Gerakan Modernisasi Islam di Indonesia

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Makalah Gerakan Modernisasi Islam di Indonesia ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku umatnya.

Makalah ini kami buat untuk melengkapi tugas mata pelajaran . Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Makalah Gerakan Modernisasi Islam di Indonesia ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Makalah Gerakan Modernisasi Islam di Indonesia ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Kami mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga Makalah Gerakan Modernisasi Islam di Indonesia ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Indonesia, Maret 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan Islam yang ada di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perkembangan Islam di belahan bumi lain. Membaca Islam yang di Indonesia rasanya cukup penting. Sebab, dari hasil pembacaan itu kita sebagai umat Islam dapat mengetahui akan bagaimana perkembangan Islam di Indonesia setelah Islam mengalami beberapa fase perubahan dari waktu ke waktu.

Kajian Islam di dunia kontemporer pada umumnya berkonsentrasi pada subjek materi tentang tipe-tipe gerakan modernisasi yang beragam atau disebut-sebut sebagai fundamentalisme, pada saat yang sama kaum muslimin terus menjalani hidup di dunia tradisi meskipun adanya beberapa serangan terhadap pandangan tradisional di era modern. Untuk memahami Islam dewasa ini, pada langkah pertama sebelum yang lainnya adalah penting untuk memiliki kesadaran akan sejarah agama-agama lain yang tidak mengikuti satu alur yang sama. Pembaharuan dalam Islam atau gerakan modern Islam merupakan jawaban yang ditujukan terhadap krisis yang dihadapi umat Islam pada masanya.

B. Rumusan Masalah

    1. Apa itu gerakan modernisasi Islam, dari mana asal usulnya dan bagaimana perkembangannya?
    2. Bagaimana perjuangan kemerdekaan umat Islam?
    3. Apa saja organisasi politik dan organisasi sosial Islam dalam suasana Indonesia merdeka?
    4. Apa saja bentuk-bentuk modernisasi Islam di Indonesia?
    5. Apa saja bentuk-bentuk gerakan politik Islam di Indonesia ?
    6. Apa saja bentuk-bentuk gerakan kemasyarakatan sosial di Indonesia?

C. Tujuan

Untuk menambah serta memperdalam wawasan dan pengetahuan tentang pengaruh gerakan modernisasi atau pembaharuan Islam terhadap Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Gerakan Modernisasi Islam, Asal Usul, dan Perkembangan

Pembaharuan dalam Islam atau gerakan modern dalam Islam merupakan jawaban yang ditujukan terhadap krisis yang dihadapi umat Islam pada masanya. Kemunduran progresif Kerajaan Utsmani yang merupakan pemangku khilafah Islam, setelah abad ketujuh belas, telah melahirkan kebangkitan Islam di kalangan warga Arab di pinggiran imperium itu. Yang terpenting di antaranya adalah gerakan Wahabi, sebuah gerakan reformis puritanis (Salafiah). Gerakan ini merupakan sarana yang menyiapkan jembatan ke arah pembaruan Islam ke-20 yang lebih bersifat intelektual.

Katalisator terkenal gerakan pembaruan in adalah Jamaluddin Al-Afgani (1897). Ia mengajarkan solidaritas Pan Islam dan pertahanan terhadap imperialisme Eropa, dengan kembali kepada Islam dalam suasana yang secara ilmiah dimodernisasi. Pembaharuan dalam Islam atau gerakan modern Islam merupakan jawaban yang ditujukan terhadap krisis yang dihadapi umat Islam pada masanya. (Sejarah Peradaban Islam, 2010) Gerakan modern disebut pula oleh Harun Nasution sebagai zaman kebangkitan Islam. Kemunduran progresif kerajaan Usmani yang merupakan pemangku khilafah Islam, setelah abad ketujuh belas, telah melahirkan kebangkitan Islam di kalangan warga arab di pinggiran imperium itu. Yang terpenting di antaranya adalah gerakan wahabi, sebuah gerakan reformis puritanis (Salafiyyah).

Gerakan ini merupakan sasaran yang menyiapkan jembatan ke arah pembaharuan Islam abad ke-20 yang lebih bersifat intelektual. Gerakan pembaharuan ini adalah Jamaludin Al-Afghani (1897). Ia mengajarkan solidaritas pan-Islam dan pertahanan terhadap imperialisme Eropa, dengan kembali kepada Islam dalam suasana yang secara ilmiah dimodernisasi. Gerakan yang lahir di Timur Tengah itu telah memberikan pengaruh besar kepada kebangkitan Islam di Indonesia.

Bermula dari pembaharuan pemikiran dan pendidikan Islam di Minangkabau, yang disusul oleh pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat Arab di Indonesia, kebangkitan Islam semakin berkembang membentuk organisasi-organisasi sosial keagamaan, seperti Sarekat Dagang Islam (SDI) di Bogor (1909) dan Solo (1911), Persyarikatan Ulama di Majalengka, Jawa Barat (1911), Muhammadiyah di Yogyakarta (1912), Persatuan Islam (Persis) di Bandung (1920-an), Nahdatul Ulama (NU) di Surabaya (1926), dan Persatuan Tarbiyah Islamiah (Perti) di Candung, Bukittinggi (1930), dan Partai-partai Politik, seperti Sarekat Islam (SI) yang merupakan kelanjutan dari SDI, Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) di Padang Panjang (1932) yang merupakan kelanjutan, dan perluasan dari organisasi pendidikan Thawalib, dan Partai Islam Indonesia (PII) pada tahun 1938.

Organisasi-organisasi sosial keagamaan Islam dan organisasi-organisasi yang didirikan kaum terpelajar, menandakan tumbuhnya benih-benih nasionalisme dalam pengertian modern.

B. Organisasi Politik dan Organisasi Sosial Islam dalam Suasana Indonesia Merdeka

1. Masa Revolusi dan Demokrasi Liberal

Pada waktu proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, piagam jakarta sama sekali tidak digunakan. Soekarno Hatta justru membuat teks proklamasi yang lebih singkat, karena ditulis secara tergesa-gesa. Perlu diketahui, menjelang kemerdekaan, setelah jepang tidak dapat menghindari kekalahan dari tentara sekutu, BUPKI ditingkatkan menjadi panitia persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI). Berbada dengan BUPKI yang khusus untuk pulau Jawa. PPKI merupakan perwakilan daerah seluruh kepulauan Indonesia. Perbahanan itu menyebabkan banyak anggota BUPKI yang tidak muncul lagi, termasuk beberapa orang anggota panitia sembilan. Persentase Nasional Islam pun merosot tajam.

Oleh golongan nasionalis “sekuler”, keputusan itu dianggap sebagai gentleman’s agrement kedua yang menghapuskan piagam Jakarta sebagai gentleman’s agrement pertama. Sementara itu keputusan yang sama dipandang oleh golongan nasionalis sebagai menghianati gentleman’s agremant itu sendiri. Para nasionalisme Islam mengetahui bahwa, Indonesia merdeka yang mereka perjuangkan dengan penuh pengorbanan itu, jangankan berdasarkan Islam, piagam Jakarta pun tidak. Oleh sebab itu, bisa dibayangkan bagaimana kecewanya para nasionalis Islam.

Yang sedikit agak melegakan hati umat Islam keputusan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), pengganti PPKI, yang bersidang tanggal 25, 26, dan 27 November 1945. Komite yang dipimpin oleh Sutan Syahrir, pimpinan utama Partai Sosialis Indonesia (PSI) itu antara lain , membahas usul agar dalam Indonesia merdeka ini agar soal-soal keagamaan digarap oleh satu kementerian tersendiri dan tidak lagi diperlakukan sebagai bagian tanggung jawab Kementerian Pendidikan. Sedikit banyak, keputusan tentang Kementerian Agama ini merupakan semacam konsesi kepada kaum Muslimin yang bersifat kompromi, kompromi antara teori sekuler dan teori Muslim.

Pada tanggal 7 November 1945, Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) lahir sebagai wadah aspirasi umat Islam, 17 Desember 1945 Partai Sosialis yang mengristalisasikan falsafah hidup Marxis berdiri, dan 29 Januari 1946, Partai Nasional Indonesia (PNI) yang mewadahi cara hidup nasionalis “sekuler”pun muncul. Partai-partai yang berdiri sesudah itu dapat dikategorikan menjadi tiga aliran utama ideologi yang terdapat di Indonesia di atas. Partai-partai Islam setelah mereka selain Masyumi adalah Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) yang keluar dari Masyumi pada tahun 1947, Persatuan Tarbiyah Islamiah (Perti), dan Nahdatul Ulama (NU) yang keluar dari Masyumi tahun 1952.

Usaha partai-partai Islam untuk menegakkan Islam sebagai ideologi negara di dalam konstituante mengalami jalan buntu. Demikian juga dengan Pancasila, yang oleh umat Islam waktu itu, dipandang sebagai milik kaum “anti Muslim”, setidak-tidaknya di dalam konstituante memang, kesempatan untuk menyelesaikan konstituante masih terluang, namun pekerjaannya diakhiri dengan Dekrit Presiden 1959 konstituante dinyatakan bubar dan UUD 1945 dinyatakan berlaku kembali. Dalam konsiderans Dekrit itu disebutkan bahwa piagam Jakarta menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan UUD 1945. Jelas, Dekrit sebenarnya ingin mengambil jalan tengah. Tapi, tapi Dekrit itu sendiri yang menandai bermulanya suatu era baru, Demokrasi terpimpin, yang membawa kehidupan Demokratis terancam dan berada dalam krisis. Masyumi yang sangat ketat berpegang pada konstitusi, pada bulan Agustus 1960 diperintahkan Presiden Sukarno bubar.

2. Masa Demokrasi Terpimpin

Dengan bubarnya Masyumi, partai Islam tinggal NU, PSII, dan Perti. Partai-partai ini, sebagaimana juga Partai-partai lain, mulai menyesuaikan diri dengan keinginan Soekarno yang tampaknya mendapat dukungan dari dua pihak yang bermusuhan, ABRI dan PKI. Walaupun partai-partai Islam itu melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap kebijaksanaan Soekarno, tetapi secara keseluruhan, peranan partai-partai Islam mengalami kemerosotan. Tak ada jabatan Menteri berposisi penting yang diserahkan kepada Islam, sebagaimana yang terjadi pada masa Demokrasi Parlementer.

Di masa Demokrasi terpimpin ini, Soekarno kembali menyuarakan ide lamanya Nasakom, suatu pemikiran yang ingin menyatukan nasionalis “sekuler”, Islam, dan Komunis. Akan tetapi, idenya itu dilaksanakan dengan caranya sendiri. Masa Demokrasi terpimpin itu berakhir dengan gagalnya gerakan 30 September PKI tahun 1965, umat Islam bersama ABRI dan golongan lainnya bekerja sama menumpas gerakan itu.

3. Masa Orde Baru

Setelah Orde lama hancur, kepemimpinan berada di tangan Orde Baru. Tumbangnya Orde Lama yang Umat Islam ikut berperang besar di dalam menumbangkannya- memberikan harapan baru kepada Kaum Muslimin. Namun, kekecewaan barupun muncul di masa Orde Baru ini. Umat Islam merasa, meskipun musuh bebuyutannya, komunis, telah tumbang, kenyataan berkembang tidak seperti yang di harapkan. Rehabilitasi Masyumi, Partai Islam berpengaruh yang dibubarkan Soekarno, tidak diperkenankan. Bahkan, tokoh-tokohnya juga tidak diizinkan aktif dalam partai Muslimin Indonesia yang didirikan kemudian.

4. Kebangkitan Baru Islam di Masa Orde Baru

Meskipun umat Islam merupakan 87 persen penduduk Indonesia, ide negara Islam secara terus-menerus dan konsisten di tolak. Bahkan, partai-partai Islam, kecuali di awal pergerakan nasional, mulai dari masa penjajahan hingga masa kemerdekaan, selalu mengalami kekalahan. Malah dengan pembaharuan politik bangsa sekarang ini, partai-partai (berideologi) Islam pun lenyap.

Untuk merumuskan situasi baru itu sekaligus memasyarakatkan kebijakan tersebut, beberapa kalangan yang sejak semula tidak melihat kemungkinan lain, menyelenggarakan forum-forum yang berkenaan dengan aspirasi politik Islam. Balitbang Agama Departemen Agama, untuk tujuan yang sama, menyelenggarakan seminar dengan tema “Peranan Agama dalam Pemantapan ideologi Negara Pancasila. Kesimpulan dari kegiatan-kegiatan itu tampaknya menyatakan bahwa aspirasi keagamaan dalam kehidupan politik di Indonesia tetap akan tersalurkan. Bahkan dengan kebijaksanaan yang dimaksudkan sebagai upaya modernisasi Politik bangsa itu, Umat Islam, diuntungkan karna dapat melepaskan diri dari ikatan primordialisme, pindah dari dunianya yang sempit ke dunia yang lebih luas. Banyak pemikiran Islam yang beranggapan, dengan ditariknya Islam dari level politik, perjuangan kultural dalam pengertian luas menjadi sangat relevan, bahkan mungkin dianggap justru lebih efektif.

Dalam pada itu, dekade 1970-an, kegiatan Islam semakin berkembang bila dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Terlihat, ada tanda-tanda kebangkitan Islam kembali dalam masa Orde Baru ini. Fenomena yang sangat bisa dilihat adalah munculnya bangunan-bangunan baru Islam; masjid-masjid, mushola-mushola, madrasah-madrasah, juga pesantren-pesantren.

Di samping itu, sejak dekade 1970-an, banyak bermunculan apa yang disebut intelektual muda Muslim yang meskipun sering kontroversial, melontarkan ide-ide segar untuk masa depan umat. Kebanyakan mereka adalah intelektual muslim berpendidikan “umun”. Yang terakhir ini sangat mungkin adalah buah dari kegiatan-kegiatan organisasi-organisasi mahasiswa Islam seperti himpunan mahasiswa Islam (HMI, berdiri tahun 1947) yang cukup dominan di perguruan tinggi umum, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII, organisasi mahasiswa pada mulanya underbow NU), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Namun, tidak boleh dilupakan Departemen Agama yang dibentuk sebagai konsesi bagi Umat Islam juga banyak berjasa dalam membentuk dan mendorong kebangkitan Islam tersebut. Empat belas Institut Agama Islam Negeri (IAIN) induk dengan sekian banyak cabangnya sangat berjasa menyiapkan guru-guru agama, pendakwah dan mubalig dalam kuantitas besar. Bahkan, Departemen Agama secara terus menerus mengembangkan dan meningkatkan mutu IAIN tersebut. Belum lagi, peranan departemen ini dalam membina madrasah dan pesantren-pesantren yang ada di seluruh wilayah nusantara ini.

Di samping itu, organisasi-organisasi Islam erutama Muhammadiyah dan NU, dua organisasi terbesar di tanah air, terus diperhatikan oleh setiap kekuatan politik, pada periode 1980-an terdapat fenomena meningkatnya penerbitan buku-buku agama, ceramah, seminar ilmiah serta aktivitas keagamaan di kampus perguruan tinggi, juga padatnya jamaah mesjid, semaraknya pengajian dikantor pemerintah maupun swasta hingga meriahnya fashion show dan berbagai peragaan busana muslim di hotel-hotel berbintang. (Peradaban Islam Dalam Lintasan Sejarah, 2004)

Pengalaman di masa lampau jelas menggambarkan bahwa suatu pemikiran akan berkembang secara fleksibel apabila dia berakar dan mampu menjawab persoalan-persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Apa yang kita saksikan sekarang ini merupakan perkembangan wajar dari langkah-langkah yang sudah ditempuh di masa lalu.

Islam pada hari ini merupakan realitas yang hidup menghadapi tantangan-tantangan dan problematika yang kompleks, namun tetap lebih memijakkan kakinya di atas akar tradisi Islam, dan kebenaran-kebenarannya telah memandu takdirnya sejak turunnya wahyu Alquran lebih dari 14 abad yang lalu. Pada jantung wahyu inilah berpijaknya doktrin keesaan Allah dan keniscayaan bagi umat manusia untuk mengikrarkan ajaran tauhid di dunia ini dalam kehidupan sehari-hari. (Pemikiran Dan Peradaban Islam, 1998)

Dalam Islam modernisasi berarti upaya yang sungguh-sungguh untuk melakukan reinterpretasi terhadap pemahaman, pemikiran dan pendapat tentang ke-Islaman yang dilakukan oleh pemikiran terdahulu untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman dengan demikian yang diperbaharui adalah hasil pemikiran atau pendapat bukan memperbaharui atau mengubah apa yang terdapat dalam al-Quran maupun hadis, yang diperbaharui adalah hasil pemahaman terhadap al-Quran dan hadis.

C. Bentuk-bentuk Modernisasi Islam di Indonesia

Pembaharuan dalam Islam atau gerakan modern Islam merupakan jawaban yang ditujukan terhadap krisis yang dihadapi umat Islam pada masanya. Kemunduran kerajaan Utsmani yang merupakan pemangku khalifah Islam setelah abad ke-17 M telah melahirkan kebangkitan Islam di kalangan warga Arab di pinggiran imperium Utsmani. Gerakan pembaharuan ini akhirnya menyebar luas ke berbagai belahan dunia muslim, termasuk salah satunya ke Indonesia. Adapun bentuk-bentuk pembaharuan di Indonesia yaitu:

1. Gerakan Puritanisme

Gerakan ini pertama kali diprakarsai oleh Muhammad bin Abdul Wahhab di Nejd. Gerakan puritanisme ini masuk ke Indonesia melalui tiga orang yang baru pulang dari haji di tanah suci, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Mereka melakukan penentangan terhadap praktek kehidupan beragama masyarakat Minangkabau yang telah banyak terpengaruh oleh unsur-unsur takhayul, khurafat, dan bid’ah. Karena aktivitas mereka di anggap cukup membahayakan keberadaan kaum tua atau kaum adat, maka kaum tua meminta bantuan Belanda. Pada tahun 1821-1837 M terjadilah Perang Paderi.

Dalam pertempuran yang tak seimbang itu kaum ulama mengalami kekalahan. Kekalahan ulama dalam Perang Paderi dalam menghadapi Belanda tidaklah membuat patah semangat para tokoh pejuang pembaharu itu, tetapi gerakannya semakin hebat. Gerakan pembaharuan itu tidak lagi bersifat politik agama, tetapi di alihkan ke dalam gerakan pembaharuan pendidikan.

2. Gerakan Reformisme

Gerakan reformis adalah suatu gerakan pembaharuan yang dilakukan untuk kembali kepada dasar Islam yang asli. Kelompok ini berusaha menerapkan sistem ajaran Islam seperti yang ada pada zaman Nabi SAW.

3. Gerakan Radikalisme

Gerakan ini merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh para pembaharu Islam untuk membangkitkan kembali semangat masyarakat Islam, sehingga mereka akan menjadi masyarakat yang maju. Namun sebelum itu, unsur-unsur yang terdapat dalam ajaran Islam yang tercemar oleh takhayul, bid’ah, dan khurafat harus dibersihkan terlebih dahulu. Dalam tatanan pelaksanaan pembaharuan seperti ini, biasanya cara yang ditempuh melalui bentuk-bentuk radikal yang tak jarang dengan menggunakan kekerasan. Pada umumnya, gerakan ini menentang kekuasaan Barat yang kafir.

4. Gerakan Neo-sufisme

Gerakan ini merupakan kelanjutan dari gerakan yang dilakukan para pembaharu dari kelompok tarekat atau tasawuf dengan mengambil bentuk baru. Bentuk baru itu adalah aktivisme. Bentuk aktivisme dalam gerakan ini membuat masyarakat menjadi dinamis. Bahkan dengan gerakan ini masyarakat dapat mengembangkan diri tanpa banyak bergantung kepada uluran kelompok atau bangsa lain. Di antara unsur aktivisme adalah jihad. Melalui kata kunci inilah umat Islam melakukan pembaharuan, terutama menentang segala bentuk penjajahan dan keterbelakangan. Gerakan ini banyak mewarnai berbagai pemberontakan Islam di tanah air dalam masa-masa penjajahan, misalnya pemberontakan petani Banten pada tahun 1888 M.

D. Gerakan Politik Islam di Indonesia

Di antara beberapa partai Islam yang pernah hadir di tengah-tengah masyarakat Islam Indonesia yang cukup menonjol, tercatat antara lain adalah :

1. Partai Serikat Islam Indonesia

Cikal bakal gerakan politik Islam di Indonesia diawali dengan berdirinya Serikat Dagang Islam yang didirikan oleh Haji Samanhudhi dan kawan-kawan para pedagang batik di Kota Solo pada tanggal 16 Oktober 1905, 3 tahun sebelum lahirnya Budi Utomo pada tahun 1908. Pada saat SDI dibentuk gerakannya tidak diarahkan pada bidang politik praktis, melainkan diarahkan untuk:

  1. Pertama untuk menghimpun kekuatan para pedagang baik guna melawan pedagang Cina yang memonopoli perdagangan bumbu batik dengan memainkan harga seenaknya sendiri.
  2. Kedua untuk menghadapi sikap superioritas orang-orang Cina terhadap orang-orang Indonesia sehubungan dengan berhasilnya revolusi Cina pada tahun 1991.

2. Partai Islam Masyumi

Sesungguhnya Partai Masyumi ini merupakan kelanjutan dari kegiatan politik organisasi-organisasi Islam pada akhir zaman penjajahan Belanda yang dikenal dengan nama MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia). MIAI adalah suatu wadah federasi dari semua organisasi Islam, baik yang bergerak dalam bidang politik praktis maupun yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan yang didirikan pada tanggal 21 September 1937 di Surabaya atas inisiatif KH. Mas Mansyur (Muhammadiyah), KH. Wahab Hasbullah (NU) dan Wondo Amisero (Sarekat Islam). Kemudian pada masa Pendudukan Jepang gabungan gerakan Islam yang juga bersyifat federasi semacam MIAI ini dinamakan Majelis Syura Muslimin Indonesia.

E. Gerakan Sosial Kemasyarakatan Islam di Indonesia

Beberapa organisasi Islam yang bergerak dalam bidang pembinaan kehidupan masyarakat (infrastruktur), lewat gerakan dakwah Islam amar makruf nahi munkar yang dalam ajarannya secara konsisten berpegang pada tiga prinsip, yaitu:

  1. Mengajak kepada umat untuk kembali pada ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah secara murni.
  2. Membuka pintu ijtihad selebar-lebarnya kepada siapapun yang telah berhak memeluknya.
  3. Mengamalkan ajaran Islam secara konsisten, bersih dari berbagai gejala kemusyrikan, khurafat, bid’ah, dan taqlid.

Organisasi yang beridentitas seperti di atas antara lain adalah Gerakan Al-Islah wal Irsyad, Persatuan Islam dan Muhammadiyah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Perkembangan Islam pada masa modern ini mempunyai banyak problema-problema dalam Negeri. Terutama masalah politik. Islam dewasa ini perkembangannya dipengaruhi oleh kekuatan politik yang ada, seperti Partai-partai dan organisasi Islam ( Muhammadiyah dan NU). Di samping itu, organisasi-organisasi Islam terutama Muhammadiyah dan NU, dua organisasi terbesar di tanah air, terus diperhatikan oleh setiap kekuatan. Di samping itu, organisasi-organisasi Islam terutama Muhammadiyah dan NU, dua organisasi terbesar di tanah air, terus diperhatikan oleh setiap kekuatan politik.

Kebangkitan Islam dewasa ini, bagaimanapun akan mempunyai dampak politik juga. umat Islam dengan segala keberaniannya telah melepaskan suatu wadah politik. Dengan lapang dada, mereka menerima Pancasila dan berharap dapat mengisinya dengan nilai-nilai agama. Mereka ingin agar pihak-pihak lain yang selama ini memandang curiga terhadap “Islam” dapat mempercayai ulama-ulama dan tokoh-tokoh Islam lainnya.

B. Saran

Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami menyarankan kepada teman-teman sesama mahasiswa untuk mencari informasi lain sebagai tambahan dari apa yang telah kami uraikan di atas.

DAFTAR PUSTAKA

Mansur. 2004. Peradaban Islam Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta: Global Pustaka Utama.

Munthoha, Wijayanto, Fu’ad Nashori, Basit Wahid. 1998. Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: UII Press.

Supriyadai, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.

Yatim, Badri. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Download Contoh Makalah Gerakan Modernisasi Islam di Indonesia.docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH