Makalah Sarekat Islam

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Makalah Sarekat Islam ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku umatnya.

Makalah ini kami buat untuk melengkapi tugas mata pelajaran . Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Makalah Sarekat Islam ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Makalah Sarekat Islam ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Kami mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga Makalah Sarekat Islam ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Indonesia, September 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Capaian-capaian peradaban manusia merupakan siklus sejarah yang saling melengkapi satu sama lain. Sebuah titik peristiwa sejarah merupakan guru bagi peristiwa-peristiwa sejarah yang datang kemudian. Akumulasi dari rangkaian-rangkaian peristiwa sejarah itu melahirkan formula bahkan format bagi sebuah peradaban.

Sejarah merupakan napak tilas peristiwa masa lalu, pembelajaran untuk masa sekarang dan prediksi bagi masa depan. Perjalanan panjang kehidupan manusia dalam menciptakan kebahagiaan dalam kehidupan individu dan juga masyarakatnya, mengharuskan mereka berpikir dan berbuat. Hasil pemikiran dan aktivitas itu ada yang membuahkan hasil cemerlang, namun tak sedikit yang menuai kegagalan yang memilukan.

Melihat ke belakang (sejarah) dalam mencipta peradaban bagi kebahagiaan manusia adalah sebuah usaha aktif yang maju guna merangkai formula-formula bahkan format-format kehidupan yang lebih mapan; yang lebih baik dibanding sebelumnya. Hal itu dapat dilakukan dengan menilik unsur-unsur dan prinsip-prinsip sejarah kemudian diejawantahkan sesuai dengan tuntutan kehidupan kekinian. Kegagalan sebuah sejarah diperlakukan sebagai cermin diri agar tak terulang lagi kesalahan yang pernah ada. Keberhasilannya diurai dengan menghadirkan seluruh instrumen yang ada dalam kondisi tempat formulasi itu diterapkan. Penyatuan kedua ritme kehidupan di atas, dengan berpijak pada sikap positif dan pro aktif, akan membuahkan hasil yang lebih baik di banding masa sebelumnya.

Gambaran di atas ingin diajukan dalam uraian makalah ini, dengan menarik sebuah organisasi Islam sebagai fokus kajiannya. Organisasi yang dimaksud adalah Syarikat Islam Indonesia. Masa Pergerakan Nasional yang dimulai sejak tahun 1908 hingga 1942 merupakan awal mula pergerakan Indonesia. Hal ini dikarenakan timbulnya banyak organisasi-organisasi yang sudah tersusun secara struktural. Maksud dari organisasi yang tersusun secara struktural yaitu organisasi yang ada tidaklah bersifat tradisional. Organisasi yang tradisional bercirikan adanya peran pemimpin yang dominan. Jika pemimpin tersebut meninggal atau ditangkap maka organisasi tersebut akan bubar dan lenyap. Selain itu nasional di sini dimaksudkan bahwa organisasi tersebut bukan hanya terpaku oleh daerah-daerah saja, tetapi juga sudah melebarkan sayapnya hingga meraih anggota dan pengaruh ke daerah lain yang lebih luas lagi.

Salah satu Organisasi pada masa pergerakan nasional adalah Sarekat Islam. Sarekat Islam mula-mula dinamakan Sarekat Dagang Islam. Ketika masih menjadi Sarekat Dagang Islam organisasi ini lebih berfokus pada masalah perekonomian, tetapi ketika sudah berubah nama menjadi Sarekat Islam organisasi ini lebih berfokus lagi pada masalah politik. Sarekat Islam merupakan suatu organisasi yang banyak memberikan kontribusi kepada pergerakan nasional. Kongres-kongres yang dilakukan oleh Sarekat Islam banyak yang memberikan kritik kepada pemerintah Belanda serta memberikan peluang kepada masyarakat pribumi. Walaupun karena kritik tersebut Sarekat Islam pernah dibekukan atau di non-aktifkan kegiatannya.

Sarekat Islam merupakan organisasi yang memiliki banyak pengikut. Oleh karena itu banyak sekali pihak yang ingin menggunakannya untuk kepentingan politik sendiri. Paham-paham dari luar yang banyak memberikan pengaruh juga memberikan dampak yang cukup besar bagi Sarekat Islam itu sendiri. Paham tersebut juga menjadi bumerang bagi Sarekat Islam. Selain itu juga adanya pro dan kontra di dalam kubu Sarekat Islam juga memberikan dampak yang begitu besar bagi organisasi tersebut. Indie Weerbaar dan Volksraad juga memberikan kontribusi dalam perjalanan Sarekat Islam.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas di dalam makalah tentang Sarekat Islam ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana sejarah awal Sarekat Islam?
  2. Apa pengaruh sosialisme-revolusioner terhadap Sarekat Islam?
  3. Bagaimana pengaruh ataupun peran dari Sarekat Islam pada masa Orde Lama?
  4. Bagaimana pengaruh ataupun peran dari Sarekat Islam dalam pergerakan nasional?

C. Tujuan

Adapun tujuan dalam penulisan makalah tentang Sarekat Islam ini adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan informasi tentang sejarah awal Sarekat Islam.
  2. Mengetahui pengaruh sosialisme-revolusioner terhadap Sarekat Islam.
  3. Memberikan pengetahuan terkait peran Sarekat Islam pada masa Orde Lama.
  4. Menjelaskan pengaruh Sarekat Islam terhadap pergerakan nasional.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sarekat Dagang Islam (SDI)

Organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) pada awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Organisasi ini dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada 16 Oktober 1905, dengan tujuan awal untuk menghimpun para pedagang pribumi muslim (khususnya pedagang batik) agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Tionghoa. Pada saat itu, pedagang-pedagang keturunan Tionghoa tersebut telah lebih maju usahanya dan memiliki hak dan status yang lebih tinggi daripada penduduk Hindia Belanda lainnya. Kebijakan yang sengaja diciptakan oleh pemerintah Hindia Belanda tersebut kemudian menimbulkan perubahan sosial karena timbulnya kesadaran di antara kaum pribumi yang biasa di sebut sebagai Inlanders.

SDI merupakan organisasi ekonomi yang berdasarkan pada agama Islam dan perekonomian rakyat sebagai dasar penggeraknya. Di bawah pimpinan H. Samanhudi, perkumpulan ini berkembang pesat hingga menjadi perkumpulan yang berpengaruh. R.M. Tirtoadisurjo pada tahun 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia. Pada tahun 1910, Tirtoadisurjo mendirikan lagi organisasi semacam itu di Buitenzorg. Demikian pula, di Surabaya H.O.S. Tjokroaminoto mendirikan yang serupa pada tahun 1912. Tjokroaminoto masuk Sarekat Islam bersama Hasan Ali Surati, seorang keturunan India yang kelak kemudian memegang keuangan surat kabar Sarekat Islam, Oetusan Hindia.

B. Sejarah Lahirnya PSII

Syarikat Islam yang kita bicarakan dalam makalah ini pada awalnya bernama Sarekat dagang Islam (SDI). Ia didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 di Solo dengan tokoh pemrakarsanya seorang pedagang, H. Samanhudi. Konteks yang melatari lahirnya SDI adalah lantaran adanya kesadaran Kaoem Boemipoetra yang hidup berada dalam tekanan imperialisme kaum penjajah asing (Belanda) yang ketika itu melahirkan strata masyarakat Nusantara kepada tiga golongan atau tingkatan:

  1. Strata I Kaum Indo Belanda, bangsa Eropa.
  2. Strata II Kaum Perantauan Timur Asing (Cina, Arab, India).
  3. Strata III Kaum Inlander, yaitu bangsa Hindia Belanda (Indonesia).

Kesadaran akan nasib sebagai warga negara kelas tiga di tanah tumpah darahnya sendiri, menyebabkan kalangan saudagar muslim dan para haji bangkit untuk memberdayakan kaumnya. Mereka melakukan gerakan dagang atau ekonomi dengan iktikad melawan atau meruntuhkan dominasi kekuatan kaum Cina perantauan yang kala itu mendapat hak-hak lebih dan istimewa dalam dunia ekonomi dan perdagangan. Perdagangan besar dikuasai oleh kaum Indo-Belanda, sentra-sentra ekonomi berbasis pasar dikuasai para Cina, Arab, India sedang bangsa Indonesia menjadi kaum kebanyakan, buruh dan pekerja kasar.

Kondisi seperti diungkap di atas, jelas menampakkan bahwa kesadaran dasar yang muncul pertama kali dalam sejarah organisasi Islam ditandai dengan kelahiran Sarekat Dagang Islam diawali dari kesadaran akan ketereleminasian umat dari sisi ekonomi. Di samping itu yang penting pula diperhatikan dalam latar belakang kemunculan SDI ini adalah adanya kesadaran dari sebagian masyarakat akan pentingnya pencerahan pemikiran, terutama pemikiran keislaman, bagi bangkit dan majunya umat Islam di Indonesia.

Lahirnya kesadaran dan bangkitnya kaum muslimin saat itu, sesungguhnya kuat didorong oleh adanya kebangunan Islam dunia, dan peranan pelaksanaan haji di awal abad ke-20. Hal itu dapat mengindikasikan bahwa pergerakan SDI pada dasarnya kuat dipengaruhi secara eksternal oleh fenomena gerakan tajdid (pembaruan) pemikiran Islam yang sedang berlangsung di belahan dunia Timur Islam, yang diprakarsai oleh antara lain: Syaikh Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani dan para mujtahid lainnya. Hal itu langsung maupun tidak, berimbas juga pada dorongan internal yaitu kesadaran kaum muslimin akibat adanya interaksi pergaulan pada mereka yang melaksanakan ibadah haji di tanah suci

Dari sinilah kita menandai adanya kebangunan Islam di Indonesia, sebagai pertanda dan menjadi rangkaian perubahan masyarakat di Nusantara ketika itu. Titik tekan terpenting yang menjadi sebab kebangunan ataupun kebangkitan umat Islam saat itu adalah tumbuhnya kesadaran umat Islam di seluruh dunia untuk melakukan perjuangan anti kolonialisme kaum kuffar yang menjajah banyak wilayah Islam, termasuk Indonesia. Kehadiran para jamaah haji di tanah haram tentu memberikan pengaruh tersendiri bagi terbangunnya sentimen keagamaan untuk kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan kaum muslimin atas keterjajahan diri dan bangsanya.

Sisi lain yang juga menjadi motivasi adalah dalam konteks menghadapi ancaman yang disebut Rosihan Anwar sebagai “kerstening politiek” Belanda yang diberlakukan di tanah jajahan ini. Perlawanan atas kebijakan politik Belanda itulah, membuat kaum muslimin Indonesia secara patriotik melakukan respons perwiranya. Keragaman sebab yang merupakan kausa prima itu kemudian saling bersinergi satu sama lain yang muaranya bertumpu dan berakumulasi pada lahirnya kesadaran baru kaum muslimin untuk melepas diri dari keterkungkungan kaum penjajah, dan menghadapi persaingan dagang dengan kaum Cina Perantauan dan keturunan India.

Mantan Ketua Umun Lajnah Tanfidziah Syarikat Islam, M.A. Ghani, menyebutkan, bahwa ada 4 (empat) pokok pikiran yang menjadi tujuan perjuangan SDI sebagai wadah perjuangan kaum muslimin ketika itu:

  1. Upaya memperbaiki nasib rakyat dalam bidang sosial ekonomi;
  2. Mempersatukan para pedagang batik agar dapat bersaing dengan pedagang dari keturunan Cina;
  3. Kehendak mempertinggi derajat dan martabat bangsa pribumi;
  4. Mengembangkan serta memajukan pendidikan dan agama Islam.

Dari awal gerakan yang berkonsentrasi pada bidang ekonomi dan perdagangan, gerakan berubah menjadi gerakan sosial, ekonomi dan keagamaan. Label Islam tetap menjadi citra kejuangannya. Maka pada 1906 (atau ada juga yang menyebutnya pada 1911) berubahlah nama pergerakan itu menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama menjadi Syarikat Islam (SI) ini secara langsung ataupun tak langsung adalah disebabkan karena bergabungnya seorang tokoh “pemberontak” H.O.S. Tjokroaminoto yang bekerja pada sebuah maskapai penerbangan di Surabaya ke dalam tubuh perkauman ini. Dari sini stressing dan aksentuasi pergerakan tidak lagi bertumpu sekadar pada urusan dagang atau ekonomi semata tetapi jauh lebih meluas, menyentuh aspek-aspek lainnya.

Partai Syarikat Islam Indonesia sering membanggakan dirinya sebagai Partai tertua di Indonesia, karena ia memang berasal dari Sarekat Dagang Islam (SDI, 1911) dan Sarekat Islam (SI, 1912). Tetapi sebab langsung partai tersebut didirikan kembali padahal sebelumnya telah ada kebulatan tekad untuk melihat Masjumi sebagai satu-satunya partai Islam, ialah usaha formatir Amir Syarifuddin membentuk kabinet pada tahun 1947 yang ingin mengikutkan kalangan Islam tetapi ditolak oleh Masjumi. Rupanya kalangan PSII terpancing oleh ajakan Amir Syarifuddin; mereka bersedia duduk dalam kabinet yang ia bentuk.

Segera sesudah PSII didirikan kembali pada tahun 1947 itu, pimpinan PSII mengeluarkan pengumuman yang mengatakan bahwa PSII tidak mempunyai perikatan dengan Masyumi. PSII masuk kabinet semata-mata berdasarkan tanggung jawabnya terhadap negara yang sedang menghadapi ketegangan yang sangat serta kesulitan besar sehingga partai merasa perlu menanggulanginya. Suatu konperensi mewajibkan pimpinan partai menghubungi Masjumi guna mencari penyelesaian dalam kelangsungan hidup bernegara, persatuan Islam dan umumnya orang Indonesia. Tetapi sampai Masjumi dibubarkan pada tahun 1960 hubungan seperti itu tidak pernah dilakukan.

C. Pengaruh Sosialisme-Revolusioner Terhadap Sarekat Islam

Sarekat Islam (SI) yang mengalami perkembangan pesat, kemudian mulai disusupi oleh paham sosialisme-revolusioner. Paha mini dibawa atau disebarkan oleh H.J.F.M.Sneevliet yang mendirikan organisasi ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) pada tahun 1914.

Pada mulanya ISDV sudah mencoba menyebarkan pengaruhnya, tetapi karena paham yang mereka anut tidak berakar di dalam masyarakat Indonesia melainkan impor dari Eropa oleh orang Belanda, sehingga usahanya kurang berhasil. Sehingga mereka menggunakan taktik infiltrasi yang dikenal sebagai “Blok di dalam”, mereka berhasil menyusup ke dalam tubuh SI oleh karena dengan tujuan yang sama yaitu membela rakyat kecil dan menentang kapitalisme namun dengan cara yang berbeda.

Dengan usaha yang baik, mereka berhasil memengaruhi tokoh-tokoh muda SI seperti Smaoen, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin Prawirodirdjo. Hal ini menyebabkan SI pecah menjadi “SI Putih” yang dipimpin oleh H.O.S. Tjokroaminoto dan “SI Merah” yang dipimpin oleh Semaoen. SI Merah berlandaskan asas sosialisme-komunisme.

Adapun faktor-faktor yang mempermudah infiltrasi ISDV ke dalam tubuh SI antara lain

  1. Centraal Sarekat Islam (CSI) sebagai badan koordinasi pusat memiliki kekuasaan yang lemah. Hal ini dikarenakan tiap cabang SI bertindak sendiri-sendiri. Pemimpin cabang memiliki pengaruh yang kuat untuk menentukan nasib cabangnya, dalam hal ini Semaoen adalah ketua SI Semarang.
  2. Peraturan partai pada waktu itu memperbolehkan keanggotaan multipartai, mengingat pada mulanya organisasi seperti Boedi Oetomo dan SI merupakan organisasi non-politik. Semaoen juga memimpin ISDV (PKI) dan berhasil meningkatkan anggotanya dari 1700 orang pada tahun 1916 menjadi 20.000 orang pada tahun 1917 di sela-sela kesibukannya sebagai Ketua SI Semarang.
  3. Akibat dari Perang Dunia I, hasil panen padi yang jelek mengakibatkan membumbungnya harga-harga dan menurunnya upah karyawan perkebunan untuk mengimbangi kas pemerintah kolonial mengakibatkan dengan mudahnya rakyat memihak ISDV.
  4. Akibat kemiskinan yang semakin diderita rakyat semenjak Politik Pintu Terbuka (sistem liberal) dilaksanakan pemerintah kolonialis sejak tahun 1870 dan wabah pes yang melanda pada tahun 1917 di Semarang.

SI Putih (H. Agus Salim, Abdul Muis, Suryopranoto, Sekarmadji Maridjan Kartosoewiryo) berhaluan kanan berpusat di kota Yogyakarta. Sedangkan SI Merah (Semaoen, Alimin, Darsono) berhaluan kiri berpusat di kota Semarang. Sedangkan H.O.S. Tjokroaminoto pada mulanya adalah penengah di antara kedua kubu tersebut.

Jurang antara SI Merah dan SI Putih semakin melebar saat keluarnya pernyataan Komitmen (Partai Komunis Internasional) yang menentang cita-cita Pan-Islamisme. Pada saat kongres SI Maret 1921 di Yogyakarta, H. Fachruddin, Wakil Ketua Muhammadiyah mengedarkan brosur yang menyatakan bahwa Pan-Islamisme tidak akan tercapai bila tetap bekerja sama dengan komunis karena keduanya memang bertentangan. Di samping itu Agus Salim mengecam SI Semarang yang mendukung PKI. Darsono membalas kecaman tersebut dengan mengecam beleid (Belanda: kebijaksanaan) keuangan Tjokroaminoto. SI Semarang juga menentang pencampuran agama dan politik dalam SI. Oleh karena itu, Tjokroaminoto lebih condong ke SI haluan kanan (SI Putih).

D. Peran Sarekat Islam Pada Masa Orde Lama

Sarekat Islam adalah organisasi yang berjuang untuk Indonesia. Mencoba mempertahankan dan memperjuangkan paham Pan Islamisme yang selalu diusik oleh lawannya dan penyusup. Sarekat Islam adalah suatu organisasi pergerakan nasional di kalangan kaum muslimin, yang berkembang sebagai organisasi massa rakyat Indonesia yang pertama. Organisasi ini bermula dari Sarekat dagang Islam yang didirikan di Solo oleh H. Samanhudi pada akhir tahun 1911. Setelah mengalami masa kejayaannya tahun 1916 sampai 1921, organisasi ini sedikit demi sedikit mengalami kemunduran, karena adanya penetrasi dari kaum Marxis dan perpecahan organisasi akibat perbedaan pandangan politik di antara pemimpin-pemimpin organisasi.

Sarekat Dagang Islam mula-mula didirikan oleh kalangan pedagang batik di desa Lawehan, Solo. Persaingan di bidang batik yang makin meningkat antara pedagang pribumi dan pedagang Cina, dan sikap superioritas orang Cina terhadap orang Indonesia setelah berhasilnya Revolusi Cina tahun 1911, mendorong pedagang-pedagang batik pribumi menghimpun diri. Selain karena alasan di atas, pedagang batik Solo juga merasakan tekanan dari bangsawan setempat. Atas kepeloporan H. Samanhudi, saudagar batik dari Lawehan, Solo, dan dukungan R.M. Tirtoadisuryo, seorang wartawan yang pernah mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Jakarta (1909) dan di Bogor (1911), didirikanlah Sarekat Dagang Islam.

Anggaran dasar pertama Sarekat Dagang Islam tertanggal 11 November 1911 dirumuskan oleh R.M. Tirtiadisuryo. Tujuan organisasi menurut anggaran dasar adalah; berikhtiar meningkatkan persaudaraan di antara anggota, dan tolong menolong di kalangan kaum Muslimin; berusaha meningkatkan derajat kemakmuran dan kesejahteraan rakyat serta kebebasan Negeri. Organisasi ini berhasil meluas sampai masyarakat bawah.

Hal ini membuat pihak pengusaha khawatir, lebih-lebih setelah kegiatan para anggota di Solo meningkat tanpa dapat diawasi oleh pengurus setempat. Kerusuhan meningkat dan perkelahian yang melibatkan orang Cina kerap terjadi. Pemogokan dilancarkan oleh pekerja di perkebunan Krapyak di Mangkunegaran. Pihak penguasa menganggap hal ini disebabkan oleh Sarekat Dagang Islam. Oleh sebab itu, pada awal Agustus 1912, residen Surakarta segera membekukan organisasi ini, SDI dilarang menerima anggota baru dan mengadakan rapat-rapat. Penggeledahan terhadap tokoh-tokoh organisasi dilakukan, tetapi tidak menemukan bukti-bukti bahwa SDI memang berbahaya.

Pada tanggal 26 Agustus 1912, pembekuan ini dicabut dengan syarat bahwa anggaran dasar organisasi ini diubah, dan organisasi ini terbatas di daerah Surakarta saja. Sekalipun demikian, tetapi anggota SDI terus bertambah, tidak saja di Surakarta tetapi di daerah lain di Jawa.

Sementara itu di lingkungan organisasi muncul pemimpin baru yakni H. Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto. Tanpa memperhatikan persyaratan yang dituntut Residen, Tjokroaminoto menyusun anggaran baru: organisasi ini dinyatakan meliputi seluruh Indonesia, dan kata “dagang” dihapuskan. H. Samanhudi diangkat menjadi ketua Sarekat Islam (SI), dan Tjokroaminoto Komisaris. Anggaran dasar organisasi ini disahkan dengan akta di Surabaya pada tanggal 1912, dan segera diajukan kepada pemerintah guna mendapatkan persetujuan.

Dilihat dari anggaran dasar yang baru, peran Sarekat Islam dalam pergerakan Nasional di antaranya adalah:

  1. Mengembangkan jiwa dagang,
  2. Memberi bantuan kepada anggota yang menderita kesukaran,
  3. Memajukan pengajaran dan memajukan semua yang dapat mengangkat derajat warga pribumi,
  4. Menentang pendapat-pendapat keliru tentang Islam.

Tujuan politik tidak disinggung-singgung dalam anggaran dasar ini. Akan tetapi dalam kenyataannya, seluruh kegiatan SI tidak lain adalah daripada untuk mencapai suatu tujuan kenegaraan. Keadilan dan kebenaran selalu diperjuangkan dengan gigih oleh organisasi, misalnya terhadap praktik-praktik penindasan dari pemerintah. Dalam kongresnya yang pertama pada bulan Januari 1913, Kegiatan SI bersifat menyeluruh kepada segenap pelosok tanah air.

Dalam kongres ditetapkan wilayah SI dibagi tiga bagian, Wilayah Jawa Barat yakni Jawa Barat, Sumatra dan pulau-pulau daerah Sumatra, wilayah Jawa Tengah yang meliputi Jawa Tengah dan Kalimantan, wilayah Jawa Timur yang meliputi Jawa Timur, Sulawesi, Bali, Lombok, Sumbawa dan pulau-pulau lainnya di wilayah Indonesia Timur. Cabang-cabang SI ini berada di bawah pengawasan SI pusat di Surakarta, yang diketuai oleh H. Samanhudi.

Pemerintah Hindia Belanda sangat berhati-hati menghadapi situasi yang demikian hidup dan mengandung unsur-unsur Revolusioner ini. Pemerintah akhirnya menolak memberikan pengakuan terhadap SI pusat, dan hanya memberikan pengakuan terhadap SI lokal. Sampai tahun 1914 ada 56 SO lokal yang diakui badan hukumnya. Keputusan ini tentu saja mempengaruhi struktur organisasi SI. Struktur pusat dan cabang yang ditetapkan dalam kongres tidak dapat diterapkan. Jalan keluar dicari, persyaratan dari pemerintah dipenuhi, tetapi jaga dikembangkan kerja sama antara SI lokal. Untuk itu, dalam suatu pertemuan di Yogyakarta pada tanggal 18 Februari 1914 diputuskan untuk membuat pengurus sentral.

Pada tahun 1915 didirikanlah Central Sarekat Islam (CSI) berkedudukan di Surabaya, yang tujuannya memajukan, membantu, dan memelihara kerja sama antara SI lokal. Pengurus CSI terdiri atas H. Samanhudi sebagai ketua kehormatan, Tjokroaminoto sebagai ketua, dan Gunawan sebagai wakil ketua. Semua SI lokal merupakan anggota CSI. Pada tanggal 19 Maret 1916, CSI ini baru diakui pemerintah dengan syarat wajib mengawasi tindakan-tindakan pengurus dan SI lokal. Sementara itu, jumlah anggota dan cabang SI terus berkembang dengan pesat, dan SI menjadi organisasi massa yang pengaruhnya sangat terasa dalam kehidupan politik Indonesia.

Pada tahun 1916, cabang SI lokal di seluruh Indonesia berjumlah 181 cabang, dengan anggota seluruhnya 700.000 orang. Jumlah cabang yang mengikuti kongres tahun ini sebanyak 75 cabang. Sebagai perbandingan, Budi Utomo di masa kejayaannya tahun 1909 hanya memiliki anggota 10.000 orang.

Pada periode setelah 1916, wawasan SI adalah wawasan nasional yang bertujuan terbentuknya suatu bangsa. Inilah sebabnya sejak tahun 1916 ini kongres tahunan SI disebut kongres Nasional. Dalam kongres Nasional SI pertama tahun 1916, berhasil dirumuskan sifat politik SI, yang kemudian disahkan pada kongres Nasional partai yang kedua tahun 1917. Isi pokok politik organisasi, antara lain, mengharapkan hancurnya kapitalisme yang jahat dan memperjuangkan agar rakyat pada akhirnya nanti dapat melaksanakan pemerintahan sendiri.

Sejalan dengan perkembangan SI yang sangat pesat, orang-orang sosialis yang tergabung dalam ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereneging) seperti Sneevliet, P. Bergsma, H.W. Dekker berusaha memanfaatkan SI sebagai jembatan ISDV kepada massa rakyat Indonesia. Dengan menggunakan taktik infiltrasi, orang-orang sosialis ini berhasil menyusup ke tubuh SI, dan menyebarkan paham Marxis di lingkungan anggota SI.

Dalam satu tahun, Sneevliet dan kawan-kawannya telah memiliki pengaruh yang cukup kuat di kalangan anggota SI. Keadaan buruk akibat perang Dunia I, panen padi yang jelek, serta ketidakpuasan buruh perkebunan terhadap upah yang rendah merupakan isu-isu yang menguntungkan bagi propaganda mereka.

Selain itu, CSI sebagai koordinator SI lokal masih lemah dan kondisi kepartaian pada waktu itu memungkinkan seseorang sekaligus menjadi anggota beberapa partai. Ini semua memudahkan mereka melakukan Infiltrasi ke tubuh SI. Banyak anggota SI yang ditarik menjadi anggota ISDV.

Bahkan Sneevliat berhasil menarik beberapa pemimpin muda SI menjadi pemimpin ISDV. Yang terpenting adalah Semaun dan Darsono. Mereka berdua tahun 1916 menjadi SI cabang Surabaya. Semaun kemudian pindah ke Semarang, dan menjadi pemimpin SI Semarang, yang sebelumnya memang telah menerima banyak pengaruh dari Sneevliet. Semarang sendiri merupakan tempat pertama kali ISDV didirikan tahun1914. Dengan usaha Semaun yang gigih, SI Semarang mengalami perkembangan peesat. Pada tahun 1916 anggotanya sudah 1.700 orang, dan tahun 1917 berjumlah 20.000 orang.

Semaun, Darsono dan kawan-kawannya, yang berorientasi Marxistis, senantiasa melancarkan oposisi terhadap kepemimpinan Tjokroaminoto. SI Semarang tidak hanya menyerang pemerintah dan kapitalis asing, tapi juga menyerang CSI. Hal ini menimbulkan krisis kepemimpinan dalam organisasi SI. Sementara pertentangan antara pendukung paham Islam dan pendukung paham Marxis terus bergolak.

CSI melihat munculnya kesulitan-kesulitan dengan SI Semarang adalah akibat keterlibatan ISDV. Oleh sebab itu, dalam kongres SI bulan Oktober 1917, organisasi memutuskan segala hubungan organisasi dengan ISDV. Pertentangan tentang haluan politik partai telah muncul dalam kongres Nasional kedua tahun 1917. Ditegaskan dalam kongres bahwa tujuan perjuangan organisasi adalah terwujudnya pemerintahan sendiri, dan menentang segala bentuk pengisapan oleh kapitalis. Akan tetapi terdapat dua pendirian yang saling bertentangan. Abdul Muis dan H. Agus Salim berpendirian bahwa untuk mencapai tujuan organisasi perlu ditempuh dengan cara-cara yang legal. Sementara Semaun dan Darsono, berpendirian bahwa apabila ingin mencapai apa yang dicita-citakan, organisasi harus meninggalkan segala bentuk kerja sama dengan pemerintah.

Dalam pembahasan Volkskraad yang akan dibentuk pemerintah, pertentangan di antara kedua kubu inipun terjadi. Abdul Muis menganggap Volkskraad sebagai langkah untuk mendirikan dewan perwakilan yang sebenarnya, dan dengan ikut dalam volkskraad, SI dapat membela kepentingan rakyat. Semaun berpendirian lain. Volkskraad baginya hanyalah akal kaum kapitalis untuk mengelabui rakyat jelata guna memperoleh keuntungan yang lebih besar. Abdul Muis dan kawan-kawan lebih mendapat dukungan, dan diputuskan bahwa SI tetap bergerak melalui jalan legal, dan ikut berpartisipasi dalam Volkskraad.

Sarekat Islam kemudian ikut dalam musyawarah Komite Nasional pada tahun 1917 tentang pemilihan anggota-anggota Indonesia untuk Volkskraad yang akan dibentuk. H.O.S. Tjokroaminoto akhirnya diangkat oleh pemerintah menjadi anggota Volkskraad setelah Volkskraad dibentuk tahun 1918. Sementara itu, Abdul Muis menjadi anggota Volkskraad yang terpilih.

Pertentangan antara kubu Abdul Muis dan Kubu Semaun ini terjadi dalam hal Indie Weerbar Actie (Aksi Ketahanan Hindia). Terjadi perbedaan yang tajam antara mereka, tidak hanya pertikaian antara dua kubu, tetapi meluas sampai masalah-masalah pribadi. Pertikaian ini kemudian diselesaikan secara resmi dalam kongres Nasional SI di Surabaya pada tahun 1918 bulan Oktober dengan keduanya membatasi setiap pertentangan yang muncul. Akan tetapi usaha tersebut juga tidak mampu menjembatani kedua kubu ini.

H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdul Muis menjadikan Volkskraad sebagai forum untuk mengemukakan tuntunan-tuntunan partai seperti yang diputuskan dalam kongres. Keduanya bekerja sama dengan wakil-wakil lain yang sehaluan dalam fraksi Radicale Concentratie dengan maksud mempercepat realisasi badan perwakilan sesungguhnya. Akan tetapi masalah partisipasi partai di Volkskraad menghangat kembali setelah penolakan dewan atas mosi partai untuk mengurangi luas tanah yang dipergunakan untuk penanaman tembakau.

Beberapa pemimpin SI yang pada mulanya menyetujui partisipasi partai dalam volkskraad mulai mempersoalkan perlu dan tidaknya partisipasi ini. Sosrodarsono, sekretaris CSI, menuntut agar Tjokroaminoto dan Abdul Muis meninggalkan dewan. Sikap Si terhadap volkskraad kemudian berubah sama sekali. H. Agus Salim yang semula sangat mendukung SI dalam volkskraad mencap bahwa volkskraad tidak lebih dari “komedi kosong”, demikian juga Indiee Weerbaar Actie. SI mulai bersikap lebih radikal. Jika pada tahun 1915-1916-an semboyan SI masih “kerja sama dengan pemerintah untuk kepentingan Hindia”, pada tahun 1918 semboyan ini berubah menjadi menentang pemerintah dan kapitalis yang jahat.

Dalam Kongres Nasional di Surabaya tahun 1918, yang dihadiri oleh 87 SI lokal, pemerintah jajahan dikecam dengan hebat. Pemerintah dituduh hanya melindungi kepentingan kapitalis tanpa menghiraukan nasib rakyat kecil. Pegawai-pegawai pemerintah pribumi dicap sebagai alat penyokong kapitalis. SI menuntut perbaikan syarat-syarat perburuhan, adanya pemerintahan sendiri, adanya undang-undang kepemilikan, hak angket dan interpelasi volkskraad, perwakilan yang seimbang, dan lain-lain.

Sejalan dengan perubahan haluan politik SI ke arah non kooperasi, golongan marxis mendapatkan jabatan di dalam tubuh CSI. Sehingga mereka memiliki pengaruh yang semakin kuat. Pada kongres Nasional di Surabaya tahun 1918, Darsono, Prawoto Sudibyo dan Semaun mendapatkan kursi di CSI yang baru. Walaupun H.O.S. tjokroaminoto dan Abdul Muis masih menjabat sebagai presiden dan wakil presiden. Kepengurusan dari kaum Marxis tersebut merupakan sebuah kemajuan besar bagi golongan itu. Pada Kongres Nasional SI tahun 1919 masalah kelas sedang menghangat. Dalam kongres disusun serikat buruh dan dibentuk vaksentraal buruh. Kemudian semuanya dibuktikan dengan berdirinya PPKB (Persatuan Pergerakan Kaum Buruh) pada 15 Desember 1919.

Pembentukan serikat ini menimbulkan persaingan antara Abdul Muis, H. Agus Salim dan kawan-kawan dengan Semaun, Darsono dan kawan-kawan. Kedua pihak menginginkan menguasai PKBB tersebut. Suryopranoto sebagai wakil presiden PPKB ingin memindahkan pusat PPKB dari Semarang ke Yogyakarta. Semaun menuduh hal ini sebagai usaha untuk menghapuskan kaum komunis. Kedua belah pihak saling mengecam. Pada tahun 1921 bulan Juni Semaun menyatakan PKBB bubar dan diganti dengan Revolutionare Vakcentrale, nama yang sebelumnya diusahakan oleh Komunis saat penamaan PPKB. Pembubaran ini tidak diakui oleh Suryopranoto, dalam rapat yang diadakan bulan Juli 1921 ditegaskan bahwa PPKB masih berlanjut.

Pada tahun ini SI berada di puncak kejayaan. Dengan memiliki jutaan anggota. Namun di tahun ini juga merupakan titik balik perkembangan SI. Pertentangan, pertikaian, perbedaan ideologi menjadi corak yang dalam kubu SI kini. Masalah-masalah tersebut membuat keretakan dalam hubungan organisasi.

Dalam kongres Istimewa bulan Maret tahun 1921 yang diselenggarakan di Yogyakarta dilakukan penyusunan tafsir baru, antara lain mengenai kompromi antara kelompok yang bertikai. Walaupun demikian, orang yang terpengaruh ISDV selalu menjadi Oposisi kebijakan yang dilakukan oleh SI. Ini menimbulkan kebencian terhadap kaum komunis yang mendorong SI untuk mengeluarkan golongan komunis dari tubuh SI.

Dalam kongres di Surabaya pada bulan Oktober tahun itu juga dibahas mengenai disiplin partai. Diputuskan bahwa anggota SI dilarang untuk memiliki organisasi ganda. Mereka harus memilih atau keluar dari SI. Beberapa SI lokal menentangnya, seperti dari Salatiga, Semarang, Sukabumi dan Bandung. Akan tetapi suara terbanyak menyetujui disiplin partai tersebut. Maka dari itu anggota SI menyusut. Anggota yang terpengaruh ISDV keluar dari SI. Untuk menggairahkan kembali organisasi, maka SI mulai bergerak ke arah keagamaan. Dibentuklah Komite Kongres Al Islam bersama dengan Muhammadiyah dengan mencoba menyebarkan paham Pan Islamisme. Hubungan dengan gerakan Islam di luar negeri segera diusahakan.

Kepercayaan partai kepada pemerintah perlahan menurun, lalu lenyap dengan segera. Sehingga organisasi benar-benar bersifat non kooperatif. Penahanan Tjokroaminoto oleh pemerintah selama kurang lebih tujuh bulan dari 1921-1922 karena tuduhan keterlibatan dengan gerakan SI afdeeling B di Jabar, menghilangkan kesediaan partai untuk patuh pada pemerintah.

Di kalangan SI muncul gagasan untuk melakukan reorganisasi. Susunan organisasi lama dianggap sudah tidak cocok. Juga dapat membahayakan kepemimpinan organisasi. SI lokal dapat bergerak lebih bebas dibandingkan CSI yang bertanggung jawab atas tindakan SI lokal. Maka dalam kongres ketujuh bulan Februari 1923 dibahas kemungkinan SI untuk mundur dari volkskraad. Dalam kongres ini pula diputuskan akan adanya reorganisasi. SI akhirnya diubah menjadi Partai Sarekat Islam.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari adanya pemaparan di atas tentang Sarekat Islam, maka dapat kita tarik kesimpulan, bahwasanya:

  1. SDI pertama kali didirikan di Sola pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Kyai Haji Samanhudi dibantu oleh M. Asmadimejo, M. Kertokirono, dan M. H. Rojak. Motif utama didirikannya organisasi ini adalah berusaha menerapkan sistem ekonomi Islam di dunia perdagangan Indonesia, khususnya bagi pedagang batik di Solo. Sebelum lahirnya SDI, terjadi diskriminasi tajam yang sengaja dilakukan pihak bangsawan kepada masyarakat biasa. Juga sangat menonjol sikap angkuh dan superioritas dari kalangan pedagang China kaya yang banyak mendominasi perdagangan pada saat itu. Maka, SDI dimaksudkan sebagai benteng untuk menentang si superioritas dan dominasi pedagang China sekaligus mendobrak diskriminasi bangsawan yang bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat awam
  2. Sarekat Islam yang mengalami perkembangan pesat, kemudian mulai disusupi oleh paham sosialisme revolusioner. Menurut analisis tokoh-tokoh Sarekat Islam, munculnya ISDV yang dikembangkan oleh orang Belanda H.J.F.M. Sneevliet merupakan usaha pemerintah Belanda untuk menggoncang kestabilan Sarekat Islam, sekaligus pemecah belah dari akar tubuh Sarekat Islam karena pemerintah memang khawatir dengan semakin kuatnya posisi Sarekat Islam. Usaha H.J.F.M. Sneevliet berhasil setelah mampu mempengaruhi pimpinan Sarekat Islam di Semarang yang waktu itu dipegang oleh Semaon, dengan masuknya ke tubuh ISDV. Akibatnya banyak anggota Serikat Islam yang menjadi sosialis terutama Serikat Islam cabang Semarang. Sehingga mereka menggunakan taktik infiltrasi yang dikenal sebagai “Blok di dalam”, mereka berhasil menyusup ke dalam tubuh SI oleh karena dengan tujuan yang sama yaitu membela rakyat kecil dan menentang kapitalisme namun dengan dasar dan cara yang berbeda (ateis-komunisme).
  3. Pecahnya SI terjadi setelah Semaoen dan Darsono dikeluarkan dari organisasi. Hal ini ada kaitannya dengan desakan Abdul Muis dan Agus Salim pada kongres SI yang keenam 6-10 Oktober 1921 tentang perlunya disiplin partai yang melarang keanggotaan rangkap, karena disiplin partai yang tidak memperbolehkannya. Sekeluarnya dari Sarekat Islam, mereka semakin giat melakukan propaganda dalam usaha memasyarakatkan ideologi sosialis, bahkan tidak sekedar propaganda, mereka juga memfokuskan gerakan-gerakan yang bersifat “phsyie”(kejiwaan). Puncak peristiwa adalah ketika mereka memproklamasikan berdirinya PKI, kemudian mengadakan pemberontakan di daerah Jawa Tengah dan Sumatera Barat pada tahun 1926. Kelompok ini lebih dikenal dengan Sarekat Islam Merah (Sosialis Indonesia). Sementara Sarekat Islam yang tulen dan Islamis disebut Sarekat Islam Putih.
  4. Dalam Sarekat Islam pun terdapat beberapa program kerja, program kerja dibagi atas delapan bagian yaitu: Mengenai politik Sarekat Islam menuntut didirikannya dewan-dewan daerah, perluasan hak-hak Volksraad dengan tujuan untuk mentransformasikan menjadi suatu lembaga perwakilan yang sesungguhnya untuk legislatif. Sarekat Islam juga menuntut penghapusan kerja paksa dan sistim izin untuk bepergian. Dalam bidang pendidikan, Serikat Islam menuntut penghapusan peraturan diskriminatif dalam penerimaan murid di sekolah-sekolah. Dalam bidang agama, Serikat Islam pun menuntut dihapuskannya segala peraturan dan undang-undang yang menghambat tersiarnya agama Islam. Sarekat Islam juga menuntut pemisahan lembaga kekuasaan yudikatif dan eksekutif dan menganggap perlu dibangun suatu hukum yang sama bagi menegakkan hak-hak yang sama di antara penduduk negeri. Partai juga menuntut perbaikan di bidang agraria dan pertanian dengan menghapuskan particuliere landerijen (milik tuan tanah) serta menasionalisasi industri-industri monopolistik yang menyangkut pelayanan dan barang-barang pokok kebutuhan rakyat banyak. Dalam bidang keuangan SI menuntut adanya pajak-pajak berdasar proporsional serta pajak-pajak yang dipungut terhadap laba perkebunan. Kemudian Serikat Islam inipun menuntut pemerintah untuk memerangi minuman keras dan candu, perjudian, prostitusi dan melarang penggunaan tenaga anak-anak serta membuat peraturan perburuhan yang menjaga kepentingan para pekerja dan menambah poliklinik dengan gratis. Oleh karena itu, Serikat Islam berhasil mencapai lapisan bawah masyarakat yang berabad-abad hampir tidak mengalami perubahan dan paling banyak menderita.

B. Saran

Perlu kiranya kita kembali membongkar dan menelaah perjuangan politik yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pergerakan kita, agar kita dapat mengetahui cita-cita mereka. Bagaimana mereka menjadikan kerja politik, kerja sosial dan sebagainya tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadi, namun demi sebuah perbaikan nasib negeri ini. Dengan demikian kita akan lebih jernih menyelami akar dari arah Indonesia ke depan yang terdapat dalam pemikiran tokoh pendahulu negeri ini, sehingga hal itu dapat menjadi inspirasi bagi pergerakan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Syaukani. 1997. Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam. Bandung: PT Pustaka Setia.

Amel. 1996. H.O.S. Tjokroaminoto: Hidup dan Perjuangannya. Jakarta: Bulan Bintang.

Deliar, Noer. 1980. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES.

Jamaludin. 2008. Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, Pengaruh Pergerakan Pemuda. (Skipsi). Jakarta: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah.

Kahin, George McTurnan. 1995. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Terj. Nin Bakdi Soemanto. Surakarta: UNS Press.

Karim, M. Abdul. 2007. Islam Nusantara. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional Kolonialisme sampai Nasionalisme. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sitorus, L.M. 1987. Sejarah Pergerakan dan Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat.

Sudiyo. 1989. Perhimpunan Indonesia Sampai Dengan Lahirnya Sumpah Pemuda. Jakarta: Bina Aksara.

Download Contoh Makalah Sarekat Islam.docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH