Penyimpangan Sosial

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Shalawat beserta salam semoga senantiasa terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan kepada kita selaku umatnya. Amin.

Penulisan makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Sosiologi. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini baik sistematika penulisan maupun materinya. Oleh karena itu, sangat kami harapkan kritik dan saran yang bersifat membangun terhadap makalah ini, karena dengan adanya hal tersebut dapat menambah pengetahuan dan wawasan.

Kami berharap makalah ini bermanfaat, khususnya bagi kami dan pembaca pada umumnya.

Indonesia, Maret 2021

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah penyimpangan sosial bukanlah masalah yang baru muncul. Masalah ini telah lama lahir dan hadir dalam masyarakat. Namun demikian, masalah-masalah penyimpangan sosial ini tetap saja ada dan melekat dalam kehidupan masyarakat seolah tidak ada tindakan yang menanganinya. Ada banyak jenis dan perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh masyarakat dan telah banyak pula aturan-aturan yang mengatur tentang penyimpangan tersebut.

Pada kenyataannya, hingga saat ini penyimpangan sosial masih terus terjadi meskipun aturan atau bahkan hukuman diberlakukan bagi para pelaku. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan buruknya perilaku-perilaku menyimpang, atau mungkin kurangnya sosialisasi tentang penyimpangan sosial.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas adalah:

  1. Apa pengertian dari penyimpangan sosial?
  2. Apa teori-teori tentang perilaku menyimpang?
  3. Bagaimana sifat-sifat perilaku menyimpang?
  4. Apa penyebab perilaku menyimpang?
  5. Apa saja macam-macam perilaku menyimpang?
  6. Bagaimana upaya pencegahan penyimpangan sosial?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Penyimpangan Sosial

Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.

Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain. Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan disebut devian (deviant). Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan konformitas. Konformitas adalah bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok.

Secara umum perilaku individu atau sekelompok individu yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku secara umum dalam masyarakat sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Berikut menurut pendapat para ahli mengenai perilaku menyimpang:

  1. Paul B. Horton, ia mendefinisikan bahwa perilaku menyimpang adalah perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran-pelanggaran terhadap norma-norma kelompok ataupun masyarakat.
  2. Bruce J. Cohen, ia berpendapat bahwa perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.
  3. Robert M.Z. Lawang, ia menyatakan bahwa perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem tersebut untuk memperbaiki perilaku tersebut.
  4. James Van der Sander, ia berpendapat bahwa yang dimaksud perilaku menyimpang adalah perilaku yang dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas-batas toleransi oleh sejumlah atau sebagian besar orang atau masyarakat.

B. Teori Tentang Perilaku Menyimpang

1. Berdasarkan Sudut Pandang Sosiologi

a. Teori Labeling

Teori ini dikemukakan oleh Edwin M. Lemert, menurutnya seseorang berperilaku menyimpang karena proses labeling yang diberikan masyarakat kepadanya. Labeling adalah pemberian julukan, cap, etiket, ataupun kepada seseorang. Pada awalnya seseorang melakukan “penyimpangan primer” karena itu sang pelaku penyimpangan mendapatkan cap (labeling) dari masyarakat. Karena adanya label tersebut, maka sang pelaku mengidentifikasikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi penyimpangan itu pun menjadi suatu kebiasaan atau gaya hidup bagi pelakunya.

b. Teori Sosialisasi

Teori Sosialisasi menyatakan bahwa seseorang biasanya menghayati nilai-nilai dan norma-norma dari beberapa orang yang dekat dan cocok dengan dirinya. Jadi, bagaimanakah seseorang menghayati nilai-nilai dan norma-norma sosial sehingga dirinya dapat melahirkan perilaku menyimpang. Ada dua penjelasan yang dapat di kemukakan. Pertama, Kebudayaan khusus yang menyimpang, yaitu apabila sebagian besar teman seseorang melakukan perilaku menyimpang maka orang itu mungkin akan berperilaku menyimpang juga. Sebagai contoh, beberapa studi Amerika, menunjukkan bahwa di kampung-kampung yang berantakan dan tidak terorganisir secara baik, perilaku jahat merupakan pola perilaku yang normal (wajar).

c. Teori Pergaulan Berbeda (Differential Association)

Teori ini diciptakan oleh Edwin H. Sutherland dan menurut teori ini penyimpangan bersumber dari pergaulan dengan sekelompok orang yang telah menyimpang. Penyimpangan didapatkan dari proses alih budaya (cultural transmission) dan dari proses tersebut seseorang mempelajari sub kebudayaan menyimpang (deviant subculture). Contoh teori pergaulan berbeda: perilaku tunasusila, peran sebagai tunasusila dipelajari oleh seseorang dengan belajar yaitu melakukan pergaulan yang intim dengan para penyimpang (tunasusila senior) dan kemudian ia melakukan percobaan dengan melakukan peran menyimpang tersebut.

d. Teori Anomie

Konsep anomie dikembangkan oleh seorang sosiologi dari Perancis, Emile Durkheim. Istilah anomie dapat diartikan sebagai ketiadaan norma. Konsep tersebut dipakai untuk menggambarkan suatu masyarakat yang memiliki banyak norma dan nilai yang satu sama lain saling bertentangan. Suatu masyarakat yang anomis (tanpa norma) tidak mempunyai pedoman mantap yang dapat dipelajari dan di pegang oleh para anggota masyarakatnya.

2. Berdasarkan Sudut Pandang Psikologi

Seorang tokoh psikolog asal Australia yang terkenal dengan teori psikoanalisisnya bernama Sigmund Freud (1856-1939) menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat tiga bagian penting, yaitu berupa hal-hal sebagai berikut:

  • Id, adalah bagian dari yang bersifat tidak sadar, nalurilah, dan mudah terpengaruh oleh gerak hati.
  • Ego, adalah bagian diri yang bersifat sadar dan rasional yang berfungsi menjaga pintu kepribadian.
  • Supergo, adalah bagian dari diri yang telah mengabsorbsi (menyerap) nilai-nilai kultural yang berfungsi sebagai suara hati. Menurut Fried perilaku menyimpang dapat terjadi pada diri seseorang apabila id terlalu berlebihan sehingga tidak terkontrol dan muncul bersamaan dengan superego yang tidak aktif, sementara dalam waktu yang bersamaan ego tidak berhasil memberikan perimbangan.

3. Berdasarkan Sudut Pandang Biologi

Sheldon mengidentifikasikan tipe tubuh menjadi tiga tipe dasar, yaitu sebagai berikut:

  • Endomorph (bundar, halus, dan gemuk).
  • Mesomorph (berotot dan atletis).
  • Ectomorph (tipis dan kurus).

4. Berdasarkan Sudut Pandang Kriminologi

a. Teori Konflik Berdasarkan

Teori ini terdapat dua macam konflik, yaitu sebagai berikut:
1) Konflik Budaya Dalam suatu masyarakat dapat terjadi konflik budaya etika dalam masyarakat tersebut terdapat sejumlah kebudayaan khusus di mana setiap kebudayaan khusus tersebut cenderung tertutup sehingga mengurangi kemungkinan adanya kesepakatan nilai. Sejumlah norma yang bersumber dari kebudayaan khusus yang berbeda saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya dan dapat menimbulkan kondisi anomie.
2) Konflik Kelas Sosial Konflik kelas sosial dapat terjadi di masyarakat ketika suatu kelompok membuat peraturan sendiri untuk melindungi kepentingan, sehingga terjadilah eksploitasi kelas atas terhadap kelas bawah. Orang-orang yang menentang hak-hak istimewa kelas atas dianggap berperilaku menyimpang dan di cap sebagai penjahat.

b. Teori Pengendalian

Teori pengendalian beranggapan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki kesepakatan tentang nilai-nilai tertentu yang menjadi dasar suatu perilaku dapat dikatakan menyimpang atau tidak. Pengendalian itu mencangkup dua bentuk, yaitu pengendalian dari dalam dan pengendalian dari luar. Pengendalian dari dalam berupa norma yang dihayati dan nilai yang dipelajari oleh seseorang melalui proses sosialisasi.

C. Sifat-sifat Perilaku Menyimpang

1. Penyimpangan yang bersifat positif

Penyimpangan yang bersifat positif adalah suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku umum yang mempunyai dampak positif terhadap sistem sosial di mana ia tinggal. Seseorang dikatakan menyimpang secara positif ketika ia merealisasikan cita-citanya akan tetapi masyarakat belum bisa menerima cara yang ia pergunakan ataupun cita-cita yang ia inginkan.

Contoh penyimpangan yang bersifat positif adalah: seorang wanita yang bercita-cita sekolah setinggi-tingginya dan menjadi dokter spesialis atau wanita karier. Bagi sebagian masyarakat perbuatan sang wanita adalah suatu penyimpangan, namun dari penyimpangan tersebut ada dampak positif yang muncul dari dalam dirinya yaitu emansipasi wanita. Karena ia telah bersifat mulia yaitu mau menjadi seorang dokter atau bersosial kepada orang lain atau masyarakat dengan menjadi seorang dokter.

2. Penyimpangan yang bersifat negatif

Penyimpangan yang bersifat negatif adalah suatu perbuatan atau kecenderungan bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dipandang rendah dan berakibat buruk sehingga mengganggu sistem sosial yang ada. Penyimpangan terhadap kaidah hukum positif maka akan nada hukum dan sanksi yang jelas dari Negara. Contoh penyimpangan yang bersifat negatif adalah: pencurian, pembunuhan, prostitusi, pemerkosaan, pemabuk, penjudi, dan lain-lain.

D. Penyebab Perilaku Menyimpang

Ada beberapa faktor yang menyebabkan individu atau kelompok melakukan penyimpangan sosial. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  1. Individu biasanya menghayati nilai-nilai dari beberapa orang yang cocok dengan dirinya. Bilamana sebagian besar teman menyimpang, maka individu tersebut kemungkinan besar akan menjadi menyimpang.
  2. Adanya imitasi atau meniru perilaku orang lain. Peniruan perilaku ini banyak dilakukan oleh individu yang masih berusia anak-anak.
  3. Masyarakat yang memiliki banyak nilai dan norma, di mana di antara satu dengan lainnya saling bertentangan. Tidak terdapat seperangkat nilai dan norma yang dipatuhi secara teguh dan diterima secara luas. Kondisi ini terjadi pada masyarakat yang sedang mengalami perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern.
  4. Anggota masyarakat Indonesia yang mempunyai mental mengambil jalan pintas. Anggota masyarakat yang ingin cepat memperoleh kedudukan atau kekayaan dengan cara-cara yang melanggar norma-norma sosial.
  5. Adanya pemberian cap atau label oleh masyarakat terhadap individu atau kelompok. Pemberian cap atau label ini yang menyebabkan individu atau kelompok melakukan penyimpangan.
  6. Penyimpangan sosial terjadi disebabkan karena keterikatan individu terhadap kelompoknya lemah.

E. Macam-macam Perilaku Menyimpang

1. Tindakan Kriminal

Tindakan kriminal/kejahatan ialah tindakan yang melanggar hukum. Tindakan ini biasanya mendapat hukuman dari pihak yang berwajib.

a. Kejahatan tanpa korban

Kejahatan tanpa korban ialah kejahatan yang tidak merugikan orang lain tetapi kejahatan yang merugikan diri sendiri. Contoh-contoh kejahatan ini adalah merokok, mabuk, dll.

b. Kejahatan kerah putih

Kejahatan kerah putih ialah kejahatan yang menyalahgunakan jabatan. Kejahatan ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jabatan tinggi. Contoh-contoh kejahatan ini adalah korupsi, suap, memasukkan saudara ke sekolah dari jalur seludupan, dll.

2. Penyimpangan Seksual

Penyimpangan seksual adalah penyalahgunaan seks atau perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan.

a. Lesbian

Lesbian ialah kesalahan nafsu seks, pada orang penderita penyakit ini ia menyukai sesama perempuan. Kelainan nafsu seks ini biasanya dikarenakan pernah disakiti pria, pernah diperkosa, dll.

b. Homoseksual

Homoseksual ialah penyakit yang hampir mirip dengan lesbian hanya saja pada penyakit ini yang terkena ialah pria. Pria yang terkena penyakit ini biasanya menyukai sesama pria. Faktor-faktor penyebabnya ialah pernah disakiti wanita, dll.

3. Penyalahgunaan Narkoba

Penyalahgunaan narkoba ialah orang-orang yang salah menggunakan narkoba. Kalau di dunia kedokteran narkoba sangat digunakan untuk penenang dan sebagainya. Tetapi, orang-orang zaman sekarang memakai narkoba untuk bersenang-senang, santai, dll. Jenis-jenis narkoba ada banyak misalnya ganja, narkotika, psikotropika, sabu-sabu, dll. Tetapi yang sangat banyak digunakan orang-orang ialah ganja karena harganya terjangkau dan barangnya mudah didapat. Tetapi kalau orang kaya biasanya memakai narkotika, psikotropika, sabu-sabu, dll.

Narkoba kebanyakan dipakai oleh mahasiswa laki-laki maupun perempuan terutama di pulau Jawa. Menurut data 60% mahasiswa sudah mengisap rokok dan 40% sudah memakai narkoba. Meskipun jikalau ketahuan bisa mendapat hukuman yang tegas tetapi masih banyak mahasiswa maupun siswa memakai narkoba. Alasan mereka memakai narkoba adalah untuk senang-senang, melupakan masalah hidup, dll.

4. Penyimpangan Gaya Hidup

Penyimpangan gaya hidup ialah bergaya yang salah misalnya gaya ala anak jalanan, gaya ala Bob Marley, gaya ala pemain seks dll. Penyimpangan gaya hidup biasanya dilakukan orang karena orang tersebut sangat mengagumi tokoh yang ditirunya. Penyimpangan gaya hidup biasanya terjadi akibat kurang perhatian dari keluarganya. Penyimpangan gaya hidup dapat dicegah dengan mengawasi segala kegiatan orang yang diawasi. Orang yang bergaya hidup buruk dapat mempengaruhi banyak orang, karena banyak orang lain yang melihat gayanya tertarik, walaupun gaya itu ialah gaya yang tidak bagus.

F. Pencegahan Penyimpangan Sosial

1. Keluarga

Keluarga merupakan awal proses sosialisasi dan pembentukan kepribadian seorang anak. Kepribadian seorang anak akan terbentuk dengan baik apabila ia lahir dan tumbuh berkembang dalam lingkungan keluarga yang baik begitu sebaliknya.

2. Lingkungan tempat tinggal dan teman sepermainan

Lingkungan tempat tinggal juga dapat mempengaruhi kepribadian seseorang untuk melakukan penyimpangan sosial. Seseorang yang tinggal dalam lingkungan tempat tinggal yang baik, warganya taat dalam melakukan ibadah agama dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik maka keadaan ini akan memengaruhi kepribadian seseorang menjadi baik sehingga terhindar dari penyimpangan sosial dan begitu juga sebaliknya.

3. Media massa

Media massa baik cetak maupun elektronik merupakan suatu wadah sosialisasi yang dapat mempengaruhi seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pencegahan agar tidak terpengaruh akibat media massa adalah apabila kamu ingin menonton acara di televisi dengan memilih acara yang bernilai positif dan menghindari tayangan yang dapat membawa pengaruh tidak baik.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Perilaku individu atau sekelompok individu yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku secara umum dalam masyarakat sering terjadi dalam kehidupan kita. Teori ini dikemukakan oleh Edwin M. Lemert, menurutnya seseorang berperilaku menyimpang karena proses labeling yang diberikan masyarakat kepadanya. Labeling adalah pemberian julukan, cap, etiket, ataupun kepada seseorang.

Pada awalnya seseorang melakukan “penyimpangan primer” karena itu sang pelaku penyimpangan mendapatkan cap (labeling) dari masyarakat. Karena adanya label tersebut, maka sang pelaku mengidentifikasikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi penyimpangan itu pun menjadi suatu kebiasaan atau gaya hidup bagi pelakunya sehari-hari.

B. Saran

Kami sadari bahwa dalam penulisan makalah ini penulis masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam hal pengetahuan tentang Mata pelajaran sosiologi. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik saran dari pembaca tentunya yang bersifat membangun.

DAFTAR PUSTAKA

Narwoko, J. Dwi & Suyanto, Bagong. 2011. Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana.

https://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_menyimpang

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/114/jtptunimus-gdl-ervinakhoi-5700-2-babii.pdf

Download Contoh Makalah Penyimpangan Sosial.docx

MOHON MATIKAN AD BLOCK
TERIMA KASIH