Pengembangan Iptek dalam Islam

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT karena atas taufik dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Pengembangan Iptek dalam Islam ini. Shalawat serta salam senantiasa kita sanjungkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta semua umatnya hingga kini. Dan semoga kita termasuk dari golongan yang kelak mendapatkan syafaatnya.

Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkenan membantu pada tahap penyusunan hingga selesainya makalah ini. Harapan kami semoga makalah yang telah tersusun ini dapat bermanfaat sebagai salah satu rujukan maupun pedoman bagi para pembaca, menambah wawasan serta pengalaman, sehingga nantinya saya dapat memperbaiki bentuk ataupun isi makalah ini menjadi lebih baik lagi.

Kami sadar bahwa kami ini tentunya tidak lepas dari banyaknya kekurangan, baik dari aspek kualitas maupun kuantitas dari bahan penelitian yang dipaparkan. Semua ini murni didasari oleh keterbatasan yang dimiliki kami. Oleh sebab itu, kami membutuhkan kritik dan saran kepada segenap pembaca yang bersifat membangun untuk lebih meningkatkan kualitas di kemudian hari.

Indonesia, Maret 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang sedemikian pesat berdampak pada pengembangan sistem produksi, transportasi dan komunikasi. Nyaris tidak ada bidang kehidupan yang tidak dipengaruhi oleh kemajuan-kemajuan ini. Secara kasat mata, perkembangan IPTEK dengan segala produk yang dihasilkan memberi pengaruh terhadap gaya hidup. Perubahan gaya hidup itu secara mencolok tampak di kalangan kaum muda.

Perkembangan IPTEK dan perubahan gaya hidup di kalangan kaum muda berpengaruh terhadap cara pandang dan sikap kaum muda terhadap agama. Pertanyaan mengenai peran dan fungsi agama mulai menguat karena tidak jarang agama menjadi sangat gagap mengantisipasi kemajuan IPTEK. Kemajuan IPTEK dapat menyebabkan manusia modern bersikap sedemikian optimis dan yakin dapat menerangkan segala fenomena alam secara rinci, ilmiah dan rasional. Fakta telah membuktikan bahwa teknologi yang merupakan implikasi dan aplikasi dari ilmu pengetahuan, telah memberi sumbangan dan kemudahan yang jelas bagi kemajuan dan kesejahteraan hidup manusia modern.

Perkembangan IPTEK merupakan penghadiran paling jelas akan kehendak dan kekuatan manusia sebagai tuan atas alam semesta dan hidupnya. Keberhasilan IPTEK dalam memecahkan berbagai persoalan hidup menyadarkan manusia akan otonomi dan daya kemampuannya sendiri. Banyak orang modern merasa tidak memerlukan campur tangan yang Illahi untuk memecahkan persoalan hidup di dunia ini. Bahkan, tidak sedikit orang yang secara terus terang menyangkal yang Illahi karena menganggap bahwa yang Illahi itu hanyalah khayalan manusia. Hal ini juga terjadi dalam dunia akademis. Tidak sedikit yang meragukan peran agama atau bahkan secara terang-terangan menyatakan bahwa iman dan agama tidak lagi diperlukan.

Manusia yang secara diam-diam atau terang-terangan meninggalkan Allah telah merasuk suatu agama baru, yaitu keyakinan terhadap teknologi mutakhir yang menjamin adanya masa depan yang lebih cerah. Bahkan di negara-negara maju seperti Eropa, agama tidak lagi diminati oleh mayoritas warga negara. Bagi orang beriman, fenomena ini tentu menggelisahkan dan menjadi tantangan untuk mempertanggungjawabkan iman mereka.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian IPTEK?
  2. Bagaimana pandangan Islam terhadap IPTEK?
  3. Apa yang dimaksud dengan akidah Islam sebagai dasar IPTEK?
  4. Bagaimana perilaku yang islami dalam menghadapi kemajuan IPTEK?

C. Tujuan

  1. Untuk mengetahui pengertian IPTEK?
  2. Untuk mengetahui pandangan Islam terhadap IPTEK?
  3. Untuk mengetahui akidah Islam sebagai dasar IPTEK?
  4. Untuk mengetahui perilaku islami dalam menghadapi kemajuan IPTEK?

D. Manfaat

Untuk menjadikan generasi muda yang beriman, bertakwa, dan berilmu pengetahuan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian IPTEK

Perkembangan IPTEK adalah kenyataan yang bersifat ambivalen. Di satu pihak, IPTEK membantu manusia untuk mengembangkan kehidupan individu- individu dan bersama transportasi, komunikasi-multimedia, peningkatan sarana, mutu pendidikan, dan lain-lain. Di lain pihak, tak dapat dipungkiri bahwa IPTEK juga berpotensi besar terhadap penghancuran hidup dan alam semesta. Keganasan senjata nuklir dan bom adalah bagian kecil dari akibat negatif dari perkembangan IPTEK yang secara kasat mata bisa kita lihat. Selain itu, pencemaran udara dan pencemaran air serta kerusakan/kehancuran alam semesta (hutan) yang dari tahun ke tahun sungguh semakin mengerikan adalah akibat negatif dari perkembangan teknologi dan industrialisasi serta ambisi manusia untuk menguasai (mengeksploitasi) alam semesta.

Dalam kehidupan manusia banyak mendapat pengalaman, dari pengalaman itu didapatkan sejumlah pengetahuan atau knowledge yang memiliki sifat keajekan tertentu tanpa kemampuan untuk menjelaskan sebab-sebabnya secara terinci dan rasional. Pengetahuan demikian banyak macamnya dalam kehidupan ini. Tiap manusia berbeda jumlah dan macamnya pengalaman yang dimiliki tersebut, tanpa ada kemampuan untuk menjelaskannya. Kalau ingin mampu memberikan penjelasan maka masih diperlukan kegiatan yang lebih intens untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih utuh daripada umumnya pengetahuan yang ada. Untuk itu perlu didukung oleh sejumlah kegiatan berikutnya yang lebih serius guna mendapatkan inti sari pengetahuan tersebut hingga dapat dipedomani untuk perencanaan, prediksi-prediksi maupun kontrol atas kebenarannya.

Kombinasi usaha mencari pendekatan rasional dan mengumpulkan fakta-fakta empiris inilah yang bias disebut dengan pendekatan mendapatkan pengetahuan dengan metode keilmuan. Melalui metode keilmuan akan didapatkan “ilmu” dari sejumlah “pengetahuan”, yang memiliki ciri-ciri tertentu, sebagai pembeda dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang belum teruji. (pengetahuan = knowledge, sedang ilmu = science atau sains). Jadi ilmu adalah pengetahuan yang memenuhi ciri-ciri tertentu dan di sinilah dibakukan menjadi “ilmu pengetahuan”, yang kedua terminologi tersebut digabung menjadi satu kata. Dapat juga dirumuskan bahwa ilmu ialah sebagai “pengetahuan yang ilmiah”.

Sedangkan teknologi adalah penerapan ilmu-ilmu dasar untuk memecahkan masalah guna mencapai suatu tujuan tertentu. Adapun tujuan manusia dalam kehidupan ini dapat menjadi banyak sekali, yang kesemuanya itu ditentukan oleh niatnya, sebagaimana yang disebut dengan “semua amal itu tergantung pada niatnya”. Kedudukan ilmu pengetahuan sendiri sebagai ilmu dasar jelas netral. Setelah digunakan manusia untuk diterapkan guna mencapai suatu tujuan, barulah dapat dinilai apakah penerapan itu dapat dibenarkan oleh agama atau tidak.

B. Pandangan Islam Terhadap IPTEK

Agama Islam banyak memberikan penegasan mengenai ilmu pengetahuan baik secara nyata maupun secara tersamar, seperti yang disebut dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya sebagai berikut:”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Maksudnya sebagai berikut: sama-sama dari kelompok yang beriman, maka Allah SWT akan masih meninggikan derajat bagi mereka, ialah mereka yang berilmu pengetahuan.

Orang berilmu pengetahuan berarti menguasai ilmu dan memiliki kemampuan untuk mendapatkan dan menjelaskannya. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan diperlukan antara lain adanya sarana tertentu, yakni yang disebut “berpikir”. Jelasnya berpikir pada dasarnya merupakan suatu proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, apabila di dalam Al-Quran sering-sering disebut dengan kata-kata “berpikir” atau “berpikirlah” dan sebagainya. Dalam arti langsung maupun dalam arti sindiran dapat kita artikan juga sebagai perintah untuk mencari atau menguasai ilmu pengetahuan.

Dalam Al-Quran dan hadist sangat banyak ayat-ayat yang menerangkan hubungan tentang ajaran Islam dengan ilmu pengetahuan serta pemanfaatannya yang kita sebut Iptek. Hubungan tersebut dapat berbentuk semacam perintah yang mewajibkan, menyuruh mempelajari, pernyataan-pernyataan, bahkan ada yang berbentuk sindiran. Kesemuanya itu tidak lain adalah menggambarkan betapa eratnya hubungan antara Islam dan Iptek sebagai hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Tegasnya hubungan antara Islam dan Iptek adalah sangat erat dan menyatu.

Dalam pandangan Islam, Iptek juga digambarkan sebagai cara mengubah suatu sumber daya menjadi sumberdaya lain yang lebih tinggi nilainya, hal ini terkover dalam surat Ar-Ra’d ayat 11, yaitu:“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa, pada dasarnya Al-Qur’an telah mendorong manusia untuk berteknologi supaya kehidupan mereka meningkat. Upaya ini harus merupakan rasa syukur atas keberhasilannya dalam merubah nasibnya. Dengan perkataan lain, rasa syukur atas keberhasilannya dimanifestasikan dengan mengembangkan terus keberhasilan itu, sehingga dari waktu ke waktu keberhasilan itu akan selalu meningkat terus.

Pada masa Nabi sudah ada penemuan-penemuan yang bisa dinamakan dengan Iptek, seperti halnya Iptek dalam dunia pertanian. Para sahabat Nabi pernah melalukan pembuahan buatan (penyilangan atau perkawinan) pada pohon kurma. Lalu Nabi menyarankan agar tidak usah melakukannya. Kemudian ternyata buahnya banyak yang rusak dan setelah itu dilaporkan kepada Nabi, maka Nabi berpesan “Lakukanlah pembuahan buatan! Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian”. Di dalam Al-Quran disebutkan juga secara garis besar, tentang teknologi, yaitu tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya, tentang penciptaan makhluk hidup, termasuk manusia yang didorong hasrat ingin tahunya, dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada di sekelilingnya, meskipun Al-Quran bukan buku kosmologi, atau biologi, atau sains pada umumnya, namun Al-Quran jauh sekali dalam membicarakan teknologi.

Dari beragam uraian di atas bahwasanya kita dapat melihat sendiri bagaimana pandangan Islam terhadap Iptek. Dalam pedoman utamanya (Al-Quran), banyak disebutkan sesuatu hal yang berkaitan dengan Iptek, hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat erat sekali dengan Iptek. Jadi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini merupakan wujud dari implikasi Al-Quran yang sebenarnya. Banyak seruan-seruan di dalamnya yang menganjurkan manusia untuk berpikir dan mengembangkan potensinya dalam pengetahuan. Namun satu hal yang sangat disayangkan, umat muslim sangat rendah dalam bidang Iptek, sehingga ketinggalan perkembangan dengan orang-orang non-muslim. Semoga dengan ini umat Islam sadar dan mau mengembangkan pengetahuannya dalam berbagai hal, sehingga menjadi umat yang berkualitas dengan adanya ketakwaan dan pengetahuan yang tinggi.

C. Akidah Islam sebagai Dasar IPTEK

Inilah peran pertama yang dimainkan Islam dalam IPTEK, yaitu akidah Islam harus dijadikan basis segala konsep dan aplikasi IPTEK. Inilah paradigma Islam sebagaimana yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW. Paradigma Islam inilah yang seharusnya diadopsi oleh kaum muslimin saat ini. Bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Diakui atau tidak, kini umat Islam telah terjerumus dalam sikap membebek dan mengekor barat dalam segalanya; dalam pandangan hidup, gaya hidup, termasuk dalam konsep ilmu pengetahuan. Bercokolnya paradigma sekuler inilah yang bisa menjelaskan, mengapa di dalam sistem pendidikan yang diikuti orang Islam, diajarkan sistem ekonomi kapitalis yang pragmatis serta tidak kenal halal haram.

Eksistensi paradigma sekuler itu menjelaskan pula mengapa tetap diajarkan konsep pengetahuan yang bertentangan dengan keyakinan dan keimanan muslim. Misalnya; Teori Darwin yang dusta dan sekaligus bertolak belakang dengan Aqidah Islam. Bahwa manusia adalah hasil evolusi dari organisme sederhana yang selama jutaan tahun berevolusi melalui seleksi alam menjadi organisme yang lebih kompleks hingga menjadi manusia modern sekarang. Kekeliruan paradigmatis ini harus dikoreksi. Ini tentu perlu perubahan fundamental dan perombakan total. Dengan cara mengganti paradigma sekuler yang ada saat ini, dengan paradigma Islam yang memandang bahwa akidah Islam (bukan paham sekulerisme) yang seharusnya dijadikan basis bagi bangunan ilmu pengetahuan manusia. Maksudnya adalah konsep IPTEK harus distandardisasi benar salahnya dengan tolok ukur Al-Qur`an dan Al-Hadits dan tidak boleh bertentangan dengan keduanya (Al-Baghdadi, 1996: 12).

Jika kita menjadikan akidah Islam sebagai landasan IPTEK, bukan berarti bahwa ilmu astronomi, geologi, agronomi, dan seterusnya, harus didasarkan pada ayat Al-Quran tertentu, atau hadist tertentu. Kalau pun ada ayat atau hadist yang cocok dengan fakta sains, itu adalah bukti keluasan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu bukan berarti konsep. IPTEK harus bersumber pada ayat atau hadist tertentu. Misalnya saja dalam astronomi ada ayat yang menjelaskan bahwa matahari sebagai pancaran cahaya dan panas, bahwa langit (bahan alam semesta) berasal dari asap (gas) sedangkan galaksi-galaksi tercipta dari kondensasi (pemekatan) gas tersebut, dan seterusnya. Ada sekitar 750 ayat dalam Al-Quran yang semacam ini . Ayat-ayat ini menunjukkan betapa luasnya ilmu Allah sehingga meliputi segala sesuatu, dan menjadi tolok ukur kesimpulan IPTEK, bukan berarti bahwa konsep IPTEK wajib didasarkan pada ayat-ayat tertentu.

Jadi, yang dimaksud menjadikan akidah Islam sebagai landasan IPTEK bukanlah bahwa konsep IPTEK wajib bersumber kepada Al-Quran dan Al-Hadits, tapi yang dimaksud, bahwa IPTEK wajib berstandar pada Al-Quran dan Al-Hadits. Standar pemanfaatan IPTEK menurut orang barat adalah manfaat, apakah itu dinamakan pragmatisme atau pun utilitarianisme. Selama sesuatu itu bermanfaat, yakni dapat memuaskan kebutuhan manusia, maka ia dianggap benar dan absah untuk dilaksanakan, meskipun itu diharamkan dalam ajaran agama. Keberadaan standar manfaat itulah yang dapat menjelaskan, mengapa orang barat mengaplikasikan IPTEK secara tidak bermoral, tidak berperikemanusiaan, dan bertentangan dengan nilai agama. Misalnya menggunakan bom atom untuk membunuh ratusan ribu manusia tak berdosa, memanfaatkan bayi tabung tanpa melihat moralitas (misalnya meletakkan embrio pada ibu pengganti), mengloning manusia (berarti manusia bereproduksi secara a-seksual, bukan seksual), mengeksploitasi alam secara serakah walaupun menimbulkan pencemaran yang berbahaya, dan seterusnya.

Karena itu, sudah saatnya standar manfaat yang salah itu dikoreksi dan diganti dengan standar yang benar. Yaitu standar yang bersumber dari pemilik segala ilmu yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, yang amat mengetahui mana yang secara hakiki bermanfaat bagi manusia, dan mana yang secara hakiki berbahaya bagi manusia. Standar itu adalah segala perintah dan larangan Allah SWT yang bentuknya secara praktis dan konkret adalah syariah Islam.

D. Berperilaku Islami dalam Menghadapi Kemajuan IPTEK

Umat Islam yang mewarisi ajaran suci Ilahiah dan peradaban dan IPTEK Islam yang jaya di masa lalu, justru kini terpuruk di negerinya sendiri, yang sebenarnya kaya sumber daya alamnya, namun miskin kualitas sumber daya manusianya (pendidikan dan IPTEKnya). Ketidakadilan global ini terlihat dari fakta bahwa 80% kekayaan dunia hanya dikuasai oleh 20 % penduduk kaya di negara-negara maju. Sementara 80% penduduk dunia di negara-negara miskin hanya memperebutkan remah-remah sisa makanan pesta pora bangsa-bangsa negara maju. Ironis bahwa Indonesia yang sangat kaya dengan sumber daya alam minyak dan gas bumi, justru mengalami krisis dan kelangkaan BBM. Ironis bahwa di tengah keberlimpahan hasil produksi gunung emas-perak dan tembaga serta kayu hasil hutan yang ada di Indonesia, kita justru mengalami kesulitan dan krisis ekonomi, kelaparan, busung lapar, dan berbagai penyakit akibat kemiskinan rakyat.

Kenyataan menyedihkan tersebut sudah selayaknya menjadi cambuk bagi kita bangsa Indonesia yang mayoritas Muslim untuk gigih memperjuangkan kemandirian politik, ekonomi, dan moral bangsa dan umat. Kemandirian itu tidak bisa lain kecuali dengan pembinaan mental-karakter dan moral (akhlak) bangsa-bangsa Islam sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilandasi keimanan dan takwa kepada Allah SWT. Serta melawan pengaruh buruk budaya sampah dari barat yang sekuler, matre dan hedonis (mempertuhankan kenikmatan hawa nafsu).

Islam, sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam mementingkan pengembangan dan penguasaan IPTEK untuk menjadi sarana ibadah dan pengabdian Muslim kepada Allah SWT dan mengembang amanat khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka bumi untuk berkhidmat kepada kemanusiaan dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ’Alamin). Ada lebih dari 800 ayat dalam Al-Quran yang mementingkan proses perenungan, pemikiran, dan pengamatan terhadap berbagai gejala alam, untuk ditafakuri dan menjadi bahan zikir (ingat) kepada Allah, yang paling terkenal adalah ayat:

1. Surat Ali Imron ayat 190-191

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

2. Surat Mujadillah ayat 11

Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Bagi umat Islam, kedua-duanya adalah merupakan ayat-ayat (atau tanda-tanda/sinyal) Kemahakuasaan dan Keagungan Allah SWT. Ayat tanziliyah/naqliyah (yang diturunkan atau transmited knowledge), seperti kitab-kitab suci dan ajaran para Rasulullah (Taurat, Zabur, Injil, dan Al Qur’an), maupun ayat-ayat kauniyah (fenomena, prinsip-prinsip, dan hukum alam), keduanya bila dibaca, dipelajari, diamati dan direnungkan, melalui mata, telinga dan hati (qalbu dan akal) akan semakin mempertebal pengetahuan, pengenalan, keyakinan, dan keimanan kita kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, Wujud yang wajib, Sumber segala sesuatu dan segala eksistensi). Jadi agama dan ilmu pengetahuan, dalam Islam tidak terlepas satu sama lain. Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua sisi koin dari satu mata uang koin yang sama. Keduanya saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling memperkuat secara sinergis, holistik, dan integratif.

Bila ada pemahaman atau tafsiran ajaran agama Islam yang menentang fakta-fakta ilmiah, maka kemungkinan yang salah adalah pemahaman dan tafsiran terhadap ajaran agama tersebut. Bila ada ’ilmu pengetahuan’ yang menentang prinsip-prinsip pokok ajaran agama Islam maka yang salah adalah tafsiran filosofis atau paradigma materialisme-sekuler yang berada di balik wajah ilmu pengetahuan modern tersebut. Karena alam semesta yang dipelajari melalui ilmu pengetahuan, dan ayat-ayat suci Tuhan (Al-Quran) dan Sunah Rasulullah SAW, yang dipelajari melalui agama, adalah sama-sama ayat-ayat (tanda-tanda dan perwujudan/tajaliyat) Allah SWT. zmaka tidak mungkin satu sama lain saling bertentangan dan bertolak belakang, karena keduanya berasal dari satu sumber yang sama, Allah Yang Maha Pencipta dan Pemelihara seluruh alam semesta.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Di tengah perkembangan IPTEK dan mentalitas pragmatis-instrumental yang ditandai oleh kecenderungan berkembangnya cara hidup konsumtif, materialistis dan hedonis, pola hidup asketis penuh pengorbanan yang diajarkan oleh agama-agama akan membangun peradaban dan identitas pribadi yang memampukan manusia bersikap lepas bebas dari segala kecenderungan tak teratur. Hal ini terjadi karena refleksi iman di dalam agama membantu untuk menemukan makna hidup dan mengarahkan pada nilai-nilai abadi. Dengan demikian kepercayaan pada Tuhan memberikan kekuatan pada orang beriman untuk bertahan tidak hanya dalam suka, tetapi juga dalam duka, sehat atau sakit, keberhasilan atau kegagalan. Dengan kata lain, iman pada Tuhan memberikan kebebasan dalam pelbagai keadaan.

Ilmu ialah sebagai pengetahuan yang ilmiah, sedangkan teknologi adalah penerapan ilmu-ilmu dasar untuk memecahkan masalah guna mencapai suatu tujuan tertentu. Orang berilmu pengetahuan berarti menguasai ilmu dan memiliki kemampuan untuk mendapatkan dan menjelaskannya. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan diperlukan antara lain adanya sarana tertentu, yakni yang disebut “berpikir”. Jelasnya berpikir pada dasarnya merupakan suatu proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Jika kita menjadikan akidah Islam sebagai landasan IPTEK, bukan berarti bahwa ilmu astronomi, geologi, agronomi, dan seterusnya, harus didasarkan pada ayat Al-Quran tertentu, atau hadis tertentu. Kalau pun ada ayat atau hadis yang cocok dengan fakta sains, itu adalah bukti keluasan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu bukan berarti konsep.

B. Saran

Untuk menyikapi IPTEK dalam kehidupan sehari-hari yang islami adalah memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk meningkatkan martabat manusia dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

https://untuksebuahhasilbutuhproses.blogspot.co.id/2013/03/pengembangan-iptek-dalam-islam.html

http://asmaul-aja.blogspot.co.id/2014/10/islam-dan-perkembangan-iptek.html

http://ldk.stmik-dci.ac.id/?post=pandangan-islam-terhadap-ilmu-pengetahuan-dan-teknologi

Download Contoh Makalah Pengembangan Iptek dalam Islam.docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH