Penyimpangan Seksual

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah “Penyimpangan Seksual” ini dapat diselesaikan dengan baik. Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarganya, sahabatnya, tabiinnya, dan seluruh umatnya yang istiqomah mengikuti tuntunan dan teladan sampai akhir zaman.

Kalau kita amati, berdasarkan data statistik disebutkan terjadinya peningkatan angka perceraian di Indonesia dewasa ini. Faktor penyebab peningkatan tersebut salah satunya karena alasan ekonomi dan masih banyak lainnya. Sejatinya kalau kita kaji lebih lanjut angka perceraian itu bisa ditekan dengan mengedepankan komunikasi antar pasangan. Karena itulah dalam makalah ini kami akan mencoba membahas persoalan tersebut. Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penyusunan makalah ini.

Namun demikian kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kami mohon maaf atas segala kekurangan dalam makalah ini. Kami sangat mengharapkan saran dan kritikan dari para pembaca, kebenaran dan kesempurnaan hanya milik Allah. Akhirnya kami berharap semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami pribadi dan pembaca pada umumnya.

Indonesia, Mei 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyimpangan adalah jenis perilaku manusia yang menyimpang dari apa yang dipahami sebagai ortodoks atau normal. Meskipun istilah penyimpangan dapat merujuk pada berbagai bentuk penyimpangan, tetapi paling sering digunakan untuk menggambarkan perilaku seksual yang dianggap sangat tidak normal, menjijikkan atau obsesif. Penyimpangan berbeda dari perilaku menyimpang, penyimpangan akan menjadi istilah yang terlalu kuat. Ini sering dianggap menghina, dan dalam literatur psikologis, istilah paraphilia telah digunakan sebagai pengganti, meskipun istilah ini kontroversial, dan penyimpangan kadang-kadang digunakan sebagai gantinya. Ada pandangan yang berpendapat bahwa konsep penyimpangan itu subyektif, dan penerapannya bervariasi tergantung pada individu. Pandangan lain menganggap bahwa penyimpangan adalah degradasi moralitas yang benar secara objektif.

Burmula dari tahun 1660-an, seorang cabul pada awalnya didefinisikan sebagai orang yang telah meninggalkan doktrin atau sistem yang dianggap benar atau murtad. Sedangkan kata cabul digunakan sebagai istilah seksual yang berasal pada tahun 1896, dan awalnya diterapkan pada varian seksualitas atau perilaku seksual yang dianggap berbahaya oleh individu atau kelompok yang menggunakan istilah ini. Kata kerja mesum terlalu luas dalam rujukan dibandingkan kata benda yang terkait, dan dapat digunakan tanpa konotasi seksual. Ini digunakan dalam hukum Inggris untuk kejahatan memutarbalikkan keadilan yang merupakan pelanggaran hukum umum. Ada transisi ke seksual dalam ‘teknik penyimpangan yang disengaja’ dari ucapan percakapan: “Penyimpangan yang disengaja dari apa yang dikatakan seorang wanita adalah langkah yang lebih dekat dengan upaya langsung rayuan atau pemerkosaan.”

Kata benda kadang-kadang muncul dalam bentuk slang disingkat sebagai “perv” dan digunakan sebagai kata kerja yang berarti “bertindak seperti cabul”, dan kata sifat “pervy” juga terjadi. Sangat sering, tetapi tidak secara eksklusif, digunakan secara tidak serius. Dalam ilmu ekonomi, istilah “insentif sesat” berarti kebijakan yang menghasilkan dampak yang bertentangan dengan niat para pembuat kebijakan.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian penyimpangan seksual?
  2. Apa saja jenis-jenis penyimpangan seksual?
  3. Bagaimana penyebab penyimpangan seksual?
  4. Apa saja dampak dari penyimpangan seksual?
  5. Bagaimana usaha pencegahan terhadap penyimpangan seksual?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Penyimpangan Seksual

Penyimpangan seksual adalah istilah diagnostik kuno yang berfungsi sebagai label untuk aktivitas seksual yang dianggap di luar norma hasrat dan aktivitas seksual heteroseksual. Norma ini didefinisikan sebagai koitus dengan lawan jenis dengan tujuan mencapai orgasme melalui penetrasi genital. Jenis aktivitas seksual lainnya, apa pun jenis kelamin partisipannya, secara tradisional dianggap sesat.

Penyimpangan seksual muncul paling terkenal di buku teks medis abad kesembilan belas Richard von Krafft-Ebing, Psychopathia Sexualis, pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman pada tahun 1886. Di sana penyimpangan seksual didefinisikan sebagai penyakit naluri seksual, yang bertentangan dengan kejahatan seksual, yang didefinisikan sebagai keburukan seksual. daripada patologi. Penyimpangan seksual dipahami sebagai penyimpangan naluri, yang berarti merujuk pada perilaku yang telah ditentukan yang tidak berubah-ubah sehubungan dengan kinerja dan objeknya. Penyimpangan seksual yang digambarkan oleh Krafft-Ebing termasuk sadisme, masokisme, fetisisme, kebinatangan, inversi seksual pada pria dan wanita (dipahami sebagai homoseksualitas, atau disforia gender), pemerkosaan, nymphomania, onanisme (masturbasi), pedofilia, eksibisionisme, necrophilia, dan inses.

Dalam psikoanalisis, penyimpangan digunakan secara eksklusif dalam hubungannya dengan seksualitas. Sigmund Freud menggunakan gagasan penyimpangan seksual dalam bukunya Three Essays on Theory of Sexuality (1962) untuk mempertanyakan gagasan tradisional tentang apa yang disebut seksualitas normal. Dia mencatat dasar-dasar penyimpangan seksual, seperti menyentuh, melihat, mencium, dan berbagai jenis fetisisme dan idealisasi, dalam sebagian besar proses seksual normal. Untuk Freud penyimpangan terbatas pada kegiatan seksual yang baik secara anatomis melampaui wilayah genital tubuh atau berlama-lama tanpa batas pada kegiatan yang mengarah ke koitus tanpa pernah tiba di hubungan seksual.

B. Jenis-Jenis Penyimpangan Seksual

1. Homoseksual

Homoseksual adalah salah satu dari tiga kategori utama orientasi seksual, bersama dengan biseksual dan heteroseksual, dalam kontinum heteroseksual-homoseksual. Ilmuwan tidak tahu secara pasti apa yang menentukan orientasi seksual seseorang, tetapi mereka menduga bahwa orientasi seksual dipicu oleh kombinasi faktor genetik, hormon, dan lingkungan, dan bukanlah suatu pilihan. Mereka merujuk kepada teori-teori yang berdasarkan pada biologi, yang menyebut faktor genetik, lingkungan awal di uterus, atau kedua-duanya. Tidak ada bukti yang kuat yang menunjukkan bahwa pengalaman pada masa kecil berperan mengubah orientasi seksual. Selain itu, upaya untuk mengubah orientasi seksual juga tidak didukung oleh bukti-bukti ilmiah. Pernyataan ini dipertegas dalam jurnal kedokteran Amerika, kaum homoseksual yang mencari pasangannya melalui internet, terpapar risiko penyakit menular seksual (PMS) (termasuk HIV/AIDS) lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.

2. Sadomasokisme

Sadomasokisme adalah tindakan memberi atau menerima kenikmatan umumnya bersifat seksual dengan cara menyebabkan atau menderita rasa sakit dan/atau rasa malu. Sebagai bagian dari BDSM, pelaku sadomasokis mencari gratifikasi seksual melalui cara-cara seperti ini atau dalam bentuk yang lain. Sadisme seksual termasuk kelainan seksual. Dalam hal ini kepuasan seksual diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih dahulu menyakiti atau menyiksa pasangannya. Sedangkan masokisme seksual merupakan kebalikan dari sadisme seksual. Seseorang dengan sengaja membiarkan dirinya disakiti atau disiksa untuk memperoleh kepuasan seksual.

3. Ekshibisionisme

Penderita ekshibisionisme akan memperoleh kepuasan seksualnya dengan memperlihatkan alat kelamin mereka kepada orang lain yang sesuai dengan kehendaknya. Bila korban terkejut, jijik dan menjerit ketakutan, ia akan semakin terangsang. Kondisi begini sering diderita pria, dengan memperlihatkan penisnya yang dilanjutkan dengan masturbasi hingga ejakulasi.

4. Voyeurisme

Voyeurisme adalah sebuah kelainan jiwa, di dunia kedokteran dikenal sebagai istilah skopofilia. Ciri utama voyeurisme adalah adanya dorongan yang tidak terkendali untuk secara diam-diam mengintip atau melihat seseorang yang berlainan jenis atau sejenis tergantung orientasi seksual berbeda yang sedang telanjang, menanggalkan pakaian atau melakukan kegiatan seksual. Dari ini, penderita biasanya memperoleh kepuasan seksual.

Bila penderita adalah seorang pria, wanita yang diintip pada dasarnya tak dikenal. Mengintip menjadi cara eksklusif untuk mendapatkan kepuasan seksual. Anehnya, ia sama sekali tidak menginginkan berhubungan seksual dengan wanita yang diintip. Cuma berharap memperoleh kepuasan orgasme dengan cara masturbasi selama atau sesudah mengintip. Berbeda dengan seseorang yang normal, penderita voyeurisme sudah terpuaskan tanpa harus melakukan sanggama.

5. Fetisisme

Fetisisme (berasal dari kata fetishism yang artinya benda sakti) adalah kepercayaan akan adanya kekuatan sakti dalam benda tertentu dan segala aktivitas untuk mempergunakan benda-benda sakti semacam itu dalam ilmu gaib. Biasanya, istilah ini digunakan untuk menunjukkan dorongan seksual yang ditujukan kepada benda-benda milik jenis kelamin berlawanan, misalnya seorang laki-laki yang tertarik pada pakaian dalam, sepatu, kaos kaki, rambut perempuan. Melalui benda non-seksual, benda mati atau bagian dari tubuh seseorang, orang-orang fetisisme mendapatkan kenikmatan seksual.

6. Pedofilia

Pedofilia ialah sejenis gangguan psikologi di mana individu dewasa atau remaja yang lebih tua tertarik secara seksual atau eksklusif kepada anak-anak yang belum dewasa (prepubescent). Orang yang mempunyai pedofilia melakukan seks dengan anak-anak atau menggunakan anak-anak untuk seks. Ini juga boleh dipanggil penderaan seks anak-anak. Setengah orang mempunyai perasaan pedofilia tetapi tidak melakukan seks atau mendera anak-anak secara seksual. Walaupun anak-anak perempuan biasanya memulai proses dewasa pada usia 10 atau 11, dan anak-anak lelaki pada usia 11 atau 12, kriteria untuk pedofilia melanjutkan titik akhir untuk prepubescence ialah berumur 13. Seseorang yang mengidap pedofilia biasanya berumur sekurang-kurangnya 16 tahun, tetapi remaja sekurang-kurangnya lima tahun lebih tua daripada anak prepubescent untuk tarikan untuk didiagnosis sebagai pedofilia.

7. Bestially

Bestially adalah manusia yang suka melakukan hubungan seks dengan binatang seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, bebek, anjing, kucing, dan lain sebagainya.

8. Incest

Incest adalah hubungan seks dengan sesama anggota keluarga sendiri non suami istri seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengan anak laki-laki.

9. Necrophilia

Necrophilia adalah orang yang suka melakukan hubungan seks dengan orang yang sudah menjadi mayat/orang mati.

10. Zoophilia

Zoophilia adalah orang yang senang dan terangsang melihat hewan melakukan hubungan seks dengan hewan.

11. Sodomi

Sodomi adalah pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan perempuan.

12. Frotteuris

Frotteuris yaitu suatu bentuk kelainan seksual di mana seseorang laki-laki mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesek atau menggosok-gosok alat kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik atau umum seperti di kereta, pesawat, bis, dll.

13. Gerontopilia

Gerontopilia adalah suatu perilaku penyimpangan seksual di mana sang pelaku jatuh cinta dan mencari kepuasan seksual kepada orang yang sudah berusia lanjut (nenek-nenek atau kakek-kakek). Gerontopilia termasuk dalam salah satu diagnosis gangguan seksual, dari sekian banyak gangguan seksual seperti voyurisme, exhibisionisme, sadisme, masochisme, pedopilia, brestilia, homoseksual, fetisisme, frotteurisme, dan lain sebagainya. Keluhan awalnya adalah merasa impoten bila menghadapi istri/suami sebagai pasangan hidupnya, karena merasa tidak tertarik lagi. Semakin ia didesak oleh pasangannya maka ia semakin tidak berkutik, bahkan menjadi cemas. Gairah seksualnya kepada pasangan yang sebenarnya justru bisa bangkit lagi jika ia telah bertemu dengan idamannya (kakek/nenek).

C. Penyebab Penyimpangan Seksual

Sebab-sebab atau faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tingkah laku penyimpangan seksual dalam rumah tangga sakinah itu dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Pengaruh lingkungan keluarga

Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Perilaku menyimpang bukan merupakan peristiwa herediter, bukan merupakan warisan bawaan sejak lahir, banyak bukti menyatakan bahwa tingkah laku asusila dan kriminal orang tua serta anggota keluarga lainnya memberikan dampak menular dan infeksius pada jiwa anak-anak.

Keluarga merupakan sumber utama atau lingkungan yang utama penyebab kenakalan remaja yang berupa penyimpangan seksual pada remaja. Hal ini disebabkan karena anak itu hidup dan berkembang permulaan sekali dari pergaulan keluarga yaitu hubungan anak dengan anggota keluarga lain yang tinggal bersama-sama. Kualitas rumah tangga atau kehidupan keluarga jelas memainkan peranan paling besar dalam membentuk kepribadian remaja dilingkungan. Baik buruknya struktur keluarga memberikan dampak baik dan buruknya perkembangan jiwa dan jasmani anak, faktor keluarga yang menyebabkan penyimpangan seksual pada remaja.

Penyebab timbulnya penyimpangan seksual remaja antara lain adalah kurangnya pengetahuan dan pengertian orang tua tentang cara pendidikan yang baik, banyak orang tua yang tidak memahami agama yang dianutnya apalagi mengamalkannya. Sehingga ajaran agama Islam itu praktis tidak dilaksanakan dalam kehidupan keluarganya.

2. Pengaruh lingkungan di sekolah

Kondisi sekolah yang tidak menguntungkan juga mempengaruhi terjadinya penyimpangan seksual. Kondisi tersebut antara lain minimnya fasilitas ruang belajar sedangkan jumlah muridnya banyak sehingga mereka harus berdesak-desakan duduk di dalam kelas. Selanjutnya mereka harus mendengarkan pelajaran yang tidak menarik minatnya karena sikap gurunya yang tidak simpatik dan tidak menguasai metode pendidikan, sehingga anak-anak tidak bergairah dalam belajar, selain itu adanya guru yang suka mengobjek di luar sekolah, menyebabkan guru sering absen, menjadi suka membolos, sering berkeliaran di pertokoan atau mall tanpa pengawasan atau mengganggu murid lainnya yang sedang belajar.

Kurikulum selalu berubah-ubah tidak menentu, materi pelajaran selalu ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan operasi anak muda masa sekarang, anak merasa sangat dibatasi gerak-geriknya dan merasa tertekan batinnya, kurang sekali kesempatan yang diberikan oleh sekolah untuk melakukan ekspresi bebas, baik yang bersifat fisik maupun psikis. Sebagai akibatnya, anak jadi ikut-ikutan tidak mematuhi semua aturan, ingin jadi bebas liar, mau berbuat semaunya sendiri, menjadi agresif. Juga suka melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan norma sosial di luar sekolah untuk melampiaskan kedongkolan dan frustrasinya.

Berdasarkan uraian di atas, maka jelaslah bahwa betapa berat pengaruh pendidikan sekolah dalam membentuk akhlak remaja baik dalam kehidupan materi maupun kehidupan iman, etika dan spiritual mereka.

3. Pengaruh lingkungan masyarakat

Semakin dewasa anak semakin banyak kesempatan mereka bergaul dilingkungan masyarakat. Lingkungan sekitarnya tidak selalu baik dan menguntungkan bagi pendidikan dalam perkembangan anak. Lingkungan adakalanya dihuni oleh orang dewasa, serta anak-anak muda kriminal dan anti sosial, yang bisa merangsang timbulnya reaksi adolesens yang masih labil jiwanya, dengan begitu anak-anak remaja ini mudah terjangkit oleh para kriminal dan asusila dan anti sosial tadi.

Kelompok orang dewasa dan asusila tersebut biasanya terdiri atas gelandangan, tidak punya rumah dan pekerjaan yang tetap, malas bekerja namun berambisi besar untuk hidup mewah dan bersenang-senang. Pola-pola asusila ini sangat mudah menjalar pada remaja yang tidak mempunyai motivasi untuk belajar dan meningkatkan kepribadiannya, sehingga mereka lebih bergairah untuk melakukan eksperimen dalam dunia hitam yang dianggap penuh misteri namun sangat menarik keremajaan mereka.

Bila dianalisis lebih jauh ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan menentukan terjadinya kenakalan remaja, penyebab kenakalan remaja pada dasarnya berasal dari dalam diri manusia itu dan pengaruh lingkungan luar dirinya, di antaranya adalah:

  • Yang berasal dari remaja seperti kemungkinan tidak beriman atau masih lemah imannya. Kurang tertanam jiwa beragama dan aktivitasnya tidak tersalurkan, tidak mampu mengendalikan dorongan hawa nafsunya dan gagal keinginan atau prestasi yang diharapkan.
  • Yang berasal dari pengaruh lingkungan (pengaruh luar) seperti pengaruh-pengaruh lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan di sekolah dan pengaruh lingkungan pergaulan masyarakat, pengaruh modernisasi.
  • Akibat merosotnya akhlak, krisis keimanan.

D. Dampak Penyimpangan Seksual

Akibat dari meningkatnya aktivitas seksual pada remaja yang tidak diimbangi dengan alat kontrasepsi di antaranya adalah kehamilan remaja atau pranikah sehingga banyak remaja yang melakukan tindakan aborsi (pengguguran kandungan) dengan cara meminum ramuan atau jamu, memijat peranakannya atau mencoba mengeluarkan janin dengan cara bantuan dukun atau meminum obat-obatan yang diberikan dokter atau bidan. Cara tersebut bisa mengakibatkan perdarahan, infeksi sehingga kematian si calon ibu. Sedangkan pada janin mengalami kecacatan mental maupun fisik dalam masa pertumbuhannya.

Salah satu akibat yang ditimbulkan dari aktivitas seksual yang tidak sehat adalah penyakit menular seksual (PMS). Penyakit ini disebut juga venereal, berasal dari kata venus, yaitu Dewi Cinta dari Romawi kuno. Penularan penyakit ini biasanya terjadi karena seringnya seseorang melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan. Bisa juga karena melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang sebelumnya telah terjangkit salah satu penyakit ini. Penyakit seksual ini sangat berbahaya. Pengobatan untuk setiap jenis penyakit berbeda-beda, beberapa di antaranya tidak dapat disembuhkan.

Sebagai konsekuensi logis dari perilaku seks menyimpang adalah munculnya berbagai penyakit kelamin (veneral diseases, VD), atau penyakit akibat hubungan seksual (sexually transmitted diseases, STD). Berbagai penyakit kelamin yang kini dikenal di dunia kedokteran adalah: sifilis, gonore, herpes simplex, limprogranuloma akuminata venerium, granuloma inguinale, trikomonas, kondiloma akuminata, dan AIDS.

Dari berbagai penyakit itu yang paling terkenal, paling berbahaya dan paling banyak diderita oleh pelaku seks bebas (termasuk pelaku seks menyimpang seperti homoseks, seks anal, dan sebagainya) adalah: sifilis, gonore, herpes progenitalis dan AIDS.

1. Gonorea

Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual. Sebutan lain penyakit ini adalah kencing nanah. Penyakit ini menyerang organ seks dan organ kemih. Selain itu, akan menyerang selaput lendir mulut, mata, anus, dan beberapa organ tubuh lainnya. Bakteri yang membawa penyakit ini dinamakan gonococcus.

2. Sifilis

Sifilis dikenal juga dengan sebutan “Raja Singa”. Penyakit ini sangat berbahaya. Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual atau penggunaan barang-barang dari seseorang yang tertular (seperti baju, handuk, dan jarum suntik). Penyebab timbulnya penyakit ini adalah adanya kuman Treponema pallidum.

3. Herpes

Herpes termasuk jenis penyakit tua karena sudah ada sejak lama, ditularkan oleh bangsa Yunani, romawi, dan Louis XV. Herpes termasuk jenis penyakit biasa, disebabkan oleh virus harpes simpleks.

4. Klamidia

Klamidia berasal dari kata chlamydia, sejenis organisme mikroskopik yang dapat menyebabkan infeksi pada leher rahim, rahim, saluran indung telur, dan saluran kencing. Gejala yang banyak dijumpai pada penderita penyakit ini adalah keluarnya cairan dari vagina yang berwarna kuning, disertai rasa panas seperti terbakar ketika kencing.

5. Candida

Penyakit ini biasa juga disebut sebagai infeksi ragi. Sebenarnya, dalam vagina terdapat berjuta-juta ragi. Meskipun tidak akan menimbulkan masalah, karena ragi berkembang terlalu pesat, dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan infeksi.

6. Chancroid

Chancroid adalah sejenis bakteri yang menyerang kulit kelamin dan menyebabkan luka kecil bernanah. Jika luka ini pecah, bakteri akan menjalar ke daerah pubik dan kelamin.

7. Granuloma inguinale

Penyakit ini sama dengan chancroid, yaitu disebabkan oleh bakteri. Bagian yang terserang biasanya permukaan kulit penis, bibir vagina, klitoris, dan anus, akan berubah membentuk jaringan berisi cairan yang mengeluarkan bau tidak sedap.

8. Lymphogranuloma venereum

Penyakit ini biasa disingkat LGV, disebabkan oleh virus dan dapat mempengaruhi seluruh organ tubuh. Penyakit ini sangat berbahaya karena antibiotik tidak dapat menanggulanginya.

9. AIDS

AIDS adalah sebuah singkatan dari “Acquired Immuno Deficiency” Syndrome. Artinya, suatu gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh seseorang.

10. HIV

HIV adalah singkatan dari “Human Immunodeficiency Virus”, yaitu sejenis virus yang menyebabkan AIDS.

11. ARC

ARC merupakan singkatan dari “AIDS Related Complex”, menyebabkan timbulnya pembengkakan pada kelenjar di sekitar pangkal paha dan daerah lainnya.

12. Scabies

Penyakit ini disebabkan oleh sejenis serangga yang disebut “mite”. Serangga tersebut dapat masuk melalui daerah kelamin dan dapat berkembang biak secara cepat.

13. PID

Merupakan singkatan dari “Pelvis Inflammatory Disease”, yaitu suatu penyakit infeksi sistem saluran reproduksi perempuan, seperti gonorea atau clamydia.

14. Trichomonas infection

Penyakit ini merupakan suatu penyakit yang menyerang vagina perempuan dan menyebabkan terjadinya infeksi dengan mengeluarkan cairan busa disertai dengan rasa gatal dan panas pada vagina tersebut.

15. Venereal warts

Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menyerang alat kelamin seseorang. Pada laki-laki, virus ini menyerang bagian kepala penis. Pada perempuan, virus ini biasanya menyerang bibir vagina dan daerah sekitar anus (perineum).

E. Usaha Pencegahan Penyimpangan Seksual

1. Sikap dan Pengertian Orang Tua

Pencegahan abnormalitas masturbasi sesungguhnya bisa secara optimal diperankan oleh orang tua. Sikap dan reaksi yang tepat dari orang tua terhadap anaknya yang melakukan masturbasi sangat penting. Di samping itu, orang tua perlu memperhatikan kesehatan umum dari anak-anaknya juga kebersihan di sekitar daerah genitalia mereka. Orang tua perlu mengawasi secara bijaksana hal-hal yang bersifat pornografis dan porno aksi yang terpapar pada anak.

Menekankan kebiasaan masturbasi sebagai sebuah dosa dan pemberian hukuman hanya akan menyebabkan anak putus asa dan menghentikan usaha untuk mencontohnya. Sedangkan pengawasan yang bersifat terang-terangan akan menyebabkan sang anak lebih memusatkan perhatiannya pada kebiasaan ini; dan kebiasaan ini bisa jadi akan menetap. Orang tua perlu memberikan penjelasan seksual secara jujur, sederhana dan terus terang kepada anaknya pada saat-saat yang tepat berhubungan dengan perubahan-perubahan fisiologis seperti adanya ereksi, mulai adanya haid dan fenomena seksual sekunder lainnya.

Secara khusus, biasanya anak remaja melakukan masturbasi jika punya kesempatan melakukannya. Kesempatan itulah sebenarnya yang jadi persoalan utama. Agar tidak bermasturbasi, hendaklah dia (anak) jangan diberi kesempatan untuk melakukannya. Kalau bisa, hilangkan kesempatan itu. Masturbasi biasanya dilakukan di tempat-tempat yang sunyi, sepi dan menyendiri. Maka, jangan biarkan anak untuk mendapatkan kesempatan menyepi sendiri. Usahakan agar dia tidak seorang diri dan tidak kesepian. Beri dia kesibukan dan pekerjaan menarik yang menyita seluruh perhatiannya, sehingga ia tidak teringat untuk pergi ke tempat sunyi dan melakukan masturbasi.

Selain itu, menciptakan suasana rumah tangga yang dapat mengangkat harga diri anak, hingga ia dapat merasakan harga dirinya. Hindarkan anak dari melihat, mendengar dan membaca buku-buku dan gambar-gambar porno. Suruhlah anak-anak berolah raga, khususnya olah raga bela diri, yang akan menyalurkan kelebihan energi tubuhnya. Atau membiasakan mereka aktif dalam organisasi kepemudaan dan keolahragaan.

2. Pendidikan seks

Sex education (pendidikan seks) sangat berguna dalam mencegah remaja pada kebiasaan masturbasi. Pendidikan seks dimaksudkan sebagai suatu proses yang seharusnya terus-menerus dilakukan sejak anak masih kecil. Pada permulaan sekolah diberikan informasi seks dengan cara terintegrasi dengan pelajaran-pelajaran lainnya, di mana diberikan penjelasan-penjelasan seksual yang sederhana dan informatif. Pada tahap selanjutnya dapat dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yang lebih bebas dan dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung jawab dan menguasai bidangnya. Hal penting yang ingin dicapai dengan pendidikan seks adalah supaya anak ketika sampai pada usia adolesen telah mempunyai sikap yang tepat dan wajar terhadap seks.

3. Pengobatan

Biasanya anak-anak dengan kebiasaan masturbasi jarang dibawa ke dokter, kecuali kebiasaan ini sangat berlebihan. Masturbasi memerlukan pengobatan hanya apabila sudah ada gejala-gejala abnormal, bias berupa sikap yang tidak tepat dari orang tua yang telah banyak menimbulkan kecemasan, kegelisahan, ketakutan, perasaan bersalah/dosa, menarik diri atau adanya gangguan jiwa yang mendasari, seperti gangguan kepribadian neurosis, perversi maupun psikosis.

4. Psikoterapi

Psikoterapi pada kebiasaan masturbasi mesti dilakukan dengan pendekatan yang cukup bijaksana, dapat menerima dengan tenang dan dengan sikap yang penuh pengertian terhadap keluhan penderita. Menciptakan suasana di mana penderita dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi merupakan tujuan awal psikoterapi. Pada penderita yang datang hanya dengan keluhan masturbasi dan adanya sedikit kecemasan, tindakan yang diperlukan hanyalah meyakinkan penderita pada kenyataan yang sebenarnya dari masturbasi. Pada kasus-kasus adolesen, kadang-kadang psikoterapi lebih kompleks dan memungkinkan dilakukan semacam interview sex education. Psikoterapi dapat pula dilakukan dengan pendekatan keagamaan dan keyakinan penderita.

5. Hipnoterapi

Self-hypnosis (auto-hypnosis) dapat diterapkan pada penderita dengan masturbasi kompulsif, yaitu dengan mengekspose pikiran bawah sadar penderita dengan anjuran-anjuran mencegah masturbasi.

6. Genital Mutilation (Sunat)

Ini merupakan pendekatan yang tidak lazim dan jarang dianjurkan secara medis. Pada beberapa daerah dengan kebudayaan tertentu, dengan tujuan mengurangi/membatasi/meniadakan hasrat seksual seseorang, dilakukan mutilasi genital dengan model yang beraneka macam.

7. Menikah

Bagi remaja/adolesen yang sudah memiliki kesiapan untuk menikah dianjurkan untuk menyegerakan menikah untuk menghindari/mencegah terjadinya kebiasaan masturbasi.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Penyimpangan seksual merupakan salah satu bentuk perilaku yang menyimpang karena melanggar norma-norma yang berlaku penyimpangan seksual dapat juga diartikan sebagai bentuk perbuatan yang mengabaikan nilai dan norma yang melanggar, bertentangan atau menyimpang dari aturan-aturan hukum. Sebagian dari tingkah laku itu memang tidak berdampak apa-apa, terutama jika tidak ada akibat fisik atau sosial yang dapat ditimbulkannya. Akan tetapi pada sebagian perilaku seksual yang lain, dampaknya cukup serius, seperti perasaan bersalah, depresi, marah dan sebagainya.

Sebab-sebab atau faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tingkah laku penyimpangan seksual dalam rumah tangga sakinah itu dapat dikelompokkan karena tiga pengaruh, yaitu: pengaruh lingkungan keluarga, pengaruh lingkungan sekolah, dan pengaruh lingkungan masyarakat. Selain itu juga karena merosotnya nilai keimanan seseorang itu.

B. Saran

Walaupun seks merupakan karunia Allah, namun setelah manusia jatuh ke dalam dosa, seks sering disalahgunakan. Iblis telah membuat segala aspek seks menjadi perzinaan, di mana kasih diganti dengan nafsu birahi.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Kushartati. 2001. Remaja dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Depdiknas.

Dianawati, Ajen. 2006. Pendidikan Seks untuk Remaja. Jakarta: Kawan Pustaka.

Junaedi, Didi. 2010. 17+ Seks Menyimpang. Jakarta: Semesta Rakyat Merdeka.

Pratiwi. 2004. Pendidikan Seks untuk Remaja. Yogyakarta: Tugu Publisher.

Sarwono, Sarlito. 2002. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Singgih, Gunarsa. 2004. Psikologi untuk Muda-Mudi. Jakarta: IKAPI.

Soetjiningsih. 2007. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto.

Willis, Sofyan. 2005. Remaja dan Permasalahannya. Bandung: Alfabeta.

Download Contoh Makalah Penyimpangan Seksual.docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH