Mobilitas Sosial

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT karena atas taufik dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam senantiasa kita sanjungkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta semua umatnya hingga kini. Dan semoga kita termasuk dari golongan yang kelak mendapatkan syafaatnya.

Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkenan membantu pada tahap penyusunan hingga selesainya makalah ini. Harapan kami semoga makalah yang telah tersusun ini dapat bermanfaat sebagai salah satu rujukan maupun pedoman bagi para pembaca, menambah wawasan serta pengalaman, sehingga nantinya saya dapat memperbaiki bentuk ataupun isi makalah ini menjadi lebih baik lagi.

Kami sadar bahwa kami ini tentunya tidak lepas dari banyaknya kekurangan, baik dari aspek kualitas maupun kuantitas dari bahan penelitian yang dipaparkan. Semua ini murni didasari oleh keterbatasan yang dimiliki kami. Oleh sebab itu, kami membutuhkan kritik dan saran kepada segenap pembaca yang bersifat membangun untuk lebih meningkatkan kualitas di kemudian hari.

Indonesia, Juni 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Semua orang pasti menginginkan untuk dapat memperoleh status dan penghasilan yang lebih tinggi daripada apa yang pernah dicapai oleh orang tuanya. Semua orang pasti menginginkan suatu kehidupan yang serba berkecukupan, bahkan kalau mungkin berlebihan. Keinginan-keinginan itu adalah normal, karena pada dasarnya manusia mempunyai kebutuhan yang tidak terbatas. Seperti halnya kalau kita menanyakan tentang cita-cita dari seorang anak, maka ia akan menjawab pada suatu status yang kebanyakan mempunyai konotasi pada penghidupan yang baik. Hanya saja apakah keinginan-keinginan, impian-impian, dan cita-cita itu berhasil atau sama sekali gagal dalam proses perjalanan seseorang.

Pada masyarakat modern sering kita jumpai fenomena-fenomena keinginan untuk pencapaian status sosial maupun penghasilan yang lebih tinggi. Hal tersebut merupakan pendorong masyarakat untuk melakukan mobilitas sosial demi tercapainya kesejahteraan hidup. Namun pada kenyataannya mobilitas sosial yang terjadi pada masyarakat tidak hanya bersifat naik ke tingkat yang lebih tinggi, akan tetapi banyak mobilitas sosial turun tanpa direncanakan.

B. Rumusan Masalah

Secara garis besar permasalahan yang ada dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian mobilitas sosial?
  2. Apa penyebab mobilitas sosial?
  3. Apa manfaat mobilitas sosial?
  4. Bagaimana dampak mobilitas sosial?
  5. Bagaimana cara mengatasi mobilitas sosial?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Mobilitas Sosial

Secara etimologis, kata mobilitas merupakan terjemahan dari kata mobility yang berkata dasar mobile. Kata mobile berarti aktif, giat, gesit, sehingga mobility adalah gerakan. Secara harfiah, mobilitas sosial berarti gerakan dalam masyarakat. Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya.

Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit. Contohnya, masyarakat feodal atau pada masyarakat yang menganut sistem kasta. Pada masyarakat yang menganut sistem kasta, bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah untuk selamanya ia tetap berada pada kasta yang rendah. Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki kemampuan atau keahlian. Karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan demikian, tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi.

Apabila seorang guru kemudian pindah dan beralih pekerjaan menjadi pemilik toko buku, dia melakukan gerak sosial. Juga apabila seseorang yang semula mendapat gaji bulanan sebesar Rp 250.000,00 kemudian pindah pekerjaan karena tawaran dengan gaji yang lebih tinggi. Proses tadi tidak saja terbatas pada individu-individu saja, tetapi mungkin juga pada kelompok-kelompok sosial. Misalnya, suatu golongan minoritas dalam masyarakat berasimilasi dengan golongan mayoritas.

B. Penyebab Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat di antaranya disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

1. Perubahan Kondisi Sosial

Struktur kelas dan kasta dalam masyarakat dapat berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam maupun luar masyarakat. Kemajuan teknologi misalnya, dapat membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas dan perubahan ideologi juga dapat menimbulkan stratifikasi baru.

2. Ras atau Kesukuan

Tingkat diskriminasi tertentu terhadap anggota-anggota ras dan kelompok-kelompok suku tertentu tidak dapat dimungkiri masih terjadi dalam dunia bisnis, industri, bahkan pendidikan. Latar belakang ras dan suku bisa saja menjadi faktor-faktor penting yang mempengaruhi kemungkinan maupun peluang seseorang untuk melakukan mobilitas vertikal (ke atas).

3. Ekspansi Teritorial dan Gerak Populasi

Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat, misalnya perkembangan kota, transmigrasi, membuktikan ciri fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial.

4. Komunikasi yang Bebas

Komunikasi yang bebas serta efektif akan memudarkan semua batasan dari strata sosial yang ada dan merangsang mobilitas sosial sekaligus menerobos rintangan yang menghadang.

5. Pendidikan

Dalam kaitannya dengan mobilitas vertikal, fungsi pokok pendidikan formal adalah membekali individu dengan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk memasuki pasaran kerja. Tingkat pendidikan yang memadai akan menempatkan seseorang pada posisi menguntungkan jika harus bersaing dengan orang lain untuk suatu jabatan tertentu. Jenis-jenis pekerjaan yang menuntut tingkat pendidikan tinggi pada umumnya memberikan gaji yang memuaskan.

6. Pembagian Kerja

Terbukanya kemungkinan bagi mobilitas sosial dalam masyarakat lebih dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja sangat tinggi dan lebih dikhususkan, mobilitas sosial akan sulit. Ini karena spesialisasi kerja menuntut keterampilan khusus.

C. Manfaat Mobilitas Sosial

Orang-orang akan berusaha untuk berprestasi atau berusaha untuk maju karena adanya kesempatan untuk pindah strata. Kesempatan ini mendorong orang untuk mau bersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke strata atas. Contoh: Seorang anak miskin berusaha belajar dengan giat agar mendapatkan kekayaan dimasa depan.

Mobilitas sosial akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik. Contoh: Indonesia yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Perubahan ini akan lebih cepat terjadi jika didukung oleh sumber daya yang memiliki kualitas. Kondisi ini perlu didukung dengan peningkatan dalam bidang pendidikan.

D. Dampak Mobilitas Sosial

1. Dampak Mobilitas Vertikal

Mobilitas vertikal menurun dapat menyebabkan stres dan gangguan mental yang serius. Tingkat bunuh diri yang dilalukan oleh orang yang mengalami mobilitas vertikal turun dibandingkan mereka yang mengalami mobilitas vertikal naik. Mobilitas vertikal naik menyebabkan stres dan gangguan mental, serta efek-efek yang tidak diinginkan lainnya. Orang yang sangat “mobile”, yaitu mereka yang mengalami mobilitas vertikal naik melewati dua level strata atau lebih, menunjukkan tingkat kecemasan lebih tinggi daripada mereka yang meningkat secara perlahan.

Orang-orang yang mengalami mobilitas vertikal naik/turun menghadapi masalah dalam berelasi dengan orang lain masyarakat tertutup ternyata mempunyai masalah sosial yang lebih berat. Status sosial dalam masyarakat sosial tertutup biasanya diperoleh dari keturunan. Ayah dan ibu dengan bakat yang luar biasa mungkin memiliki keturunan dengan bakat yang biasa-biasa saja/ tidak memiliki bakat sama sekali, sebagai contoh raja dengan kemampuan yang luar biasa bisa membawa kerajaan ke masa kejayaan, tetapi keturunannya yang menggantikan posisinya belum tentu memiliki kemampuan yang sama, akibatnya kerajaan itu mengalami kemunduran lalu hilang digantikan oleh kerajaan lain.

Karena itu, pada masyarakat maju selalu terbuka jalan untuk pengambilalihan posisi penting dari mereka yang lahir dalam kelas sosial atas, namun tanpa kemampuan memadai, lalu diambil alih oleh individu-individu yang cakap dari kelas sosial yang lebih rendah. Masyarakat tertutup tidak memiliki kesempatan seperti ini, mereka lebih cenderung sewenang-wenang memperlakukan sumber daya manusia.

2. Dampak Mobilitas Geografis

Mobilitas penduduk/geografis membawa dampak bagi daerah baru tempat penduduk tersebut bermukim dan bagi daerah asalnya. Urbanisasi besar-besaran, terutama ke kota-kota besar, dapat menimbulkan beragam masalah sosial. Tingkat urbanisasi yang tinggi membawa masalah kependudukan, baik bagi daerah asal/daerah tujuan. Di kota-kota yang menjadi tujuan urbanisasi terjadi ledakan jumlah penduduk, yang dapat menimbulkan masalah kemiskinan, permukiman kumuh, kesehatan, keamanan, tata kota yang semrawut, kebersihan, dan lain-lain. Sementara itu, daerah asal bisa saja kekurangan sumber daya manusia untuk mengelola sumber daya alamnya. Proses transmigrasi dalam banyak hal memang telah berhasil mengatasi masalah konsentrasi kepadatan penduduk, masalah pengangguran, dan perbaikan kesejahteraan, namun di beberapa tempat timbul masalah yang berkaitan dengan hubungan antara pendatang dan penduduk setempat yang akan menimbulkan konflik antara penduduk pendatang dan penduduk setempat.

Orang kaya misalnya, mereka termasuk lapisan sosial atas, namun tiba-tiba bangkrut dan jatuh miskin, sehingga mereka takut dengan status sosialnya yang baru yaitu sebagai anggota kelas sosial bawah, karena mereka harus beradaptasi dengan gaya hidup kelas sosial bawah. Setelah terbiasa dengan gaya hidup kelas sosial yang baru, orang-orang yang beralih kelas sosial (mengalami mobilitas sosial) mulai merasa aman dan berakhir konflik batinnya. Bersamaan dengan pembiasaan itu ia mulai membangun pola-pola relasi baru untuk mengakhiri beragam konflik dengan pihak lain akibat mobilitas yang dialami.

Konflik-konflik dengan pihak-pihak lain, baik itu konflik antar individu, konflik antar kelompok, konflik antar kelas, maupun konflik antar generasi bisa mereda bila pihak-pihak yang berkonflik menyesuaikan diri pada suatu keadaan yang memungkinkannya bekerja sama. Penyesuaian ini dinamakan akomodasi. Akomodasi adalah usaha manusia untuk meredakan suatu pertikaian atau konflik dalam rangka mencapai kestabilan. Pihak yang berkonflik saling menyesuaikan diri, sehingga tercipta kerja sama.

E. Mengatasi Mobilitas Sosial

Secara umum, cara orang untuk dapat melakukan mobilitas sosial ke atas adalah sebagai berikut:

1. Perubahan Standar Hidup

Kenaikan penghasilan tidak menaikkan status secara otomatis, melainkan akan merefleksikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan memengaruhi peningkatan status.

Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi manajer, sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak mengubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan.

2. Perkawinan

Untuk meningkatkan status sosial yang lebih tinggi dapat dilakukan melalui perkawinan.

Contoh: Seseorang wanita yang berasal dari keluarga sangat sederhana menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya dan terpandang di masyarakatnya. Perkawinan ini dapat menaikkan status si wanita tersebut.

3. Perubahan Tempat Tinggal

Untuk meningkatkan status sosial, seseorang dapat berpindah tempat tinggal dari tempat tinggal yang lama ke tempat tinggal yang baru. Atau dengan cara merekonstruksi tempat tinggalnya yang lama menjadi lebih megah, indah, dan mewah. Secara otomatis, seseorang yang memiliki tempat tinggal mewah akan disebut sebagai orang kaya oleh masyarakat, hal ini menunjukkan terjadinya gerak sosial ke atas.

4. Perubahan Tingkah Laku

Untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, orang berusaha menaikkan status sosialnya dan mempraktikkan bentuk-bentuk tingkah laku kelas yang lebih tinggi yang diaspirasikan sebagai kelasnya. Bukan hanya tingkah laku, tetapi juga pakaian, ucapan, minat, dan sebagainya. Dia merasa dituntut untuk mengaitkan diri dengan kelas yang diinginkannya.

Contoh: agar penampilannya meyakinkan dan dianggap sebagai orang dari golongan lapisan kelas atas, ia selalu mengenakan pakaian yang bagus-bagus. Jika bertemu dengan kelompoknya, dia berbicara dengan menyelipkan istilah-istilah asing.

5. Perubahan Nama

Dalam suatu masyarakat, sebuah nama diidentifikasikan pada posisi sosial tertentu. Gerak ke atas dapat dilaksanakan dengan mengubah nama yang menunjukkan posisi sosial yang lebih tinggi.

Contoh: Di kalangan masyarakat feodal Jawa, seseorang yang memiliki status sebagai orang kebanyakan mendapat sebutan “kang” di depan nama aslinya. Setelah diangkat sebagai pengawas pamong praja sebutan dan namanya berubah sesuai dengan kedudukannya yang baru seperti “Raden”.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya. Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit.

Orang-orang akan berusaha untuk berprestasi atau berusaha untuk maju karena adanya kesempatan untuk pindah strata. Kesempatan ini mendorong orang untuk mau bersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke strata atas. Mobilitas sosial akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik.

B. Saran

Sebagai manusia kita pasti akan menuntut untuk status dan peran sosial, namun sebagai manusia sosial seharusnya kita dapat mengerti dan menyadari mobilitas sosial atau gerakan sosial ini tidak terjadi begitu saja dengan sendirinya. Karena mobilitas sosial terjadi tergantung bagaimana diri kita sendiri menyingkapi status serta peran sosial diri dan menurut prestasi kita masing-masing sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu sebaiknya jika memang menginginkan mobilitas naik kita juga tidak boleh duduk diam dalam struktur sosial tetapi kita harus terbuka dan positif terhadap perubahan positif yang ada di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

H.D., Hj. Safarina. 2011. Sosiologi Pendidikan: Individu, Masyarakat, dan Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

M. Hernki, James. 2007. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi. Jakarta: Erlangga.

Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sulistyowati, Budi. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Syani, Abdul. 2007. Sosologi, Skematika, Teori, dan Terapan. Jakarta: Bumi Aksara.

Download Contoh Makalah Mobilitas Sosial.docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH