopan, pintar dan senang bersahabat, serta melakukan perbuatan terpuji. Mereka ada yang berkarakter licik, culas, sombong, suka menipu, dan ingin menang sendiri. Cerita fabel tidak hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga kepada orang dewasa. Setelah membaca dan memahami teks cerita fabel, kita dapat belajar pada karakter-karakter binatang tersebut. Cerita fabel menjadi salah satu sarana potensial dalam menanamkan nilai-nilai moral. Kita dapat belajar dan mencontoh karakter-karakter yang baik dari binatang itu agar kita memiliki sifat terpuji.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

  1. Apa pengertian fabel?
  2. Bagaimana ciri-ciri fabel?
  3. Bagaimana struktur fabel?
  4. Apa ciri bahasa fabel?
  5. Bagaimana memahami teks cerita fabel?
  6. Apa contoh fabel?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Fabel

Cerita fabel adalah teks cerita fiksi yang menggunakan hewan sebagai tokoh yang bertingkah laku seperti manusia. Teks cerita fabel menunjukkan penggambaran moral/unsur moral dan karakter manusia dan kritik tentang kehidupan di dalam ceritanya. Teks cerita fabel digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan dan nilai moral kepada pembaca, dengan tujuan agar pembaca tidak mudah tergoda untuk melakukan tindakan tercela. Selain itu, pembaca juga terilhami untuk menjadi manusia yang berbudaya dan berbudi luhur. Meskipun dijadikan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan moral, bukan berarti cerita fabel kehilangan daya tarik. Dengan kemasan bahasa yang lugas dan mudah dipahami, cerita fabel digemari oleh kalangan anak-anak hingga orang tua.

B. Ciri-ciri Fabel

  1. Menggunakan hewan sebagai tokoh utama dan dapat bertingkah seperti manusia.
  2. Menunjukkan penggambaran moral dan kritik tentang kehidupan di dalam ceritanya.
  3. Penceritaan yang pendek dan menggunakan pilihan kata yang mudah.
  4. Menceritakan antara karakter manusia yang lemah dan kuat.
  5. Menggunakan setting alam.
  6. Memuat informasi berdasarkan khayalan (fiksi).

C. Struktur Fabel

  1. Judul adalah kepala karangan yang berfungsi mengarahkan pikiran pembaca tentang gambaran umum isi fabel.
  2. Orientasi adalah kalimat yang terdapat pada awal cerita yang fungsinya untuk pengenalan waktu, tempat dan karakter/tokoh.
  3. Komplikasi adalah bagian, di mana, muncullah masalah atau konflik cerita.
  4. Klimaks adalah konflik mencapai puncaknya.
  5. Resolusi adalah bagian penyelesaian masalah atau pemecahan konflik pada cerita.
  6. Koda adalah pesan moral dari pengarang (tidak semua pengarang mencantumkan koda pada ceritanya) atau penyelesaian masalah.

D. Ciri Bahasa Fabel

Bahasa dalam fabel dimanfaatkan untuk menggambarkan sifat-sifat hewan yang memiliki kemiripan atau kesamaan dengan sifat manusia. Adapun ciri-ciri bahasa dalam fabel adalah:

  1. Memuat kata-kata sifat untuk mendeskripsikan pelaku, penampilan fisik, atau kepribadiannya.
  2. Memuat kata-kata keterangan untuk menggambarkan latar (latar waktu, tempat, dan suasana).
  3. Memuat kata kerja yang menunjukkan peristiwa-peristiwa yang dialami para pelaku.

E. Memahami Teks Cerita Fabel

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai kejahatan dan kebaikan akan selalu hadir di sekitar kehidupan manusia. Dalam teks cerita fabel ini menyajikan karakter tokoh yang berperilaku baik dan jahat yang akhirnya tokoh yang baiklah yang akan menang. Tentu saja atas apa yang digambarkan pada teks cerita fabel itu pembaca tidak akan tergoda untuk melakukan tindakan tercela. Kita bisa menunjukkan berbagai contoh tindakan yang mengandung nilai kejahatan dan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Dari beragamnya nilai kejahatan dan kebaikan itu ternyata tersirat pula dalam berbagai jenis fabel. Pemahaman teks cerita fabel dapat dilihat dari:

1. Memahami struktur teks cerita fabel

Dahulu, ketika belum ada tradisi menulis, fabel dituturkan dalam tradisi lisan secara turun temurun. Hal ini dilakukan untuk menyampaikan pesan moral pada anak cucu. Namun, seiring perkembangan zaman, fabel tidak lagi dituturkan secara lisan. Akan tetapi, cerita jenis ini sudah banyak yang dialihkan ke dalam bentuk tulisan. Cerita teks fabel memiliki struktur sebagai berikut:

  • Orientasi adalah kalimat yang terdapat pada awal cerita yang fungsinya untuk pengenalan waktu, tempat dan karakter/tokoh.
  • Komplikasi adalah bagian, di mana, muncullah masalah atau konflik cerita.
  • Resolusi adalah bagian penyelesaian masalah atau pemecahan konflik pada cerita.
  • Koda adalah pesan moral dari pengarang (tidak semua pengarang mencantumkan koda pada ceritanya) atau penyelesaian masalah.

2. Memahami unsur kebahasaan teks cerita fabel

  • Mengidentifikasi kata kerja
  • Verba transitif adalah verba yang membutuhkan kehadiran nomina atau kata benda sebagai objek dalam kalimat aktif, dan objek itu dapat menjadi subjek dalam kalimat aktif. Contoh:
    1) Bahkan sang semut kuat mengangkat beban yang lebih besar dari tubuhnya.
    2) Ia sangat bahagia karena bisa berjalan-jalan melihat taman yang indah
  • Verba intransitif adalah verba yang tidak memerlukan objek dalam kalimat.

3. Penggunaan kata keterangan tempat dan waktu

Dalam teks cerita fabel biasanya digunakan kata keterangan tempat dan kata keterangan waktu untuk menghidupkan suasana. Untuk keterangan tempat biasanya digunakan kata depan di dan keterangan waktu biasanya digunakan kata depan pada atau kata yang menunjukkan informasi waktu.

4. Penggunaan kata hubung lalu, kemudian, dan akhirnya

Kata lalu dan kemudian memiliki makna yang sama. Kata itu digunakan sebagai penghubung antarkalimat. Kata akhirnya biasanya digunakan untuk menyimpulkan dan mengakhiri informasi dalam paragrap atau dalam teks.

F. Contoh Fabel

KUPU-KUPU BERHATI MULIA

Dikisahkan pada suatu hari yang cerah ada seekor semut berjalan-jalan di taman. Ia sangat bahagia karena bisa berjalan-jalan melihat taman yang indah. Sang semut berkeliling taman sambil menyapa binatang-binatang yang erada di taman itu.

Ia melihat sebuah kepompong di atas pohon. Sang semut mengejek bentuk kepompong yang jelek yang tidak bisa pergi ke mana-mana.

“Hei, kepompong alangkah jelek nasibmu. Kamu hanya bisa menggantung diranting itu. Ayo jalan-jalan, lihat dunia yang luas ini. Bagaimana nasibmu jika ranting itu patah?”

Sang semut selalu membanggakan dirinya yang bisa pergi ke tempat yang ia suka. Bahkan sang semut kuat mengangkat beban yang lebih besar dari tubuhnya. Sang semut merasa bahwa dirinya adalah binatang yang paling hebat. Si kepompong hanya diam saja mendengar ejekan tersebut.

Pada suatu pagi sang semut kembali berjalan ke taman itu. Karena hujan, di mana-mana terdapat genangan lumpur. Lumpur yang licin membuat semut tergelincir ke dalam lumpur. Ia terjatuh ke dalam lumpur. Sang semut hampir tenggelam dalam genangan itu. Semut berteriak sekencang mungkin untuk meminta bantuan.

“Tolong, bantu aku! Aku mau tenggelam, tolong…, tolong…!”

Untunglah saat itu ada seekor kupu-kupu yang terbang melintas. Kemudian, kupu-kupu menjulurkan sebuah ranting ke arah semut.

“Semut, peganglah erat-erat ranting itu! Nanti aku akan mengangkat ranting itu.”

Lalu sang semut memegang erat-erat ranting itu. Si kupu-kupu mengangkat ranting itu dan menurunkannya di tempat yang aman.

Kemudian, sang semut berterima kasih kepada kupu-kupu karena kupu-kupu telah menyelamatkan nyawanya. Ia memuji kupu-kupu sebagai binatang yang hebat dan terpuji.

Mendengar pujian itu, kupu-kupu berkata kepada semut.

“Aku adalah kepompong yang pernah diejek,” kata si kupu-kupu.

Ternyata, kepompong yang dulu ia ejek sudah menyelamatkan dirinya.

Akhirnya, sang semut berjanji kepada kupu-kupu bahwa dia tidak akan menghina semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada di taman itu.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Teks cerita fabel termasuk jenis dongeng yaitu cerita yang benar-benar tidak terjadi, yang mana merupakan jenis dongeng yang menggunakan hewan sebagai tokoh cerita untuk menggambarkan watak dan perilaku manusia. Dalam fabel, tokoh hewan dapat bercakap-cakap dan bertingkah laku seperti manusia.

Isi ceritanya biasanya mengandung pendidikan moral dan budi pekerti. Teks ceritanya pada dasarnya dijadikan sarana untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada pembaca. Penyampaian pesan moral melalui teks cerita lebih menarik karena dipadukan melalui rangkaian peristiwa yang seru dan menegangkan.

B. Saran

Mengarang cerita fabel memang sangat menyenangkan apalagi pesan yang kita maksudkan dapat dicerna pembaca dengan mudah. Jadi kita dapat mengekspresikan kekreatifan kita melalui sebuah karangan cerita yang menarik.

Adapun saran yang ingin saya sampaikan kepada pembaca adalah agar terus berkarya melalui tulisan-tulisan kecil baik itu puisi, cerpen, dongeng ataupun kisah fabel. Jangan malu bila karya kita dikritik oleh orang lain. Dan teruslah belajar agar karya kita mudah diterima orang lain. Jangan menjadikan teks cerita sebagai olokan ataupun sarana mengejek orang lain.

Saya kira hanya itu saran yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf. Semoga makalah saya ini dapat memberikan informasi dan berguna kepada kita semua.

DAFTAR
PUSTAKA

W.S, Hasanuddin dan M. Abdullah. 2014. Buku Guru Bahasa Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

W.S, Hasanuddin dan M. Abdullah. 2014. Buku Siswa Bahasa Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Wahono, Sawali dan Drs. Mafrukhi. 2013. Mahir Berbahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Download Contoh Makalah Fabel.docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH