Wirausaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah Wirausaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku umatnya.

Makalah ini kami buat untuk melengkapi tugas mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah Wirausaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah Wirausaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Kami mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga makalah Wirausaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Indonesia, Maret 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Wirausaha kerajinan bahan limbah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan. Limbah merupakan salah satu hasil dari suatu kegiatan atau proses. Limbah, berdasarkan wujudnya dapat dibagi menjadi limbah padat, cair, dan gas. Satu kegiatan industri atau rumah tangga dapat menghasilkan lebih dari satu macam limbah padat. Contohnya, dari kegiatan di pabrik garmen yang memproduksi pakaian, dihasilkan limbah berupa sisa potongan kain dengan berbagai ukuran, sisa benang, dan sisa selongsong benang yang terbuat dari karton atau plastik. Kegiatan rumah tangga juga menghasilkan limbah seperti limbah botol plastik, limbah kertas, dan limbah kain atau baju yang sudah tidak dapat dipakai lagi.

Limbah berbentuk bangun ruang adalah limbah yang berbentuk bangun yang berdimensi tiga, yaitu bahan limbah yang memiliki volume (ruang) sehingga limbah tersebut dapat berdiri serta memiliki volume atau keruangan. Limbah berbentuk bangun ruang dapat berupa bangun berbentuk beraturan seperti kubus, bola, kotak, dan bangun tidak beraturan. Contoh bahan limbah berbentuk bangun ruang adalah limbah botol, limbah kaleng, limbah kayu, dan lain-lain.

Awalnya produk kerajinan di Indonesia hanya digunakan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan juga digunakan untuk keperluan ritual tertentu. Akan tetapi seiring dengan perkembangan serta kemajuan jaman dan teknologi, produk kerajinan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau keperluan ritual saja, namun produk kerajinan kini juga dapat berfungsi sebagai hiasan interior maupun eksterior. Dengan adanya kreativitas dan perkembangan serta kemajuan teknologi dan adanya berbagai penelitian yang dilakukan oleh masyarakat, kelompok, atau perguruan tinggi, akhirnya bahan yang dapat dipakai untuk membuat kerajinan pun semakin bervariasi, termasuk di antaranya yaitu bahan kerajinan yang berasal dari limbah.

Sampah anorganik berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol plastik, tas plastik, dan kaleng.

Salah satu pemanfaatan limbah anorganik adalah dengan cara proses daur ulang (recycle). Daur ulang merupakan upaya untuk mengolah barang atau benda yang sudah tidak dipakai agar dapat dipakai kembali. Beberapa limbah anorganik yang dapat dimanfaatkan melalui proses daur ulang, misalnya plastik, gelas, logam, dan kertas.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas di dalam makalah tentang Wirausaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana perencanaan usaha kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang?
  2. Bagaimana sistem produksi usaha kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang?
  3. Bagaimana perhitungan titik impas (break even point) usaha kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang?
  4. Bagaimana strategi promosi produk hasil usaha kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang?
  5. Bagaimana laporan kegiatan usaha kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang?

C. Tujuan

Adapun tujuan dalam penulisan makalah tentang Wirausaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui perencanaan usaha kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang.
  2. Untuk mengetahui sistem produksi usaha kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang.
  3. Untuk mengetahui perhitungan titik impas (break even point) usaha kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang.
  4. Untuk mengetahui strategi promosi produk hasil usaha kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang.
  5. Untuk mengetahui laporan kegiatan usaha kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Perencanaan Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Untuk menjadi wirausahawan profesional, harus memiliki perencanaan usaha yang baik. Aspek-aspek penting dalam perencanaan usaha produk kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang adalah sebagai berikut.

1. Ide dan Peluang Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Menganalisis peluang usaha bertujuan untuk mencari dan melaksanakan kegiatan usaha yang menguntungkan. Rencana dalam berwirausaha perlu dianalisis untuk mengenali kelemahan-kelemahan yang dapat mengakibatkan kesulitan-kesulitan keberlangsungan usaha. Analisis usaha ini juga dapat digunakan untuk mencari strategi alternatif dalam bidang penjualan, bauran produk, investasi, pengembangan staf, pengendalian usaha, pengendalian biaya dan lain-lain.

Faktor-faktor yang menjadi dasar pertimbangannya adalah sebagai berikut:

a. Faktor Keuntungan

Apakah usaha yang ditetapkan itu mendatangkan keuntungan atau tidak, jika setelah diperhitungkan ternyata tidak memberi keuntungan yang memadai, sebaiknya pilihan bersangkutan dibatalkan.

b. Faktor Penguasaan Teknis

Cara pembuatan produk kerajinan perlu dikuasai atau dipelajari dengan baik oleh para karyawan/pengrajin.

c. Faktor Pemasaran

Harus diteliti kemungkinan pemasaran dan prospek pemasarannya di waktu mendatang.

d. Faktor Bahan Baku

Bahan baku merupakan faktor penting yang ikut menentukan tingkat harga pokok dan kelancaran proses produk usaha kerajinan.

e. Faktor Tenaga Kerja

Pada faktor tenaga kerja ini yang perlu dipertimbangkan adalah tersedianya tenaga kerja yang murah dan kemungkinan untuk memenuhinya baik jumlah, keahlian maupun jasa.

f. Faktor Modal

Perlu dipertimbangkan kesesuaian antara modal yang disediakan dan kebutuhan jenis usaha kerajinan yang dibutuhkan.

g. Faktor Risiko

Tingkat risiko yang akan ditanggung perlu dipertimbangkan dengan besarnya keuntungan yang akan diperoleh.

h. Faktor Persaingan

Perlu dipelajari situasi yang akan terjadi dan disesuaikan dengan kemampuan menghadapinya dalam hal modal maupun pemasarannya.

i. Faktor Fasilitas dan Kemudahan

Fasilitas yang dibutuhkan untuk operasi usaha kerajinan dan kemudahan penyediaannya menjadi pertimbangan. Kemudahan yang mungkin dapat diperoleh dari pemerintah seperti pajak, dan lain-lain.

j. Faktor Manajemen

Pertimbangan penting lainnya adalah produk pengelolaannya yang paling sesuai dan bagaimana kemampuan pengusaha untuk mengelolanya. Hal ini sering diabaikan dalam mendirikan perusahaan kecil. Faktor lain yang perlu menjadi pertimbangan adalah peraturan pemerintah, perizinan, pertimbangan etis, lingkungan, dan sebagainya.

Jika wirausaha sudah menetapkan jenis usaha kerajinan sesuai dengan yang diinginkan dan sudah melalui berbagai macam pertimbangan, tugas yang perlu diperhatikan oleh seorang wirausaha adalah mempertimbangkan hal-hal berikut:

  1. Jenis usaha kerajinan yang sesuai dengan hasrat dan minat.
  2. Jenis usaha kerajinan yang benar-benar akan membawa suatu keuntungan.
  3. Jenis usaha kerajinan yang mudah mengurus dan mengerjakannya.
  4. Jenis usaha kerajinan yang mudah memeliharanya.
  5. Jenis usaha kerajinan yang produknya disenangi dan dibutuhkan konsumen.
  6. Jenis usaha kerajinan yang bahan bakunya mudah didapat.
  7. Jenis usaha kerajinan yang mendapat dukungan serta perlindungan pemerintah.

Menganalisis peluang usaha harus dimulai dengan perencanaan yang matang dan penuh perhitungan tentang segala kemungkinan yang akan menggagalkan usaha. Kita tidak boleh asal-asalan atau meniru tanpa berpikir dan dianalisis. Dengan adanya analisis SWOT (strength = kekuatan, weakness = kelemahan, opportunity = peluang, dan threat = ancaman), berarti kalian dapat mengetahui peta peluang usaha dan ancaman apa yang ada. Dengan tersedianya informasi intern dan ekstern, maka perusahaan akan dapat mengetahui:

  1. Di mana usaha itu ada peluang (opportunity) untuk maju dan sukses?
  2. Apa saja yang akan mengancam perusahaan (threat)?
  3. Adakah kekuatan (weakness) yang membatasi atau menghambat kemampuan dalam mencapai sasaran usaha?

2. Sumber Daya yang Dibutuhkan dalam Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Faktor-faktor sumber daya yang pendukung keberhasilan usaha produk kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang adalah sebagai berikut.

a. Faktor Manusia

Faktor manusia merupakan faktor yang utama dalam pencapaian keberhasilan usaha karena manusia yang mempunyai ide dan rencana usaha, manusia juga yang akan mewujudkannya. Di sini diperlukan manusia yang beretos kerja tinggi, rajin, optimis dan pantang menyerah.

b. Faktor Keuangan

Faktor keuangan merupakan faktor penunjang keberhasilan usaha. Faktor tersebut digunakan untuk modal usaha serta pemenuhan segala pengeluaran untuk kepentingan operasi produksi seperti pembelian bahan baku, bahan pembantu, gaji pegawai, promosi, dan biaya distribusi. Dalam hal ini diperlukan kedisiplinan yang ketat dalam penggunaan dana sehingga segala kegiatan keuangan harus dicatat dan dibukukan secara rapi, teliti, dan terus-menerus.

c. Faktor Organisasi

Dengan adanya faktor organisasi maka sumber daya akan masuk pada suatu pola, sehingga orang-orang akan dapat bekerja dengan efektif dan efisien sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan adanya organisasi berarti seorang wirausaha dapat:

  1. Mempertegas hubungan dengan para karyawan
  2. Menciptakan hubungan antar karyawan.
  3. Mengetahui tugas yang akan dijalankan.
  4. Mengetahui kepada siapa karyawan harus bertanggung jawab.
d. Faktor Perencanaan

Perencanaan usaha dapat digunakan sebagai alat pengawas dan pengendalian usaha. Oleh karena itu, perencanaan harus dibuat oleh wirausaha sejak usaha didirikan, yaitu dimulai dari:

  1. Merencanakan produk apa yang akan dibuat.
  2. Memperhitungkan jumlah dana yang diperlukan.
  3. Merencanakan jumlah produk yang akan dibuat.
  4. Merencanakan tempat pemasaran produk.
e. Faktor Mengatur Usaha

Dalam kaitannya dengan kegiatan mengatur usaha, yang perlu dilakukan wirausahawan adalah sebagai berikut:

  • Menyusun uraian tugas pokok untuk menjalankan usahanya.
  • Menyusun struktur organisasi usaha.
  • Memperkirakan tenaga kerja yang dibutuhkan.
  • Menetapkan balas jasa dan insentif.
  • Membuat jadwal usaha.
  • Pengaturan mesin-mesin produksi.
  • Pengaturan tata laksana usaha.
  • Penataan barang-barang.
  • Penataan administrasi usaha.
  • Pengawasan usaha dan pengendaliannya.
f. Faktor Pemasaran

Faktor pemasaran produk kerajinan adalah sebagai berikut ini:

  1. Daya serap pasar dan prospeknya.
  2. Kondisi pemasaran dan prospeknya.
  3. Program pemasarannya.
g. Faktor Administrasi

Untuk menunjang kelancaran kegiatannya, sebaiknya seorang wirausaha mempunyai catatan yang rapi mengenai kegiatan dan kejadian yang terjadi setiap harinya. Catatan tersebut dibuat secara kronologis dan kemudian didokumentasikan.

3. Perencanaan Administrasi Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Beberapa aspek penting dalam perencanaan administrasi usaha:

a. Mengurus Izin Usaha

Izin usaha adalah alat untuk membina, mengarahkan, mengawasi dan melindungi pengelolaan usaha. Surat izin usaha, antara lain Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dan Izin HO (Lingkungan). SITU/HO umumnya dikeluarkan oleh Pemda Tingkat 1 dan Tingkat 2 sepanjang ketentuan-ketentuan undang-undang gangguan (HO) mewajibkannya. Prosedur pengurusan surat izin tempat usaha atau izin HO, antara lain:

  1. Meminta izin tertulis dari tetangga.
  2. Setelah diketahui RT dibawa ke kelurahan dan kecamatan.
  3. Selanjutnya, dibawa ke kota/kabupaten untuk memperoleh SITU/HO.
  4. Membayar biaya izin dan heregistrasi.

Kelengkapan persyaratan SITU:

  • Permohonan yang telah disediakan.
  • Fotokopi KTP.
  • Fotokopi akta tanah.
  • Fotokopi pembayaran PBB.
  • Surat persetujuan dari masyarakat diketahui Kades dan Camat.
  • Rekomendasi dari Camat.
  • Fotokopi IPPL dari Dinas Tata Ruang.
  • Izin lokasi dari BPN.
  • Fotokopi IMB.
  • Surat dari BKPM/BKPMD.
  • SITU/IUUG.
  • Fotokopi NPWP.
  • Fotokopi retribusi.
  • Fotokopi akta pendirian perusahaan yang berbadan hukum.
  • Surat pelimpahan penggunaan tanah.
b. Penetapan Besarnya Retribusi

Ketentuan tata cara perhitungan retribusi SITU, adalah Luas ruang usaha X angka indeks lokasi X angka indeks gangguan X tarif.

  1. Tarif luas ruang usaha.
  2. Indeks lokasi.
  3. Klasifikasi indeks gangguan.
  4. Ketentuan tata cara perhitungan retribusi heregistrasi.
c. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)

SIUP adalah surat izin yang diberikan oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk kepada pengusaha untuk melaksanakan usaha dibidang perdagangan dan jasa. Beberapa keuntungan dengan memiliki SIUP adalah:

  1. Mendapat jaminan perlindungan hukum untuk kelangsungan dan kepastian usaha.
  2. Mempermudah dalam proses pengajuan kredit kepada perbankan/lembaga keuangan.
  3. Bukti memiliki dan menjalankan usaha bila akan melakukan kerja sama dengan pihak ketiga.
  4. Mendapat prioritas pembinaan dari instansi pemerintah yang menangani pembinaan usaha kecil.

Tata cara memperoleh SIUP adalah :

  1. Datang ke Bagian Urusan Perizinan, Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah Tingkat 1 atau Tingkat 2.
  2. Mengisi dan mengajukan Surat Pengajuan Izin (SPI) dengan melampirkan syarat:
    1. Fotokopi akta notaris tentang pendirian usaha.
    2. Fotokopi dari pemilik perusahaan.
    3. Pas foto dari pemilik perusahaan 4 lembar, ukuran 3 x 4 cm.
    4. Menyerahkan kembali formulir dan persyaratan lainnya kepada petugas bagian perizinan.
d. Pengurusan Pajak
1) Pengajuan NPWP

Pada umunnya yang diwajibkan didaftar dan mendapatkan NPWP adalah :

  1. Badan yang memiliki subyek pajak penghasilan yaitu PT, CV, Firma, BUMN/BUMD.
  2. Orang perorangan/pribadi wajib pajak yang mempunyai penghasilan netto di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
2) Fungsi Pajak
  1. Untuk mengetahui identitas wajib pajak
  2. Untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak
  3. Sebagai sarana pengawasan administrasi perpajakan.
3) Pencantuman NPWP
  1. Formulir pajak yang digunakan wajib pajak.
  2. Surat menyurat dalam hubungan perpajakan.
  3. Dalam hubungan dengan instansi tertentu yang mewajibkan mengisi NPWP.
4) Pendaftaran NPWP

Dokumen-dokumen yang harus disiapkan adalah:

  1. Fotokopi akta pendirian atau akta perubahan yang terakhir.
  2. Fotokopi SITU atau surat keterangan dari instansi yang berwenang.
  3. Fotokopi KTP/Kartu Keluarga/Paspor pengurus.
  4. Fotokopi kartu NPWP Kantor Pusat/Cabang.
  5. Surat Kuasa bagi yang mewakilinya.
e. Membuka Rekening Bank

Prosedur untuk membuka rekening bank adalah dengan mendaftarkan diri di bank dan mengisi formulir pendaftaran yang berisi:

  1. Pemilik kegiatan usaha.
  2. Alamat.
  3. Nama pengurus.
  4. Alamat dan pengenal pengurus.
  5. Tanggal mulainya usaha.
  6. Nama referensi.
f. Tanda Daftar Perusahaan (TDP)

Tanda Daftar Perusahaan (TDP) atau Nomor Registrasi Perusahaan (NRP). Setelah memiliki SIUP dan NPWP, wirausaha bisa mendaftarkan perusahaannya ke Depearindag setempat dengan prosedur sebagai berikut:

  1. Mengisi formulir pendaftaran
  2. Melampirkan fotokopi KTP, NPWP, SIUP dan Akta Pendirian
  3. Membayar biaya administrasi
  4. Dengan menunjukkan bukti pembayaran, wirausaha dapat mengambil tanda daftar perusahaannya.
g. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

AMDAL adalah studi mengenai akibat pada lingkungan sebagai akibat aktivitas kegiatan usaha. Jenis usaha yang diperkirakan mempunyai pengaruh besar terhadap keseimbangan ekosistem di antaranya:

  1. Jenis usaha pengolahan lahan dan bentang alam.
  2. Jenis usaha eksploitasi sumber daya alam baik yang terbarui maupun yang tidak.
  3. Jenis usaha yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan sosial dan budaya.
  4. Jenis usaha yang hasilnya dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan atau lingkungan cagar budaya.
  5. Jenis usaha proses dan kegiatan yang pemanfaatannya secara potensial dapat menimbulkan pemborosan, kerusakan dan kemerosotan sumber daya alam.
  6. Jenis usaha introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan dan jasa renik.
  7. Jenis usaha pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non-hayati
  8. Jenis usaha penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk memengaruhi lingkungan.
  9. Jenis usaha yang mempunyai resiko tinggi, dan mempengaruhi pertahanan negara.

Dokumen yang perlu dipersiapkan dalam mengurus AMDAL adalah:

  1. Fotokopi KTP/SIM dari penanggung jawab/pemilik.
  2. Fotokopi akta pendirian perusahaan.
  3. Fotokopi SITU.
  4. Fotokopi NPWP.
  5. Fotokopi NRP.
  6. Foto copy denah, gambar, lokasi perusahaan yang menimbulkan dampak terhadap lingkungan.

4. Perencanaan Pemasaran Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Secara ekonomi produk kerajinan dapat menjanjikan dan memiliki peluang pasar yang menggembirakan apalagi ditunjang dengan melimpahnya bahan baku, tenaga kerja yang relatif murah dibanding negara lain, sehingga dapat menekan biaya produksi. Penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli (kemampuan) konsumen.

Faktor pemasaran dapat dikatakan berhasil jika jangkauan pasar semakin luas dan masa produksi dapat bertahan dalam waktu yang lama. Untuk itu hal-hal yang perlu dipertimbangkan, meliputi sasaran pasar, selera konsumen, citra produk, saluran distribusi, dan penentuan harga. Zaman dahulu ketika negara sedang tumbuh, promosi mungkin tidak terlalu penting karena masyarakat memang mencari dan menumbuhkan suatu barang. Seiring dengan perkembangan ekonomi dan munculnya persaingan-persaingan di pasar, seorang wirausahawan harus memikirkan strategi promosi dan penjualan agar bisnisnya tetap berjalan dengan baik.

Ada tiga elemen penting dari sasaran atau target sebuah promosi, yaitu:

  1. Pembentukan merek (branding).
  2. Layanan kepada konsumen yang berupa komunikasi dan pemberian informasi.
  3. Menciptakan kesetiaan pelanggan.

Ada enam kegiatan dan rencana pemasaran yang bisa dilakukan untuk mengomunikasikan produk dan merek usaha, yaitu sebagai berikut:

a. Penjualan Personal (Personal Selling)

Penjualan personal adalah bentuk komunikasi yang menggunakan media individu. Sistem komunikasi antara perusahaan dan konsumen dilakukan oleh tenaga penjual atau wiraniaga. Sistem komunikasi dengan cara penjualan personal banyak dilakukan untuk produk-produk jasa, distribusi, perdagangan, dan lain-lain. Penjualan personal digunakan jika anggaran promosi tidak terlalu besar.

b. Iklan (Advertising)

Ikan adalah komunikasi produk melalui media dan tidak dilakukan secara individu atau perorangan. Melalui sistem komunikasi diharapkan calon pelanggan bisa melihat, mendengar, membaca, mengenal dan akhirnya tertarik dengan produk yang diiklankan di sebuah media, misalnya spanduk, banner, internet, radio, atau televisi.

c. Promosi Penjualan (Sales Promotion)

Promosi digunakan untuk memasarkan dan mengomunikasikan pesan produk kepada calon konsumen. Promosi penjualan terdiri dari beragam alat promosi yang dirancang untuk mengetahui kecepatan dan kekuatan rangsangan dan respons pasar terhadap produk.

d. Publikasi (Publication)

Publikasi mencakup pengaturan komunikasi massa di luar iklan dan promosi penjualan. Biasanya publikasi bertujuan untuk meningkatkan penjualan atau memperkuat merek secara tidak langsung dan tidak bersifat menjual.

e. Sponsorship

Sponsorship merupakan aplikasi dalam mempromosikan produk atau merek yang berasosiasi dengan kegiatan perusahaan lain atau kegiatan pemerintah dan masyarakat.

f. Komunikasi di Tempat Konsumen yang Akan Membeli (Pint Of Purchase)

Komunikasi dengan sistem ini bertujuan untuk mempengaruhi seseorang pada saat orang tersebut akan mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk.

B. Sistem Produksi Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

1. Aneka Produk Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Kerajinan pada awalnya merupakan budaya tradisional yang kini menjadi komoditi negara yang dapat meningkatkan devisa. Di antara sejumlah kerajinan nusantara, ada yang tetap mempertahankan bentuk dan ragam hias tradisionalnya tetapi ada pula yang telah dikembangkan sesuai dengan tuntutan pasar. Berdasarkan bahannya, produk kerajinan dari bahan limbah dapat dibagi menjadi dua yaitu kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun datar dan kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang. Berikut ini dijelaskan beberapa produk kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang.

a. Kerajinan dari Limbah Bunga Kering

Di sekitar kita tentunya banyak limbah dari bunga kering yang tidak dimanfaatkan, bahkan limbah tersebut menjadi sampah yang tidak enak dipandang. Limbah bunga kering dapat dimanfaatkan untuk karya kerajinan yang sangat indah. Produk karya kerajinan dari limbah bunga kering antara lain: bunga hias, hiasan buku, hiasan dinding, dan lain-lain. Berikut contoh pemanfaatan limbah bunga kering untuk kerajinan hiasan.

b. Kerajinan dari Limbah Tempurung Kelapa

Tempurung kelapa biasa disebut juga dengan batok. Batok biasanya banyak terdapat pada daerah pesisir pantai yang banyak ditumbuhi pohon nyiur atau pohon kelapa. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kerajinan dari batok kelapa cukup mudah untuk didapatkan, seperti lem kayu, tempurung kelapa, dempul, melamin/pelitur, ampelas, dan cat. Agar terlihat artistik, serat dari tempurung kelapa harus ditonjolkan. Pada bagian serat itulah terdapat nilai seni yang berkualitas. Berikut contoh produk kerajinan dari limbah tempurung kelapa.

c. Kerajinan dari Limbah Kayu

Limbah kayu ternyata dapat dimanfaatkan untuk bahan kerajinan yang bermutu. Semua ini dibuktikan dengan semakin banyaknya produk-produk aneka kerajinan dari limbah kayu.

d. Kerajinan dari Limbah Akar Bambu

Limbah akar bambu biasanya hanya dibakar. Namun bagi orang yang kreatif, limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai barang seni yang sangat indah.

e. Kerajinan dari Limbah Tulang Ikan

Apabila melihat limbah tulang ikan, tentu akan melihat pemandangan yang tidak baik. Namun, limbah tulang ikan dapat dibuat menjadi kerajinan yang unik. Kerajinan dari tulang ikan ini banyak dikembangkan oleh pengrajin Ubud di Bali. Ragam kerajinan tangan dari bahan tulang ikan sangat bervariasi seperti perhiasan gelang dan kalung atau miniatur. Cara memasarkan kerajinan ini antara lain dengan memamerkannya di art shop sekitar tempat wisata.

f. Kerajinan dari Limbah Kulit Kerang

Limbah kulit kerang/cangkang kerang dapat dibuat kerajinan yang indah dan unik. Kulit kerang yang berukuran kecil dan pipih dapat dibuat sebagai pelapis tempat sabun, penghias bingkai foto atau cermin, kap lampu, kotak perhiasan, aneka lampu, dan sebagainya. Sedangkan kerang-kerang yang berukuran sedang dapat dijadikan sebagai tirai, replika hewan, bunga, miniatur bangunan, dan masih banyak lagi.

g. Kerajinan dari Limbah Botol Plastik

Limbah botol air mineral bagi kebanyakan orang di anggap sebagai sampah yang kurang bermanfaat. Botol plastik bekas bisa kita jadikan sebagai suvenir yang cantik dan berkualitas. Di samping untuk menjaga kebersihan lingkungan, pemanfaatan limbah botol plastik dapat memberikan penghasilan tambahan.

h. Kerajinan dari Limbah Styrofoam/Gabus

Pemakaian Styrofoam banyak sekali digunakan masyarakat kita di berbagai bidang dan kalangan. Bagi para penjual makanan biasanya sebagai pembungkus makanan. Styrofoam juga banyak dipakai dalam produk-produk elektronik sebagai casing, kabinet dan komponen-komponen lainya, untuk pelindung pengepakan. Styrofoam merupakan limbah anorganik yang sulit hancur oleh tanah. Bila ditinjau dari faktor alam atau lingkungan, stryrofoam berbahaya karena bila sampahnya terus menumpuk dan tidak ada upaya mendaur ulang maka akan dapat menimbulkan timbunan sampah yang sulit diurai. Sampah stryrofoam ini sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk kerajinan yang unik dan indah. Misalnya dengan memanfaatkan styrofoam untuk mainan anak-anak, hiasan dinding, pot bunga, dan lain-lain.

i. Kerajinan dari Limbah Karet Ban

Limbah karet ban semakin hari semakin banyak dengan bertambahnya kendaraan bermotor, apabila hanya dibuang dan dibakar tentunya akan mengotori lingkungan. Limbah karet ban dapat dimanfaatkan untuk produk kerajinan yang unik dan indah. Produk kerajinan dari limbah ban bekas dapat dibuat menjadi kursi, meja, dan beberapa furnitur lainnya.

j. Kerajinan dari Limbah Kaleng

Limbah kaleng merupakan sampah dari produk minuman dan beberapa makanan yang diawetkan. Contohnya minuman penyegar, manisan buah, daging kornet, dan sebagainya. Kaleng biasanya banyak terdapat pada daerah perkotaan. Pengolahan limbah kaleng memang tidak semudah yang dibayangkan. Dalam membentuk kaleng menjadi produk yang diinginkan dapat digunakan gunting seng. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kerajinan dari limbah kaleng cukup mudah untuk didapatkan di lingkungan sekitar.

k. Kerajinan dari Limbah Botol Kaca

Limbah botol kaca merupakan salah satu limbah rumah tangga. Jika diperhatikan botol kaca memiliki warna-warni yang beragam, seperti berwarna hijau, coklat, biru, kuning, atau merah. Botol kaca bekas jika dijual ke penadah hanya dapat menghasilkan beberapa ribu rupiah saja, tetapi jika diolah dengan teknologi tinggi seperti pemanasan, botol kaca ini akan berubah menjadi batu-batu cantik yang berkilau dan dapat dibuat menjadi berbagai aksesoris atau hiasan lainnya. Selain untuk aksesoris batu-batu indah dari kaca ini dapat pula dijadikan manik-manik yang digunakan sebagai penghias benda seperti tas, sandal, buku, guci, kap lampu, dan sebagainya.

l. Kerajinan dari Limbah Logam

Limbah logam yang berbahaya ternyata dapat dimanfaatkan untuk produk kerajinan. Berbagai limbah logam dapat dimanfaatkan menjadi berbagai mainan miniatur. Contohnya miniatur kapal laut, sepeda motor, mobil, robot hewan atau manusia, dan lain-lain.

2. Manfaat Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Seperti pada produk kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun datar, produk kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang juga memiliki fungsi sebagai berikut.

a. Manfaat Produk Kerajinan sebagai Benda Pakai

Produk kerajinan yang diciptakan mengutamakan fungsinya, adapun unsur keindahan hanyalah sebagai pendukung. Berikut contoh karya kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang sebagai benda pakai.

b. Manfaat Produk Kerajinan sebagai Benda Hias

Produk kerajinan yang dibuat sebagai benda pajangan atau hiasan. Jenis ini lebih menonjolkan aspek keindahan daripada aspek kegunaan atau segi fungsinya.

3. Potensi Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Masing-masing daerah memiliki ciri khas kerajinan yang menjadi unggulan daerahnya. Hal ini tentu dikarenakan sumber daya dari masing-masing daerah berbeda-beda. Di bawah ini merupakan contoh hasil limbah berbentuk bangun ruang yang dapat dimanfaatkan untuk kerajinan, dilihat dari kondisi wilayahnya.

a. Daerah Pesisir Pantai atau Laut

Limbah berbentuk bangun ruang yang banyak tersedia adalah cangkang kerang laut, tulang ikan, tempurung kelapa, sabut kelapa, dan lainnya.

b. Daerah Pegunungan

Limbah berbentuk bangun ruang yang banyak dihasilkan di daerah ini adalah biji-bijian kering, buah-buahan kering, kulit durian, dan lainnya.

c. Daerah Pertanian

Limbah berbentuk bangun ruang yang didapat pada daerah ini adalah biji-bijian kering, bunga kering, kulit pohon kering, dan lainnya.

d. Daerah Perkotaan

Limbah berbentuk bangun ruang yang dihasilkan di daerah perkotaan biasanya kulit kacang, kulit telur, kemasan plastik, botol plastik, botol kaca, kemasan kaleng, dan lainnya.

Berbagai macam limbah berbentuk bangun ruang tersebut merupakan potensi yang sangat bermanfaat untuk bahan pembuatan produk kerajinan. Proses pengolahan masing-masing bahan limbah berbentuk bangun ruang secara umum adalah sama. Pengolahan dapat dilakukan secara manual maupun menggunakan mesin.

4. Perencanaan Produksi Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Perencanaan produksi kerajinan umumnya lebih menitikberatkan pada nilai-nilai keunikan (uniqueness) dan estetika (keindahan), sementara dalam pemenuhan fungsinya lebih menekankan pada pemenuhan fungsi pakai yang lebih bersifat fisik (fisiologis), misalnya benda-benda pakai, perhiasan, furnitur, sandang, dan sebagainya. Dalam perkembangannya produk kerajinan tidak dapat melepaskan diri dari unsur-unsur seni pada umumnya. Sentuhan-sentuhan estetik sangat penting untuk mewujudkan karya kerajinan yang bermutu dan bernilai ekonomis.

Pada produk kerajinan, aspek fungsi menempati porsi utama, maka karya kerajinan harus mempunyai nilai ergonomis yang meliputi kenyamanan, keamanan dan keindahan (estetika). Penerapan unsur ergonomis pada produk kerajinan yang memiliki fungsi pakai sangat penting, karena produk kerajinan tersebut lebih mengutamakan fungsi dan kegunaannya. Berikut ini adalah beberapa persyaratan dalam perencanaan produksi kerajinan dari bahan limbah berbentuk bangun ruang.

a. Menentukan Bahan/Material Produksi Kerajinan

Pemilihan bahan/material dalam pembuatan karya kerajinan sangat penting, karena material akan mendukung nilai bentuk, kenyamanan terutama dalam menggunakan benda terapan dan juga akan mempengaruhi kualitas dari barang tersebut.

b. Menentukan Teknik Produksi

Beberapa jenis kerajinan memiliki alat dan keterampilan khusus untuk mewujudkannya. Teknik produksi kerajinan disesuaikan dengan bahan, alat dan cara yang digunakan. Dalam pelaksanaan pembuatan produk-produk kerajinan yang menggunakan bahan limbah berbentuk bangun ruang dapat dilakukan dengan teknik pahat, teknik ukir, teknik konstruksi atau sambungan, teknik raut, teknik bubut, dan sebagainya.

Sedangkan teknik yang digunakan dalam pembuatan barang-barang kerajinan dengan menggunakan bahan limbah berbentuk bangun ruang dapat dilakukan dengan teknik pahat, teknik cetak, teknik ukir, teknik kolase, dan sebagainya.

5. Alat dan Bahan yang Dibutuhkan dalam Memproduksi Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Beberapa karya kerajinan memiliki peralatan khusus yang tidak dipergunakan pada jenis karya lainnya. Tetapi ada juga alat atau bahan yang dipergunakan hampir di semua proses berkarya kerajinan. Alat-alat tulis (gambar) misalnya, adalah peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan hampir seluruh jenis karya kerajinan, terutama saat membuat rancangan karya kerajinan tersebut.

Bahan berkarya kerajinan adalah material habis pakai yang digunakan untuk mewujudkan karya kerajinan tersebut. Ada bahan yang berfungsi sebagai bahan utama (medium) dan ada pula sebagai bahan penunjang. Ketika membuat karya-karya kerajinan hiasan dari bahan limbah botol bekas, maka botol bekas sebagai bahan utamanya serta cat dan lem sebagai bahan penunjang.

Bahan untuk berkarya kerajinan dari bahan bekas dapat dikategorikan menjadi bahan alami dan bahan sintetis. Bahan baku alami adalah material yang bahan dasarnya berasal dari alam. Bahan-bahan ini dapat digunakan secara langsung tanpa proses pengolahan terlebih dahulu. Bahan baku olahan adalah bahan-bahan alam yang telah diolah melalui proses industri tertentu menjadi bahan baru yang memiliki sifat dan karakter khusus.

6. Proses Produksi Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Kualitas karya kerajinan ditentukan oleh kualitas bahan, teknik pengerjaan, desain, dan nilai fungsi. Pemilihan bahan sangat penting karena bahan memiliki kekuatan, bentuk yang bervariasi, tekstur, serat, pori-pori, yang semua ini dapat dimanfaatkan untuk menunjang kualitas bentuk dan estetik karya kerajinan. Teknik penciptaan yang baik dapat menentukan kesempurnaan bentuk karya. Sedangkan aspek fungsi dapat menambah kenyamanan dan keamanan penggunaan produk kerajinan (ergonomis). Nilai estetik karya kerajinan dapat menambah kepuasan rasa indah bagi pemilik atau pemakai. Kerajinan mempunyai fungsi ganda selain fungsi praktis sekaligus sebagai fungsi hiasan.

7. Pengemasan Produk Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Pengemasan merupakan sistem yang terkoordinasi untuk menyiapkan barang menjadi siap untuk ditransportasikan, didistribusikan, disimpan, dijual, dan dipakai. Adanya wadah atau pembungkus dapat membantu mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi produk yang ada di dalamnya, melindungi dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik (gesekan, benturan, getaran). Di samping itu pengemasan berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan atau produk industri agar mempunyai bentuk-bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan distribusi. Dari segi promosi wadah atau pembungkus berfungsi sebagai perangsang atau daya tarik pembeli. Karena itu bentuk, warna dan dekorasi dari kemasan perlu diperhatikan dalam perencanaannya.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perancangan kemasan, antara lain pertama kemasan harus menarik. Kalau kemasan tidak atau kurang menarik maka ia akan kehilangan fungsinya, karena suatu produk harus bersaing dengan berpuluh-puluh produk lainnya dalam kategori yang sama di tempat penjualan. Salah satu cara adalah dengan penggunaan warna yang cermat, karena konsumen melihat warna jauh lebih cepat daripada melihat bentuk atau rupa. Dan warnalah yang pertama kali terlihat bila produk berada di tempat penjualan. Warna yang terang akan lebih terlihat dari jarak jauh, karena memiliki daya tarik dan dampak yang lebih besar. Kedua, konten (isi) kemasan harus dapat memberikan informasi dan daya tarik tentang barang yang dikemas. Pengemasan untuk produk kerajinan dengan tingkat mobilitas/transportasi yang jauh harus dirancang agar produk kerajinan tersebut tidak rusak.

C. Perhitungan Titik Impas (Break Even Point) Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

1. Pengertian Titik Impas (Break Even Point) Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Break Even Point (BEP) ialah titik impas di mana posisi jumlah pendapatan dan biaya sama atau seimbang, sehingga tidak terdapat keuntungan ataupun kerugian dalam suatu perusahaan. Break Even Point ini digunakan untuk menganalisis proyeksi sejauh mana banyaknya jumlah unit yang diproduksi atau sebanyak apa uang yang harus diterima untuk mendapatkan titik impas atau kembali modal.

2. Manfaat Titik Impas (Break Even Point) Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

    1. Jumlah penjualan minimal harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
    2. Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu.
    3. Seberapa jauhkah yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu.
    4. Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita rugi.
    5. Untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual biaya dan volume penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh.

3. Analisis Titik Impas (Break Even Point) Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Analisa Break Even Point (BEP) dapat digunakan oleh usahawan untuk berbagai pengambilan keputusan, antara lain mengenai:

  1. Jumlah minimal produk yang harus terjual agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
  2. Jumlah penjualan yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
  3. Besarnya penyimpanan penjualan berupa penurunan volume yang terjual agar perusahaan tidak menderita kerugian.
  4. Untuk mengetahui efek perubahan harga jual, biaya maupun volume penjualan terhadap laba yang diperoleh.

4. Komponen Perhitungan Titik Impas (Break Even Point) Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

a. Biaya Tetap

Biaya tetap termasuk biaya yang sama terlepas dari berapa banyak jumlah barang yang kalian jual. Seluruh biaya mendirikan usaha, seperti biaya sewa, asuransi dan komputer, dianggap sebagai biaya tetap karena harus menetapkannya sebelum menjual barang.

b. Biaya Variabel

Biaya variabel meliputi biaya yang timbul terus-menerus yang diserap dengan setiap unit yang kalian jual. Misalnya jika kalian menjalankan toko kerajinan yang mengharuskan kalian membeli bahan baku kerajinan dari perusahaan tertentu dengan harga Rp10.000 per lembar, maka jumlah uang tersebut mewakili biaya variabel. Saat perusahaan dan penjualan meningkat, bisa mulai menyesuaikan tenaga kerja dan aspek lainnya sebagai biaya variabel jika memang sesuai dengan industri yang dikembangkan.

5. Menghitung Biaya Pokok Produksi Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Menghitung BEP membantu untuk menentukan kapankah bisnis tersebut akan mencapai titik impasnya, di mana BEP adalah kondisi pendapatan sama dengan biaya yang dikeluarkan. Jika bisa secara akurat memprediksikan biaya dan penjualan, menghitung BEP hanyalah sebuah perhitungan matematika yang sangat mudah. Sebuah usaha mencapai titik BEP ketika total pendapatan atau penjualan sama dengan total biayanya.

Pada titik BEP, tidak ada keuntungan yang diraih atau kerugian yang diderita. Ada beberapa tipe biaya yang harus diperhatikan ketika akan melakukan perhitungan BEP, yaitu:

a. Biaya Tetap

Biaya ini akan tetap sama berapapun jumlah produk yang dihasilkan. Semua biaya awal pendirian usaha seperti biaya sewa tempat, asuransi, komputer, mesin kasa, dan lain-lain adalah biaya tetap karena membelinya sebelum bisnis dijalankan.

b. Biaya Variabel

Biaya ini merupakan biaya berulang yang diserap oleh setiap produk yang dihasilkan. Sebagai contoh, jika menjalankan usaha kerajinan hiasan di mana untuk pembuatan hiasan bunga, diharuskan membeli bahan kertas ke suplir seharga Rp1.000 per lembar, maka biaya Rp1.000 tersebut merupakan biaya variabel. Ketika bisnis kalian tumbuh dan berkembang, bisa menjadikan biaya karyawan dan biaya lainnya sebagai biaya variabel.

Penetapan harga sangat penting dalam menghitung BEP. Kalian tidak akan dapat memprediksi pendapatan jika kalian tidak tahu berapa harga per unit produk yang nantinya akan di jual. Harga per unit merupakan suatu nominal yang akan dibebankan ke konsumen untuk pembelian satu unit produk yang akan dijual.

Penentuan harga merupakan proses pengambilan keputusan yang tidak gampang. Baik dari sisi pengusaha maupun dari sisi konsumen. Banyak sekali riset di dunia marketing dan dunia psikologi mengenai bagaimana persepsi konsumen terhadap suatu harga. Sebelum menetapkan harga produk dan jasa, ada baiknya untuk membaca buku, artikel atau review tentang strategi harga dan psikologi harga terlebih dahulu.

Rumus menghitung BEP adalah sangat sederhana. Untuk menghitung BEP adalah biaya tetap, dibagi harga dikurangi biaya variabel. Persamaan ini menghasilkan rumus BEP sbb:

BEP = Biaya Tetap / (Harga Jual Per Unit – Biaya Variabel)

Kalkulasi rumus ini akan memberitahu jumlah unit produk yang harus terjual agar mencapai titik impasnya. Pada titik tersebut, sudah menutupi semua biaya yang terkait dengan memproduksi produk yang dihasilkan (biaya tetap dan biaya variabelnya). Di atas titik BEP, setiap unit tambahan yang terjual akan meningkatkan keuntungan yang disebut dengan “unit contribution margin” di mana didefinisikan sebagai setiap jumlah unit yang memberikan kontribusi menutupi biaya tetap dan meningkatkan keuntungan. Persamaan rumusnya adalah:

Unit Contribution Margin = Harga Jual – Biaya Variabel

Gunakan persamaan-persamaan di atas dalam spreadsheet seperti Excel untuk mempermudah melakukan penyesuaian perubahan biaya dan penyesuaian harga jual sehingga mempermudah menghitung BEP. Sangat penting untuk memahami hasil dari perhitungan break even point. Contoh, jika dari hasil perhitungan, akan mencapai titik impas dengan penjualan sebanyak 500 unit, pikirkan apakah angka tersebut adalah angka yang masuk akal atau tidak. Jika tidak bisa menjual 500 unit dalam periode yang ditentukan, mungkin ini adalah pertanda untuk memikirkan kelayakan bisnis yang akan ditekuni tersebut. Sebagai alternatif, coba telaah lebih dalam semua biaya, baik itu biaya tetap maupun biaya variabel dan identifikasikan bagian mana yang masih bisa dikurangi anggaran biayanya.

6. Evaluasi Hasil Perhitungan Titik Impas (Break Even Point) Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Analisis break even point merupakan suatu analisis yang digunakan oleh manajer dalam mengambil sebuah keputusan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui kaitan antara biaya, volume penjualan, volume produksi yang nantinya untuk menentukan titik impas di mana perusahaan tidak mengalami kerugian maupun tidak mendapatkan keuntungan. Analisis break even point sangat membantu manajemen dalam berbagai hal, misalnya dalam masalah dampak pengurangan biaya tetap terhadap titik impas, atau dampak peningkatan harga terhadap laba. Analisis ini sangat berguna bagi manajemen di dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

Analisis break even point merupakan cara atau teknik yang digunakan oleh manajer perusahaan untuk mengetahui tingkat penjualan berapakah perusahaan tidak mengalami laba dan tidak pula mengalami kerugian (Sigit, 2002: 1). Impas adalah suatu keadaan perusahaan di mana jumlah total penghasilan besarnya sama dengan total biaya atau besarnya laba kontribusi sama dengan total biaya tetap, dengan kata lain perusahaan tidak memperoleh laba tetapi juga tidak menderita rugi (Supriyono, 2000: 332). Analisis break even point merupakan salah satu analisis keuangan yang sangat penting dalam perencanaan keuangan.

Analisis break even point biasanya lebih sering digunakan apabila perusahaan mengeluarkan suatu produk yang artinya dalam memproduksi sebuah produk tentu berkaitan dengan masalah biaya yang harus dikeluarkan kemudian penentuan harga jual serta jumlah barang atau jasa yang akan diproduksi atau dijual ke konsumen (Khasmir, 2008: 332).

Analisis break even point memiliki manfaat sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui hubungan volume penjualan ( produksi), harga jual, biaya produksi dan biaya-biaya lain serta mengetahui laba rugi perusahaan.
  2. Sebagai sarana merencanakan laba.
  3. Sebagai alat pengendalian (controlling) kegiatan operasi yang sedang berjalan.
  4. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual.
  5. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kebijakan perusahaan misalnya menentukan usaha yang perlu dihentikan atau yang harus tetap dijalankan ketika perusahaan dalam keadaan tidak mampu menutup biaya-biaya tunai (Kuswadi, 2005: 127).

D. Strategi Promosi Produk Hasil Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

1. Pengertian Promosi Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Promosi merupakan salah satu kegiatan pemasaran yang penting bagi perusahaan dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan serta meningkatkan kualitas penjualan. Promosi adalah segala bentuk komunikasi yang digunakan untuk menginformasikan (to inform), membujuk (to persuade), atau mengingatkan orang-orang tentang produk yang dihasilkan organisasi, individu, ataupun rumah tangga (Simamora, 2003: 285).

Adapun tujuan dari pada perusahaan melakukan promosi menurut Tjiptono (2001: 221) adalah menginformasikan (informing), mempengaruhi dan membujuk (persuading) serta mengingatkan (reminding) pelanggan tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. Menurut Sistaningrum (2002: 98) tujuan promosi adalah sebagai berikut:

  1. memperkenalkan diri,
  2. membujuk,
  3. modifikasi,
  4. membentuk tingkah laku,
  5. mengingatkan kembali tentang produk dan perusahaan yang bersangkutan.

2. Menentukan Strategi Promosi Produk Hasil Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Untuk mengomunikasikan produk kerajinan perlu disusun strategi yang disebut dengan strategi promosi, yang terdiri atas empat komponen utama yaitu periklanan, promosi penjualan, publisitas, dan penjualan tatap muka.

a. Periklanan (Advertising)

Periklanan merupakan sebuah bentuk komunikasi non-personal yang harus diberikan imbalan/pembayaran kepada sebuah organisasi atau dengan menggunakan media massa. Adapun media yang biasa digunakan adalah televisi, surat kabar, majalah, internet, dan lain-lain.

b. Promosi Penjualan (Sales Promotion)

Promosi penjualan merupakan insentif jangka pendek untuk meningkatkan penjualan suatu produk atau jasa di mana diharapkan pembelian dilakukan sekarang juga. Wujud nyata kegiatan promosi penjualan misalnya obral, pemberian kupon, dan pemberian contoh produk.

c. Penjualan Tatap Muka (Personal Selling)

Penjualan tatap muka merupakan sebuah proses di mana para pelanggan diberi informasi dan mereka dipersuasi untuk membeli produk-produk melalui komunikasi secara personal dalam suatu situasi perekrutan.

d. Publisitas atau Hubungan Masyarakat

Publisitas merupakan bentuk komunikasi non-personal dalam bentuk berita sehubungan dengan organisasi tertentu atau tentang produk-produknya yang ditransmisi melalui perantara media massa.

3. Melakukan Promosi Produk Hasil Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Dalam melakukan promosi agar dapat efektif perlu adanya bauran promosi, yaitu kombinasi yang optimal bagi berbagai jenis kegiatan atau pemilihan jenis kegiatan promosi yang paling efektif dalam meningkatkan penjualan. Berikut ini merupakan salah satu contoh strategi dalam melakukan promosi produk kerajinan.

Pemanfaatan limbah plastik menjadi produk kerajinan tas, hanya satu contoh usaha yang bisa dikembangkan dengan mudah dan murah. Usaha ini bisa dilakukan pada saat sekarang, tentu dengan mengatur jadwal sebaik mungkin sehingga kegiatan sekolah tidak terganggu. Apabila sudah berkembang lebih pesat, bisa memanfaatkan ibu-ibu atau karang taruna, sebagai mitra kerja. Teman dan guru sekolah, bisa menjadi pasar yang utama, yang jika berkembang bisa dilanjutkan ke sekolah lainnya yang ada dalam satu wilayah tempat tinggal.

Ada banyak cara untuk memasarkan produk kerajinan dari bahan limbah, disesuaikan dengan kapasitas produksi yang sudah dibuat.

  1. Tahap pertama mulailah dengan yang kecil, kenalkan produk kerajinan tersebut kepada guru-guru, teman-teman dekat, teman sekolah, tetangga di sekitar rumah, atau teman bermain. Berilah salah satu produk agar mereka bisa menggunakan produk tersebut supaya mereka tertarik membeli. Jika produk tersebut mulai bisa diterima dan banyak penggemar, mulailah merambah pasar baru dengan menitipkannya di koperasi sekolah, warung, dan toko.
  2. Manfaatkanlah teknologi internet dan media sosial seperti Facebook dan Twitter sebagai sarana penjualan lain, perbanyaklah teman dan followers, untuk memperluas pemasaran. Bisa juga dengan membuat blog gratis atau website yang berbayar dengan relatif terjangkau harganya.

E. Laporan Kegiatan Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

1. Pengertian dan Manfaat Laporan Kegiatan Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Laporan kegiatan usaha adalah penyampaian informasi sehingga tercipta komunikasi antara yang melaporkan dan pihak yang diberi laporan. Laporan pelaksanaan kegiatan hendaknya bersifat komunikatif, jelas dan mudah dipahami oleh semua pihak. Agar menjadi komunikatif sebaiknya laporan pelaksanaan kegiatan usaha harus disusun dalam bahasa yang lugas dan mudah dimengerti. Dikatakan logis apabila segala keterangan yang dianalisis dapat diteliti alasan-alasannya, apakah laporannya masuk akal atau tidak. Dikatakan sistematis apabila keterangan-keterangan yang dikemukakan di dalam laporan pelaksanaan kegiatan usaha disusun dalam urutan yang memperlihatkan adanya saling keterkaitan. Laporan pelaksanaan dikatakan lugas apabila bahasa yang digunakan langsung menjawab persoalan yang nyata dan tidak bertele-tele.

Isi dari laporan kegiatan usaha adalah kegiatan pekerjaan di perusahaan yang sedang berjalan dan pekerjaan yang sudah selesai. Penyusunan laporan kegiatan usaha dilaksanakan secara periodik, setidak-tidaknya dibuat sebulan sekali. Penyusunan harus lengkap dan berisi hal-hal yang berhubungan dengan hambatan usaha, kemajuan usaha, kemunduran usaha, dan sebagainya. Fungsi dan tujuan laporan kegiatan usaha adalah untuk memberitahukan persoalan kegiatan usaha secara detail dan obyektif serta memberi keterangan atau informasi yang singkat tentang kegiatan usaha.

Adapun kewajiban seorang pengelola usaha atas pembuatan laporan kegiatan usaha, adalah:

  1. harus memahami akan arti pentingnya laporan,
  2. harus dapat mendistribusikan laporan, baik yang bersifat umum maupun khusus,
  3. harus menyiapkan sarana, data-data dan teknisnya serta latihan-latihan penyusunan sebuah laporan kegiatan usaha.

Prinsip yang harus diperhatikan dalam penyusunan laporan kegiatan usaha yaitu:

  1. laporan harus tepat waktu,
  2. laporan harus teliti, benar, dan dipercaya,
  3. laporan harus berjalan dan sederhana,
  4. laporan harus ada standarisasi,
  5. laporan harus mempunyai nilai atau manfaat.

2. Menganalisis Laporan Kegiatan Usaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang

Pada dasarnya yang perlu dianalisis dalam pelaksanaan kegiatan usaha adalah sebagai berikut:

  1. bidang kegiatan usaha,
  2. rugi/laba,
  3. bidang keuangan,
  4. bidang permodalan,
  5. bidang administrasi dan pembukuan,
  6. bidang ketenagakerjaan,
  7. bidang pemasaran,
  8. bidang organisasi.

Pada akhir tahun seluruh kegiatan usaha dilaporkan untuk dianalisis oleh pihak yang berkepentingan, untuk memperoleh informasi yang tepat dalam mengambil keputusan. Analisis laporan keuangan adalah evaluasi atau penafsiran neraca dan daftar perubahan posisi keuangan perusahaan. Mengadakan analisis laporan keuangan sangat penting untuk mengetahui keadaan dan perkembangan keuangan dari perusahaan yang bersangkutan.

Analisis laporan keuangan selalu berhubungan dengan masalah neraca, rugi/laba, dan perubahan modal perusahaan. Analisis laporan keuangan pada hakikatnya adalah untuk mengadakan penilaian atas keadaan keuangan perusahaan. Untuk lebih dapat menggambarkan perubahan posisi keuangan dan sifat pengembangan perusahaan dari waktu ke waktu suatu perusahaan diharuskan membuat laporan keuangan paling lama 2 tahun terakhir dari kegiatan usahanya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Limbah berbentuk bangun ruang adalah limbah yang berbentuk bangun yang berdimensi tiga, yaitu bahan limbah yang memiliki volume atau ruang. Limbah berbentuk bangun ruang dapat berupa bangun beraturan seperti bola, kubus, silinder dan lain- lain serta bangun tidak beraturan.

Menganalisis peluang usaha bertujuan untuk mencari dan melaksanakan kegiatan usaha yang menguntungkan. Rencana dalam berwirausaha perlu dianalisis untuk mengenali kelemahan- kelemahan yang dapat mengakibatkan kesulitan-kesulitan keberlangsungan usaha. Analisis usaha ini juga dapat digunakan untuk mencari strategi alternatif dalam bidang penjualan, bauran produk, investasi, pengembangan staf, pengendalian usaha, pengendalian biaya dan lain-lain.

Menganalisis peluang usaha harus dimulai dengan perencanaan yang matang dan penuh perhitungan tentang segala kemungkinan yang akan menggagalkan usaha. Dengan adanya analisis SWOT (strength = kekuatan, weakness = kelemahan, opportunity = peluang, dan threat = ancaman), akan dapat mengetahui peta peluang usaha dan ancaman apa yang ada. Sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dapat dikategorikan atas enam tipe sumber daya (6M), yaitu: man (manusia), money (uang), material (fisik), machine (teknologi), method (metode), market (pasar).

Merencanakan jenis usaha adalah merencanakan kegiatan yang dijalankan oleh setiap perusahaan baik besar maupun kecil untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Faktor pemasaran dapat dikatakan berhasil jika jangkauan pasar semakin luas dan masa produksi dapat bertahan dalam waktu yang lama. Untuk itu hal-hal yang perlu dipertimbangkan, meliputi sasaran pasar, selera konsumen, citra produk, saluran distribusi, dan penentuan harga.

Perencanaan produk kerajinan umumnya lebih menitikberatkan pada nilai-nilai estetika, keunikan (craftmanship), keterampilan, dan efisiensi, sementara dalam pemenuhan fungsinya lebih menekankan pada pemenuhan fungsi pakai yang lebih bersifat fisik (fisiologis).

Break Even Point (BEP) adalah suatu keadaan di mana perusahaan dalam operasinya tidak memperoleh laba dan juga tidak menderita kerugian atau dengan kata lain total biaya sama dengan total penjualan sehingga tidak ada laba dan tidak ada rugi. Analisa break even point memberikan penerapan yang luas untuk menguji tindakan-tindakan yang diusulkan dalam mempertimbangkan alternatif-alternatif atau tujuan pengambilan keputusan yang lain.

B. Saran

Sebagai warga negara yang baik tentunya harus memiliki tanggung jawab mengembangkan produk kerajinan tersebut agar menjadi kekayaan budaya nusantara.

DAFTAR PUSTAKA

Bastomi, Suwadji. 2000. Seni Kriya Seni. Semarang: UNNES Press.

Baynes, Ken. 1976. About Design. London: Design Council Publication.

Bengkel Kriya Kayu. Buku Paket Kriya Kayu. Yogyakarta : PPPG Kesenian Yogyakarta.

Bennet N.B. Silalahi, Dr., MA, Rumondang B. Silalahi, MPH. 1995. Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja. Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo.

Birch Paul, Brian Clegg. 1996. Business Creativity. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Brealy, Mryers, Marcus. 2007. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Perusahaan. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. III. Jakarta: Balai Pustaka.

Drucker, Peter F. 1996. Inovasi dan Kewirausahaan. Jakarta: Erlangga.

Eisner Elliot. W. 1972. Education Artistic Vision. New York: The Macmillan Co.

Ating Tedjasutisna. 2008. Memahami Kewirausahaan SMK Kelas XI. Bandung: Armico.

Ating Tedjasutisna. 2008. Memahami Kewirausahaan SMK Kelas XII. Bandung: Armico.

Hendro. 2010. Kewirausahaan untuk SMK dan MAK Kelas XI. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hunaendi, Sulardi. 1995. Teknik Potong Bentuk. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dasar dan Menengah, PPPG Kesenian.

Kao, John. 1998. Entrepreneurship, A Wealth Creativity and Organization: Text, Cases, and Reading. Englewood Cliff. New Jersey: Prentice Hall.

Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia.

Lupiyoadi, Rambat dan Jero Wacik. 1998. Wawasan Kewirausahaan. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sachari Agus dan Sunarya Yan Yan. 1999. Modernisme, Sebuah Tinjauan Historis, Desain Modern. Jakarta: Balai Pustaka.

Sachari Agus dan Yan Yan. Sunarya 2001. Desain dan dunia Kesenirupaan Indonesia dalam Wacana Transformasi Budaya. Bandung: ITB.

Sachari, Agus. 1986. Paradigma Desain Indonesia. Jakarta: CV Rajawali.

Sigit, Suhardi. 1980. Mengembangkan Kewirausahaan. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Soegoto, Eddy Soeryanto, Ir. Dr. 2009. Entrepreneurship, Menjadi Pebisnis Ulung. Jakarta: PT. Elex Media.

Sunyoto, Danang, Wahyuningsih Ambar. 2009. Kewirausahaan: Teori, Evaluasi, dan Wirausaha Mandiri. Bogor: Esia Media.

Download Contoh Makalah Wirausaha Kerajinan dari Bahan Limbah Berbentuk Bangun Ruang.docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH